Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Tamparan dari Arga


__ADS_3

Arga membawa langkahnya mencari keberadaan Clara. Argapun segera mempercepat langkahnya saat ia melihat Clara yang sedang berdiri di area taman.


"Kenapa kita harus bicara disini? bukankah kau memintaku datang kesini untuk makan malam?" tanya Arga pada Clara.


"Kau mau kita bicara disini atau bicara disana agar mereka mendengar dan mengetahui foto apa yang aku miliki!" balas Clara.


"Baiklah kita bicara disini saja," ucap Arga lalu duduk di salah satu bangku yang ada disana.


"Kau benar-benar sangat menyebalkan Arga, kau berhasil mempermainkanku sekarang!" ucap Clara kesal.


"Kau yang terlebih dahulu memulainya Clara, sekarang hapus foto itu sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak akan kau sukai!" balas Arga.


"Berhentilah bersikap arogan padaku Arga, aku sudah memegang kartu ASmu sekarang, semua ancamanmu itu tidak akan membuatku gentar, justru kau seharusnya berhati-hati agar aku tidak benar-benar menyebarkan fotomu dengan Karina!"


"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan Clara, aku tidak peduli," balas Arga lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Clara begitu saja.


"Kau pasti akan menyesal Arga, kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan padaku!" ucap Clara yang semakin kesal dengan sikap Arga.


Clara menghela nafasnya kasar dengan menatap kepergian Arga. Ia memang memiliki foto yang bisa ia gunakan untuk mengancam Arga, tetapi melihat Arga yang sama sekali tidak mengindahkan ancamannya membuatnya begitu kesal.


"Aku harus bisa menggunakan foto ini dengan baik, aku tidak mungkin memberitahu Bianca ataupun orang tua Arga tentang foto ini, setidaknya sebelum aku mendapatkan keuntungan dari apa yang aku miliki ini," ucap Clara.


Clara kemudian membawa langkahnya kembali ke dalam ruangan dan duduk di tempat yang sudah ia pesan sebelumnya.


Makananpun datang, mereka semua menikmati makanan yang mereka pesan, terkecuali Clara yang hanya bisa menahan kekesalannya melihat kebersamaan Arga dengan Bianca di hadapannya, terlebih lagi dengan Daffa dan Lola yang seolah-olah membuat suasana semakin memanas.


"Aku tidak bisa membayangkan hadiah apa yang akan Arga berikan padamu saat ulang tahunmu nanti Bianca!" ucap Lola.


"Apa yang kau bicarakan Lola, bukankah kau tahu aku sudah tidak pernah merayakan ulang tahun lagi!" balas Bianca.


"Sekarang semuanya berbeda Bianca, aku yakin Arga akan menyiapkan kejutan istimewa untukmu," ucap Lola.


Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, sedangkan Arga berusaha untuk mengingat kapan hari ulang tahun Bianca.


"Sepertinya kita harus mempersiapkan banyak hal," sahut Daffa.


"Katakan saja padaku kapan hari ulang tahun Bianca, aku akan mengatur jadwalmu nanti," lanjut Daffa berkata pada Arga.


"Terima kasih Daffa, kau memang selalu bisa diandalkan," balas Arga.


"Bukankah bulan depan kau juga akan berulang tahun Arga? hadiah apa yang kau inginkan?" sahut Clara bertanya.


"Aku tidak menginginkan apapun, aku sudah memiliki semua yang aku inginkan karena sudah ada Bianca di hidupku," jawab Arga sambil menggenggam tangan Bianca yang ada di atas meja.


Bianca hanya terdiam dengan tersenyum canggung, membiarkan Arga menggenggam tangannya.


"Apa kau tahu Arga, semua kata-katamu itu terdengar sangat palsu, terlalu berlebihan dan dibuat-buat!" ucap Clara kesal.


"Kau benar, semua ucapan Arga akan terdengar seperti itu jika si pendengar adalah orang yang iri sepertimu," sahut Lola.


Clara yang sudah terlalu kesal dengan sikap semua yang ada disana akhirnya memilih untuk menyudahi makan malamnya.


Clara memanggil pelayan lalu segera membayar seluruh tagihan makan malam itu kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


Mungkin karena terlalu kesal, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang kebetulan akan masuk ke dalam restoran.


Clara yang hampir terjatuh segera ditahan oleh laki-laki yang ditabraknya, tetapi meskipun ia tidak terjatuh, tetapi tas yang dipegangnya sudah jatuh dengan beberapa barangnya yang berserakan di lantai.


Laki-laki itupun membantu Clara untuk mengambil beberapa barang-barang Clara dan tanpa mengucapkan apapun Clara segera berjalan pergi begitu saja.


Tanpa Clara tahu laki-laki itu adalah laki-laki suruhan Arga yang memang ditugaskan untuk membuat Clara menjatuhkan tasnya dan dengan cepat laki-laki itu harus menukar ponsel Clara dengan ponsel yang sudah Arga siapkan sebelumnya.


Tidak hanya itu, Arga juga meminta laki-laki itu untuk menghapus seluruh data yang ada di dalam ponsel Clara, tidak peduli data-data penting yang ada di dalamnya.


"Pastikan semua data yang ada di ponsel itu terhapus dan tidak bisa dikembalikan lagi," ucap Arga saat meminta laki-laki itu untuk melakukan tugasnya sebelum Arga berangkat ke restoran itu.

__ADS_1


Dengan imbalan uang yang sangat banyak laki-laki itupun mengiyakan perintah Arga tanpa banyak bertanya.


Di sisi lain Arga tersenyum puas saat melihat laki-laki suruhannya melakukan pekerjaannya dengan baik. Kini ia hanya perlu menunggu agar seluruh data yang ada di ponsel Clara terhapus secara permanen.


"Sepertinya dia sangat kesal," ucap Bianca.


"Biarkan saja, ayo kita pulang!" balas Arga lalu beranjak dari duduknya dengan meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.


Mereka berjalan ke arah tempat parkir bersama Daffa dan Lola yang berjalan di belakang mereka.


"Jadi ini alasanmu memintaku untuk datang kesini bersama Lola?" tanya Daffa pada Arga saat mereka sudah berada di tempat parkir.


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


Mereka kemudian meninggalkan restoran, Arga dan Daffa mengendarai mobil mereka berlainan arah, Arga pulang ke rumahnya bersama Bianca, sedangkan Daffa mengantarkan Lola untuk kembali ke kos.


"Sepertinya apa yang Clara ucapkan ada benarnya," ucap Bianca.


"Apa maksudmu?" tanya Arga.


"Sikapmu tadi terlalu berlebihan, kau tidak perlu melakukan hal itu Arga, orang-orang tahu jika kita adalah suami istri jadi tidak perlu melakukan atau mengatakan sesuatu yang berlebihan hanya untuk menunjukkan pada orang lain bahwa kita adalah pasangan yang bahagia," jelas Bianca.


"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Arga.


"Hanya...... sedikit tidak nyaman," jawab Bianca.


Arga hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Ia memang sengaja membuat Clara cemburu dengan mempertontonkan keromantisannya dengan Bianca, tetapi ia tidak menyangka jika hal itu membuat Bianca tidak nyaman.


Tetapi meskipun begitu Bianca bisa menutupi ketidaknyamanannya di depan Clara, hingga membuat kekesalan Clara memuncak dan memilih untuk pergi.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Bianca segera melepas sepatu hak tingginya lalu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa alas kaki.


Arga yang melihat hal itu hanya menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun. Ia tahu jika Bianca mengenakan semua yang ia pakai malam itu hanyalah untuk perannya sebagai istri, bukan sebagai diri Bianca sendiri.


Arga kemudian berjalan masuk ke ruang kerjanya. Setelah beberapa lama mengerjakan beberapa pekerjaan, seseorang menghubungi Arga.


"Tunggu sebentar, aku akan turun," balas Arga lalu mengakhiri panggilan itu.


Arga kemudian berjalan keluar dari ruang kerjanya, menuruni tangga dan keluar dari rumah untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya di depan rumah.


Seseorang itu kemudian memberikan sebuah ponsel pada Arga, ponsel milik Clara yang sudah ia bersihkan seluruh datanya.


"Apa kau yakin semua data dalam ponsel ini sudah tidak bisa dikembalikan lagi?" tanya Arga memastikan.


"Jangan khawatir bos, semuanya sudah terhapus secara permanen, tidak akan ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan data yang ada dalam ponsel ini," jelas laki-laki itu.


"Good job!" ucap Arga sambil memeriksa ponsel Clara yang kini ada di tangannya


"Tapi bagaimana jika dia mencari ponselnya? rekaman CCTV pasti sudah menangkap wajah saya saat menukar ponselnya di restoran," tanya laki-laki itu khawatir.


"Jangan khawatir aku sudah mengurus semuanya, lagi pula aku akan mengembalikan ponsel ini padanya, jadi aku pastikan dia tidak akan mengganggumu," jawab Arga.


Setelah laki-laki itu pergi, Argapun masuk ke dalam rumahnya sambil membawa ponsel Clara.


Malam semakin larut, Arga yang sudah hampir terpejam tiba-tiba membuka matanya karena mendengar ponselnya yang terus berdering.


Arga kemudian melihat layar ponselnya dan mendapati sebuah nomor baru yang sedang menghubunginya.


Karena tidak berhenti menghubunginya, Argapun akhirnya menerima panggilan itu.


"Cepat keluar dari rumahmu Arga, aku sudah ada di depan rumahmu sekarang dan Pak satpam tidak mengizinkanku untuk masuk!" ucap Clara yang terdengar begitu marah saat itu.


"Apa kau tidak tahu ini jam berapa? aku bisa melaporkanmu pada polisi jika kau mengganggu ketenanganku di rumah!" balas Arga kesal saat ia menyadari jika itu adalah panggilan dari Clara.


"Aku tidak peduli, cepat keluar sekarang juga atau aku akan membuat keributan disini!" ucap Clara.

__ADS_1


Arga mengakhiri panggilan Clara begitu saja lalu beranjak dari ranjangnya dan keluar dari rumahnya untuk menemui Clara.


"Dimana ponselku Arga? Kau pasti mengambilnya bukan?" tanya Clara dengan tatapan penuh emosi.


Tanpa mengatakan apapun Arga kemudian mengembalikan ponsel milik Clara.


Clarapun segera memeriksa ponselnya dan seperti yang sudah ia duga, ponselnya kini seperti baru, sama sekali tidak ada data-data yang tersisa di dalam ponselnya.


"Arga kau gila! kau menghapus semua data yang ada di ponselku?" tanya Clara yang tak percaya dengan apa yang sudah Arga lakukan pada ponselnya.


"Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini Clara," balas Arga lalu berjalan masuk ke dalam rumah, namun dengan cepat Clara berlari mengikutinya dan menarik tangan Arga.


"Berhentilah menggangguku Clara, kau benar-benar membuatku sangat muak!" ucap Arga penuh emosi sambil melepaskan tangannya dengan kasar dari Clara.


"Kesalahan apa yang pernah aku perbuat padamu Arga? aku hanya mencintaimu, apa cinta yang aku miliki adalah kesalahan? aku bahkan tidak pernah meminta pada Tuhan untuk jatuh cinta padamu," ucap Clara dengan kedua mata yang berkaca-kaca


"Aku tidak menyalahkan cinta yang kau miliki jika kau tidak mengganggu hidupku dengan cintamu itu, tetapi kau bahkan tidak sadar jika keberadaanmu hanya menggangguku," balas Arga yang sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Clara.


Bianca yang baru saja keluar dari kamar mendengar keributan yang terjadi antara Arga dan Clara. Iapun segera membawa langkahnya ke arah pintu utama rumahnya dan mendapati Arga dan Clara yang sedang bersitegang.


"Aku tidak akan merebutmu dari Bianca, aku hanya ingin kau melihatku dan merasakan betapa besar cinta yang aku miliki untukmu, aku......"


"Aku tidak memiliki waktu untuk hal konyol seperti itu, bagiku hanya ada satu nama perempuan dalam hatiku dan itu tidak akan pernah terganti selamanya," ucap Arga memotong ucapan Clara.


"Satu nama perempuan? siapa maksud Arga? tidak mungkin aku bukan? apa mungkin dia sedang bersandiwara di depan Clara?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Karena tidak ingin terjadi keributan yang semakin besar Bianca kemudian memutuskan untuk menghampiri Arga dan Clara.


"Ada apa ini?" tanya Bianca yang sudah berdiri di samping Arga.


Tanpa banyak basa-basi Clara yang melihat Bianca datang segera membawa langkahnya mendekati Bianca lalu melayangkan tamparan kerasnya tepat di pipi Bianca.


Bianca yang tidak menyangka akan terjadi hal itu tidak memiliki waktu untuk menghindar atau sekedar menahan tangan Clara.


Alhasil tamparan Clarapun mendarat dengan sempurna di pipi Bianca, meninggalkan bekas kemerahan yang cukup perih.


"Kau......"


PLAAAAAKKKKK


Belum selesai keterkejutan Bianca ia lebih terkejut lagi saat melihat Arga menampar Clara di hadapannya. Raut wajah Arga terlihat begitu emosi dengan tatapan tajam dan mata yang merah menatap Clara.


"Jangan pernah melakukan hal ini lagi pada Bianca atau kau akan benar-benar menyesalinya!" ucap Arga dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Clara hanya terdiam dengan memegang pipinya yang pasti terasa sakit saat itu. Seperti Bianca, Clara juga tidak menyangka akan mendapatkan tamparan dari Arga selang beberapa detik setelah ia mendaratkan tamparannya di pipi Bianca.


"Aku sudah berusaha untuk bersabar padamu Clara, jika bukan karena orang tuamu adalah teman baik orang tuaku dari dulu aku sudah melakukan banyak hal untuk menyingkirkanmu dari hidupku," ucap Arga pada Clara.


Arga kemudian meraih tangan Bianca, membawa Bianca masuk ke dalam rumah dan membiarkan Clara yang masih berdiri di tempatnya dengan memegang pipinya yang masih terasa sakit.


Arga kemudian mendudukkan Bianca di sofa ruang tamu lalu mencari es batu dan kain halus untuk mengompres pipi Bianca.


"Tidak seharusnya kau keluar Bianca," ucap Arga sambil menempelkan kain dingin di pipi Bianca.


"Aku tidak bermaksud ikut campur, aku hanya tidak ingin terjadi keributan di rumah ini," balas Bianca.


Bianca kemudian merebut kain dingin dari tangan Arga lalu menempelkannya sendiri di pipinya.


"Arga, apa kau tidak pernah berpikir jika sikapmu pada Clara itu sedikit keterlaluan?" tanya Bianca ada Arga.


"Jauh sebelum mengenalmu aku sudah sangat mengenalnya Bianca, sudah cukup lama aku bersabar padanya, tetapi dia semakin menekanku dengan......."


Arga menghentikan ucapannya, hampir saja ia mengatakan tentang foto yang dimiliki Clara yang Clara gunakan untuk mengancam Arga.


"Dengan apa? kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu?" tanya Bianca.

__ADS_1


"Lupakan saja, masuklah ke kamarmu dan beristirahat!" ucap Arga kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya, meninggalkan Bianca yang masih duduk di tempatnya dengan memegang kain dingin di pipinya.


"Banyak hal yang tidak aku tahu tentangmu Arga, tentang kehidupan pribadimu dan tentang masa lalumu, tapi memang sebaiknya aku tidak perlu mengetahuinya karena bagaimanapun juga kau hanyalah orang asing dalam hidupku!" ucap Bianca dalam hati lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya.


__ADS_2