
Daffa menggelengkan kepalanya pelan, ia lalu meraih tangan Lola dan membawanya untuk duduk di kursi yang ada disana.
"Dengarkan aku baik-baik Lola, aku selalu tahu apa yang aku lakukan, aku tidak pernah melakukan apapun tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, jadi aku yakin dengan keputusanku untuk membawamu kesini," ucap Daffa pada Lola.
"Tapi bagaimana jika aku mengecewakanmu? bagaimana jika aku tidak bisa memberikan yang terbaik?" tanya Lola khawatir.
"Kau terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi Lola," balas Daffa.
"Apa kau tidak melihat siapa mereka semua? mereka semua yang ada di ruangan itu adalah orang-orang yang dikenal dan disukai banyak orang, sedangkan aku bukan siapa-siapa Daffa!" ucap Lola.
"Aku mengenalmu Lola, meskipun perkenalan kita belum lama terjadi tapi aku bisa melihat potensi yang ada dalam dirimu, aku yakin kau pasti bisa melakukannya dengan baik," balas Daffa.
Lola menghela nafasnya panjang, ia hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia semakin ragu untuk melanjutkan kesepakatannya dengan Daffa.
"Besok kau harus tetap datang kesini untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan, aku akan membantumu sebisaku Lola, aku akan membuatmu dikenal oleh banyak orang, aku akan membuat semua orang menyukaimu dengan video yang kau unggah nanti," ucap Daffa berusaha meyakinkan Lola.
"Bagaimana jika itu tidak berjalan sesuai dengan yang kau rencanakan?" tanya Lola.
"Jika kepercayaanku membuatmu merasa terbebani maka lupakan saja, tapi yang pasti aku akan tetap bersamamu, membantumu untuk bisa melakukannya dengan baik, apapun hasilnya nanti pasti akan sesuai dengan usaha yang sudah kita lakukan," jawab Daffa.
Lola tersenyum tipis mendengar ucapan Daffa. Ia tidak menyangka jika laki-laki di hadapannya itu ternyata bisa mengatakan hal-hal yang bijaksana.
"Jadi bagaimana? kau tetap mau melanjutkannya bukan?" tanya Daffa dengan membawa pandangannya menatap Lola yang tengah menundukkan kepalanya.
"Oke baiklah," balas Lola sambil membawa pandangannya menatap Daffa.
Daffa tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, ia lega karena berhasil meyakinkan Lola untuk tetap melanjutkan kesepakatannya.
"Baiklah kalau begitu, kau harus kembali lagi kesini besok pagi dan setelah kau menandatangani kontrak dengan perusahaan kau tidak bisa mundur lagi!" ucap Daffa mengingatkan.
Lola hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
"Aku pergi dulu, lanjutkan pekerjaanmu!" ucap Lola lalu membawa langkahnya pergi namun tiba-tiba Daffa menahan tangan Lola.
"Aku akan mengantarmu," ucap Daffa.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, lagi pula ini masih jam kerjamu," balas Lola sambil menarik tangannya dari Daffa.
"Kalau begitu bagaimana jika weekend besok kita mulai mengerjakannya?" tanya Daffa
"Weekend..... baiklah," balas Lola.
"Aku akan ke tempat kosmu, jadi pastikan kau tidak pergi ke manapun weekend nanti," ucap Daffa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Lola.
Lola kemudian membawa langkahnya pergi meninggalkan perusahaan itu. Dalam perjalanan pulang Lola mengirim pesan pada Bianca, menceritakan tentang bagaimana pertemuannya dengan pihak marketing di perusahaan Arga.
Lola juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Clara dan bagaimana Clara membuat jadwal pertemuan itu molor sampai lebih dari 2 jam.
"Ternyata Daffa tidak terlalu buruk," ucap Lola dalam hati saat ia mengingat ucapan Daffa padanya.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum saat memorinya kembali mengulas ketika Daffa berusaha untuk membuatnya tetap melanjutkan kesepakatan mereka.
**
Hari-hari telah berganti, Lola sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan Arga.
Pagi itu Lola berniat untuk mengerjakan videonya bersama Daffa. Karena tidak ingin hanya berdua dengan Daffa, Lolapun menghubungi Bianca agar Bianca juga datang ke tempat kostnya.
"Aku akan kesana setelah aku meminta izin pada Arga," ucap Bianca pada Lola.
"Oke baiklah, aku menunggumu," balas Lola lalu mengakhiri panggilannya pada Bianca.
Bianca kemudian keluar dari kamarnya, membawa langkahnya ke arah meja makan dimana sudah ada Arga yang duduk disana.
"Beberapa hari ini kau selalu makan di rumah, tumben sekali," ucap Bianca pada Arga.
"Bekerja di luar kota membuatku rindu masakan bibi," balas Arga beralasan.
Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, karena ia tahu jika Arga berbohong padanya tentang kepergian Arga keluar kota.
Namun Bianca tidak akan mengatakan hal itu pada Arga, ia lebih memilih untuk mengabaikan hal itu dan berpura-pura untuk tidak mengetahui kebohongan Arga.
"Setelah ini aku akan ke tempat Lola, aku harus membantunya untuk mengerjakan sesuatu," ucap Bianca pada Arga.
"Kau bisa pergi bersama Pak Dodi karena ada hal lain yang harus aku kerjakan," balas Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Setelah menyelesaikan sarapannya Biancapun segera masuk ke kamarnya.
Bianca kemudian menyambar tas selempangnya lalu memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas selempang lalu membawanya keluar dari kamar.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
__ADS_1
Ponsel Bianca berdering saat Bianca baru saja keluar dari kamarnya.
"Halo Daffa, ada apa?" tanya Bianca setelah ia menerima panggilan Daffa.
Arga yang mendengar Bianca menyebut nama Daffa seketika menajamkan pendengarannya, ia ingin tahu apa yang Bianca dan Daffa bicarakan di telepon.
"Dimana kau sekarang? apa kau sudah berada di tempat kost Lola?" balas Daffa bertanya.
"Belum, aku masih ada di rumah," jawab Bianca.
"Kalau begitu tunggu saja di rumahmu, aku akan menjemputmu," ucap Daffa.
"Menjemputku? tidak perlu Daffa, aku akan pergi bersama Pak Dodi, lebih baik kita bertemu disana saja," balas Bianca.
"Oke baiklah," ucap Daffa lalu mengakhiri panggilannya pada Bianca.
Di sisi lain Arga segera berlari menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya lalu menyambar kunci mobilnya kemudian kembali menuruni tangga dengan berlari kecil.
"Aku tidak akan membiarkan Daffa bersama Bianca, walaupun ada Lola juga disana," ucap Arga dalam hati sambil membawa langkahnya berlari kecil ke arah Bianca yang hampir masuk ke dalam mobil.
"Bianca tunggu!" ucap Arga yang membuat Bianca mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Bianca.
"Aku akan mengantarmu," jawab Arga lalu membawa langkahnya masuk ke dalam mobilnya.
Pak Dodi yang sudah bersiap di dalam mobilpun segera keluar setelah ia mendengar jika Arga akan mengantar Bianca.
Biancapun hanya bisa menurut lalu masuk ke dalam mobil Arga.
"Bukankah ada hal lain yang harus kau kerjakan?" tanya Bianca pada Arga saat Arga sudah mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.
"Aku bisa mengerjakannya nanti setelah kau menyelesaikan urusanmu dengan Lola," balas Arga.
"Kenapa harus menungguku? bukankah kau hanya mengantarku ke tempat kost Lola?" tanya Bianca.
"Aku juga akan menemanimu disana," balas Arga yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Jangan berpikir terlalu jauh, aku hanya sedang merasa bosan di rumah," ucap Arga.
"Terserah kau saja asalkan jangan membuat keributan disana," balas Bianca.
"Apa kau pikir aku anak kecil yang suka membuat keributan?" tanya Arga.
"Tentu saja tidak," ucap Arga.
"Kita lihat saja nanti," balas Bianca dengan tersenyum tipis karena Bianca tahu jika Arga dan Lola pasti akan memperdebatkan hal-hal kecil yang terjadi.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat kost Lola. Saat Arga akan keluar dari mobilnya Bianca menahan tangan Arga dan membawa pandangannya menatap Arga.
"Arga ingat, kau tidak boleh membuat keributan disini, jika kau tidak bisa menjaga sikapmu lebih baik kau pergi!" ucap Bianca pada Arga.
"Baiklah aku mengerti," balas Arga.
Bianca dan Arga kemudian keluar dari mobil lalu membawa langkahnya ke arah kamar kost Lola.
Bianca mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka dari dalam.
"Kenapa dia ada disini?" tanya Lola pada Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga yang berdiri di samping Bianca.
"Daripada kau bertanya seperti itu bukankah lebih baik kau mempersilahkan tamumu untuk masuk?" sahut Arga yang membuat Bianca segera memukul pelan perut Arga.
Arga hanya menghela nafasnya lalu mengalihkan pandangannya, berusaha untuk mengendalikan sikapnya.
"Dia memaksa untuk ikut, tidak masalah bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Lola.
"Asalkan dia tidak membuat keributan, masuklah!" balas Lola.
Bianca dan Arga kemudian masuk ke dalam kamar kos Lola. Bianca memberikan pada Lola satu kantong makanan ringan dan minuman yang sempat ia beli sebelumnya sampai di tempat kos Lola.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar dari depan kamar kost Lola, Lolapun segera membawa langkahnya untuk membuka pintu dan mendapati Daffa yang sudah berdiri di depan kamar kosnya dengan membawa kardus yang berukuran cukup besar.
"Apa yang kau bawa Daffa?" tanya Lola sambil membantu Daffa untuk membawa masuk kardus itu.
"Ini adalah beberapa barang yang harus kau gunakan," jawab Daffa.
"Arg, kau juga disini?" lanjut Dafa bertanya saat ia melihat Arga yang duduk di samping Bianca.
Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Lola, bantu aku untuk memasang semua peralatan ini," ucap Daffa sambil mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalam kardus yang dibawanya.
__ADS_1
Apa yang ada di dalam kardus itu adalah sebuah tripod dan ring light serta beberapa barang lainnya yang biasa digunakan untuk membuat video.
"Sepertinya kau terlalu bersemangat Daffa," ucap Lola sambil mengeluarkan barang-barang dari dalam kardus itu.
"Bukankah kita sudah bersepakat untuk berusaha melakukan yang terbaik?" balas Daffa yang diikuti anggukan kepala dan senyum oleh Lola.
"Aku akan membantu memasangnya," ucap Bianca lalu membantu untuk memasang ring light dan kamera pada tripod yang sudah dibawa oleh Daffa.
Tiba-tiba Bianca merintih saat tangannya terjepit besi antara ring light dan tripod. Daffa yang berada di dekat Biancapun segera meraih tangan Bianca untuk melihat keadaan tangan Bianca.
"Apa kau terluka?" tanya Daffa dengan memegang tangan Bianca.
Arga yang melihat hal itupun segera beranjak dari duduknya lalu menepis tangan Daffa dengan kasar.
Arga meraih tangan Bianca dan membawa Bianca kembali duduk sambil memeriksa tangan Bianca.
"Seharusnya kau lebih berhati-hati!" ucap Arga.
"Aku tidak terluka, aku hanya terkejut," balas Bianca sambil menarik tangannya dari Arga.
Aetelah beberapa lama akhirnya Daffa selesai mempersiapkan peralatan untuk merekam, sedangkan Lola baru saja selesai mempersiapkan dirinya.
"Kenapa ada produk ini disini?" tanya Arga saat ia menyadari jika ada produk barunya di meja Lola.
"Apa kau datang kesini tanpa kau tahu apa yang akan kita lakukan?" balas Daffa bertanya.
"Aku kesini hanya untuk mengantar Bianca," jawab Arga.
"Hanya mengantar? kalau begitu pulanglah!" sahut Lola.
"Jangan mengkhawatirkan Bianca, aku bisa mengantarnya pulang nanti," ucap Daffa.
"Apa kalian semua sangat ingin aku pergi dari sini?" tanya Arga.
"Arga sudahlah," ucap Bianca pelan sambil memegang tangan Arga agar Arga tidak membuat keributan disana.
"Mereka tidak menyukaiku Bianca, mereka tidak ingin aku ada disini," balas Arga.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Kau seperti anak kecil," ucap Bianca sambil menepuk pelan kepala Arga lalu membantu Lola untuk melanjutkan apa yang akan ia lakukan.
Lola dan Biancapun sibuk dengan kegiatan mereka, sedangkan Daffa dan Arga duduk di tempat lain yang tidak terlihat oleh kamera.
"Kenapa kau tidak memberitahuku jika Lola terlibat dengan promosi produk kita?" tanya Arga pelan ada Daffa yang duduk di sampingnya.
"Kenapa aku harus memberitahumu? bukankah kau tidak pernah peduli dengan hal itu?" balas Daffa.
Arga menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Arga memang selalu menyerahkan masalah produk baru mereka pada Daffa, ia emang mempercayai Daffa untuk mengatur semuanya.
"Tapi kau tidak melibatkan Bianca bukan?" tanya Arga yang membuat Daffa segera membawa pandangannya pada Arga.
"Memangnya kenapa jika Bianca terlibat?" balas Daffa bertanya.
"Kau tahu seperti apa pernikahanku dengan Bianca bukan? aku hanya tidak ingin dia menarik banyak perhatian orang lain, aku juga tidak ingin membuat media semakin penasaran dengan latar belakang Bianca," jawab Arga.
Daffa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, setidaknya ia tahu jika artikel yang Bianca terbitkan sama sekali tidak menyebutkan nama Bianca karena Bianca memiliki nama penanya sendiri.
Setelah beberapa lama mengambil video akhirnya Lolapun selesai. Daffa kemudian memeriksa hasil video itu lalu merevisi beberapa hal.
"Apa tidak sebaiknya suaranya menggunakan teknik voice over saja?" tanya Arga saat ia ikut memperhatikan hasil video Lola.
"Mmmm.... aku setuju, jadi kau bisa fokus menggunakan produk ini tanpa harus mengatakan banyak hal," ucap Daffa.
"Tapi bukankah akan terlihat kaku jika Lola hanya diam tanpa mengatakan apapun?" tanya Bianca.
"Kita bisa menggabungkan keduanya agar suasana terlihat lebih hidup, bagaimana?" balas Arga.
Daffa, Bianca dan Lola kemudian saling pandang lalu kompak menganggukkan kepala mereka pelan. Mereka menyetujui apa yang Arga katakan.
"Untuk hari ini kita berhenti sampai disini dulu, kita lanjutkan lagi besok!" ucap Daffa.
"Kau sudah melakukan yang terbaik Lola, besok pasti bisa lebih baik lagi!" ucap Bianca lalu memberikan satu botol minuman pada Lola.
"Terima kasih Bianca, jika bukan karena script yang kau berikan padaku mungkin aku tidak akan bisa berbicara dengan baik," balas Lola.
"Bianca!"
"Bianca!"
Bianca terdiam saat tiba-tiba Arga dan Daffa memberikan sebotol minuman padanya dengan bersamaan.
__ADS_1
Menyadari hal itu Daffa dan Argapun saling pandang. Arga menatap Daffa dengan pandangan tidak suka, sedangkan Daffa menatap Arga dengan tersenyum tipis lalu meneguk minuman yang baru saja ia berikan pada Bianca sebelum Bianca menerimanya.