Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Malam Indah Arga


__ADS_3

Bianca hanya terdiam di tepi ranjangnya melihat Arga yang sudah keluar dari kamarnya.


Dalam hatinya ia masih memikirkan sikap Arga yang terasa aneh baginya, apalagi Arga sering mengatakan kata-kata yang tidak dimengerti olehnya.


"Apa kau akan tidur sendiri malam ini?"


Pertanyaan Arga kembali terngiang di telinga Bianca, membuat Bianca mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Kenapa dia bertanya seperti itu? apa dia ingin tidur disini bersamaku? tidak mungkin bukan?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang empuknya.


Bianca menatap langit-langit kamarnya dan mulai teringat sesuatu.


"Sepertinya aku tahu kenapa Arga menanyakan hal itu padaku, selama aku berada di rumah sakit Arga selalu tidur di sofa yang artinya dia selalu tidur dalam satu ruangan yang sama denganku, bisa jadi dia sudah melakukan hal itu sejak lebih dari tiga bulan yang lalu saat aku koma," ucap Bianca menerka.


Bianca kemudian menarik selimutnya dan memilih untuk segera tertidur daripada memikirkan sikap Arga yang terasa aneh baginya.


"Lebih baik aku tidur siang daripada memikirkan Arga," ucap Bianca lalu memeluk gulingnya.


Di sisi lain, Arga yang sudah berada di dalam kamarnya tidak bisa berbaring dengan nyaman.


Sudah lebih dari 3 bulan Arga tidak pernah tidur di kamarnya karena selama Bianca koma Arga selalu menemani Bianca di rumah sakit dan hanya tidur di atas sofa sempit.


Meskipun begitu ia merasa lebih nyaman karena bisa melihat Bianca sewaktu-waktu dan sekarang ia harus kembali tidur di kamarnya yang luas tanpa bisa melihat Bianca kapanpun ia mau.


Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari ranjangnya, berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Apa yang harus aku lakukan agar Bianca tahu bagaimana aku sangat mencintainya?" tanya Arga sambil menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Terdengar suara ponsel Arga berdering yang membuat Arga segera keluar dari kamar mandi, karena ia berpikir jika Bianca yang menghubunginya, namun ia hanya menghela nafasnya kasar saat ia melihat ponselnya dan hanya mendapati pesan spam yang masuk di ponselnya.


Arga kemudian mengambil buku dan membacanya di atas ranjang, namun ia tidak bisa fokus dengan buku yang dibacanya karena ia hanya memikirkan Bianca yang entah saat itu sedang melakukan apa.


Arga kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Daffa.


"Sepertinya aku akan gila!" ucap Arga setelah Daffa menerima panggilannya.


"Ada apa Arga? bukankah sekarang kau sudah lebih tenang karena Bianca sudah meninggalkan rumah sakit," tanya Daffa.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku bahkan merasa sangat tidak nyaman untuk tidur di kamarku sendiri, aku sudah terbiasa tidur di sofa rumah sakit dan bisa melihat Bianca sewaktu-waktu," jelas Arga.


"Jangan terlalu terburu-buru untuk mendekatinya Arga, lakukan dengan pelan-pelan agar Bianca tidak merasa risih padamu," ucap Daffa.


"Aku tahu, aku hanya tidak terbiasa berada di ruangan yang berbeda dengannya, aku ingin selalu ada di dekatnya agar aku bisa melihatnya kapanpun aku mau," balas Arga.


"Jika kau sudah membuatnya jatuh cinta, kau bisa mengakhiri kontrak kesepakatanmu dengannya dan benar-benar menjadi suami istri yang sesungguhnya, dengan begitu kau tidak perlu lagi merasa resah seperti ini, karena Bianca akan selalu ada di depanmu saat kau bangun dari tidurmu!" ucap Daffa.


"Tapi aku...."


"Sekarang nikmati keresahanmu sendiri dan jangan menggangguku karena aku sedang bersama Lola sekarang," ucap Daffa memotong ucapan Arga lalu mengakhiri panggilan Arga begitu saja.


Argapun hanya menghela nafasnya kesal lalu melempar ponselnya di atas ranjangnya.


Arga kemudian keluar dari kamarnya, membawa langkahnya ke dapur untuk memeriksa bahan masakan apa saja yang ada di dapur.


Arga kemudian menyibukkan dirinya untuk memasak makan siang di dapur.


"Apa ada yang bisa bibi bantu Tuan?" tanya bibi pada Arga yang tampak sedang sibuk dengan bahan-bahan masakan yang ada di hadapannya.


"Tidak perlu bi, Arga akan memasaknya sendiri," jawab Arga.


Setelah cukup lama berkutat di dapur, Arga akhirnya menyelesaikan menu masakan makan siangnya. Arga kemudian membawanya ke meja makan lalu membawa langkahnya ke arah kamar Bianca.


Arga mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali dan memanggilnya.


"Bianca, apa kau masih tertidur?" tanya Arga sambil mengetuk pintu kamar Bianca.


Di dalam kamarnya, Bianca yang mendengar ketukan pintu seketika membuka matanya.


"Bianca kau harus makan siang," ucap Arga dari depan pintu kamar Bianca.

__ADS_1


Dengan menguap Bianca berusaha untuk beranjak dari tidurnya. Bianca membawa dirinya duduk di tepi ranjangnya sebelum ia menarik kursi roda yang ada di dekat ranjangnya.


Setelah duduk di kursi roda, Bianca membuka pintu kamarnya dan mendapati Arga yang sudah berdiri di depan kamarnya.


"Aku masih mengantuk Arga," ucap Bianca sambil menguap.


"Tapi kau harus makan siang, aku sudah memasak untukmu," balas Arga lalu mendorong kursi roda Bianca ke arah meja makan.


"Apa kau yang memasak semua ini?" tanya Bianca setelah ia melihat beberapa menu masakan, termasuk ikan bakar kesukaannya yang ada di atas meja.


Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk Bianca.


"Waaahh rasanya sudah sangat lama aku tidak makan makanan ini, baunya saja sudah membuat kantukku hilang," ucap Bianca dengan semangat.


Bianca dan Arga kemudian menikmati makan siang mereka.


"Besok aku akan mengambil cuti, bagaimana jika kita pergi ke pantai?" ucap Arga sekaligus bertanya pada Bianca.


"Cuti? apa ada hal yang sangat penting yang membuatmu harus mengambil cuti?" tanya Bianca.


"Bukankah Dokter bilang kau harus tetap sering berlatih untuk berjalan dan berlatih di tepi pantai adalah cara yang paling tepat!" balas Arga.


"Iya aku tahu, tapi kau tidak perlu mengambil cuti hanya untuk menemaniku berlatih berjalan, aku bisa melakukannya sendiri disini dengan ditemani bibi," ucap Bianca.


"Tidak, hanya aku yang boleh menemanimu, aku tidak akan mempercayakanmu pada orang lain," ucap Arga dengan tegas.


"Tapi bukan berarti kau harus meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk menemaniku Arga," balas Bianca.


"Kalau begitu aku akan pulang cepat dan kita akan pergi ke pantai setelah aku pulang bekerja, setuju?"


"Mmmmm baiklah, aku setuju," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"Tapi bolehkah aku mengajak Lola?" lanjut Bianca bertanya.


"Kenapa harus bersama Lola? kita bisa melakukannya sendiri," balas Arga bertanya .


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya, tiga bulan menungguku koma sepertinya bukan waktu yang singkat untuk Lola, jadi apakah kau mengizinkanku untuk mengajak Lola?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


Arga menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Bianca, tetapi ia tidak bisa menolak apa yang Bianca inginkan, terlebih jika hal itu membuat Bianca senang.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Arga sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang tengah.


Ia sengaja membawa beberapa buku, laptop dan beberapa berkas pentingnya ke ruang tengah karena ia tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja.


Bukan karena ia tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan di ruang kerja, tetapi ia tidak tenang karena merasa jauh dari Bianca, jadi ia lebih memilih untuk mengerjakannya di ruang tengah agar ia bisa dengan mudah melihat Bianca jika Bianca keluar dari kamarnya.


Benar saja, tak lama kemudian Arga mendengar suara pintu kamar Bianca yang terbuka dan melihat Bianca yang mendorong kursi rodanya sendiri keluar dari kamarnya.


"Kau mau kemana Bee?" tanya Arga sambil beranjak dari duduknya untuk menghampiri Bianca.


"Aku ingin meminta tolong bibi untuk mengambilkan buku di ruang baca, aku sangat bosan di kamar karena tidak ada apapun yang bisa aku lakukan," jawab Bianca.


"Buku apa yang ingin kau baca? aku akan mengambilnya untukmu," tanya Arga.


"Mmmm.... buku....."


"Bagaimana jika kau memilihnya sendiri di ruang baca?" tanya Arga memotong ucapan Bianca yang masih ragu untuk menjawab pertanyaan Arga.


"Sepertinya aku belum cukup kuat untuk menaiki tangga dan tidak mungkin juga kursi roda ini bisa menaiki tangga," jawab Bianca dengan memanyunkan bibirnya.


Arga tersenyum tipis lalu membawa dirinya berdiri di hadapan Bianca.


"Apa kau lupa jika ada aku disini?" tanya Arga dengan tersenyum lalu segera mengangkat tubuh Bianca dan membawa Bianca menaiki tangga ke arah lantai 2.


Bianca yang terkejut dengan apa yang Arga lakukan hanya terdiam, entah kenapa ia sama sekali tidak berniat untuk memberontak apalagi marah saat Arga tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


Arga kemudian menurunkan Bianca di depan ruang baca lalu membuka pintu ruang baca dan membantu Bianca untuk berjalan masuk ke dalam ruang baca.


"Waaaahhh wangi buku....." ucap Bianca senang.


"Jangan melepaskan tanganku jika kau masih ragu untuk berjalan sendiri," ucap Arga pada Bianca.


"Asalkan kau akan tetap berada di dekatku, aku tidak akan ragu untuk melepaskan tanganku," balas Bianca.

__ADS_1


"Apa kau yakin?" tanya Arga memastikan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca


"Baiklah kau bisa melepaskan tanganmu, aku akan selalu ada di dekatmu dan tidak akan membiarkanmu terjatuh," ucap Arga.


Bianca kemudian melepaskan tangannya yang memegang Arga, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika ia bisa berjalan tanpa berpegangan pada Arga.


Dengan langkahnya yang pelan dan hati-hati, Bianca membawa dirinya menyusuri lorong yang di kanan dan kirinya terdapat berbagai macam buku.


Bianca membawa matanya menyisir satu persatu buku yang ada disana untuk mendapatkan buku yang ingin dia baca.


Sampai di suatu titik Bianca menemukan buku yang ingin dia baca, karena terlalu bersemangat Bianca segera berjinjit untuk mengambil buku itu.


Bianca lupa jika kakinya tidak memiliki kekuatan yang stabil yang membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Arga menahan tubuh Bianca dan dengan cepat tangan Bianca meraih tubuh Arga untuk berpegangan.


Alhasil merekapun saling memeluk saat itu. Detak jantung keduanya kini berdetak tak beraturan, semakin menderu bersama debar-debar yang mulai mengisi hati mereka berdua.


Setelah tersadar dari apa yang terjadi, Bianca segera melepaskan tangannya dari Arga, namun Arga masih memegang erat tubuh Bianca.


Arga kemudian mengangkat tubuh Bianca dan membawa Bianca untuk duduk di sofa yang ada di ruang baca.


"Te.... rima... kasih," ucap Bianca yang terdengar gugup saat Arga baru saja mendudukkannya di sofa.


Arga hanya tersenyum lalu mengambil salah satu buku dan membacanya di dekat Bianca.


"Astaga ada apa denganku? kenapa aku tiba-tiba gugup seperti ini? Batin Bianca bertanya dalam hati.


Bianca kemudian membuka buku yang dibawanya, namun ia tidak bisa fokus membaca buku itu karena jantungnya masih merasa tidak tenang dadanya masih berdebar tanpa ia tahu penyebabnya.


Biancapun hanya melihat buku itu, membacanya namun sama sekali tidak memahaminya.


"Ada apa Bianca? apa kau tidak menyukai bukunya?" tanya Arga yang menyadari jika Bianca tampak tidak tenang saat itu.


"Aku menyukainya, tapi aku sudah tidak ingin membacanya hehe..." jawab Bianca dengan tersenyum canggung.


"Apa kau mau membacanya di balkon?" tanya Arga.


"Mmmmm sepertinya itu ide yang bagus," bales Bianca.


Saat Arga bersiap untuk mengangkat tubuhnya, Bianca seketika menjauhkan dirinya dan mendorong tubuh Arga.


Bianca tidak ingin kegugupannya semakin terlihat jika ia membiarkan Arga kembali mengangkat tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Arga yang merasa mendapat penolakan dari Bianca.


"Aku akan berjalan sendiri, walaupun langkahku sangat pelan, bisakah kau tetap di dekatku?" balas Bianca.


"Tentu saja," jawab Arga tanpa ragu lalu membantu Bianca untuk berdiri.


Dengan langkahnya yang sangat pelan Bianca keluar dari ruang baca bersama Arga untuk berjalan ke balkon.


Bianca dan Arga kemudian duduk di balkon sambil membaca buku yang mereka bawa.


Entah karena angin malam yang membelainya dengan lembut atau karena dirinya yang sudah sangat mengantuk, tanpa sadar Bianca menjatuhkan kepalanya di bahu Arga dan tertidur.


"Apa kau tertidur Bianca?" tanya Arga memastikan namun tidak mendengar jawaban apapun dari Bianca.


Dengan pelan Arga mengambil buku yang ada di tangan Bianca lalu menaruhnya di dekatnya.


Arga mengulurkan tangannya mendekat pada Bianca, berniat untuk menggenggam tangan Bianca, namun saat tangannya akan menyentuh tangan Bianca ia tiba-tiba ragu, ia takut membangunkan Bianca dan membuat Bianca marah padanya


Saat Arga sudah menarik tangannya menjauh, tiba-tiba tangan Bianca memeluk pinggang Arga, membuat Arga seketika terdiam bahkan ia tanpa sadar berhenti bernafas saat itu.


Di sisi lain, Bianca yang sudah nyenyak dalam tidurnya tidak menyadari apa yang dia lakukan sampai akhirnya Arga hampir kehabisan nafasnya, membuatnya tiba-tiba menghela nafasnya cukup keras yang membuat Bianca terbangun dari tidurnya.


"Maaf, aku tertidur," ucap Bianca dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali.


"Tidak apa, kembalilah tidur Bianca," balas Arga sambil membawa kepala Bianca kembali bersandar di bahunya.


Bianca menganggukkan kepalanya pelan dengan kedua mata yang sudah terpejam lalu kembali membaringkan kepalanya di bahu Arga dan dengan cepat kembali tertidur dengan nyenyak.


Melihat Bianca yang sudah kembali tertidur, Arga hanya diam tanpa berani sedikitpun karena tidak ingin Bianca terbangun dari tidurnya.


Setelah cukup lama membiarkan Bianca tidur di bahunya, Arga mulai merasa hembusan nafas Bianca yang mulai tenang, menandakan jika Bianca sudah benar-benar tertidur nyenyak.

__ADS_1


Dengan pelan Arga menyentuh tangan Bianca hingga akhirnya ia berhasil menggenggam tangan Bianca tanpa membuat Bianca terbangun.


"Ini benar-benar malam yang sangat membahagiakan untukku, Bianca," ucap Arga dalam hati dengan penuh senyum.


__ADS_2