Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Apakah Pria yang Sama?


__ADS_3

Di ruangannya, Arga segera membaringkan Bianca di sofa.


"Aku akan menghubungi dokter agar kesini," ucap Arga lalu mengambil ponsel yang ada di sakunya.


"Tidak Arga, tidak perlu," ucap Bianca dengan menahan tangan Arga.


"Kalau begitu aku akan meminta Daffa untuk mengantarmu ke rumah sakit," ucap Arga yang akan pergi memanggil Daffa, namun lagi-lagi Bianca menahannya.


Bianca kemudian beranjak dan duduk di sofa.


"Aku baik-baik saja Arga, aku hanya sedikit lelah," ucap Bianca.


"Maafkan aku Bianca, seharusnya aku tidak membawamu kesini," ucap Arga yang merasa bersalah pada Bianca.


"Bukan salahmu Arga, aku sendiri yang meminta ikut," balas Bianca.


"Lanjutkan saja apa yang harus kau lakukan, aku akan beristirahat sebentar disini lalu pulang," ucap Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang lalu duduk di samping Bianca.


"Aku tidak bisa berpikir apapun saat ini Bianca," ucap Arga dengan menundukkan kepalanya dan menutup wajah dengan kedua tangannya.


Arga terlihat sangat frustasi saat itu.


"Apa ini masalah yang sangat berat? apa tidak sebaiknya kau memberi tahu papa?" tanya Bianca.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menyelesaikan semua masalah yang ada di perusahaan ini Bianca, jadi aku tidak mungkin meminta bantuan papa dan aku harap kau tidak mengatakan apapun pada papa tentang masalahku di perusahaan," jelas Arga.


"Aku mengerti, aku tidak akan mengatakan apapun pada mama dan papa," balas Bianca.


Lagi-lagi Arga mengela nafasnya panjang. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dengan memejamkan kedua matanya.


Bianca bisa melihat seolah ada beban berat yang ada di kedua bahu Arga saat itu.


"Kau bisa menceritakan padaku apapun masalahmu jika kau mau, tapi aku tidak akan memaksa jika kau tidak ingin menceritakannya," ucap Bianca.


"Apa kau melihat pria yang keluar dari ruangan tadi?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Dia baru saja merebut klien pentingku Bianca, aku tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal itu, dia bahkan mendapatkan kerugian yang tidak sedikit saat dia merebut klien itu dariku," jelas Arga.


"Lalu bagaimana denganmu Arga? apa kau juga mendapat kerugian yang tidak sedikit?" tanya Bianca.


"Jauh lebih besar daripada kerugian yang dia dapat Bianca, aku benar-benar sangat kacau saat ini!" jawab Arga sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


"Dia menerima kerugian dengan merebut klien itu dari Arga, kenapa? kenapa dia melakukan hal itu? apa karena aku? apa dia masih menyimpan dendam padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Arga, aku ingin ke toilet sebentar," ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya.


Di ruangannya, Arga berusaha memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Namun semakin ia memikirkannya, semakin Arga dipenuhi oleh rasa emosi dalam dirinya.


Ia tidak akan semarah itu jika ia mengerti apa maksud dari perusahaan itu merebut kliennya. Ia merasa seolah perusahaan itu merendahkan dirinya yang sudah berusaha bernegosiasi untuk mencari jalan tengah dari masalah yang ada.


Arga tidak mengerti kenapa perusahaan itu mau menerima kerugian yang tidak sedikit dan membuat perusahaan Arga merugi cukup besar.


"Aaarrgghh..... sial.... apa yang harus aku lakukan sekarang!!"


Arga yang sudah kehilangan kendali meninju dinding ruangannya berkali-kali sampai tangannya terluka. Emosi benar-benar sudah menguasai dirinya saat itu.


Sampai akhirnya Bianca datang dan segera menahan tangan Arga yang sudah berdarah.


"Arga, apa yang kau lakukan, berhentilah!"


"Pergilah Bianca, biarkan aku sendiri!" ucap Arga dengan menjatuhkan dirinya di lantai.


"Kendalikan emosimu Arga, masalahmu tidak akan selesai jika kau menghadapinya dengan emosi seperti ini!" ucap Bianca berusaha menenangkan Arga.


"Aku gagal Bianca, aku akan menghancurkan perusahaan papa jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini!" balas Arga yang semakin merasa frustasi dengan masalahnya.


Melihat Arga yang tampak sangat kacau saat itu, Biancapun menggeser posisinya lebih dekat pada Arga lalu membawa kepala Arga bersandar di bahunya.


"Maafkan aku, aku tidak tahu seberapa besar masalah yang sedang kau hadapi saat ini," ucap Bianca yang duduk di hadapan Arga dengan kepala Arga yang bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Aku takut akan menghancurkan perusahaan papa Bianca, aku takut akan mengecewakan mama dan papa," balas Arga dengan helaan nafas yang begitu berat.


"Tuntaskan semua emosimu sekarang, tapi jangan melukai dirimu sendiri, Arga," ucap Bianca dengan menepuk pelan punggung Arga.


Arga kemudian memeluk Bianca, membuat Bianca semakin mendekat pada Arga. Kini mereka berdua duduk di lantai dengan tangan Arga yang memeluk Bianca erat, sedangkan Bianca masih ragu untuk membalas pelukan Arga.


Arga hanya terdiam, ia sepenuhnya sadar dengan apa yang dia lakukan saat itu. Namun ia membiarkan dirinya mencari ketenangan dalam pelukan Bianca karena entah kenapa memeluk Bianca selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman.


Sama halnya dengan Arga, Biancapun hanya terdiam dengan kedua tangannya yang masih ragu untuk memeluk Arga.


Jantungnya berdetak kencang, dadanya berdebar namun apa yang ia rasakan saat itu sama sekali tidak membuatnya risih, ia justru merasa nyaman dengan apa yang Arga lakukan padanya saat itu.


"Apa kau marah padaku Bianca?" tanya Arga dengan posisi yang masih memeluk Bianca.


"Tidak, tenangkan dirimu sebelum kau memikirkan apa yang harus kau lakukan selanjutnya," jawab Bianca sambil menepuk pelan punggung Arga.


Arga yang semakin nyaman kini memejamkan kedua matanya, membiarkan emosinya luruh berganti dengan rasa tenang dan nyaman yang ia rasakan saat itu.


Di sisi lain, Daffa yang baru saja membuka pintu ruangan Arga, seketika terdiam untuk beberapa saat ketika ia melihat apa yang ada di hadapannya.


Daffa tersenyum tipis lalu dengan pelan menutup pintu ruangan Arga.


"Sepertinya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh," ucap Daffa dalam hati.


Daffa kemudian mengerjakan pekerjaannya, berusaha mencari solusi atas masalah yang sedang di hadapi perusahaan orang tua Arga.


Tiba-tiba seseorang berjalan ke arah ruangan Arga, dengan cepat Daffa menghentikannya agar seseorang itu tidak mengganggu Arga dan Bianca.


"Berhenti!" ucap Daffa yang membuat seseorang itu mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu ruangan Arga.


"Pak Daffa, saya harus meminta tanda tangan pada pak Arga," ucap seseorang itu.


"Serahkan padaku, aku akan meminta Arga menandatanganinya nanti!"


"Tapi ini harus segera di tanda tangani agar bisa....."


"Aku tau, Arga sedang tidak bisa diganggu, aku akan segera mengembalikannya padamu setelah Arga menandatanganinya!" ucap Daffa sambil merebut sebuah map dari tangan seseorang itu.


"Baik pak, terima kasih," ucapnya lalu pergi.


Di ruangan Arga, setelah dirinya sudah lebih tenang, Arga kini duduk di sofa bersama Bianca.


"Jika kau sudah tenang dan ingin sendiri, aku akan pulang sekarang," ucap Bianca.


"Jangan pergi," balas Arga sambil menggenggam tangan Bianca dengan erat, membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada tangan Arga yang menggenggam tangannya.


"Maafkan aku," ucap Arga yang bersalah karena tiba-tiba menggenggam tangan Bianca.


Namun bukannya marah seperti biasanya, Bianca justru tersenyum dan menaruh tangan Arga pada genggaman kedua tangannya.


"Arga, apapun yang terjadi, jangan pernah melukai dirimu sendiri seperti tadi, itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah, jika kau butuh pelampiasan amarahmu, kau bisa marah dan berteriak sesukamu asalkan kau tidak menyakiti dirimu sendiri atau orang lain," ucap Bianca.


"Tapi, akan lebih baik jika kau merasa emosi sudah memenuhi dirimu, cari sesuatu yang bisa meredakan emosimu, jangan biarkan emosi berlarut-larut terlalu lama dalam dirimu," lanjut Bianca.


"Aku tidak bisa memikirkan apapun saat ini, pikiranku benar-benar sangat kacau," balas Arga.


"Aku mengerti, setidaknya biarkan seseorang menemanimu, walaupun aku tidak bisa membantu apapun untukmu, setidaknya aku bisa menahanmu agar tidak melukai dirimu sendiri," ucap Bianca lalu melepaskan genggaman tangannya pada Arga.


Bianca kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil kotak P3K lalu membersihkan darah yang ada pada tangan Arga.


"Berjanjilah untuk tidak melakukan hal ini lagi Arga," ucap Bianca sambil mengoleskan obat pada tangan Arga lalu membalutnya dengan perban.


Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


Dalam hatinya Arga merasa begitu bersyukur karena ada Bianca bersamanya. Saat dimana ia terpuruk dengan masalah pekerjaannya, Bianca ada di sampingnya dan menenangkan kekacauan dirinya.


Sangat berbeda saat Arga berhubungan dengan Karina. Jika Arga sedang sibuk dengan pekerjaannya, Karina selalu marah padanya. Saat Arga sedang pusing karena masalah pekerjaannya, Karina justru menambah beban pikirannya.


Selama mereka berhubungan, Karina tidak pernah bisa mengerti pekerjaan Arga. Karina selalu menyebut kesibukan Arga sebagai alasannya berselingkuh bahkan sampai terakhir kali mereka bertemu Karina masih mempermasalahkan pekerjaan Arga.


Sedangkan Bianca, meskipun ia hanya istri sebatas kontrak bagi Arga, tetapi Bianca bisa menjadi partner yang baik untuk Arga.

__ADS_1


Bianca bisa membantu Arga menyelesaikan masalah pekerjaannya, Bianca bisa memahami kesibukan Arga, bahkan Bianca bisa membuat Arga merasa tenang di tengah emosinya yang memuncak.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Arga dan Bianca kompak membawa pandangan mereka ke arah pintu.


Tak lama kemudian pintu ruangan Arga terbuka dan Daffa masuk dengan membawa sebuah map.


"Ini berkas yang harus kau tandatangani!" ucap Daffa sambil memberikan map itu pada Arga.


Arga kemudian beranjak dari duduknya untuk menandatangani berkas itu lalu mengembalikannya pada Daffa.


"Lebih baik kau pulang dulu, kita bahas masalah ini besok saja!" ucap Daffa pada Arga.


"Bagaimana denganmu?" balas Arga bertanya.


"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan, aku akan menghubungimu lagi nanti, sekarang pulanglah, kau dan Bianca harus beristirahat!"


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Setelah Daffa keluar, Arga kembali duduk di samping Bianca.


"Apa yang ingin kau lakukan sekarang Arga?" tanya Bianca pada Arga.


"Entahlah, aku tidak bisa berpikir apapun sekarang," jawab Arga dengan memijit keningnya yang terasa pusing.


"Lebih baik kita pulang sekarang, kau harus beristirahat dan mulai memikirkan langkah selanjutnya setelah kau menjernihkan pikiranmu," ucap Bianca.


"Baiklah," balas Arga lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya bersama Bianca.


"Aaahh iya, aku menitipkan koper kita di resepsionis tadi!" ucap Bianca yang segera berlari kecil ke arah resepsionis.


"Astaga aku lupa, apa kau juga membawa koperku?" tanya Arga


"Tentu saja," jawab Bianca.


Arga tersenyum tipis saat melihat Bianca mengambil 2 koper yang ia titipkan pada resepsionis.


"Sepertinya aku terlalu banyak menyusahkanmu hari ini," ucap Arga lalu membawa kopernya keluar dari kantor bersama Bianca.


"Aku tidak berpikir seperti itu," balas Bianca.


setelah mendapatkan taksi, Arga dan Biancapun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mereka segera masuk ke dalam rumah.


"Beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu, jangan mengambil keputusan apapun saat pikiranmu belum tenang," ucap Bianca pada Arga.


"Terima kasih untuk hari ini Bianca," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.


Bianca kemudian masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Arga membawa langkahnya menaiki tangga.


Di kamarnya Bianca segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ia terdiam memikirkan apa yang sedang terjadi pada Arga, terlebih saat ia tahu siapa yang membuat Arga mendapat masalah besar di perusahaan.


Seketika ingatan Bianca kembali saat ia berada di bar untuk menemani seorang pria atas suruhan Lola, pria yang pada akhirnya mendapatkan tendangan dari Bianca karena sikapnya yang kurang ajar pada Bianca.


Bianca juga berusaha memutar ingatannya saat ia disekap oleh beberapa orang di dalam bangunan yang ada di atas bukit.


Meskipun saat itu Bianca tidak bisa melihat siapa "bos" dari para pria yang menjaganya saat itu, tapi dia bisa mengingat suara pria yang dipanggil "bos" oleh pria lain disana.


Bianca juga ingat apa yang pria itu katakan padanya saat kedua matanya masih tertutup.


"Suamimu? maksudmu Arga Narendra? apa kau pikir dia akan datang kesini dan menolongmu? jangan harap sayang, dia tidak akan bisa datang kesini!"


Bianca seketika beranjak dari ranjangnya saat ia mengingat ucapan pria itu padanya.


"Dia mengenal Arga, itu artinya dia tau siapa Arga dan dia sama sekali tidak takut, apa itu artinya dia memiliki kekuatan dan kekuasaan yang setara dengan Arga? atau mungkin dia berada di atas Arga!"


Bianca menghela nafasnya kasar lalu berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Pria itu membuat perusahaan Arga kacau tanpa alasan yang jelas, jika dia adalah pria yang sama saat aku disekap, apa mungkin yang dia lakukan pada Arga ada hubungannya denganku? apa dia dendam padaku karena apa yang sudah aku lakukan padanya saat di bar?" tanya Bianca dengan menatap pantulan dirinya yang ada di cermin.


"Tapi ini hanya asumsiku, aku tidak tau pasti siapa bos dari para pria yang menyekapku saat itu, meskipun aku yakin suara yang aku dengar saat itu sama persis dengan suara pria yang aku temui di bar dulu, sekaligus pria yang baru saja membuat perusahaan Arga kacau!"


Bianca menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.

__ADS_1


Di sisi lain, Arga juga sedang terbaring di atas ranjangnya. Ponselnya sudah berdering beberapa kali karena panggilan dari Karina.


Arga kemudian mengambil ponselnya, bukan untuk menerima panggilan Karina tetapi untuk menonaktifkan ponselnya.


__ADS_2