
Berbeda dengan Bianca dan Arga yang tengah menjalani hidup mereka dengan penuh kebahagiaan, Luna justru harus berusaha keras untuk menghilangkan perasaannya pada Bara.
Luna yang sejak kecil memiliki hobi fotografi, memilih untuk membuka bisnisnya sendiri yang masih berhubungan dengan dunia fotografi.
Meskipun ia sangat menolak jika ada seseorang yang ingin mengambil foto dirinya, tetapi ia sangat suka menghabiskan banyak waktunya untuk memenuhi memorinya dengan banyak hasil jepretannya, entah itu makhluk hidup ataupun sekedar benda mati.
Semua yang masuk dalam bingkainyapun akan menjadi lebih aestetik bagi siapapun yang melihatnya.
Malam itu, Luna baru saja keluar dari gedung tempat ia melakukan bisnisnya. Gedung 2 lantai yang ia sulap menjadi studio foto bersama beberapa teman yang bekerja dengannya.
"Apa supirmu belum datang, Luna?" tanya salah satu teman Luna.
"Belum, sepertinya sebentar lagi," jawab Luna.
"Apa kau mau kita mengantarmu pulang?" tanya temannya yang lain.
"Tidak perlu, kalian duluan saja, sebentar lagi supirku pasti datang," jawab Luna.
"Baiklah, kita pergi dulu, bye bos!"
Luna hanya tersenyum lalu duduk di depan studio fotonya yang sudah tutup untuk menunggu kedatangan supirnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Luna berdering, sebuah pesan masuk dari supirnya.
"Maaf non, bapak terjebak macet, mungkin akan sedikit terlambat sampai disana."
Luna hanya menghela nafasnya lalu membuka game yang ada di ponselnya untuk mengusir kejenuhannya.
"Jika mama membiarkanku membawa mobil sendiri, pasti aku tidak perlu menunggu supir datang," gerutu Luna.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan Luna. Seketika Luna beranjak dari duduknya saat ia mengenali mobil yang berhenti di depannya.
Luna segera berjalan pergi, namun seseorang dari dalam mobil itu segera keluar dari mobilnya dan mengejar Luna.
"Luna tunggu!" ucap Bara dengan berteriak.
Mendengar teriakan Bara, Lunapun semakin mempercepat langkahnya, namun Bara berhasil meraih tangannya dan mencengkeramnya dengan erat.
"Lepaskan Luna, kak!" ucap Luna sambil berusaha menarik tangannya dari Bara.
"Ikut aku!" ucap Bara sambil menarik tangan Luna untuk diajak masuk ke dalam mobil.
"Tidak, lepaskan Luna!" ucap Luna yang berusaha menahan dirinya agar tidak melangkah mengikuti Bara.
Namun karena Bara yang mencengkeram tangan Luna dengan semakin erat dan kekuatan Luna yang tidak sebanding dengan Bara, Luna akhirnya berhasil dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Bara.
"Apa yang kak Bara lakukan? cepat buka pintunya kak!" teriak Luna.
"Aku tidak akan bersikap seperti ini jika kau tidak menghindar dariku Luna," balas Bara.
"Luna menghindar karena kak Bara yang menolak untuk menjauhi Luna!" ucap Luna.
"Aku tidak mungkin menjauhimu Luna, aku tidak mungkin menjauhi perempuan yang aku suka!" balas Bara.
"Tidak kak, kita harus melupakan semua yang terjadi diantara kita, Luna sudah melupakan kak Bara jadi kak Bara juga harus melupakan Luna," ucap Luna.
Bara tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan lalu segera mendekatkan dirinya pada Luna.
"Apa yang mau kak Bara lakukan? jangan macam-macam atau....."
"Atau apa? aku bisa melakukan apapun padamu Luna, jangan salahkan aku jika aku akan melakukan hal yang di luar batas padamu karena kau yang lebih dulu menggodaku!" ucap Bara memotong ucapan Luna.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Luna berdering, sebuah panggilan masuk dari Arga.
"Kak Arga akan curiga jika Luna tidak mengangkatnya," ucap Luna dengan suara bergetar.
"Angkat saja, tapi jangan mengatakan apapun tentangku atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal," ucap Bara.
Luna menganggukkan kepalanya pelan lalu menerima panggilan Arga.
"Halo Luna, mama baru saja memberi tahu kakak jika supir yang menjemputmu sedang terjebak macet, apa kau masih berada di studio sekarang?"
Luna membawa pandangannya pada Bara sebelum ia menjawab pertanyaan Bara.
"Luna.... Luna masih di studio kak," jawab Luna dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? apa terjadi sesuatu?"
"Tidak.... Luna.... Luna hanya sedang menunggu supir," jawab Luna yang semakin gugup.
"Apa ada seseorang di dekatmu? apa dia membuatmu takut?" tanya Arga.
"Tidak kak, Luna...."
"Jangan berbohong pada kakak Luna, kau tau kakak bisa melakukan apapun bukan? katakan saja apa yang terjadi disana!"
"Luna..... bersama kak Bara," ucap Luna yang membuat Bara segera merebut ponsel Luna dan menonaktifkan ponsel Luna saat itu juga.
"Kau benar-benar membuatku kesal Luna!" ucap Bara emosi.
"Luna hanya mengatakan jika Luna bersama kak Bara, apa Luna salah?"
"Aku akan mengantarmu pulang, setelah sampai di rumah hubungi kakakmu dan katakan padanya jika kau baik-baik saja!" ucap Bara lalu segera mengendarai mobilnya pergi.
Sepanjang jalan Luna hanya diam tanpa mengatakan apapun, laki-laki di sampingnya yang dulu sangat disukainya kini menjadi laki-laki yang ditakuti olehnya.
Luna seperti melihat dua sosok yang berbeda dari laki-laki yang bernama Bara itu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Barapun sampai di depan rumah Luna. Tanpa mengatakan apapun, Lunapun segera turun dari mobil Bara dan berlari masuk ke dalam rumah.
Tak lama setelah Luna masuk ke kamarnya, Arga datang dan segera mencari keberadaan Luna.
"Dia baru saja pulang, sepertinya ada di kamar," ucap Nadine pada Arga.
Arga segera membawa langkahnya menaiki tangga lalu mengetuk pintu kamar Luna berkali-kali.
"Luna lelah kak, Luna ingin istirahat," ucap Luna yang enggan untuk membuka pintu kamarnya.
"Buka pintunya atau kakak akan mendobraknya dan membuat keributan di rumah ini," ucap Arga yang berusaha untuk menjaga volume suaranya agar tidak terdengar oleh mama dan papanya.
Akhirnya Lunapun membuka pintu kamarnya. Arga segera masuk dan memeriksa pergelangan tangan Luna.
"Bara yang melakukan ini?" tanya Arga.
Luna hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, jelas sekali terlihat raut wajahnya yang sedih saat itu.
"Apa yang dia lakukan padamu Luna? katakan semuanya pada kakak!" tanya Arga khawatir.
Luna hanya diam, berusaha menahan tangisnya di hadapan Arga. Arga kemudian menutup pintu kamar Luna dan menguncinya dari dalam agar Luna bebas menangis tanpa takut mama dan papanya akan melihatnya.
"Luna.... takut kak," ucap Luna dengan air mata yang sudah membahasi kedua pipinya.
Seketika Arga segera membawa Luna ke dalam dekapannya, berusaha menenangkan Luna sebelum Luna menceritakan semuanya padanya.
Setelah lebih tenang, Luna kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Bara. Arga yang mendengar hal itupun berusaha untuk menahan emosinya di depan Luna.
"Apa dia tidak melakukan hal yang lebih dari itu, Luna?" tanya Arga.
"Tidak kak," jawab Luna dengan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, mulai sekarang kakak akan meminta seseorang untuk selalu menjagamu, dia akan selalu memantau kemanapun kau pergi tapi dia tidak akan mengganggu kegiatanmu," ucap Arga.
"Apa itu tidak berlebihan kak?" tanya Luna.
"Hanya itu yang bisa kakak lakukan untuk selalu menjagamu Luna," jawab Arga.
"Terima kasih kak," ucap Luna dengan memeluk Arga.
"Kakak percaya kau pasti bisa menjaga dirimu dengan baik Luna dan kakak yakin akan ada laki-laki yang mencintaimu dengan tulus nantinya," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Luna.
"Tapi kenapa kakak bisa ada disini? bukankah tadi Luna bilang jika Luna masih ada di studio?" tanya Luna.
"Kakak sudah ada di dekat studio saat kakak menghubungimu dan kakak melihat mobil Bara pergi sebelum kakak sampai, karena tidak melihatmu di depan studio jadi kakak pikir Bara membawamu pergi, jadi kakak mengikutinya," jelas Arga.
"Sekarang Luna sudah di rumah, kakak pulanglah, kak Bianca pasti sudah menunggu kakak di rumah," ucap Luna.
"Jaga dirimu baik-baik Luna, segera hubungi kakak jika terjadi sesuatu!" ucap Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Luna.
Arga kemudian meninggalkan rumah orang tuanya, mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, sudah ada Bianca yang menyambut kepulangannya.
"Maaf Bee, aku terlambat pulang," ucap Arga sambil memeluk dan memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.
"Kau sudah memberi tahuku sejak tadi siang, kau pasti sangat sibuk bukan?"
__ADS_1
"Kau benar, akan ada launching produk baru jadi aku dan Daffa harus memastikan semuanya siap," ucap Arga.
Malampun semakin larut, Bianca sudah tertidur nyenyak di atas ranjangnya sedangkan Arga masih membaca buku di samping Bianca.
Arga kemudian mengirim pesan pada seseorang untuk mencari tahu semua hal tentang Bara dengan detail.
Waktu berlalu, pagi-pagi sekali Arga bangun dari tidurnya saat mendengar ponselnya berdering, ia mendapat pesan dari orang suruhannya tentang informasi Bara.
Dengan informasi yang ia miliki kini Arga bisa dengan mudah menghancurkan Bara.
"Kau akan menyesal karena sudah mengganggu Luna," ucap Arga dengan tersenyum tipis.
Arga kemudian menghubungi beberapa orang yang membantunya untuk membalas dendamnya pada Bara.
Tidak hanya membuat Bara dikeluarkan dari pekerjaannya, Arga juga menyebarkan berita tentang Bara yang membuat nama Bara dan keluarganya tercoreng.
Selain itu, Arga juga mengirimkan pesan anonim pada Bara, pesan yang berisi ancaman yang bisa membuat Bara mendekam di penjara.
"Ini hanya beberapa hal kecil yang pasti sudah membuatmu sangat terkejut, jadi berhentilah mengganggu perempuan yang sudah melupakanmu atau kau akan benar-benar menyesal dan mendapatkan hal yang lebih mengerikan dari apa yang kau dapatkan saat ini!"
Sepanjang hari itu selain karena sibuk dengan pekerjaannya, Arga juga sibuk dengan misi balas dendamnya. Sebagai kakak, Arga tidak akan membiarkan Bara menikmati hidupnya dengan tenang sebelum Bara benar-benar melupakan dan meninggalkan Luna.
"Kau beruntung karena sudah terlepas darinya Bianca, setidaknya kau tidak tahu kebusukan apa yang selama ini Bara sembunyikan dari semua orang di balik wajah polosnya," ucap Arga dalam hati sambil menatap foto Bara di layar komputernya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Arga segera membawa pandangannya ke arah pintu ruangannya dan tak lama kemudian Daffa masuk dengan membawa sebuah undangan.
"Undangan pernikahan dari klien," ucap Daffa sambil memberikan undangan itu pada Arga.
"Apa kau akan pergi bersama Bianca?" tanya Daffa.
"Tentu saja, sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu untuk menemaniku menghadiri acara pernikahan klien hahaha...." jawab Arga.
"Oke baiklah," balas Daffa dengan menghela nafasnya lalu keluar dari ruangan Arga.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat Arga meninggalkan ruangannya lalu segera mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
Seperti biasa, kecupan singkat selalu mendarat di kening Bianca saat Arga baru saja tiba di rumah.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Arga kemudian memberitahu Bianca tentang undangan pernikahan yang ia dapat dari kliennya.
"Kau harus membeli gaun baru yang akan kau kenakan nanti Bee," ucap Arga.
"Apa itu perlu? bukankah aku sudah memiliki banyak pakaian dan gaun yang indah?" tanya Bianca.
"Ini bukan hanya sekedar menghadiri pernikahan Bianca, mereka yang datang kesana adalah klien dan juga tamu penting bahkan dari luar negeri, aku tidak ingin mereka memandang rendah dirimu Bianca, kau mengerti maksudku bukan?" balas Arga.
"Baiklah aku mengerti, jadi kapan kita akan membeli gaun baru?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
"Sekarang," jawab Arga sambil memberikan ponselnya pada Bianca.
"Kau bisa memilih gaun mana saja yang kau inginkan, mereka akan segera membawanya kesini dan memastikan ukuran gaun yang sesuai denganmu," lanjut Arga.
"Waaahhh ternyata cara orang kaya berbelanja sangat berbeda dengan orang miskin sepertiku," ucap Bianca.
"Semuanya sama saja Bianca, aku hanya memanfaatkan apa yang aku miliki dan apa yang aku bisa lakukan," balas Arga.
Benar saja, satu jam setelah Bianca memilih gaunnya, beberapa orang datang ke rumahnya dengan membawa gaun dan jas yang sudah Bianca pilih untuk memastikan ukurannya sesuai dengan Bianca dan Arga.
Hari telah berganti, Bianca dan Arga sudah berada di acara pesta pernikahan klien Arga. Sama seperti yang pernah Arga katakan pada Bianca, semua yang ada disana adalah orang-orang hebat dengan pakaian mahal dan mewah yang mereka kenakan.
Karena Bianca bisa berbahasa Inggris dengan lancar, iapun mengobrol bersama beberapa partner kerja Arga yang ada disana.
Karena terlalu asik mengobrol, Bianca tidak sadar jika ia sudah meminum alkohol. Meskipun hanya meminumnya sedikit tetapi alkohol itu sudah cukup membuat Bianca mabuk.
Tapi beruntung Bianca tidak banyak melakukan hal bodoh saat itu, justru ia mengundang gelak tawa beberapa orang yang ada disana dengan berbagai ceritanya yang dianggap lucu.
Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Argapun segera menghampiri Bianca.
"Apa kau mabuk Bee?" tanya Arga pada Bianca yang sedang mengobrol bersama beberapa perempuan yang ada disana.
"Dia benar-benar perempuan yang sangat menyenangkan Arga, seharusnya sudah lama kau mengenalkannya pada kami," ucap salah satu klien Arga.
"That's right, she is smart and really gorgeous!" sahut yang lain.
"Thank you, but i think, we have to go now," balas Arga lalu membawa Bianca pergi dari pesta itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Bianca tidak berhenti mengoceh, membicarakan tentang banyak hal yang sesekali membuat Arga tertawa mendengarnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Arga segera mengangkat tubuh Bianca dan membawa Bianca masuk ke dalam kamar lalu menjatuhkan Bianca di atas ranjang.
Arga terdiam untuk beberapa saat, menatap Bianca yang kesadarannya sudah menipis saat itu. Arga kemudian tersenyum tipis sambil melepas satu persatu kancing kemejanya.