Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Bersepeda (2)


__ADS_3

Arga masih bersepeda bersama Bianca. Ia tidak menyangka jika hal kecil yang ia lakukan ternyata bisa membuat Bianca begitu bahagia.


"Dia terlihat sangat bahagia bahkan hanya dengan hal kecil yang aku lakukan untuknya, benar-benar gadis yang sederhana," ucap Arga dalam hati.


Setelah cukup lama bersepeda, Bianca akhirnya berbelok di sebuah mini market diikuti oleh Arga di belakangnya.


"Akhirnya...." ucap Arga sambil berlari masuk ke dalam mini market.


Tak lama kemudian Arga keluar sambil membawa 2 botol minuman lalu membuka salah satunya dan memberikannya pada Bianca.


"Thank you!" ucap Bianca lalu meneguk minuman pemberian Arga.


"Tenagamu benar-benar luar biasa, jujur aku sudah ingin beristirahat sejak tadi!" ucap Arga sambil meluruskan kedua kakinya.


"Aku memang sangat suka bersepeda, tapi sudah sangat lama aku tidak melakukannya!" balas Arga.


"Kapan kau terakhir kali bersepeda?" tanya Arga


"Mmmm.... sepertinya aku terakhir bersepeda saat aku masih SD," jawab Bianca.


"Sudah sangat lama kalau begitu," ucap Arga.


"Iya, dulu mama dan papa selalu mengajakku bersepeda setiap hari Minggu, tapi setelah aku masuk SMP kegiatanku jadi semakin banyak dan aku tidak punya waktu lagi untuk bersepeda, bahkan di hari Minggu," balas Bianca.


"Jika aku tau tidak selamanya aku bisa bersama mama dan papa, mungkin aku akan berusaha menyempatkan waktuku untuk selalu bersepeda bersama mereka," lanjut Bianca dengan menghela nafasnya.


"Sekarang kau bisa bersepeda bersamaku kapanpun kau mau," ucap Arga.


"Benarkah?" tanya Bianca bersemangat.


"Tentu saja, asalkan tidak mengganggu waktu kerjaku," jawab Arga.


Bianca menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum senang, senyum yang mampu membuat laki-laki di sampingnya berdebar.


"Aku pasti terlalu lelah," ucap Arga dalam hati sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang.


"Kapan kau membeli sepeda ini? sepertinya semalam kau sama sekali tidak keluar, tapi pagi-pagi sekali sepeda ini sudah ada di rumah," tanya Bianca penasaran.


"Aku memesannya semalam dan aku meminta penjualnya untuk mengirimkan ke rumah pagi-pagi sekali," jawab Arga.

__ADS_1


"Waaahhh kau benar-benar tidak terduga, kau benar-benar bisa melakukan apapun yang kau mau, orang sepertimu tidak akan pernah tau bagaimana orang lain harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan sesuatu yang mereka butuhkan!" ucap Bianca.


"Aku tidak mendapatkan semua hal yang aku inginkan Bianca, kau hanya melihat hal kecil dari luar saja, kau belum tau bagaimana sulitnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan bahkan setelah aku jatuh dan terluka berkali-kali," ucap Arga.


"Hal yang kau anggap kecil itu bisa jadi adalah hal besar yang diinginkan orang lain Arga, bersyukurlah atas apa yang kau miliki saat ini karena kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi padamu jika kau kehilangan semuanya," balas Bianca.


Mendengar ucapan Bianca, Arga seketika membawa pandangannya pada Bianca. Tiba-tiba ia teringat ucapan Daffa padanya.


"Jaga baik-baik apa yang kau miliki saat ini Arga, sebelum kau menyesal karena sudah kehilangannya!"


"Tapi aku mengerti jika kau menilai apa yang aku katakan hanyalah hal kecil bagimu, karena pada dasarnya setiap orang memiliki masalah hidupnya masing-masing, apapun masalah yang sedang kau hadapi aku harap kau bisa menyelesaikannya dengan baik, tanpa ada penyesalan pada akhirnya," ucap Bianca.


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


Masalah terbesar yang ia hadapi adalah tentang dirinya yang masih berusaha untuk membuat Karina kembali padanya, meskipun ia tau jika Karina sudah memiliki tunangan.


Setelah cukup lama beristirahat, Bianca dan Arga kembali mengayuh sepeda mereka untuk kembali ke rumah sebelum matahari semakin terik.


Sama seperti sebelumnya, sesekali Arga mengayuh sepedanya di samping Bianca dan sesekali Arga membiarkan Bianca berada di depannya.


Mereka juga membicarakan hal-hal ringan selama mereka bersepeda sampai akhirnya mereka sampai di rumah.


"Rasanya kakiku akan putus," ucap Arga mengeluh sambil membaringkan dirinya di lantai teras rumahnya.


"Kau berlebihan sekali," balas Bianca sambil menarik kaki Arga.


"Apa yang kau lakukan Bianca?" tanya Arga terkejut.


"Kau harus meluruskan kakimu," jawab Bianca yang sudah meluruskan kedua kaki Arga.


"Apa kau tidak lelah Bianca?" tanya Arga yang melihat Bianca masih tampak bersemangat.


"Aku lelah, tapi bersepeda sangat menyenangkan, jadi lelahku terasa menyenangkan juga," jawab Bianca dengan tersenyum pada Arga.


Arga ikut tersenyum lalu beranjak dan duduk di samping Bianca.


"Jika kau suka, kita bisa bersepeda setiap hari Minggu mulai sekarang," ucap Arga.


"Benarkah? kau serius?" tanya Bianca dengan kedua mata yang berbinar.

__ADS_1


Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, membuat Bianca bersorak senang karenanya.


"Apa kau pernah sesenang ini saat kau bersama Bara, Bianca?" tanya Arga.


"Kenapa tiba-tiba membicarakan kak Bara?" balas Bianca bertanya.


"Aku hanya ingin tau, apa yang sebenarnya membuatmu sangat menyukainya, aku bahkan tidak yakin jika dia lebih tampan daripada aku," ucap Arga.


"Walaupun dia memang tampan, tapi aku menyukai kak Bara bukan karena dia tampan, bukankah kau tau siapa yang paling peduli padaku setelah orang tuaku meninggal, kak Bara," balas Bianca.


"Apa hanya karena itu?" tanya Bianca.


"Sebelum itu aku memang sudah menyukainya, tapi kepeduliannya padaku membuatku semakin jatuh cinta padanya, apa lagi saat dia memintaku untuk menunggunya, setiap hari yang aku lewati hanya ada harapan tentang kembalinya kak Bara," jelas Bianca.


"Apa yang membuatmu sangat yakin padanya Bianca? dia bahkan tidak pernah mengungkapkan perasaanya padamu?"


"Kak Bara bukan laki-laki yang akan memberikan harapan kosong pada perempuan Arga, aku percaya dengan apa yang aku yakini selama ini," jawab Bianca.


"Aku harap apa yang kau yakini itu tidak akan membuatmu kecewa suatu hari nanti," ucap Arga.


Bianca hanya membawa pandangannya pada Arga tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia juga mengharapkan hal yang sama.


Sudah cukup lama ia menjaga hatinya hanya untuk Bara, jadi satu-satunya harapan masa depannya hanyalah Bara, laki-laki yang kini berada jauh darinya.


Tak lama kemudian bibi datang dengan membawa minuman dan buah untuk Bianca dan Arga


"Terima kasih Bi," ucap Bianca yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Arga.


Bianca kemudian mengambil sebuah apel dan mulai mengupasnya.


"Kau bisa langsung memakannya tanpa perlu mengupasnya Bianca," ucap Arga sambil menggigit satu apel yang ada di hadapannya.


"Aku lebih suka seperti ini" balas Bianca.


"Perempuan memang selalu mempersulit dirinya sendiri," ucap Arga dengan tersenyum tipis.


Bianca hanya memutar kedua bola matanya lalu memotong dan memakan apel yang baru saja di kupasnya.


**

__ADS_1


__ADS_2