Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Mempercayai Arga


__ADS_3

Bianca masih berada di tempat kost Lola, ia begitu terkejut mendengar apa yang baru saja Daffa jelaskan padanya, namun Bianca tidak akan dengan mudah mempercayai ucapan Daffa karena ia tahu bagaimana Daffa dan Arga bersahabat.


Bianca tahu sedekat apa Arga dan Daffa, mereka bahkan bekerja sama untuk menutupi kesalahan satu sama lain.


"Apa kau pikir dengan mengatakan hal ini padaku kau akan membuatku percaya pada ucapanmu dan Arga?" tanya Bianca pada Daffa.


"Aku hanya ingin memberitahumu yang sebenarnya, aku juga tidak tahu bagaimana caranya agar membuatmu percaya, tapi aku yakin dalam hatimu kau mempercayai ucapan Arga."


Bianca kemudian membawa pandangannya pada Lola seolah meyakinkan Lola jika apa yang Daffa katakan itu tidak benar.


"Kau mengenalku dengan baik Lola, kau tahu aku tidak mungkin melakukan hal itu bukan?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Lola.


"Aku percaya kau tidak akan melakukan hal itu dalam keadaan sadar Bianca, tapi jika saat itu kau sedang mabuk aku tidak tahu apakah kau bisa melakukan hal itu atau tidak, karena seperti yang sudah terjadi sebelumnya, kau tidak bisa mengendalikan dirimu saat kau mabuk dan kau tidak bisa mengingat semua hal yang terjadi saat kau mabuk," jelas Lola.


Bianca hanya terdiam mendengar ucapan Lola, dalam hatinya ia membenarkan apa yang Lola katakan, karena memang ia sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya saat dia sedang mabuk, dia juga tidak pernah bisa mengingat apa saja yang dia lakukan saat dia mabuk.


Hanya ada potongan memori singkat yang Bianca ingat tetapi begitu sulit baginya untuk mengingat secara keseluruhan apa saja yang terjadi selama ia mabuk.


"Maaf Bianca, tapi kali ini aku tidak bisa membelamu, bukan karena aku tidak percaya padamu tapi sepertinya tidak mungkin Arga berbohong padamu tentang hal itu," ucap Lola.


"Lola benar, selama ini Arga sengaja menyembunyikan semuanya darimu, dia berharap kau tidak akan pernah mengingatnya karena dia tahu kau pasti akan sangat malu saat kau mengingat apa yang sudah kau lakukan saat kau mabuk," sahut Daffa.


"Arga sangat mencintaimu Bianca, dia pasti menyesal karena sudah melakukan hal itu padamu, aku yakin dia tidak berniat untuk melanggar batas di antara kalian berdua, apalagi merendahkan harga dirimu," lanjut Daffa.


"Bisakah kau pergi Daffa? aku tidak ingin mendengar apapun darimu!" tanya Bianca tanpa membawa pandangannya menatap Daffa.


Daffa kemudian membawa pandangannya pada Lola yang segera dibalas anggukan kepala pelan oleh Lola, seolah memberikan kode pada Daffa agar dia pergi seperti apa yang Bianca minta.


Setelah Daffa pergi, kini hanya ada Lola dan Bianca di sana.


"Jika memang benar aku melakukan hal itu, menurutmu kenapa aku melakukannya? Arga bilang aku mengatakan jika aku mencintainya, bukankah hal itu sangat tidak mungkin?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Lola.


"Tidak ada yang tidak mungkin Bianca, kau sudah menghabiskan 1 tahun hidupmu bersama Arga di bawah satu atap, meskipun pada awalnya kalian tidak saling mencintai tapi aku yakin benih-benih cinta pasti akan tumbuh," balas Lola.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu mengacak-acak rambutnya dengan kesal, bukan hanya kesal pada Arga, Lola ataupun Daffa, tapi Bianca juga kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengingat apa yang sudah ia lakukan saat ia mabuk.


"Apa kau ingat berapa kali kau mabuk saat kau bersama Arga, Bianca?" tanya Lola.


"Entahlah aku tidak yakin, mungkin 3 atau 4 kali," jawab Bianca.


"Apa ada kejadian yang kau ingat dari beberapa kali kau mabuk saat itu?" tanya Lola.


"Aku hanya mengingat beberapa hal, tapi aku tidak pernah bisa mengingat seluruhnya," jawab Bianca.


"Tapi kenapa kau sangat mempercayai Arga, Lola? apa Arga juga menceritakan semuanya padamu?" lanjut Bianca bertanya.


"Tidak, Arga tidak pernah menceritakan apapun padaku, tapi untuk apa Arga berbohong padamu tentang hal itu? jika dia memang berniat melakukan hal itu padamu, bukankah dia bisa melakukannya sejak dulu? sejak dia sadar jika dia mencintaimu," balas Lola.


"Arrrghhhh semua ini membuatku bingung," ucap Bianca kesal lalu beranjak dari duduknya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang Lola.


"Lebih baik kau tidur sekarang dan pikirkan semuanya dengan jernih besok pagi," ucap Lola.


Bianca hanya diam dengan memejamkan matanya meskipun ia sedang tidak tertidur saat itu.


"Apa yang aku lakukan jika aku mengingat semua hal yang aku lupakan? apa aku akan meminta maaf pada Arga? atau aku hanya diam dan berpura-pura tidak mengingatnya?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Sekarang aku takut jika apa yang Arga katakan itu memang benar, jika semua itu benar itu artinya aku yang sudah melakukan hal di luar batas pada Arga, aku yang lebih dulu memulai dan aku yang....."


Bianca menghela nafasnya panjang dengan menggelengkan kepalanya, apa yang ia ucapkan dalam hatinya membuatnya merasa takut.


Malam yang semakin larut perlahan membawa Bianca ke dalam dunia mimpi. Dalam mimpinya itu terulang kembali semua kejadian yang Bianca lupakan saat Bianca mabuk.


Mulai dari saat Bianca menahan tangan Arga yang akan pergi, Bianca yang mendekat pada Arga sampai Bianca yang tiba-tiba memberikan kecupan singkatnya pada Arga.

__ADS_1


Tidak hanya itu, bahkan kejadian lain hadir dalam mimpi Bianca, kejadian yang sama persis dengan apa yang Arga katakan padanya.


Bahkan dalam mimpi itu semua kejadian terjadi secara detail, mulai dari bagaimana pertama kali ia minum alkohol sampai dia terbangun di pagi harinya.


Saat Bianca tersadar dari mimpinya, ia begitu terkejut dan segera bangun terduduk dengan degup jantung yang berdetak begitu cepat.


"Ada apa Bianca? apa kau mimpi buruk?" tanya Lola yang terkejut melihat Bianca yang tiba-tiba terbangun.


Bianca hanya diam dengan memegang dadanya yang berdebar kencang saat itu.


Lolapun segera turun dari ranjang lalu mengambil air minum dan memberikannya pada Bianca.


"Minumlah!"


Bianca meminum air yang dibelikan Lola padanya lalu menaruh sisanya di meja yang ada di dekat ranjang Lola.


Bianca masih terkejut dengan mimpi yang baru saja ia alami, semua mimpi itu seolah begitu nyata baginya.


"Ada apa Bianca? apa kau baru saja mimpi buruk?" tanya Lola mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Bianca.


Bianca menganggukkan kepalanya pelan dengan ragu karena mimpinya yang terasa begitu nyata.


"Itu hanya mimpi, kembalilah tidur!" ucap Lola sambil kembali menarik selimutnya lalu tertidur di samping Bianca.


"Apa itu benar-benar mimpi atau itu ingatkanku tentang apa yang sebenarnya terjadi?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Lola, sepertinya aku harus pergi," ucap Bianca pada Lola.


"Kembalilah tidur Bianca, ini masih malam," balas Lola dengan kedua matanya yang masih terpejam, namun bisa mendengar apa yang Bianca katakan.


Namun bukannya tidur, Bianca justru beranjak dari ranjang lalu mengenakan hoodie dan memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang miliknya.


Tanpa ragu Bianca membuka pintu kamar Lola lalu pergi begitu saja. Lola yang saat itu sangat mengantuk tidak menyadari kepergian Bianca karena berpikir jika Bianca kembali tidur.


Lebih dari 15 menit berlalu, Lola baru menyadari jika Bianca tidak ada di kamarnya. Lolapun mencari Bianca ke kamar mandi dan ia baru menyadari jika hoodie dan tas selempang milik Bianca sudah tidak ada di kamarnya.


Lola kemudian menghubungi Arga.


Tanpa menunggu lama, Arga segera menerima panggilan Lola karena Arga memang tidak bisa tidur malam itu.


"Halo Lola, ada apa? apa Bianca baik-baik saja?" tanya Arga setelah ia menerima panggilan Lola.


"Maafkan aku, tapi sepertinya Bianca baru saja pergi," jawab Lola yang membuat Arga begitu terkejut.


"Pergi? Pergi kemana maksudmu?" tanya Arga khawatir.


"Aku juga tidak tahu, saat kita berdua tertidur dia tiba-tiba bangun karena bermimpi buruk kemudian dia mengatakan kepadaku jika dia harus pergi, tetapi aku memintanya untuk kembali tidur, karena aku sangat mengantuk aku tidak tahu jika dia tidak kembali tidur dan malah keluar dari kamarku,"jelas Lola.


"Baiklah aku akan berusaha mencarinya," ucap Arga lalu mengakhiri panggilan Lola.


Di tempat lain, Arga yang baru saja mendapatkan kabar jika Bianca pergi dari tempat kos Lola segera berlari kecil menuruni tangga dengan membawa kunci mobilnya.


Namun saat Arga baru saja membuka pintu utama rumahnya, ia begitu terkejut karena mendapati Bianca yang sudah berdiri di depan pintu.


"Bianca, kau....."


"Katakan semuanya padaku, Arga!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.


"Sudah beberapa kali aku mabuk dan kau selalu ada di dekatku, sekarang tolong katakan padaku tentang semua yang terjadi saat aku mabuk," jawab Bianca.


"Apa kau akan mempercayaiku nanti?" tanya Arga.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti," jawab Bianca lalu berjalan masuk dan duduk di sofa ruang tamu diikuti oleh Arga yang duduk di samping Bianca.


Arga kemudian menceritakan semua detail yang terjadi pada saat Bianca mabuk, tidak hanya pada malam dimana mereka melakukan hal yang di luar batas, tapi juga saat Bianca mabuk di hari-hari yang lain.


Arga menjelaskan semuanya panjang lebar, sedangkan Bianca hanya diam mendengar semua penjelasan Arga dan saat itulah ia sadar semua yang Arga ucapkan sama persis dengan mimpi yang baru saja Bianca alami.


"Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu semua ini, aku tahu kau pasti akan kesal pada dirimu sendiri dan mungkin kau juga akan sangat kesal padaku karena tidak menahanmu," ucap Arga.


"Tapi seperti yang aku ceritakan, aku selalu berusaha untuk menghindar kecuali malam itu, aku.... aku juga sangat mabuk saat itu, jadi aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk beberapa saat," ucap Arga di akhir penjelasannya.


Bianca masih terdiam meskipun secara sadar ia tidak mungkin mengatakan dan melakukan hal itu pada Arga, namun dalam hatinya ia tidak bisa berbohong jika ia mempercayai penjelasan Arga.


"Aku benar-benar minta maaf Bianca, aku sama sekali tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar padamu, kau boleh marah padaku tapi tolong jangan membenciku dan jangan meninggalkanku," ucap Arga yang melihat Bianca hanya terdiam.


Bianca masih terdiam lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Arga yang masih duduk di tempatnya.


Argapun hanya diam tanpa berani menghentikan Bianca, setidaknya Bianca sudah kembali pulang malam itu.


**


Waktu berlalu, pagi telah tiba. Bianca duduk di balkon dengan secangkir teh dan roti tawar serta sebuah buku yang sedang dia baca.


Sejak semalam Bianca memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan dan ia memutuskan untuk mempercayai semua penjelasan Arga padanya.


Meskipun sangat memalukan bagi Bianca tetapi Bianca tetap harus meminta maaf pada Arga tentang apa yang sudah ia lakukan dan sebelum Bianca meminta maaf, ia berusaha untuk menyerap energi baik matahari pagi di balkon.


"Aku benar-benar sangat bodoh, bisa-bisanya aku melakukan hal itu saat mabuk, aku bahkan sudah dua kali menampar Arga kemarin," ucap Bianca dalam hati sambil menghela nafasnya panjang.


"Bee," panggil Arga dengan sangat pelan, namun bisa didengar oleh Bianca yang membuat Bianca segera membawa pandangannya ke arah Arga yang berdiri di pintu balkon.


Bianca hanya diam lalu kembali membawa pandangannya pada buku yang dibacanya.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


Dengan penuh senyum Arga membawa langkahnya mendekati Bianca lalu duduk di samping Bianca.


Namun bukannya segera meminta maaf, Bianca justru hanya diam dengan menatap buku yang ada di tangannya meskipun ia tidak membacanya.


Setelah cukup lama mereka hanya duduk dengan diam, Arga kemudian beranjak dari duduknya karena merasa keberadaannya mengganggu Bianca.


"Tunggu!" ucap Bianca yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Bianca.


"Aku akan pergi jika aku mengganggumu," balas Arga.


"Ada yang ingin aku bicarakan, duduklah!" ucap Bianca.


Argapun kembali duduk di samping Bianca.


Bianca menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan lalu menaruh buku yang dibawanya di meja.


"Tentang apa yang kau jelaskan padaku semalam, sepertinya aku mempercayainya," ucap Bianca.


"Benarkah? apa itu artinya kau sudah tidak marah padaku?" tanya Arga bersemangat.


"Aku memang mempercayai ucapanmu, tetapi bukan berarti aku membenarkan apa yang kau lakukan pagi itu di kamarku," jawab Bianca.


"Aaahhh iya, aku minta maaf, aku benar-benar menyesal karena sudah melakukannya tanpa berpikir panjang," ucap Arga menyesali perbuatannya.


"Aku juga minta maaf jika aku sudah melakukan hal yang di luar batas padamu bahkan...... aku sendiri yang memulainya," ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi aku melakukan semua itu tanpa aku sadar, itu sama sekali bukan keinginanku, aku..... aku hanya..... tidak bisa mengendalikan diriku yang gila saat mabuk," lanjut Bianca dengan berbicara cepat meskipun sedikit gugup.


Arga tersenyum lalu menyentuh dagu Bianca dan membawa pandangan Bianca padanya.

__ADS_1


"Aku mengerti Bianca, mari lupakan hal itu dan kembali menjalani hari-hari kita seperti sebelumnya, sebelum kontrak kesepakatan kita selesai," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


"Keberadaanku dalam hidupmu mungkin sangat mengganggu untukmu dan aku minta maaf untuk itu, mulai sekarang aku akan menerima apapun yang Tuhan takdirkan untuk hubungan kita," lanjut Arga dengan tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja.


__ADS_2