
Tanpa Arga tahu, Daffa sengaja menyiapkan makan malam istimewa untuk Arga dan Bianca. Ia menyewa satu restoran hanya untuk Arga dan Bianca.
Daffa bahkan menyulap restoran itu menjadi tempat yang romantis. Ia meminta pegawai restoran untuk menaburkan berbagai macam kelopak mawar di sekitar meja yang akan ditempati Bianca dan Arga.
Daffa juga menyiapkan beberapa pemusik yang akan mengalunkan musik romantis untuk menemani makan malam Bianca dan Arga.
Selain itu, Daffa juga sudah menyiapkan sebuah kalung yang dihiasi berlian putih dengan bentuk kelopak mawar yang terbuat dari berlian merah yang langka.
Daffa mempersiapkan semuanya dengan detail. Ia ingin makan malam Bianca dan Arga akan menjadi makan malam yang istimewa untuk mereka berdua. Ia berharap dengan malam malam istimewa itu akan ada benih-benih cinta yang tumbuh dalam hati mereka.
Di sisi lain, Bianca dan Arga masih terkejut dengan apa yang terjadi di hadapan mereka. Bianca sempat berpikir jika semua hal manis itu adalah bagian dari makan malam yang Arga persiapkan untuknya.
Namun saat melihat raut wajah Arga yang juga tampak terkejut, membuat Bianca berpikir ulang tentang siapa sebenarnya yang menyiapkan semua itu.
"Ehemm!"
Seseorang di samping Arga sengaja berdehem, karena Arga hanya terdiam dengan memegang kotak perhiasan yang ada di tangannya.
Menyadari hal itu, Argapun segera beranjak dari duduknya lalu berdiri di belakang Bianca kemudian memasang kalung itu di leher Bianca.
"Sangat cantik," ucap Arga dengan tersenyum setelah ia kembali duduk di kursinya.
Apa yang ia katakan bukanlah karena ia sedang melakukan perannya sebagai suami Bianca, melainkan sebuah ungkapan kejujuran saat ia melihat betapa cantiknya gadis di hadapannya, terlebih dengan kalung mewah yang kini menghiasi lehernya.
Bianca hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata, semua itu terlalu mengejutkan untuknya.
Tak lama kemudian hidangan pembuka datang, diikuti hidangan utama dan hidangan penutup.
Arga dan Bianca menikmati makanan mereka tanpa suara, hingga akhirnya mereka menyelesaikan acara makan malam yang cukup canggung itu.
Setelah cukup lama berada dalam kecanggungan, makan malam itupun di akhiri dengan musik yang menggema di seluruh ruangan restoran.
"Silakan," ucap salah seorang pelayan restoran sambil membawa tangannya menunjuk sopan ke arah lantai yang sudah ditaburi dengan kelopak mawar.
Bianca kemudian membawa pandangannya pada Arga dengan gelengan kepala kecil, namun Arga segera beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Bianca, mengajak Bianca untuk berdansa.
Tidak ada pilihan lain bagi Bianca, ia harus mengikuti permainan malam itu sampai selesai.
Bianca kemudian menerima uluran tangan Arga. Mereka kemudian berdiri di antara kelopak mawar yang bertebaran di lantai.
Kini hanya terlihat Bianca dan Arga yang ada disana. Bersama musik dansa yang mengalun mesra, perlahan seluruh lampu restoran mulai meredup.
Cahaya terang di dalam restoran perlahan berganti menjadi cahaya remang yang membuat Bianca cukup panik.
"Tenanglah, aku tidak akan membiarkan mereka memadamkan penerangannnya," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan, setidaknya tempat itu tidak benar-benar gelap.
Arga kemudian membawa satu tangan Bianca ke pundaknya, sedangkan satu tangannya lagi ia genggam dengan satu tangan Arga yang lain berada di pinggang Bianca.
"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Bianca pelan.
"Kau pasti bisa, melangkah saja dengan pelan, ikuti kata hatimu," balas Arga.
Alunan musik romantis pada akhirnya membawa Bianca dan Arga berdansa diakhiri dengan Arga yang membawa dirinya semakin mendekat pada Bianca dan menjatuhkan keningnya tepat di kening Bianca.
Mereka berdua terdiam tepat setelah musik berhenti. Kini jarak mereka berdua sangat dekat satu sama lain. Bianca hanya terdiam, ia seolah hanyut dalam keromantisan yang tercipta malam itu.
Tanpa sadar ia membiarkan dirinya begitu dekat dengan Arga, ia bahkan bisa merasakan hembusan hangat nafas Arga, membuat jantungnya berdetak semakin cepat dan lebih cepat.
Sama halnya dengan Bianca, untuk pertama kalinya Arga seolah membebaskan hatinya menguasai dirinya saat itu. Kedua tangannya berada di pinggang Bianca dengan kedua tangan Bianca di pundaknya.
Kedua kening mereka yang menyatu benar-benar membuat mereka sangat dekat saat itu, hingga tiba-tiba.....
PLOOKKK.... PLOOKKKK.... PLOOKKKK.....
Suara tepuk tangan membuat Bianca dan Arga tersadar dari keromantisan semu yang baru saja tercipta di antara mereka berdua.
Bianca segera melepaskan kedua tangannya dari Arga, sedangkan Arga meriah tangan Bianca dan menggenggamnya.
"Kalian benar-benar sangat romantis, kalian membuat kami terharu," ucap seseorang yang datang menghampiri Bianca dan Arga
Bersamaan dengan itu seluruh penerangan di restoran itu kembali menyala dengan tenang. Seseorang itu memperkenalkan dirinya sebagai pemilik restoran itu. Ia merasa begitu bangga bisa menjadi bagian dari hari bahagia Arga dan Bianca.
"Suatu kehormatan bagi kami karena kami bisa menjadi bagian dari kebahagiaan kalian berdua," ucap seseorang itu.
__ADS_1
"Terima kasih atas pelayanannya yang sangat baik, tapi sepertinya ini waktunya untuk saya dan istri saya meninggalkan restoran ini," balas Arga.
"Aahh iya, terima kasih sudah mempercayakan kami untuk makan malam yang istimewa ini, semoga bisa berkunjung lagi kesini di lain kesempatan," ucap seseorang itu yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Arga.
Arga dan Bianca kemudian berjalan keluar dari restoran dengan bergandengan tangan. Arga membukakan pintu mobilnya untuk Bianca, kemudian menutupnya kembali dan segera berjalan masuk ke belakang kemudi.
Tanpa banyak bicara, Arga segera mengendarai mobilnya meninggalkan restoran.
Untuk beberapa saat Bianca dan Arga hanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, tidak ada apapun yang mereka katakan dan hal itu membuat suasana semakin canggung.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah panggilan masuk dari Karina yang segera membuat Arga menepikan mobilnya. Arga kemudian menerima panggilan Karina, meskipun ada Bianca di sampingnya.
"Halo.... Arga.... apa kau bisa datang kesini sekarang? aku..... aku terluka, aku sudah mengirim lokasinya padamu!"
Mendengar Karina yang terluka, Argapun seketika membawa pandangannya pada Bianca. Ia harus segera menemui Karina, tetapi ia tidak mungkin membiarkan Bianca sendirian di jalan raya seperti sebelumnya.
Tetapi tidak mungkin juga bagi Arga untuk mengantar Bianca pulang terlebih dahulu karena perjalanan mereka ke rumah sangat jauh dan berbeda arah dengan lokasi Karina yang juga jauh saat itu.
"Ada apa? apa kau akan memintaku turun lagi?" tanya Bianca menerka.
"Arga, kau sedang bersama siapa? apa aku mengganggumu?" tanya Karina yang mendengar suara Bianca.
"Aku akan segera kesana," ucap Arga lalu mengakhiri panggilan Karina begitu saja.
"Bianca, maaf, aku....."
"Baiklah, aku mengerti, lagipula sudah ada orang-orang suruhanmu yang menjagaku," ucap Bianca memotong ucapan Arga kemudian keluar dari mobil Arga.
"Maafkan aku Bianca," ucap Arga pelan lalu segera mengendarai mobilnya pergi meninggalkan Bianca.
Bianca yang hanya seorang diri di trotoar hanya terdiam untuk beberapa saat. Ia kemudian membawa langkahnya duduk di bangku yang ada di trotoar.
Entah kenapa ia merasa resah, ada sesuatu yang mengganggu hatinya saat itu. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, sesuatu yang membuat kedua matanya berkaca-kaca.
Bianca segera membawa pandangannya menatap langit gelap, berusaha untuk menahan genangan air di kedua sudut matanya.
"Sejak kapan aku menjadi sangat cengeng seperti ini? dia hanya meninggalkanku dan ini sudah pernah terjadi sebelumnya!"
Seseorang dari dalam mobil itu segera turun dan menarik tangan Bianca.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Arga sambil membuka pintu mobilnya.
Bianca yang begitu terkejut hanya bisa menurut dan masuk ke dalam mobil Arga. Tanpa Bianca tahu, Arga merasa gelisah saat ia meninggalkan Bianca di tepi jalan. Itu kenapa Arga kembali dan mengantar Bianca sampai di rumah.
Tak ada percakapan apapun di antara mereka berdua, hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
"Aku harus pergi, tidak perlu menungguku karena sepertinya aku tidak akan pulang malam ini!" ucap Arga.
Bianca hanya diam bahkan tidak menganggukkan kepalanya sedikitpun. Ia kemudian keluar dari mobil Arga lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bercampur aduk.
Sedangkan Arga segera mengendarai mobilnya pergi untuk menuju ke lokasi Karina.
Di rumah, Bianca segera membawa dirinya ke kamar mandi. setelah puas mengguyur badannya dengan air shower, Biancapun duduk di depan cermin riasnya untuk menyisir rambutnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Bara.
"Kak Bara akhir-akhir ini sering menghubungiku, tidak seperti biasanya," ucap Bianca sebelum ia menerima panggilan Bara.
"Halo kak," sapa Bianca tak bersemangat.
"Halo Bianca, kenapa suaramu terdengar lemah sekali? apa kau sedang sakit?" tanya Bara.
"Tidak, Bianca..... Bianca hanya sedang mengantuk saja, disini sudah malam kak," jawab Bianca beralasan.
"Aahh iya, seharusnya aku tidak menghubungimu sekarang, maaf mengganggu waktu istirahatmu," ucap Bara.
"Kak Bara tidak mengganggu kok, ada apa kak Bara menghubungi Bianca?"
"Aku hanya ingin memberi tahumu, aku berencana untuk mengirim sesuatu padamu, tetapi aku ragu apakah aku harus mengirim ke alamat yang sekarang ditempati Tante Felly atau tidak," jelas Bara.
"Apa yang akan kak Bara kirim untuk Bianca?" tanya Bianca.
__ADS_1
"Kau akan tau setelah barang itu sampai, jadi kemana aku harus menulis alamatnya?"
"Ke tempat kos Lola saja kak," jawab Bianca.
"Baiklah, besok aku akan menghubungimu setelah aku berhasil mengirimnya," ucap Bara.
"Terima kasih kak, walaupun Bianca tidak tahu apa yang akan kak Bara berikan pada Bianca."
"Aku harap kau menyukainya dan memakainya," ucap Bara.
"Sekarang lanjutkan tidurmu!" lanjut Bara
Setelah panggilan berakhir. Bianca yang menyisir rambutnya di depan cermin seketika menyadari kalung yang masih melingkar di lehernya.
Bianca kemudian melepas kalung itu dan menaruhnya di laci. Untuk beberapa saat Bianca terdiam memikirkan makan malamnya bersama Arga yang baru saja terjadi.
Meskipun Bianca bukanlah sosok gadis manja yang ingin selalu diperhatikan oleh laki-laki, tetapi mendapat hal manis seperti itu membuat jantungnya berdetak kencang.
Namun semua hal yang membuatnya berdebar itu seolah berbanding terbalik dengan kepergian Arga yang tiba-tiba dan membuatnya kesal.
"Dia selalu saja pergi tiba-tiba, kemana sebenarnya dia pergi? apa dia memiliki perempuan lain di luar sana? jika memang iya, kenapa dia menikahiku? kenapa tidak menikahi perempuan itu saja?" tanya Bianca dengan kesal.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Tak dapat dipungkiri ia sebenarnya penasaran dengan kehidupan pribadi Arga yang tidak ia tahu.
"Apa aku tanyakan saja pada Daffa? Daffa pasti tau segala hal tentang Arga bukan? tapi..... tidak, untuk apa aku mencari tahu hal itu, apa pentingnya kehidupan pribadi Arga untukku? tidak ada.... abaikan saja dia Bianca, biarkan dia melakukan apapun semaunya!" ucap Bianca pada dirinya sendiri.
**
Di tempat lain, Arga yang baru saja sampai di lokasi Karina segera mencari keberadaan Karina.
Arga kemudian menghubungi Karina dan Karina meminta Arga untuk masuk ke salah satu kamar yang ada di hotel tempat Arga menghentikan mobilnya.
Arga kemudian segera masuk ke dalam hotel lalu mencari kamar Karina. Setelah menemukannya, Argapun segera mengetuk pintunya beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.
Arga begitu terkejut melihat Karina yang tampak kacau saat itu. Rambutnya berantakan, pakaiannya sobek di beberapa bagian dan yang lebih parah adalah sudut bibirnya berdarah dengan kening dan beberapa bagian tubuhnya tampak lebam.
"Apa yang terjadi padamu Karina?" tanya Arga khawatir.
Karina tidak menjawab, ia menarik Arga agar masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya.
Karina kemudian menjatuhkan dirinya dalam pelukan Arga. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Arga.
"Kita ke rumah sakit sekarang Karina, aku akan membawa polisi untuk...."
"Tidak Arga, jangan," ucap Karina dengan terisak.
"Tapi Karina....."
"Biarkan aku tetap seperti ini Arga, aku hanya membutuhkan pelukanmu," ucap Karina memotong ucapan Arga.
Arga menghela nafasnya lalu membalas pelukan Karina dengan erat. Hatinya terasa sakit melihat gadis yang dicintainya terluka di hadapannya.
Setelah Karina lebih tenang, Arga kemudian membawa Karina ke tepi ranjang.
"Kita obati lukamu terlebih dahulu," ucap Arga lalu menghubungi pihak hotel agar membawakan kotak P3K ke kamar Karina.
Tak lama kemudian salah satu pihak hotel datang dan memberikan kotak P3K pada Arga. Dengan hati-hati Arga membersihkan darah di sudut bibir Karina, lalu mengobatinya.
"Bian yang melakukan semua ini?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Karina.
"Dia laki-laki brengsek Karina, kenapa kau melarangku untuk melaporkannya ke polisi?" tanya Arga kesal karena Karina selalu membela Bian.
Karina hanya diam lalu merebahkan badannya di ranjang dengan membelakangi Arga.
Arga hanya menghela nafasnya lalu menutup tubuh Karina dengan selimut.
Waktupun berlalu, malam semakin larut dan Arga sama sekali belum terpejam sedikitpun. Sedangkan Karina sudah tampak terlelap dalam tidurnya.
Tiba-tiba Karina bergerak, pergerakan itu membuat selimutnya terangkat dan menampakkan bagian tubuhnya yang tidak seharusnya dilihat oleh Arga.
Untuk beberapa saat Arga terdiam, bagaimanapun juga ia adalah laki-laki normal dengan segala pikiran liarnya.
"Kenapa semua ini rumit sekali, kau bersama laki-laki brengsek yang tidak bisa kau tinggalkan dan orang tuaku sangat tidak menyukaimu, lalu apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa bersamamu? apakah harus dengan jalan pintas ini?" batin Arga bertanya sambil membawa langkahnya duduk di tepi ranjang Karina.
Arga menelan ludahnya sendiri, memikirkan hal liar yang ingin ia lakukan pada Karina yang sudah tidak berdaya di hadapannya.
__ADS_1