
Daffa yang melihat Karina akan mengejar Arga seketika sigap untuk menahan Karina agar berhenti mengajar Arga.
"Lepaskan Daffa!" ucap Karina dengan kesel sambil berusaha melepaskan tangannya dari Daffa.
Namun bukannya melepaskan tangan Karina, Daffa justru semakin erat mencengkeram tangan Karina.
"Daffa lepaskan!" teriak Karina yang masih berusaha menarik tangannya dari Daffa.
"Berhentilah mengganggu Arga, apa kau lupa jika kau sendiri yang mengakhiri hubunganmu dengan Arga!" ucap Daffa.
"Jangan ikut campur, kau tidak tahu apa-apa!" balas Karina.
"Aku tahu semua hal tentangmu Karina, bahkan mungkin aku lebih tahu daripada Arga, aku yang lebih dulu tahu jika kau berselingkuh dari Arga, aku juga yang lebih dulu tahu saat kau memutuskan untuk bertunangan dengan selingkuhanmu itu!" ucap Daffa.
"Sejak dulu kau memang benalu dalam hubunganku dengan Arga, Daffa!" balas Karina.
"Justru aku yang menyelamatkan Arga dari perempuan licik sepertimu, sekarang jangan harap Arga akan menoleh padamu lagi, karena namamu benar-benar sudah tidak ada dalam hatinya," ucap Daffa.
"Aku tidak percaya, aku yakin Arga masih mencintaiku, jika tidak dia tidak mungkin menemuiku dan menghabiskan banyak waktunya untukku bahkan setelah dia menikah dengan Bianca," balas Karina.
"Jika apa yang kau katakan benar, Arga tidak akan mungkin meninggalkanmu saat ini!" ucap Daffa.
"Aku tahu dia masih mengharapkanku, dia sengaja menari ulur hubungan kita agar aku mendekat padanya, akan aku pastikan jika Arga tidak akan pernah melepaskanku bahkan saat dia sudah memiliki Bianca sebagai istrinya," balas Karina penuh percaya diri
"Kau memang perempuan gila, kau sama sekali tidak sadar jika Arga sekarang benar-benar sudah mencampakkanmu!" ucap Daffa.
"Jika memang benar seperti itu maka sekarang waktunya aku yang mendekatinya dan aku yakin tidak akan sulit bagiku untuk bisa membuat Arga kembali padaku," balas Karina dengan tersenyum tipis.
"Kau tidak akan pernah berhasil melakukan hal itu karena aku pastikan Arga akan semakin menjauh darimu setelah dia benar-benar yakin jika dia sudah jatuh cinta pada Bianca," ucap Daffa.
"Bianca hanya pelarian bagi Arga, aku tahu dia tidak benar-benar mencintai Bianca," balas Karina sambil menarik tangannya dengan kasar dari cengkeraman tangan Daffa.
"Asal kau tahu Daffa, banyak hal yang sudah terjadi antara aku dan Arga bahkan setelah dia menikah dengan Bianca, aku yakin kau tidak tahu karena Arga pasti tidak menceritakannya padamu, karena hanya aku dan Argalah yang tahu bagaimana dekatnya hubungan kita di belakang Bianca," ucap Karina dengan tersenyum tipis lalu berjalan pergi begitu saja.
"Dia memang perempuan gila!" ucap Daffa kesal.
Daffa kemudian kembali ke meja kerjanya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Arga, namun sampai tiga panggilan tidak ada satu panggilanpun yang terjawab.
"Kemana Arga pergi? tidak mungkin dia berlari hanya untuk menghindari Karina bukan?" batin Daffa bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Bianca? Arga panik pasti hanya karena satu alasan, Bianca......"
Daffa kemudian mencari nama mama Arga dalam penyimpanan kontaknya lalu menghubungi Mama Arga, namun tidak ada jawaban sampai beberapa kali ia mencobanya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Daffa berdering, sebuah pesan masuk dari papa Arga.
"Ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit, om harap kau bisa menghandle pekerjaan Arga untuk sementara."
Dengan cepat Daffapun membalas pesan papa Arga.
"Baik Om."
Dalam hatinya Daffa bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Bianca, namun ia berharap jika tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Bianca.
Di tempat lain, Arga yang baru saja sampai di rumah sakit segera berlari ke arah ruangan Bianca dan mendapati mama dan papanya yang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Bianca.
Saat Arga akan masuk, Nadine segera mencegah Arga karena dokter masih memeriksa keadaan Bianca.
"Dokter masih memeriksa keadaannya Arga, kita tidak boleh masuk untuk sementara," ucap Nadine pada Arga.
"Apa yang terjadi pada Bianca ma? dia baik-baik saja bukan?" tanya Arga dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Mama juga tidak tahu Arga, tiba-tiba saja garis di monitor bergerak cepat, Mama panik dan segera memanggil dokter, sudah hampir 30 menit dokter berada di dalam untuk memeriksa keadaan Bianca," jelas Nadine.
"Bianca pasti baik-baik saja, jangan memikirkan apapun dan tunggu penjelasan dari dokter!" ucap David pada Arga.
Arga hanya diam lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berharap jika tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Bianca.
"Aku mohon bertahanlah Bianca, selama apapun kau terbaring seperti ini aku akan tetap menunggumu dan tidak akan pernah meninggalkanmu, asalkan kau masih berjuang untuk tetap bertahan," ucap Arga dalam hati.
Tak lama kemudian dokter dan suster keluar dari ruangan Bianca. Arga, Nadine dan Davidpun segera beranjak dari duduknya untuk mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan Bianca saat itu.
"Ini benar-benar suatu keajaiban, ini adalah hal baru yang pernah saya tangani selama saya menjadi dokter," ucap dokter dengan senyum di wajahnya.
"Apa maksud dokter? apa yang terjadi pada Bianca dok?" tanya Arga.
"Pasien yang mengalami mati otak seharusnya sudah kehilangan kemampuannya untuk bernafas, tetapi saat ini otak pasien tiba-tiba memberikan respon yang membuat kinerja organ lain mulai berfungsi dengan baik termasuk organ pernafasannya," jawab dokter menjelaskan.
"Apa itu artinya Bianca sudah sadar dok?" tanya Arga.
"Untuk saat ini dia belum sadar dan masih dalam keadaan koma, tetapi sekarang kita memiliki harapan yang lebih besar dari sebelumnya, jika kinerja otaknya semakin meningkat bisa dipastikan dia akan segera melewati masa komanya," jawab dokter.
Seketika Arga membawa pandangannya pada sang Mama dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Nadinepun segera memeluk Arga dengan erat.
Ia bisa mengerti jika penjelasan dokter yang baru saja mereka dengar adalah angin segar tidak hanya bagi Arga, tapi juga bagi dirinya dan sang suami yang berharap Bianca akan segera sadar dan kembali menjalani kehidupan normalnya bersama Arga.
"Meskipun sekarang pasien dalam keadaan koma, tetapi tidak menutup kemungkinan jika pasien bisa mendengar suara apapun di sekitarnya, jadi akan lebih baik jika pihak keluarga memberikan semangat pada pasien agar pasien tidak menyerah untuk memperjuangkan hidupnya," ucap dokter.
"Baik dok terima kasih," balas Arga.
"Apa yang terjadi pada Bianca adalah sebuah keajaiban yang bahkan dokterpun terkejut melihatnya, ini pasti terjadi karena keyakinanmu pada Bianca, Arga!" ucap Nadine pada Arga.
"Sekarang mama dan papa juga harus yakin jika Bianca pasti akan bangun dari tidur panjangnya, selama apapun dia tertidur," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Mama dan papanya.
Arga kemudian masuk ke ruangan Bianca, sedangkan mama dan papa Arga memilih untuk pulang, membiarkan Arga menghabiskan waktunya bersama Bianca.
"Terima kasih sudah bertahan Bianca, terima kasih sudah menunjukkan pada mereka semua bahwa apa yang aku yakini benar, terima kasih sudah berjuang sejauh ini," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca.
**
Hari-hari telah berlalu, respon otak Bianca setiap hari semakin meningkat sampai akhirnya dokter memutuskan untuk melepaskan alat penunjang hidup Bianca karena keadaan Bianca yang sudah membaik.
Meskipun begitu Bianca masih belum terbangun dari tidur panjangnya. Namun semua alat penunjang hidup kini sudah tidak ada lagi yang melekat di tubuhnya karena seluruh organ dalam tubuh Bianca sudah bekerja dengan baik.
"Kenapa Bianca belum sadar juga dok? bukankah keadaanya sudah membaik? dia bahkan sudah bisa bernafas sendiri tanpa alat bantu," tanya Arga pada dokter yang sedang memeriksa Bianca saat itu.
"Keadaan pasien memang sudah membaik, tetapi dia memerlukan waktu untuk bisa sadar," jawab dokter.
Dokter kemudian memanggil suster untuk membantu memindahkan Bianca ke ruangan lain.
Kini Bianca sudah meninggalkan ruangan ICU dan dirawat di ruangan rawat VIP sesuai dengan permintaan Arga.
Setelah Bianca dipindahkan, dengan pelan Arga mengusap setiap jengkal tubuh Bianca yang bisa dijangkaunya dengan tissue basah.
Sejak Bianca dirawat di rumah sakit, Arga selalu melakukan hal itu bahkan sampai hari itu, saat Bianca sudah dipindahkan ke ruang rawat.
"Kau sudah berjuang dengan keras Bianca, aku sangat berterima kasih padamu dan aku berjanji akan lebih melindungimu setelah kau bangun dari tidur panjangmu," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.
Tak lama kemudian pintu ruangan Bianca terbuka, terlihat Daffa dan Lola yang berjalan masuk menghampiri Arga.
"Aku baru saja pergi ke ruangan ICU dan suster memberitahuku jika Bianca sudah dipindahkan ke ruang rawat," ucap Daffa.
"Keadaannya semakin membaik, jadi dokter melepas semua alat penunjang hidupnya dan memindahkannya ke ruang rawat," jelas Arga.
"Syukurlah kalau begitu, apa itu artinya dia akan segera sadar?" ucap Lola sekaligus bertanya.
__ADS_1
"Kita hanya bisa berdoa dan menunggunya, Lola," jawab Arga.
Lola tersenyum lalu membawa langkahnya ke samping ranjang Bianca dan menggenggam satu tangan Bianca yang lain.
"Aku tahu kau tidak akan menyerah dalam hal apapun Bianca, tidak akan ada yang bisa mengalahkan seorang Bianca karena aku tahu bagaimana kau berjuang untuk hidupmu," ucap Lola dengan menatap Bianca masih terpejam.
"Dia memang perempuan yang hebat," ucap Daffa yang juga membawa pandangannya menatap Bianca.
"Tentu saja, dia adalah istriku," balas Arga dengan bangga.
"Kau tahu bagaimana sifat Bianca Arga, dia adalah perempuan yang tidak mudah jatuh cinta jadi aku rasa kaupun tidak akan mudah untuk membuatnya jatuh cinta padamu, tapi aku harap kau tidak akan menyerah untuk membuat Bianca jatuh cinta padamu," ucap Lola.
"Aku tahu Lola, aku sudah cukup mengenalnya dengan baik selama ini dan aku akan melakukan semua hal untuk membuat Bianca jatuh cinta padaku," balas Arga.
"Aku dan Lola akan siap membantumu Arga," ucap Daffa sambil menepuk pelan bahu Arga.
**
Hari telah berganti, kini Bianca sudah dirawat di ruang rawat VIP tanpa alat penunjang hidup yang sebelumnya tidak pernah lepas dari tubuhnya.
Meskipun keadaan Bianca sudah membaik tetapi belum ada tanda-tanda Bianca akan sadar dari komanya.
Argapun tetap memberikan perhatiannya pada Bianca seperti saat Bianca masih berada di ruang ICU.
Dengan keadaan Bianca yang sudah membaik tidak membuat Arga mengurangi perhatiannya pada Bianca.
Setiap harinya ia tetap berangkat ke kantor dan akan pulang dari kantor tepat pukul 4 sore lalu segera menghampiri Bianca setelah ia membersihkan diri dan berganti baju.
Arga melakukan banyak aktivitasnya di dalam ruangan Bianca, mulai dari mengerjakan pekerjaannya, membaca buku hingga bercerita di samping ranjang Bianca.
Di sisi lain Karina masih berusaha untuk membuat Arga kembali padanya, ia masih tidak percaya jika Arga benar-benar sudah melupakannya karena ia tahu bagaimana Arga masih mengharapkannya bahkan setelah pernikahannya dengan Bianca.
"Tidak mungkin Arga dengan mudah melupakanku, dia pasti tidak akan menemuiku lagi jika dia memang sudah melupakanku, tapi dia bahkan berbohong pada Bianca hanya demi menemuiku," ucap Karina sambil membawa langkahnya keluar dari rumah.
Karena harus berhemat, Karina kini pergi kemanapun dengan menggunakan bus. Seperti pagi itu, dia pergi ke halte lalu segera menaiki bus yang akan membawanya pergi ke tempat tujuannya.
"Sekarang bukan waktunya untuk menarik ulur Arga seperti dulu, aku harus merendahkan harga diriku untuk bisa membuat Arga kembali padaku," ucap Karina dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, buspun berhenti di halte tujuan Karina. Karinapun segera turun dari bus dan membawa langkahnya pergi meninggalkan halte.
"Jika aku dulu bisa berselingkuh dari Arga dan berhubungan dengan Bian, maka sekarang akupun bisa berselingkuh dari Bian dan memulai hubungan ku diam-diam dengan Arga," ucap Karina dengan tersenyum tipis.
Setelah cukup lama berjalan, Karinapun mulai memasuki area perumahan mewah.
"Aku membutuhkanmu Arga, aku akan melakukan hal gila ini hanya agar kau kembali padaku dan aku tidak bisa meninggalkan Bian karena aku juga membutuhkan Bian yang bisa memberi apa yang aku inginkan yang tidak bisa aku dapatkan darimu," ucap Karina dalam hati.
Setelah 10 menit berjalan Karina sampai di depan sebuah rumah mewah yang dulu pernah ia datangi bersama Arga.
"Selamat pagi, ada perlu apa berdiri disini?" tanya satpam yang melihat Karina hanya berdiri di depan gerbang rumah orang tua Arga.
"Nama saya Karina, saya ingin bertemu dengan tante Nadine Pak, bolehkah saya masuk?" jawab Karina sekaligus bertanya.
"Saya sampaikan dulu pada ibu, mohon ditunggu sebentar," jawab satpam lalu mengkonfirmasi kedatangan Karina pada Nadine.
Nadine yang terkejut tentu saja menolak untuk menemui Karina dan meminta satpam untuk mengusir Karina.
"Maaf sepertinya ibu tidak bisa menerima tamu, jadi silakan pergi," ucap satpam pada Karina.
"Sudah kuduga, tante Nadine tidak akan mau menemuiku," ucap Karina dalam hati dengan tersenyum tipis.
"Tolong katakan pada tante Nadine jika saya datang untuk memberitahu tante Nadine tentang bagaimana hubungan saya dengan Arga di belakang Bianca," ucap Karina pada satpam.
Satpam yang mendengar ucapan Karinapun begitu terkejut dan dengan ragu kembali mengkonfirmasi pada Nadine tentang apa yang baru saja Karina katakan.
__ADS_1
Mendengar apa yang diucapkan satpam padanya, Nadinepun segera meminta satpam untuk membiarkan Karina masuk dan dengan penuh senyum Karinapun membawa langkahnya memasuki rumah orang tua Arga.