Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Berakhir?


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, belum ada tanda apapun dari bianca yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Selama satu minggu itu juga Arga sama sekali tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Ia hanya akan keluar dari ruangan ICU saat ada orang tuanya, Daffa atau Lola yang ingin menjenguk Bianca.


Hari-hari yang berlalu dengan pilu membuat rasa cinta dalam hati Arga semakin besar. Kini ia hanya akan mendengar apa yang hatinya katakan tanpa perlu terlalu memikirkannya.


Pagi itu, Arga duduk di samping ranjang Bianca, mengusap tangan dan bagian tubuh Bianca yang bisa dijangkaunya dengan tissue basah.


"Kau masih tetap cantik meskipun dalam keadaan seperti ini Bee, tapi bisakah kau bangun sekarang? aku ingin mendengar suaramu."


Arga membawa pandangan menatap gadis cantik yang terpejam di hadapannya. Kini ia mulai bisa merasakan indah cinta dalam hatinya meskipun ia belum bisa mengungkapkannya.


Bahkan dalam keadaan Bianca yang berada di ambang batas antara hidup dan mati, cinta yang Arga rasakan terus tumbuh dan semakin mengakar kuat dalam hati Arga.


"Apa kau ingat pertemuan pertama kita Bee? kita bertemu di persimpangan jalan saat kita sama-sama lari dari kejaran orang-orang yang mengejar kita, kau tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku lari bersamamu, entah apa yang akan terjadi padaku malam itu jika aku tidak bertemu denganmu," ucap Arga dengan tersenyum mengingat saat pertama kali mereka bertemu.


"Asal kau tau Bee, sejak aku berkata ingin menikah denganmu, aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu apa lagi merampas kehidupanmu, aku juga tidak berniat untuk membeli hidupmu atas yang 50 miliar yang aku berikan pada para pria yang menagih hutang itu," ucap Arga.


"Sekarang aku sadar jika apa yang aku lakukan saat itu karena aku mengikuti apa kata hatiku, aku melakukannya tanpa banyak berpikir karena itu adalah bagian dari takdir yang akhirnya membuatku jatuh cinta padamu," lanjut Arga.


Arga kemudian mengambil ponselnya, membuka galeri fotonya dan membuka salah satu folder foto miliknya.


"Lihatlah Bee, aku menyimpan banyak fotomu disini, aku bahkan menggunakan salah satunya sebagai wallpaper, terlihat sangat cantik bukan!" ucap Arga sambil menunjukkan foto-foto Bianca yang ada di ponselnya.


Meskipun ia tahu jika Bianca tidak akan melihatnya, tapi Arga tetap mengarahkan layar ponselnya pada Bianca.


"Bangunlah Bee dan lihatlah betapa bodohnya aku karena baru menyadari jika aku jatuh cinta padamu, padahal sudah sejak lama jantungku selalu berdebar setiap aku dekat denganmu!" ucap Arga.


Tak lama kemudian pintu ruangan Bianca terbuka, dokter dan suster masuk untuk memeriksa keadaan Bianca.


"Kapan dia akan bangun dok? dia sudah sangat lama tertidur," tanya Arga pada dokter dengan pandangan kosong menatap Bianca.


"Hanya waktu yang bisa menjawabnya, selama kerja otaknya masih berada dalam garis stabil kita masih bisa mengusahakan yang terbaik untuk pasien," jawab dokter.


Arga menghela nafasnya panjang lalu kembali duduk di samping Bianca setelah dokter dan suster keluar.


"Bianca Titania, aku baru sadar jika namamu sangat cantik, secantik dirimu dan kepribadianmu," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.


Arga kemudian membaringkan kepalanya di tepi ranjang Bianca dengan masih menggenggam tangan Bianca.


"Bangunlah Bianca, aku merindukanmu, senyummu, tawamu dan keceriaanmu, aku merindukan semua hal tentangmu Bianca," ucap Arga dengan suara bergetar.


**


Satu bulan telah terlewati, Arga masih setia menemani Bianca di rumah sakit. Dalam waktu satu bulan itu, Arga sama sekali tidak memperhatikan dirinya sendiri dengan baik.


Wajahnya terlihat kusam dan berantakan, ia bahkan sudah kehilangan beberapa kg berat tubuhnya.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh orang tua Arga, Daffa ataupun Lola untuk membantu Arga. Seperti yang sudah dokter katakan, tidak ada jaminan apapun atas apa yang akan terjadi pada Bianca.


Namun semua yang ada disana masih berharap agar Bianca segera sadar dari tidur panjangnya.


Selama Arga menemani Bianca di rumah sakit, Arga sengaja menonaktifkan jaringan ponselnya. Ia tidak ingin ada hal lain yang mengganggunya.


Arga hanya akan fokus pada Bianca, menemani Bianca, berbicara panjang lebar pada Bianca dan membaca buku-buku yang pernah bianca baca.


Siang itu, Arga sedang membaca buku di samping ranjang Bianca. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Bianca, membuat Arga segera membawa pandangannya ke arah pintu.


Arga kemudian meletakkan buku itu di meja lalu membawa pandangannya menatap Bianca.


"Aku keluar sebentar Bee," ucap Arga sambil membelai pelan rambut bianca.


Arga kemudian membawa langkahnya keluar setelah ia melihat Daffa yang membuka pintu ruangan Bianca.

__ADS_1


"Aku tidak tau apakah aku harus mengatakan hal ini padamu atau tidak, tapi sepertinya aku harus mengatakannya," ucap Daffa pada Arga yang sudah duduk di sampingnya.


"Jangan membahas masalah pekerjaan denganku Daffa, aku tidak akan mendengarkannya," balas Arga.


"Ini bukan tentang pekerjaan, ini tentang..... Karina," ucap Daffa.


"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan Karina?" tanya Arga.


"Tadi pagi dia membuat keributan di kantor, dia tidak tau apa yang terjadi padamu dan Bianca, dia hanya merasa kau tiba-tiba meninggalkannya, dia memaksa ingin menemuimu di kantor tapi kau tau bukan jika om David yang sekarang menggantikan posisimu, aku hanya takut jika om David melihat Karina disana!" jelas Daffa.


"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Arga.


"Aku tidak mengatakan apapun tentang keadaanmu dan Bianca saat ini, aku hanya mengatakan padanya jika kau akan menemuinya, aku pikir sebaiknya kau memberikan ketegasan padanya tentang hubungan kalian yang sudah berakhir," ucap Daffa.


Arga hanya terdiam mendengar semua ucapan Daffa tentang Karina. Semenjak ia berada di rumah sakit ia bahkan tidak memikirkan Karina sama sekali.


Saat Arga menyadari perasaannya pada Bianca, nama Karina seolah hilang begitu saja dari ingatan maupun hatinya.


"Arga, kau tidak akan berubah pikiran bukan?" tanya Daffa memastikan.


"Cinta bukan tentang apa yang ada di dalam pikirkan Daffa, tapi apa yang ada di dalam hati, aku bahkan lupa jika aku masih memiliki masalah yang harus aku selesaikan dengan Karina," balas Arga.


"Sekarang selesaikan masalahmu dengan Karina dan pastikan agar dia tidak mengganggumu lagi," ucap Daffa.


Arga kemudian mengambil ponsel di sakunya lalu mengaktifkan jaringan ponselnya. Tak butuh waktu lama, banyak notifikasi yang masuk ke ponselnya.


Argapun segera mengirim pesan Karina, meminta Karina untuk menemuinya di rumah sakit.


"Apa kau bisa menemani Bianca sebentar disini? aku harus menemui Karina untuk menyelesaikan semuanya!" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Daffa.


Setelah beberapa lama menunggu, Karina mengirim pesan pada Arga jika dia sudah berada di rumah sakit.


Argapun segera membawa langkahnya menemui Karina.


Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Arga. Namun saat ia menanyakan dimana ruangan Arga dirawat, data di rumah sakit itu tidak menunjukkan adanya nama Arga sebagai pasien disana.


"Kenapa tidak ada nama Arga dalam daftar pasien disini? apa yang sebenarnya terjadi padanya?" batin Karina bertanya dalam hati.


"Ikut aku!" ucap Arga yang tiba-tiba datang sambil menarik tangan Karina.


Karina yang terkejut hanya mengikuti Arga sampai Arga melepaskan tangannya di salah satu sudut rumah sakit yang cukup sepi.


"Apa yang terjadi Arga? kenapa kau terlihat sangat berantakan?" tanya Karina yang terkejut melihat penampilan Arga saat itu.


"Aku akan to the point padamu, mulai sekarang jangan pernah mencariku lagi, hubungan kita sudah berakhir, kau sudah memiliki tunangan dan aku sudah memiliki istri, jadi lebih baik kita tidak bertemu lagi setelah ini!" ucap Arga dengan tegas.


"Apa maksudmu Arga? kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Karina tak mengerti.


"Aku mencintai istriku Karina, aku tidak ingin dia salah paham dengan hubungan kita dan aku harap kau juga menjauhi Bianca!" balas Arga.


"Aku tidak mengerti apa yang tiba-tiba membuatmu seperti ini, bukankah kau yang lebih dulu mendekatiku bahkan setelah kau menikah? bukankah kita berteman dan...."


"Lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita Karina, semua yang pernah aku lakukan denganmu hanyalah kebodohanku yang terlalu berambisi untuk bisa mendapatkanmu kembali, sekarang mari jalani kehidupan kita masing-masing tanpa saling mengenal!" ucap Arga memotong ucapan Karina.


"Tidak Arga, kau tidak bisa bersikap seperti ini padaku, setidaknya kita bisa berteman bukan!"


"Tidak Karina, kita sudah tidak bisa memiliki hubungan apapun sekarang bahkan sekedar pertemanan!" balas Arga.


"Tolong jangan memperlakukanku seperti ini Arga, aku membutuhkanmu, hanya kau yang bisa membantuku!"


"Kenapa aku? bukankah kau memiliki Bian? kau yang memutuskan untuk lebih memilih Bian daripada aku, jadi jalani saja hubunganmu dengan Bian tanpa melibatkan aku!" balas Arga.


"Bagaimana jika aku mencintaimu?"

__ADS_1


"Kau tidak akan berselingkuh dariku dan kau tidak akan memilih Bian jika kau memang mencintaiku," jawab Arga lalu berjalan pergi namun Karina berusaha menahan tangan Arga.


"Tolong jangan seperti ini Arga, aku minta maaf jika aku pernah melakukan kesalahan padamu, aku..."


"Lepaskan aku Karina, lupakan semua yang sudah pernah terjadi di antara kita, tolong pergilah dari hidupku dan juga hidup Bianca!" ucap Arga memotong ucapan Karina lalu berjalan pergi begitu saja.


Sedangkan Karina masih berdiri di tempatnya, menatap Arga sudah berjalan meninggalkannya.


Ia tidak mengerti apa yang membuat Arga tiba-tiba bersikap seperti itu padanya. Karina memang sudah tidak mencintai Arga, tetapi ia tetap membutuhkan Arga sebagai pelariannya dari Bian.


"Dia yang lebih dulu mengejarku setelah hubungan kita selesai, sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi Arga, aku tidak akan membiarkanmu mengabaikanku seperti ini!" ucap Karina dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya karena kesal.


"Untuk saat ini kau menang Bianca, tapi ini hanya sementara karena aku tidak akan tinggal diam, aku yakin Arga pasti masih mencintaiku!" ucap Karina dalam hati lalu berjalan pergi meninggalkannya rumah sakit.


Di sisi lain, Arga segera kembali ke ruangan Bianca setelah ia menemui Karina.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Daffa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Apapun yang terjadi antara kau dan Karina, kau harus tetap memberi tahu Bianca karena aku yakin suatu saat nanti Bianca akan mengetahuinya, jadi lebih baik katakan padanya sebelum dia salah paham," ucap Daffa.


"Aku mengerti, pergilah!" balas Arga lalu masuk ke ruangan Bianca.


Daffa hanya menghela nafasnya lalu berjalan pergi.


Di dalam ruangan Bianca, Arga duduk di tepi ranjang Bianca. Arga menggenggam tangan Bianca sambil menatap wajah cantik Bianca yang tampak pucat.


"Aku akan menceritakan semuanya padamu Bianca, jadi cepatlah bangun," ucap Arga lalu memberikan kecupan singkatnya di tangan Bianca.


**


Hari hari terus berlalu dengan Arga yang masih menemani Bianca di rumah sakit. Ia benar-benar sudah tidak mempedulikan semua hal selain Bianca.


Hingga tiba-tiba hari yang tidak Arga inginkan terjadi.


Pagi itu Arga sedang berada di kamar mandi saat dokter baru saja memeriksa keadaan Bianca. Karena tidak melihat keberadaan Arga, dokter akhirnya menjelaskan keadaan Bianca pada orang tua Arga yang baru saja datang.


"Keadaan pasien memburuk, pasien mengalami mati batang otak yang artinya pasien sudah tidak memiliki kesempatan untuk pulih, secara medis pasien sudah dianggap meninggal karena sudah mengalami mati otak secara keseluruhan," jelas dokter yang membuat mama dan papa Arga begitu terkejut.


"Sekarang pasien hanya bergantung dengan alat penunjang hidup, tapi sebagai dokter saya menyarankan untuk melepas semua alat penunjang hidupnya karena sudah tidak ada harapan sama sekali untuk kelanjutan hidup pasien," ucap dokter.


"Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan dok? dia masih sangat muda, dia pasti bisa bertahan!" tanya Nadine dengan air mata yang sudah membahasi kedua pipinya.


"Tidak ada apapun yang bisa dilakukan lagi, karena pasien dengan mati otak sudah tidak akan bisa kembali sadar karena kehilangan kemampuannya untuk bernafas, apa yang sekarang kita lakukan hanya untuk memperpanjang keberadaannya di rumah sakit dengan akhir yang bisa kita pastikan," jelas dokter.


"Pa, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nadine pada sang suami


"Jika kita terus menahan Bianca seperti ini, kita hanya akan membuatnya sakit ma, seperti yang sudah dokter katakan, tidak ada lagi kesempatan hidup bagi Bianca," jawab David


"Bagaimana dengan Arga pa? dia pasti akan menolak untuk menandatangani surat peryataan untuk melepas alat penunjang hidup Bianca!"


"Papa yang akan menandatanganinya, Bianca sudah tidak memiliki siapapun selain Arga dan kita, psikis Arga tidak cukup baik untuk berpikir jadi papa yang akan menandatangani surat pernyataan itu!" jawab David.


Dengan berat hati, Nadine dan David akhirnya menyetujui saran dokter untuk melepas alat penunjang hidup Bianca.


Tanpa alat itu, hidup Bianca akan benar-benar berakhir. Mungkin dengan begitu, Bianca akan lebih bahagia karena akhirnya ia akan menemui mama dan papa yang sangat dirindukannya.


"Silakan tanda tangan disini pak," ucap suster pada David.


David menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia benar-benar menandatangani surat pernyataan itu.


Seketika Nadine terjatuh dalam dekapan David, ia begitu bersedih atas apa yang menimpa Bianca.


"Ini yang terbaik untuk Bianca ma, dengan begini dia akan beristirahat dengan tenang," ucap David berusaha menenangkan sang istri.

__ADS_1


Setelah dokter mendapatkan surat pernyataan yang sudah ditandatangani oleh David, dokter dan beberapa susterpun masuk ke ruangan Bianca untuk melepaskan alat penunjang hidup Bianca.


__ADS_2