
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Arga sampai di rumahnya. Baru saja ia menginjakkan kaki di pintu rumah, ia sudah menanyakan keberadaan Bianca pada bibi.
"Dimana Bianca bi?" tanya Arga pada bibi.
"Sepertinya ada di lantai dua tuan," jawab bibi.
"Aahh ya, apa lampu yang bermasalah sudah diperbaiki?" tanya Arga.
"Sudah tuan," jawab bibi.
"Tolong pastikan tidak ada lagi lampu yang padam di rumah ini, entah itu di dalam ataupun di bagian belakang rumah!" ucap Arga dengan tegas.
"Baik Tuan," balas bibi.
Arga kemudian membawa langkahnya menaiki tangga dan berjalan ke arah balkon untuk mencari keberadaan Bianca.
Namun ia tidak menemukan Bianca disana. Arga kemudian berjalan ke arah ruang baca dan benar saja, Bianca sedang berdiri di antara rak buku yang ada di dalam ruang baca.
"Apa yang sedang kau cari?" tanya Arga mengejutkan Bianca.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" balas Bianca tanpa menjawab pertanyaan Arga.
Arga hanya tersenyum tipis lalu duduk di kursi yang ada di dalam ruang baca, sedangkan Bianca masih berdiri untuk mencari buku yang ia butuhkan.
"Buku apa yang kau cari Bianca?" tanya Arga mengulangi pertanyaannya.
"Diam saja, jangan menggangguku," balas Bianca yang enggan menjawab pertanyaan Arga.
Arga menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Bianca. Arga membawa dirinya berdiri tepat di depan Bianca, membuat Bianca mundur sampai punggungnya menyentuh rak buku.
Mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat saat itu.
"Apa kau memiliki kekasih?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.
"Tidak," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya.
"Ok baiklah," ucap Arga kemudian berjalan pergi begitu saja.
Sedangkan Bianca masih berdiri di tempatnya dengan memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Ada apa dengannya? kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? kenapa juga dadaku berdebar seperti ini?" batin Bianca bertanya dengan memegang dadanya.
Sedangkan di sisi lain, Arga keluar dari ruang buku dengan memukul-mukul kepalanya.
"Gila, apa yang baru saja aku lakukan? aku benar-benar sudah gila, kenapa juga aku menanyakan hal itu padanya!" ucap Arga merutuki kebodohannya sendiri yang tidak berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu.
"Tapi sepertinya dia tidak berbohong, dia bahkan menjawabnya tanpa ragu, itu artinya Bara bukan kekasihnya, lalu siapa Bara? apa kakak Bianca? tapi bukankah Bianca anak tunggal? aahhh entahlah.... mungkin saudaranya," ucap Arga lalu melepas satu per satu kancing kemejanya.
Arga kemudian meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang untuk mencari tau tentang Bianca dan keluarganya.
"Aku mencari tahu bukan karena aku peduli padanya, aku hanya.... mmmmm.... ingin tahu saja," ucap Arga pada dirinya sendiri lalu membawa langkahnya ke kamar mandi.
Di ruang baca, Bianca yang sudah lelah mencari buku akhirnya keluar dari ruang baca tanpa membawa buku yang ia butuhkan.
Ia sengaja tidak memberi tahu Arga buku apa yang sebenarnya ia cari, karena ia terlalu malu untuk mengatakan jika ia sedang mencari buku menu masakan saat itu.
"Aku tidak ingin dia besar kepala jika dia tau aku ingin belajar memasak, lagi pula aku belajar memasak bukan untuknya, tapi untuk diriku sendiri, kak Bara pasti menyukai perempuan yang pandai memasak bukan?" ucap Bianca pada dirinya sendiri dengan penuh senyum.
**
Hari telah berganti. Pagi itu Bianca sudah berpakaian rapi karena ia akan pergi ke tempat kos Lola.
Saat Bianca baru saja keluar dari kamar, tepat saat itu Arga baru saja melewati kamar Bianca dengan pakaian kerjanya.
"Kau mau kemana?" tanya Arga pada Bianca.
"Ke tempat Lola, tidak ada yang salah dengan pakaianku bukan?" balas Bianca.
"Tidak, aku akan mengantarmu," ucap Arga.
"Tidak perlu, aku bisa pergi bersama pak Dodi," balas Bianca.
"Apa pak Dodi belum memberi tahumu jika dia libur karena ibunya sedang sakit!"
"Aaahh iya, aku lupa, kalau begitu aku akan naik taksi saja," balas Bianca.
"Aku akan mengantarmu Bianca, arah ke kantor dan ke tempat kos Lola sama, jadi....."
"Oke oke.... ini masih sangat pagi jadi jangan memulainya dengan perbedebatan yang sia-sia!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.
Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah bersama Bianca.
"Apa kau akan pergi ke suatu tempat dengan Lola?" tanya Arga.
__ADS_1
"Aku dan Lola akan menghadiri opening kafe teman kuliah kita," jawab Bianca.
"Dimana?" tanya Arga.
"Tidak jauh dari kampusku, aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau sukai, percaya saja padaku, aku tau bagaimana harus bersikap," jelas Bianca.
"Aku percaya padamu," balas Arga.
Setelah beberapa lama berkendara, Argapun sampai di tempat kos Lola.
"Jaga dirimu baik-baik, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Arga yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Aku hanya tidak ingin pekerjaanku terganggu seperti kemarin," lanjut Arga yang membuat Bianca menghela nafasnya kasar lalu keluar dari mobil Arga dan pergi begitu saja.
"Hei, kau belum berterima kasih padamu!" ucap Arga setengah berteriak.
Bianca hanya mengangkat satu tangannya dan melambai pelan tanpa menoleh ke arah Arga.
Arga tersenyum tipis lalu segera mengendarai mobilnya ke arah tempat kerjanya. Sedangkan Bianca segera berangkat ke kafe bersama Lola.
Mereka memang sengaja berangkat pagi karena siang nanti Lola harus pergi ke kampus untuk melakukan bimbingan skripsinya yang sebentar lagi selesai.
Bianca dan Lola pergi ke kafe teman mereka dengan menggunakan taksi sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Saat baru saja turun dari taksi, Bianca mencuri pandang ke arah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari kafe temannya.
Ia bisa mengingat dengan jelas jika mobil itu adalah mobil yang ia lihat saat ia masih berada di tempat kos Lola dan tiba-tiba saja mobil itu sudah berada di dekat kafe temannya.
"Apa mobil itu mengikutiku?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Bianca, ayo!" ucap Lola sambil menarik tangan Bianca masuk ke dalam kafe.
Bianca dan Lola kemudian berjalan masuk ke dalam kafe, disambut oleh teman kuliah mereka.
Setelah berbasa-basi mengucapkan selamat dan beberapa hal lainnya, Bianca dan Lola kemudian disuguhkan menu andalan kafe itu.
Hampir 30 menit Bianca, Lola dan temannya mengobrol di dalam kafe hingga akhirnya opening kafe dimulai saat para pengunjung sudah mulai berdatangan memenuhi setiap bangku yang ada di kafe itu.
Waktupun berlalu, Lola berpamitan terlebih dahulu karena ia harus pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi.
"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Lola pada Bianca.
"Iya, aku harus mengerjakan beberapa artikel di rumah," jawab Bianca.
"Jangan terlalu mengkhawatirkanku Lola, sejak kapan aku menjadi bergantung pada orang lain, apa lagi Arga, aku pasti bisa menjaga diriku sendiri!" ucap Bianca.
"Tapi kali ini berbeda Bianca, orang jahat itu sudah melakukan tindakan kriminal padamu dan sampai sekarang kita tidak tahu siapa dan apa maksud orang itu berbuat jahat padamu, kau...."
"Ssssttt..... fokus saja pada skripsimu, aku akan memesan taksi sekarang dan akan segera sampai di rumah dengan aman, percaya padaku!" ucap Bianca memotong ucapan Lola.
"Kalau begitu aku akan menunggumu mendapatkan taksi disini!" ucap Lola.
"Baiklah," balas Bianca.
Setelah beberapa lama menunggu, taksipun datang.
"Aku pulang dulu, kau cepat ke kampus, jangan membuat dosen pembimbingmu marah!" ucap Bianca pada Lola.
Lola menganggukkan kepalanya dengan mengacungkan ibu jarinya. Setelah taksi Bianca pergi, Lola segera mencatat nomor taksi itu, khawatir jika terjadi sesuatu pada Bianca.
Di sisi lain, Bianca yang sedang berada di dalam taksi melihat ke arah belakangnya dan mendapati mobil yang sama yang ia lihat di dekat tempat kos Lola dan di dekat kafe.
"Sepertinya mobil itu memang mengikutiku, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Bianca bertanya dalam hati.
Tiba tiba taksi berhenti, membuat Bianca sedikit terkejut.
"Ada apa pak?" tanya Bianca.
"Sepertinya ada demo di depan mbak, bagaimana jika kita melewati jalan tikus saja?" jawab si supir taksi sekaligus bertanya.
"Jalan tikus? jalanan sempit dan sepi, itu pasti waktu yang tepat untuk orang-orang jahat itu mendatangiku," batin Bianca dalam hati.
"Kalau begitu berhenti disini saja pak, ini uangnya, terima kasih," ucap Bianca lalu segera turun dari taksi dan berjalan ke arah mini market.
"Setidaknya disini cukup ramai, jadi tidak mungkin mereka melakukan kejahatan disini," ucap Bianca dalam hati.
Tiba-tiba seseorang memanggil nama Bianca dengan memegang pundaknya.
"Bianca!" panggil Arga yang membuat Bianca berteriak karena terkejut.
Argapun segera mendekap mulut Bianca yang sukses menarik perhatian beberapa orang yang ada disana.
"Aku hanya memanggilmu Bianca, kenapa kau berlebihan sekali?" tanya Arga.
__ADS_1
"Kau membuatku terkejut, lagi pula kenapa kau bisa ada disini?"
"Aku baru saja selesai meeting di luar kantor dan seperti yang kau lihat, aku terjebak macet," jawab Arga.
"Aku pikir orang kaya sepertimu tidak akan terjebak macet, rupanya uangmu yang sangat banyak itu tidak bisa membuatmu terhindar dari kemacetan jalan raya!" ucap Bianca.
"Pikiran liarmu itu terlalu jauh Bianca!" balas Arga sambil mendorong kening Bianca dengan jari telunjuknya.
"Kau....."
Bianca menghentikan ucapannya saat ia melihat mobil yang mengikutinya kini berada di dekat mini market. Seketika Bianca membawa langkahnya bersembunyi di belakang Arga.
"Ada apa Bianca?" tanya Arga yang melihat raut wajah Bianca tiba-tiba berubah.
"Tidak..... tidak ada apa-apa," balas Bianca dengan menggelengkan kepalanya.
Meskipun tidak ingin menunjukkan ketakutannya, namun tak dapat dipungkiri, raut wajah Bianca terlihat ketakutan saat itu.
Arga kemudian membawa pandangannya ke sekelilingnya lalu tersenyum tipis saat ia mengerti kemungkinan apa yang membuat Bianca takut.
"Apa kau melihat sesuatu?" tanya Arga.
"Apa kau juga melihatnya Arga?" balas Bianca bertanya.
Arga menganggukkan kepalanya dengan raut wajah santai.
"Aku melihat mobil itu saat aku berada di tempat kos Lola, aku juga melihatnya di dekat kafe temanku dan sekarang mobil itu ada disini!" ucap Bianca berbisik.
"Mobil itu akan terus ada di dekatmu Bianca," ucap Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.
"Apa maksudmu?" tanya Bianca tak mengerti.
Arga tersenyum lalu meraih tangan Bianca, menggandengnya ke arah mobil hitam yang mengikuti Bianca sedari tadi.
"Arga apa yang kau lakukan?" tanya Bianca sambil berusaha menahan Arga agar tidak menghampiri mobil mencurigakan itu.
Namun Arga tetap dengan langkahnya yang menuju ke arah mobil itu hingga akhirnya mobil itupun terbuka dan beberapa orang pria keluar dari dalam mobil.
Bianca begitu terkejut saat melihat beberapa orang pria yang ada di hadapannya. Ia ingat, mereka adalah para pria yang sempat mengancam Bianca, para pria yang merupakan suruhan dari pria hidung belang yang Bianca temui atas perintah Lola.
"Selamat siang bos," sapa mereka pada Arga.
"Bos?" tanya Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga.
"Mereka sekarang bekerja padaku, bukankah aku sudah pernah memberi tahumu hal ini?" ucap Arga pada Bianca.
Seketika Bianca ingat ucapan Arga tentang hal itu, ia bisa mengingat bagaimana Arga mengakhiri perkelahian dengan para pria itu menggunakan uang yang ia miliki.
Bianca hanya tidak menyangka jika akhirnya Arga mempekerjakan mereka untuk mengikutinya.
"Mereka akan menjagamu dari jauh, mereka tidak akan mengganggu apapun yang kau lakukan di luar rumah, mereka hanya memastikan kau....."
"Aku ada dalam pantauanmu? itu maksudmu?" tanya Bianca memotong ucapan Arga.
"Tidak... aku hanya....."
"Kau benar benar sangat egois Arga, kau pikir dengan uangmu itu kau bisa membeli seluruh hidupku?"
"Bianca kau salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu!" ucap Arga yang menyadari kesalahpahaman Bianca.
"Kau keterlaluan!" ucap Bianca kemudian berlari pergi meninggalkan Arga.
Argapun segera mengejar Bianca, namun Bianca sudah masuk ke dalam taksi yang segera pergi dari tempat itu.
Arga kemudian masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya mengejar taksi yang berakhir di rumahnya.
Tanpa membawa masuk mobilnya, Arga segera berlari masuk ke dalam rumah untuk mengejar Bianca.
Ia merasa harus menjelaskan alasannya pada Bianca, ia tidak ingin Bianca salah paham padanya.
"Bianca dengarkan aku!" ucap Arga sambil menahan tangan Bianca yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Apa lagi yang harus aku dengar darimu Arga? pernikahan ini seperti membuatku terkurung dalam semua aturan yang kau buat sendiri, semua aturan itu hanya tentangmu, tentang keluarga dan perusahaanmu, tidak bisakah aku mendapatkan sedikit saja udara segar tanpa aturanmu itu?"
"Aku melakukan hal itu karena aku mengkhawatirkanmu Bianca, aku belum bisa menangkap siapa orang jahat itu dan aku tidak bisa selalu menjagamu, itu kenapa aku membutuhkan mereka, agar mereka menjagamu!" jelas Arga.
"Kau tidak mengkhawatirkanku Arga, kau hanya mengkhawatirkan dirimu sendiri, nama baikmu dan semua hal tentangmu!" ucap Bianca penuh emosi.
TIIIINN TIIIIINNNN TIIIIINNNN
Suara klakson mobil membuat Bianca dan Arga membawa pandangan mereka ke arah luar dan melihat mobil mama Arga yang berjalan memasuki halaman rumah.
"Aku tidak bisa menemui mamamu sekarang, katakan apapun tentangku, aku tidak peduli!" ucap Bianca pelan kemudian masuk ke dalam kamar, meninggalkan Arga yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1