Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Rencana Daffa


__ADS_3

Hari telah berganti. Pagi itu Arga terlambat bangun. Ia kemudian segera bersiap untuk pergi ke kantor setelah mandi. Ia berjalan terburu-buru sampai ia tidak sadar jika ia meninggalkan berkas pentingnya di meja kamarnya.


Sesampainya di kantor, Argapun segera mengerjakan pekerjaannya.


"Kau terlambat?" tanya Daffa yang baru saja masuk ke ruangan Arga.


"Sedikit," jawab Arga singkat.


"Aahh ya, aku sudah mengirim daftar pimpinan perusahaan yang harus kita temui, tolong kau atur jadwalnya, secepatnya!" lanjut Arga.


"Perusahaan apa? memangnya ada apa? apa ada masalah lagi?" tanya Daffa.


"Tidak, justru kita akan mendapatkan keuntungan lebih nanti," jawab Arga penuh senyum.


Daffa hanya mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Arga. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Arga karena sejauh yang ia tau mereka hampir saja merugi.


"Bianca ternyata memiliki koneksi dengan beberapa perusahaan dan itu sangat membantunya untuk bisa terhubung dengan banyak perusahaan lain," ucap Arga kemudian menjelaskan pada Daffa tentang usaha apa yang sudah Bianca lakukan untuk membantu perusahaannya.


"Waaahhh, istrimu benar-benar hebat, tidak salah kau memilihnya sebagai istrimu," ucap Daffa dengan bertepuk tangan kecil.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Tak dapat dipungkiri apa yang dilakukan Bianca memang sangat membantunya. Dalam hatinya ia juga begitu bangga pada Bianca.


"Apa kau sudah memberinya hadiah?" tanya Daffa.


"Hadiah?" balas Arga mengulang pertanyaan Daffa.


"Iya hadiah, dia sudah menyelamatkan perusahaanmu dari kerugian Arga, dia yang sudah memberi ide agar kau memanfaatkan kekuasaanmu di media, dia juga sudah berusaha mendapatkan beberapa perusahaan yang bisa menjadi klien baru kita," jelas Daffa.


"Bukankah sudah seharusnya kau memberinya hadiah?" lanjut Daffa.


Arga terdiam untuk beberapa saat memikirkan ucapan Daffa. Arga kemudian menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui ucapan Daffa.


"Apa yang sebaiknya aku berikan padanya? sepatu? tas? pakaian?" tanya Arga.


"Itu hal yang sangat biasa Arga, lagipula sepertinya Bianca tidak terlalu menyukai hal-hal seperti itu," balas Daffa.


"Lalu apa?"


"Mmmm..... percayakan aku untuk mengaturnya, malam ini persiapkan saja dirimu untuk mengajaknya makan malam," jawab Daffa.


"Makan malam? aku bahkan belum mencari restoran dan......"


"Serahkan semuanya padaku, kau hanya perlu datang dan nikmati makan malammu bersama Bianca," ucap Daffa memotong ucapan Arga.


"Oke baiklah," balas Arga.


"Good, sekarang dimana berkas yang harus aku kerjakan?"


Arga mengambil tas kerjanya, mencari sesuatu yang tidak terlihat di dalam tasnya.


"Kau tidak mungkin lupa membawanya bukan?" tanya Daffa yang melihat Arga masih menggeledah tas kerjanya.


"Tidak mungkin, itu berkas penting, aku pasti membawanya," jawab Arga sambil memeriksa tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya.


Daffa hanya menghela nafasnya panjang melihat Arga yang tampak kebingungan.


"Minta orang suruhanmu untuk membawanya kesini, aku tidak bisa mengambilnya di rumahmu karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.


"Aku tidak bisa meminta orang luar membawa berkas itu, itu berkas yang sangat penting dan tidak boleh ada yang tau selain aku dan Daffa," ucap Arga sambil mengambil ponselnya dan mencari nama Bianca.


Arga kemudian menghubungi Bianca, meminta Bianca untuk mengantar berkasnya yang tertinggal ke kantor.


"Halo, ada apa?" tanya Bianca setelah ia menerima panggilan Arga.


"Apa kau sedang senggang? aku ingin meminta tolong padamu!"


"Meminta tolong apa?" tanya Bianca.


"Tolong ambil berkas dengan map kuning di meja kamarku dan antarkan ke kantor sekarang juga," jawab Arga.


"Di kamar? apa aku boleh masuk ke kamarmu?" tanya Bianca.


"Tidak ada yang aku percaya untuk mengambil berkas penting itu selain kau Bianca, jadi tidak ada cara lain selain kau harus masuk ke kamarku," balas Arga.


"Hmmm.... kau merepotkan sekali!"


"Cepatlah, Daffa sangat membutuhkan berkas itu sekarang juga!"


"Oke baiklah, aku akan mengambilnya dan mengantarnya ke kantormu sekarang juga!" ucap Bianca.


Bianca kemudian berjalan menaiki tangga untuk ke kamar Arga. Bianca masuk ke kamar Arga. Ia terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap detail kamar Arga yang begitu rapi.

__ADS_1


"Map kuning, dimana kau?" tanya Bianca pada dirinya sendiri sambil membawa pandangannya ke arah meja yang ada di kanan dan kiri ranjang Arga.


"Ini dia," ucap Bianca lalu mengambil map kuning di atas meja.


Saat map kuning itu sudah ada di tangan Bianca, tanpa sengaja Bianca melihat ke arah laci meja Arga yang terbuka.


Bianca bisa melihat dengan jelas foto seseorang yang mengenakan rok pendek dengan sepatu high heels di dalam laci itu, tetapi tidak terlihat wajahnya karena sebagian dari foto itu berada di dalam sebuah buku catatan kecil.


"Sepertinya bukan mama Nadine," ucap Bianca yang tanpa sadar sudah memegang foto itu, berniat menariknya untuk melihat wajah perempuan di foto itu.


Namun tiba-tiba......


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Dering pesan masuk di ponselnya membuat Bianca begitu terkejut, iapun segera memeriksa ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Arga.


"Pastikan kau tidak salah membawa berkas atau kau harus kembali pulang dan membawa berkas yang benar ke kantor!"


Bianca menghela nafasnya kasar lalu menutup laci di hadapannya kemudian berjalan keluar dari kamar Arga.


Setelah selesai bersiap, Bianca keluar dari rumah dengan diantar oleh Pak Dodi yang sudah kembali bekerja.


"Tolong antar Bianca ke kantor Arga ya pak," ucap Bianca pada pak Dodi.


"Baik non, mari," balas pak Dodi.


Pak Dodi kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Arga bersama Bianca.


"Bagaimana keadaan ibu pak Dodi?" tanya Bianca.


"Alhamdulillah sudah membaik non, berkat bantuan dari Tuan Arga, saya bisa membawa ibu saya ke rumah sakit untuk operasi," jelas Dodi.


"Bantuan Arga?"


"Iya non, ibu saya sebenarnya sudah di rawat di rumah sakit lebih dari satu bulan dan harus segera di operasi sebelum keadaanya memburuk, tapi saya menunda operasi itu karena terkendala biaya non, beruntung Tuan Arga yang mengetahui hal itu segera membayar seluruh biaya operasi ibu saya," jelas Dodi.


Bianca terdiam untuk beberapa saat mendengar penjelasan pak Dodi.


"Bahkan Tuan Arga juga membiayai biaya perawatan ibu saya setelah operasi, sekarang ibu saya sudah kembali pulang dan masih harus melakukan beberapa terapi yang semuanya sudah dibiayai oleh Tuan Arga," ucap Dodi.


Tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibir Bianca saat ia mendengar kebaikan Arga pada pak Dodi. Ia tidak menyangka jika laki-laki angkuh yang menyebalkan itu ternyata begitu baik pada orang di sekitarnya.


Jika seseorang tidak mengenalnya dengan baik, mereka hanya akan melihat sisi Arga yang dingin dan seolah tidak peduli pada orang lain.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Bianca sampai di kantor Arga. Iapun segera membawa langkahnya masuk dengan membawa map kuning milik Arga.


Seperti sebelumnya, Bianca mendatangi resepsionis terlebih dahulu sebelum ia berjalan ke ruangan Arga dan dengan ramah resepsionis itu mengizinkan Bianca untuk masuk ke ruangan Arga karena ia tahu jika Bianca adalah istri Arga.


Bianca kemudian menaiki lift yang membawanya ke lantai 7. Ia kemudian berjalan ke arah ruangan Arga yang tepat di depannya adalah meja kerja Daffa.


"Selamat pagi Daffa," sapa Bianca.


"Pagi Nyonya Arga," balas Daffa.


"Ini berkas yang diminta Arga, periksa dulu apakah aku membawa berkas yang benar atau tidak," ucap Bianca sambil menyerahkan map kuning yang dibawanya pada Daffa.


"Memang ini yang aku butuhkan, terima kasih sudah mengantarnya kesini, aku benar-benar sangat membutuhkan berkas ini," ucap Daffa setelah ia memeriksa berkas yang Bianca berikan padanya.


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu!" ucap Bianca.


"Pulang? apa kau tidak ingin menemui Arga sebelum pulang?" tanya Daffa.


"Untuk apa? bukankah tugasku kesini hanya untuk memberikan berkas itu padamu?" balas Bianca bertanya.


"Iya, tapi....."


"Aku tidak ingin membuang waktuku untuk bertemu dengannya, aku pulang dulu, bye!" ucap Bianca memotong ucapan Daffa kemudian berjalan pergi begitu saja.


Saat Bianca baru saja melangkahkan kakinya meninggalkan meja kerja Daffa, seorang gadis cantik berjalan ke arahnya.


"Kau.... apa yang kau lakukan disini?" tanya Clara pada Bianca.


"Mengantarkan berkas Daffa," jawab Bianca singkat tanpa menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu, kenapa pergi begitu saja? tidak sopan sekali!" ucap Clara sambil menahan tangan Bianca, membuat Bianca menghentikan langkahnya.


Bianca menghela nafasnya pelan lalu menarik tangannya dari Clara. Bianca memang sengaja pergi untuk menghindar dari Clara, bukan karena ia takut pada Clara, tapi karena ia tidak ingin terjadi keributan antara dirinya dan Clara.


"Aku sudah mengenakan pakaian anggun ini tidak mungkin aku menjadi bar-bar disini!" ucap Bianca dalam hati.


"Ada apa?" tanya Bianca dengan nada santai.

__ADS_1


"Tidak perlu berpura-pura di depanku, aku tau seperti apa dirimu, kau hanya gadis preman yang beruntung menjadi istri Arga, asal kau tau pakaian mahal yang kau kenakan itu sama sekali tidak bisa menutupi siapa dirimu sebenernya," ucap Clara dengan tatapan sinis.


"Kau benar, pakaian apapun yang aku kenakan tidak akan bisa menutupi diriku yang sebenarnya, sangat berbeda denganmu yang sangat pandai menutupi dirimu yang sebenarnya," balas Bianca dengan tersenyum.


"Apa maksudmu? kau......"


"Clara, apa yang kau lakukan disini?" tanya Daffa pada Clara yang berhasil menarik perhatian Daffa di ruangan yang hanya terpisah dengan dinding kaca.


"Tentu saja aku ingin menemui Arga, tapi perempuan preman ini malah mencegahku," jawab Clara berbohong.


"Mencegahmu? aku bahkan tidak peduli seberapa sering kau berusaha menemui Arga, karena aku yakin Arga tidak akan pernah tergoda oleh perempuan sepertimu," sahut Bianca.


"Daffa kau dengar bukan? mulut wanita ini sangat berbisa, dia sama sekali tidak pantas untuk keluarga Narendra yang berpendidikan tinggi," ucap Clara.


"Memangnya setinggi apa pendidikanmu Clara? kau bahkan tidak melanjutkan kuliahmu karena....."


"Aku tidak melanjutkan kuliah karena kesibukanku, bukan karena hal lain," ucap Clara memotong ucapan Daffa.


"Benarkah begitu? sepertinya aku mengetahui hal lain yang berbeda!" balas Daffa yang membuat Clara kesal.


"Kalian berdua memang sama-sama menyebalkan!" ucap Clara penuh emosi kemudian berjalan pergi begitu saja, mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Arga.


Melihat hal itu Bianca dan Daffa hanya terkekeh lalu saling mengangkat tangan dan melakukan tos.


"Abaikan saja Clara, dia memang seperti itu," ucap Daffa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Tiba-tiba Arga keluar dari ruangannya dan mendapati Bianca bersama Daffa.


"Apa yang kalian berdua lakukan disini?" tanya Arga.


"Aku hanya memberikan berkas yang Daffa butuhkan," jawab Bianca.


"Aku tidak melihatmu membawa apapun," ucap Arga.


"Berkasnya sudah ada di mejaku," sahut Daffa.


"Lalu kenapa kalian berdua disini? apa kalian ingin mencari perhatian orang banyak disini?"


"Sepertinya suamimu sedang cemburu, aku kembali ke meja kerjaku dulu Bianca, see you!" ucap Daffa pada Bianca lalu berjalan pergi sambil melambaikan tangannya pada Bianca.


Bianca hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya, namun segera ditepis oleh Arga.


"Ada apa denganmu? kau marah padaku?" tanya Bianca pada Arga.


"Tidak, segera pulang jika tugasmu disini sudah selesai," jawab Arga.


"Aku memang akan pulang, jika bukan karena pacarmu yang menahanku disini aku tidak akan berlama-lama disini!" balas Bianca kemudian berjalan pergi begitu saja.


"Pacarku?" tanya Arga pada dirinya sendiri


"Clara, dia baru saja datang dan membuat masalah dengan Bianca," sahut Daffa yang berdiri di ambang pintu.


Arga hanya menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya menatap Daffa yang ternyata belum kembali ke meja kerjanya.


Daffa hanya terkekeh lalu segera kembali ke meja kerjanya.


**


Waktu berlalu, Arga sudah sampai di rumahnya lalu segera meminta Bianca untuk bersiap karena ia akan mengajak Bianca makan malam di restoran yang sebelumnya sudah direservasi oleh Daffa.


Tanpa banyak bertanya, Biancapun mempersiapkan dirinya dengan baik. Ia benar-benar terlihat sangat cantik malam itu, membuat Arga atau siapapun yang melihatnya pasti akan terkagum melihat kecantikan Bianca.


Arga kemudian mengendarai mobilnya keluar dari rumah bersama Bianca. Setelah beberapa lama berkendara, Argapun sampai di tempat tujuannya.


"Apa kau yakin kita akan makan malam disini? disini bahkan tidak ada satupun pengunjung selain kita Arga!" tanya Bianca ragu.


Arga kemudian memeriksa ponselnya untuk memastikan lokasi yang Daffa berikan sudah sesuai dengan lokasinya saat itu.


"Benar disini, ayo kita masuk," ucap Arga kemudian meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.


Mereka berdua disambut oleh waiters yang seolah sudah menunggu kedatangan mereka. Arga dan Bianca kemudian duduk di kursi yang di sekitarnya dihiasi oleh berbagai macam warna kelopak mawar.


Tiba-tiba beberapa orang datang, satu diantara mereka menyalakan lilin yang ada di depan Bianca dan Arga. Beberapa orang itu kemudian mengalunkan sebuah musik indah dari biola yang mereka bawa.


Tak lama kemudian seseorang yang lain datang lalu memberikan sebuah kotak pada Arga. Seseorang itu memberikan kode agar Arga membuka kotak dengan hiasan bunga mawar merah itu.


"Kalung?" tanya Arga saat ia melihat kalung di dalam kotak itu.


Seseorang di samping Arga kemudian memberikan kode agar Arga memberikan kalung itu pada Bianca.


Arga dan Bianca yang begitu terkejut dengan apa yang terjadi hanya terdiam dengan saling menatap untuk beberapa saat.

__ADS_1


__ADS_2