Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Bersepeda


__ADS_3

Melihat Bianca yang menghampiri Clara, Argapun segera membawa langkahnya dengan cepat ke arah Bianca, sebelum Clara memberi tahu Bianca tentang apa yang Clara lihat antara Arga dan Karina.


"Bianca, kita pulang sekarang!" ucap Arga sambil menarik tangan Bianca, namun Bianca melepaskan tangan Arga darinya.


"Aku bisa pulang sendiri jika kau tidak mau menungguku, ada hal penting yang harus aku tanyakan pada Clara," ucap Bianca dengan raut wajah yang serius.


Seketika Arga hanya diam, ia tidak bisa berbuat terlalu jauh untuk menahan Bianca.


"Tenanglah Arga, jangan terlalu gugup, setidaknya hanya Bianca yang tahu, bukan orang tuamu," sahut Clara.


"Clara, ini adalah satu dari sekian banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu sejak dulu," ucap Bianca.


"Tidak bisakah kau berhenti mengajar Arga?" lanjut Bianca yang membuat Clara begitu terkejut, begitu juga dengan Arga.


"Apa maksudmu Bianca? kau....."


"Aku tau kau memang jauh lebih baik daripada aku, kau memiliki orang tua yang menyayangimu, kau memiliki kekayaan, karir dan banyak orang yang menyukaimu, tapi tidak bisakah kau menerima bahwa Arga sudah menjadi milikku?" tanya Bianca memotong ucapan Clara.


"Orang tua Arga memang pernah berniat untuk menjodohkanmu dengannya, tapi Arga memilihku, gadis preman dengan segala kekurangannya, kau jauh di atasku Clara, aku yakin kau bisa mendapatkan laki-laki lain yang juga mencintaimu," lanjut Bianca.


"Tapi...."


"Jadi tolong berhentilah mengejar Arga, keberadaanmu diantara pernikahanku dengan Arga benar-benar sangat mengganggu, aku yakin kau pasti bisa bersikap lebih bijaksana, sesuai dengan apa yang selama ini kau perlihatkan di depan semua fansmu," ucap Bianca yang tidak membiarkan Clara mengucapakan satu katapun.


Bianca kemudian berjalan pergi dan masuk ke dalam mobil Arga, diikuti oleh Arga yang juga segera masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya pergi dari rumah orang tuanya.


Sedangkan Clara, hanya terdiam di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka jika Bianca akan mengatakan hal itu padanya.


Setelah apa yang Clara katakan di depan Bianca dan Arga, Bianca sama sekali tidak terlihat terpengaruh oleh ucapan Clara.


Bianca justru meminta Clara untuk menjauhi Arga secara terang-terangan dan yang pasti apa yang Bianca lakukan membuat Clara benar-benar kesal saat itu.


"Apa dia gila? apa dia tuli? apa dia tidak mendengar semua yang aku katakan tadi? kenapa dia justru memintaku untuk menjauhi Arga? kenapa dia tidak ingin tahu tentang apa maksud ucapanku tadi?" batin Clara kesal.


Di sisi lain, Nadine diam-diam melihat dan mendengar semua yang terjadi antara Bianca, Arga dan Clara.


Setelah Bianca dan Arga pergi, Nadinepun membawa langkahnya menghampiri Clara yang masih berdiri di tempatnya.


"Clara, maafkan Tante," ucap Nadine pada Clara.


"Tante, kenapa Tante tiba-tiba kesini?" tanya Clara yang terkejut dengan kedatangan Nadine.


"Tante melihat semuanya, Tante mendengar apa yang Bianca katakan padamu," jawab Nadine yang membuat Clara semakin terkejut.


"Maafkan sikap Tante yang sangat egois Clara, tapi apa yang Bianca katakan benar, kau gadis yang sempurna, kau pasti bisa mendapatkan laki-laki yang sempurna di luar sana," lanjut Nadine


"Dan laki-laki itu adalah Arga," ucap Clara.


"Arga sudah menikah Clara, tolong biarkan dia bahagia bersama Bianca, kau juga harus bahagia dengan pasangan barumu," ucap Nadine.


"Tapi Clara yang lebih dulu mengenal Arga Tante, Tante juga yang lebih dulu meminta Clara untuk menjadi menantu Tante, tapi tiba-tiba saja ada Bianca yang entah dari mana datangnya," balas Clara kesal.


"Maafkan Tante Clara, seharusnya Tante tidak bertindak sejauh itu padamu, Tante akan tetap menyayangimu seperti dulu, tidak akan ada yang berubah clara, tapi Arga akan tetap menjadi suami Bianca dan kau harus bisa merelakannya," ucap Nadine dengan menggenggam tangan Clara.


Clara menghela nafasnya panjang lalu melepaskan tangannya dari genggaman Nadine.


"Clara sangat mencintai Arga Tante, entah kapan Clara akan bisa merelakan Arga untuk perempuan lain, Clara permisi," ucap Clara lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi begitu saja.


Di tempat lain, Arga masih mengendarai mobilnya menuju ke arah rumahnya bersama Bianca yang duduknya.


"Bianca, tentang apa yang Clara katakan saat di rumah tadi, aku harap kau tidak terlalu memikirkannya, kau tau seperti apa dia bukan?"


"Iya aku tau," balas Bianca.


"Tentang apa yang aku katakan pada Clara, aku mengatakannya agar dia berhenti mengganggumu dan mengatakan hal yang tidak penting padaku," lanjut Bianca.


"Terima kasih sudah mengatakan hal itu padanya, dia pasti sangat terkejut tadi," ucap Arga


"Tapi kenapa kau terlihat gugup tadi?" tanya Bianca yang membuat Arga seketika terdiam, ia berusaha memutar otaknya dengan cepat untuk bisa menjawab pertanyaan Bianca.


"Aku hanya takut jika dia mengatakan hal yang tidak benar yang bisa membuatmu dan mama papa salah paham," jawab Arga beralasan.

__ADS_1


"Jika kau tidak bersalah seharusnya kau tidak perlu takut," ucap Bianca.


"Hubunganku dengan mama baru saja menghangat Bianca, aku tidak ingin apa yang Clara katakan bisa mempengaruhi mama," ucap Arga.


"Mama tidak akan mudah percaya dengan apa yang Clara katakan Arga, mama pasti akan mencari tahu kebenaran dari semua hal yang mama dengar," ucap Bianca yang seolah sudah begitu mengenal mama Arga.


"Kau benar, sepertinya kau sudah sangat mengenal mama," balas Arga.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan yang membuat Bianca tersenyum saat ia melihat nama yang ada di layar ponselnya.


"Halo kak," ucap Bianca setelah ia menerima panggilan Bara.


"Halo Bianca, semalam aku mengirim pesan padamu, tapi kau tidak membalasnya," ucap Bara.


"Maaf kak, Bianca sudah tertidur semalam," balas Bianca beralasan.


"Tidak biasanya kau tidur sebelum jam 10 malam, apa mungkin kau sedang bersama seseorang kemarin malam?"


"Tidak kak, Bianca sangat lelah jadi Bianca tertidur lebih cepat," balas Bianca.


Bianca dan Bara membicarakan banyak hal untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan Arga hanya mengendarai mobilnya dengan sesekali membawa pandangannya Bianca yang tampak sedang senang karena mendapatkan panggilan dari Bara.


Tapi entah kenapa ada rasa kesal dalam diri Arga saat ia melihat bagaimana Bianca dan Bara yang terdengar sedang bercanda dan tertawa di sampingnya.


Di kepalanya Arga menerka-nerka bagaimana sosok Bara yang sebenarnya. Setampan apakah dirinya, sebaik apakah dirinya dan apa yang membuat Bianca begitu menggilai laki-laki itu.


Hingga akhirnya Arga sadar tentang apa yang sedang ia pikirkan saat itu.


"Aku pasti sudah gila karena memikirkannya, tapi bagaimanapun Bara sebenarnya, aku yakin dia tidak lebih baik daripada aku, aku punya segalanya yang tidak dimilikinya," ucap Arga dalam hati dengan penuh kepercayaan dirinya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumah. Arga turun dari mobil dengan Bianca yang masih tampak asik mengobrol dengan Bara melalui sambungan ponselnya.


"Bianca!" panggil Arga yang membuat Bianca begitu terkejut dan segera membawa pandangannya pada Arga dengan tatapan kesal.


"Bianca, siapa yang sedang bersamamu?" tanya Bara yang mendengar suara laki-laki memanggil Bianca.


"Ooohh baiklah kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi nanti, bye Bianca!"


Setelah panggilan berakhir, Bianca menatap Arga yang hanya terkekeh melihat kekesalan Bianca.


"Kau sangat menyebalkan!" ucap Bianca lalu berjalan cepat memasuki rumah.


"Kenapa kau bilang jika kau berada di kampus? apa dia tidak tahu jika kau sudah tidak kuliah?" tanya Arga yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Jangan bilang jika dia juga tidak tahu apapun tentang hubunganmu dengan Tante Felly!"


Bianca menghela nafasnya kasar lalu menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya menatap Arga.


"Kak Bara tidak tau apapun tentang hal itu, yang dia tau aku masih kuliah dan tinggal dengan Tante Felly, jadi berhenti menanyakan apapun tentang kak Bara dan jangan ikut campur dalam hubunganku dengan kak Bara!" ucap Bianca dengan penuh penegasan.


"Lalu apa yang akan kau katakan padanya saat dia pulang nanti? dia pasti akan tau jika kau tidak melanjutkan kuliahmu!"


Bianca terdiam untuk beberapa saat. Ia sama sekali belum memikirkan hal itu.


"Lebih baik kau jujur padanya, bukankah kau sangat dekat dengannya!" ucap Arga.


"Aku akan memikirkannya nanti, lagi pula masih ada waktu 2 tahun sebelum kak Bara pulang," balas Bianca lalu membuka pintu kamarnya dan segera masuk ke dalam kamar.


Arga hanya menghela nafasnya lalu membawa langkahnya menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya Arga masih memikirkan beberapa hal yang baru saja terjadi. Tentang apa alasan Karina menemui psikiater, ucapan Daffa tentang Bianca, tentang Clara yang membuatnya takut dan tentang Bianca yang bisa jadi mengetahui tentang kebohongannya.


"Dia diam bukan karena dia tidak tahu, dia hanya diam karena dia tidak peduli dan entah sampai kapan ketidakpedulian itu akan membuatnya tetap diam,"


Kini ucapan Daffa kembali terngiang di kepalanya. Ia memikirkan sejauh apa Bianca mengetahui tentang dirinya yang berusaha ia sembunyikan dari Bianca.


"Apa benar semua yang Daffa katakan padaku? aku sangat mengenalnya, dia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak benar, tapi.... bagaimana Bianca bisa mengetahuinya? apa benar dia hanya diam karena dia tidak peduli?" batin Arga bertanya.


Arga menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, terdiam dengan menatap langit-langit kamarnya, memikirkan tentang semua yang terjadi dalam hidupnya.

__ADS_1


"Karina, tidak bisakah kau melepaskan Bian dan kembali padaku? aku pasti akan berusaha untuk menjadi diriku seperti yang kau mau setelah kau kembali padaku!"


Arga kembali menghela nafasnya lalu beranjak dan membuka laci yang ada di dekat ranjangnya. Ia mengambil sebuah buku lalu membukanya.


"Lepaskan Bian dan kembalilah padaku Karina, semua ini benar-benar akan membuatku gila jika terus seperti ini!" ucap Arga dengan menatap foto Karina yang ia simpan di dalam buku miliknya.


**


Hari telah berganti. Pagi-pagi sekali Arga bangun dari tidurnya lalu mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali.


Bianca yang masih terpejam merasa sangat malas untuk beranjak dari ranjangnya, terlebih saat ia melihat jam yang masih terlalu pagi baginya.


"Bianca, buka pintunya!" ucap Arga sambil terus mengetuk pintu kamar Bianca.


"Pergilah Arga, biarkan aku tidur lebih lama!" balas Bianca dengan berteriak dari atas ranjangnya.


"Buka pintunya atau aku akan membukanya dengan kunci cadangan yang aku punya!" ucap Arga mengancam.


Bianca yang mendengar hal itu segera beranjak dari ranjangnya lalu membawa langkahnya untuk membuka pintu kamarnya dengan malas.


Dengan rambut yang masih berantakan, Bianca hanya berdiri di hadapan Arga yang sudah ada di depan kamarnya.


"Ada apa?" tanya Bianca sambil menguap.


"Cepat bersiap-siap, kita harus berolahraga hari ini," jawab Arga yang sudah siap dengan pakaian olahraganya.


"Berolahraga? bukankah kita bisa melakukannya nanti? sekarang......"


"Tidak ada nanti, semakin siang matahari akan semakin terik Bianca, jadi cepatlah bersiap-siap!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


"Memangnya kita akan berolahraga dimana? bukan di ruang gym?" tanya Bianca.


"Tentu saja tidak, kita akan menghabiskan waktu di bawah matahari pagi, jadi cepatlah sebelum matahari benar-benar semakin panas!" jawab Arga sambil mendorong Bianca masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar Bianca.


Arga kemudian menunggu Bianca di teras dan tak lama kemudian Biancapun keluar. Bianca begitu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya saat itu.


"Arga, itu milik siapa?" tanya Bianca sambil menunjuk 2 sepeda yang ada di halaman rumah.


"Milikku dan milikmu," jawab Arga sambil memakaikan helm sepeda di kepala Bianca.


Seketika kedua mata Bianca berbinar, tanpa menunggu lama Biancapun segera mendekati salah satu sepeda yang ada di hadapannya.


"Let's go!" ucap Bianca penuh semangat sambil mengangkat tangannya tinggi.


Arga yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis lalu menaiki sepedanya dan mengayuhnya keluar dari rumah diikuti oleh Bianca


"Kemana kita akan bersepeda?" tanya Bianca.


"Kau saja yang menentukan," jawab Arga.


"Baiklah," balas Bianca lalu mengayuh sepedanya lebih dulu, diikuti oleh Arga yang mengayuh sepedanya di belakang Bianca, namun sesekali berada di samping Bianca.


Sinar matahari pagi yang terasa hangat membuat Bianca semakin bersemangat untuk mengayuh sepedanya lebih jauh.


Sejak kecil Bianca memang sangat suka bersepeda, bahkan setiap hari Minggu kedua orang tuanya selalu mengajak Bianca bersepeda meskipun sekedar mengelilingi komplek perumahan.


Dan hari itu, untuk pertama kalinya Bianca kembali bersepeda setelah sekian lama. Tentu saja hal itu membuat Bianca sangat bersemangat.


Hangatnya sinar matahari pagi ditemani angin pelan yang membelai wajahnya, seolah mampu mengisi semangat Bianca dan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.


"Bianca, apa kau tidak berniat untuk beristirahat?" tanya Arga yang mengayuh sepedanya di samping Bianca.


"Kenapa? apa kau sudah lelah?" balas Bianca bertanya.


"Aku tidak lelah, aku hanya.... ingin minum saja!" ucap Arga beralasan, karena ia tidak ingin terlibat lemah di depan Bianca.


"Masih banyak energi yang bisa aku habiskan sebelum aku beristirahat Arga, kau bisa beristirahat lebih dulu jika kau sudah lelah!" ucap Bianca.


"Tidak, aku tidak lelah, aku akan tetap mengayuh sepedaku sejauh yang kau mampu!" balas Arga yang membuat Bianca terkekeh.


"Baiklah, kerahkan semua tenagamu Arga, kau tidak akan menang melawanku hahaha....." ucap Bianca kemudian mengayuh sepedanya lebih cepat.

__ADS_1


Arga tersenyum senang melihat Bianca yang ceria dan penuh semangat. Argapun segera mengayuh sepedanya lebih cepat untuk mengejar Bianca.


__ADS_2