
Hari telah berganti, pagi-pagi sekali Arga bangun dari tidurnya untuk menyibukkan dirinya di dapur.
Arga sengaja memasak untuk dirinya dan Bianca. Saat tengah membawa hasil masakannya ke meja makan, Bianca baru saja keluar dari kamarnya.
Dengan penuh senyum Arga menghampiri Bianca yang tampak terkejut melihat Arga menyiapkan makanan di meja makan.
Arga kemudian memegang kedua bahu Bianca dari belakang lalu melangkah maju, membawa Bianca duduk di kursi.
"Kau yang memasak semua ini?" tanya Bianca yang melihat banyak masakan di atas meja makan.
"Tentu saja, kau ingat janjiku padamu bukan?" balas Arga.
"Janji apa?" tanya Bianca tak mengerti.
"Jika masalah perusahaan sudah beres, aku akan melakukan apapun untukmu sebagai bentuk terima kasih karena kau sudah banyak membantuku," jawab Arga.
"Aaahh itu, apa aku boleh meminta apapun sekarang?"
"Tentu saja, apa yang kau inginkan sekarang?" balas Arga bertanya.
"Mmmmm..... aku akan memikirkannya setelah aku makan," jawab Bianca.
"Oke baiklah," balas Arga.
Bianca dan Argapun menikmati makanan di hadapan mereka. Setelah menyelesaikan makanannya Biancapun mengatakan pada Arga apa yang ia inginkan saat itu.
"Aku tau apa yang aku inginkan sekarang," ucap Bianca.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Aku ingin bersepeda," jawab Bianca tanpa ragu.
"Sekarang?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum penuh semangat oleh Bianca.
"Oke, let's go!" ucap Arga lalu beranjak dari duduknya.
Setelah selesai bersiap, Bianca dan Argapun mulai mengayuh sepeda mereka keluar dari rumah.
"Apa sudah tidak ada pekerjaan yang harus kau selesaikan Arga? karena bisa jadi aku akan meminta seluruh waktumu selama weekend ini," tanya Bianca pada Arga yang mengayuh sepeda di sampingnya.
"Aku sudah menyelesaikan semuanya Bianca, Daffa yang akan menyelesaikan sisanya," jawab Arga.
"Kalau begitu aku minta weekend ini kau harus memberiku apa yang aku inginkan dan menuruti semua keinginanku, bisa?"
"Tentu saja," jawab Arga tanpa ragu.
Setelah beberapa lama mengayuh sepeda, Bianca dan Arga beristirahat di taman kota. Mereka duduk dengan meluruskan kaki mereka masing-masing.
"Waaahhh... aku mau itu!" ucap Bianca sambil menunjuk penjual arum manis yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Oke, tunggu sebentar," balas Arga yang segera beranjak dari duduknya.
Setelah beberapa lama menunggu, Bianca mulai bosan karena Arga tidak juga kembali. Tiba-tiba pedagang arum manis mendekati Bianca bersama Arga.
Arga dan pedagang itupun memberikan sangat banyak bungkusan Arum manis pada Bianca.
"Terima kasih neng, bapak jadi bisa pulang lebih cepat sekarang," ucap bapak penjual arum manis pada Bianca.
Bianca yang tidak mengerti hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun sambil membawa banyak Arum manis di tangannya, bahkan beberapa lainnya ia taruh di rerumputan taman.
Setelah penjual itu pergi, Bianca membawa pandangannya menatap puluhan bungkus arum manis yang ada di sekitarnya.
"Arga, apa yang sudah kau lakukan?" tanya Bianca yang tiba-tiba kehilangan semangatnya.
"Memberi apa yang kau inginkan," jawab Arga santai lalu membuka salah satu arum manis itu dan memberikannya pada Bianca.
"Tapi kenapa harus sebanyak ini Arga? kau sudah membeli semua stok arum manis bapak itu!"
"Aku tidak melakukan hal yang salah bukan? aku memberi apa yang kau inginkan dan aku membuat bapak itu pulang lebih cepat agar bisa segera beristirahat dan berkumpul bersama keluarganya!" balas Arga.
"Tapi ini terlalu banyak Arga," ucap Bianca.
"Aku hanya ingin memberi apa yang kau inginkan Bianca," balas Arga.
Bianca menghela nafasnya lalu membawa pandangannya ke sekitarnya. Bianca tersenyum saat ia melihat banyak anak-anak yang ada di taman itu.
Biancapun memanggil mereka semua dan meminta mereka untuk mengambil arum manis berapapun yang mereka inginkan.
Tak butuh waktu lama, kini hanya tersisa dua arum manis milik Bianca dan Arga. Setelah menghabiskan arum manis milik mereka berdua, merekapun melanjutkan bersepeda.
Mereka mengayuh sepeda ke arah rumah sebelum matahari semakin terik. Sesampainya di rumah, mereka beristirahat di teras rumah.
Tak lama kemudian bibi datang dengan membawakan minuman dan buah-buahan.
"Apa lagi yang kau inginkan sekarang Bee?" tanya Arga.
__ADS_1
"Mmmm..... aku ingin pergi ke suatu tempat nanti malam," jawab Bianca.
"Kemana?" tanya Arga.
"Kau akan tau nanti, kita akan berangkat sebelum pukul 7," ucap Bianca tanpa menjawab pertanyaan Arga.
"Apa kau tidak ingin membeli sesuatu lagi?" tanya Arga.
"Untuk saat ini tidak ada yang ingin aku beli," jawab Bianca.
"Katakan apapun yang kau inginkan Bianca, mungkin tas, sepatu, perhiasan atau mungkin yang lainnya!"
"Aku sama sekali tidak terpikirkan hal itu Arga," balas Bianca.
"Kenapa? apa kau takut aku akan menjadi miskin jika aku membelikan barang-barang mewah untukmu?"
"Tentu saja tidak, aku tau uangmu bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan," balas Bianca.
"Lalu kenapa? apa karena kau tidak menyukai barang-barang seperti itu?"
"Aku sudah mendapatkan lebih dari yang aku butuhkan Arga, kau sudah memberikan banyak barang seperti itu untukku, jadi aku sudah tidak menginginkannya lagi," balas Bianca.
"Kau benar-benar aneh Bianca, mungkin jika perempuan lain ada di posisimu saat ini dia pasti akan meminta banyak barang mewah padaku," ucap Arga.
"Aku tidak ingin kemewahan Arga, aku hanya ingin kebahagiaan dan kebahagiaan tidak hanya di dapat dari kemewahan, kau tau itu bukan?"
Arga mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tersenyum. Gadis cantik di sampingnya itu memang sangat berbeda dengan kebanyakan gadis yang ia kenal.
Selama ini perempuan yang berusaha mendekati Arga adalah mereka yang hanya melihat ketampanan dan kekayaan Arga.
Sama halnya dengan Karina, saat mereka masih berhubungan sebagai kekasih, hampir setiap bulan Karina selalu memberikan daftar barang yang ingin Karina beli dan tentunya semua barang yang Karina inginkan bukanlah barang yang murah.
Argapun selalu memenuhi semua yang Karina inginkan. Meskipun begitu mereka tetap sering bertengkar karena kesibukan Arga di kantor.
Hingga akhirnya hubungan mereka harus berakhir karena Karina yang lebih memilih untuk melanjutkan hubungannya dengan Bian daripada Arga.
Sekarang, Arga duduk di samping Bianca, gadis cantik yang sudah menjadi istrinya. Tidak hanya cantik, tapi juga baik, menyenangkan dan penuh keceriaan serta kesederhanaan. Benar-benar berbanding terbalik dengan Karina.
"Arga, apa kau ingat saat aku bilang padamu jika aku pernah bertabrakan dengan perempuan di lobby?" tanya Bianca membuyarkan lamunan Arga.
"Iya aku ingat, perempuan yang menangis bukan?" balas Arga.
"Iya, kemarin aku bertemu lagi dengannya," ucap Bianca.
"Aku bertemu dengannya saat aku menunggu pak Dodi di lobby, dia dilarang masuk oleh resepsionis dan satpam, bahkan satpam memperlakukannya dengan kasar," jawab Bianca.
"Jika dia dilarang masuk, itu artinya ada sesuatu yang salah padanya," ucap Arga.
"Pasti yang melarangnya masuk adalah mantan kekasihnya," balas Bianca yang membuat Arga semakin terkejut.
"Kenapa tiba-tiba kau berpikir seperti itu?" tanya Arga.
"Aku sempat mengobrol dengannya di lobby, dia menceritakan tujuannya datang kesana," jawab Bianca yang membuat Arga semakin gugup, karena hanya Karina dan Claralah yang dilarang Arga untuk masuk ke kantornya.
"Sepertinya dia sedang mengalami masa-masa sulit, dia menceritakan banyak hal padaku, tentang dia yang ingin menemui mantan kekasihnya disana, tentang mantan kekasihnya yang sudah tidak ingin menemuinya, dia...."
"Siapa perempuan yang kau maksud Bianca? apa kau sudah berkenalan dengannya?" tanya Arga memotong ucapan Bianca.
"Tentu saja sudah, namanya Karina," jawab Bianca yang membuat Arga seketika terdiam.
"Dia bahkan pernah berniat bunuh diri karena mantan kekasihnya Arga, sekarang dia harus menjadi pasien di klinik psikiatri agar dia tidak melakukan hal gila itu," lanjut Bianca.
"Bunuh diri? memangnya kenapa dia bunuh diri? apa mantan kekasihnya yang meninggalkannya?" tanya Arga.
"Sepertinya begitu, dia bilang jika mantan kekasihnya dulu masih sering mencarinya, tapi tiba-tiba saja mantan kekasihnya itu seolah tidak ingin bertemu dengannya, dia juga memberi tahuku jika mantan kekasihnya itu adalah masa lalu terindahnya," jelas Bianca.
"Sepertinya banyak hal yang sudah terjadi antara mereka berdua, membuatnya sulit untuk melupakan masa lalunya," lanjut Bianca.
"Kau tidak perlu terlalu ikut campur masalah orang lain Bianca, kau juga baru berkenalan dengannya, belum tentu dia berbicara jujur padamu," ucap Arga.
"Pikiranmu negatif sekali Arga, aku benar-benar kasihan melihatnya, apa lagi saat dia baru saja menemui psikiater, aku melihat matanya sangat merah seperti baru saja menangis, pasti karena masa lalunya itu," balas Bianca.
"Bagaimana jika dia berbohong padamu?" tanya Arga.
"Untuk apa dia berbohong padaku? kita bahkan baru bertemu," balas Bianca.
"Kau harus berhati-hati pada orang yang baru kau kenal Bianca, kau tidak tau jika bisa saja mereka memiliki niat buruk padamu," ucap Arga.
"Berhati-hati bukan berarti tidak memiliki hati Arga, sebagai sesama perempuan aku merasa iba dengan apa yang terjadi padanya," balas Bianca.
"Semua orang memiliki masalah mereka masing-masing Bianca, kau tidak perlu terlalu memikirkannya dan lebih baik jangan terlalu dekat dengannya," ucap Arga.
"Kenapa? apa kau mengenalnya? apa kau tau siapa mantan kekasih yang dia maksud? apa jangan-jangan....."
"Tidak Bianca... tidak, aku sama sekali tidak tahu apapun, aku berbicara seperti ini karena kau terlalu baik pada orang yang baru kau kenal," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apapun Arga, aku hanya mendengarnya bercerita dan menemaninya ke klinik lalu mengantarnya pulang," balas Bianca.
Arga hanya menghela nafasnya kasar lalu beranjak dari duduknya.
"Arga jangan lupa bersiap sebelum jam 7!" ucap Bianca setengah berteriak.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Arga mengendarai mobilnya meninggalkan rumah bersama Bianca.
"Bukankah ini jalan ke arah tempat kos Lola?" tanya Arga memastikan.
"Tepat sekali, kau menang pintar hehe..." jawab Bianca.
"Apa kau hanya memintaku untuk mengantarmu ke tempat Lola?" tanya Arga.
"Tentu saja tidak," jawab Bianca dengan penuh senyum.
Saat mereka sudah tiba di tempat kos Lola, Bianca segera turun dari mobil dan meminta Arga untuk menunggu di mobil.
Bianca kemudian memanggil Lola, mereka berduapun masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang.
"Tidak bisakah kau duduk di depan Bianca? aku merasa seperti supir sekarang!" protes Arga.
"Kau ingat janjimu bukan?" balas Bianca.
"Oke baiklah," balas Arga dengan menghela nafasnya.
Bianca kemudian memberi tahu Arga kemana tujuan selanjutnya. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat tujuan Bianca.
"Apa kau yakin ingin kesini?" tanya Arga memastikan setelah ia melihat keramaian dan sorot lampu yang menembus malam.
"Tentu saja yakin, ayo kita keluar Lola!" jawab Bianca yang segera keluar dari mobil bersama Lola.
Sedangkan Arga hanya diam melihat Bianca dan Lola yang sudah berjalan pergi lebih dulu.
"Kenapa dia ingin ke tempat seperti ini? padahal dia bisa meminta ke tempat yang jauh lebih bagus daripada disini!" tanya Arga pada dirinya sendiri.
Arga kemudian membawa langkahnya mengikuti Bianca dan Lola sebelum mereka berdua berjalan semakin jauh.
"Arga, kita kesana!" ucap Bianca pada Arga sambil menunjuk bianglala yang tak jauh dari tempat mereka.
"Apa kau yakin itu aman?" tanya Arga ragu.
"Tentu saja, ayo cepatlah!" jawab Bianca sambil menarik tangan Arga agar ikut mengantre.
Bianca dan Lola berdiri berdampingan, sedangkan Arga berdiri di belakang Bianca. Namun saat Bianca baru saja masuk, petugas memberi tahu jika hanya dua orang yang boleh masuk.
Dengan cepat Lola segera mendorong Arga agar masuk ke dalam bersama Bianca, sedangkan Lola masuk ke keranjang bianglala selanjutkan.
"Kenapa kau yang masuk Arga?" tanya Bianca pada Arga yang sudah duduk di hadapannya.
"Lola yang mendorongku masuk," jawab Arga.
Bianca kemudian mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa foto dan video yang menunjukkan pemandangan malam dari atas bianglala.
Sedangkan Arga hanya diam memperhatikan Bianca yang tampak senang saat itu. Setelah mereka turun dari bianglala, mereka mencoba banyak wahana permainan yang lain.
Tanpa sadar Arga banyak menghabiskan waktunya untuk memperhatikan Bianca. Terlihat dengan jelas bagaimana Bianca tampak sangat bahagia malam itu.
Setelah puas bermain, Arga kemudian membeli minuman lalu memberikannya pada Bianca dan Lola.
"Apa kau tidak lelah Bianca?" tanya Arga pada Bianca.
"Tentu saja tidak, aku sudah sangat lama tidak bermain di pasar malam seperti ini," jawab Bianca.
"Asal kau tau Arga, dulu Bianca bisa berkali-kali menaiki semua wahana yang ada di pasar malam setiap hari Minggu, tenaganya memang tidak pernah habis jika bermain di tempat seperti ini," sahut Lola.
"Sangat kekanak-kanakan!" ucap Arga dengan menahan senyumnya yang mengejek Bianca.
"Aku tidak peduli," balas Bianca dengan menjulurkan lidahnya pada Arga.
"Sepertinya aku harus ke toilet sebentar, kalian tunggu disini ya!" ucap Lola yang segera berlari pergi meninggalkan Arga dan Bianca.
Arga yang melihat penjual aksesoris terlihat tertarik pada beberapa barang yang dijual disana. Arga kemudian membeli satu penjepit rambut berbentuk kupu-kupu.
"Tolong bawakan minumanku!" ucap Arga memberikan minumannya pada Bianca.
Arga kemudian memegang kedua bahu Bianca, mengarahkan Bianca agar menghadap ke arahnya.
Arga lalu menyibakkan sedikit rambut Bianca yang tergerai panjang lalu menyelipkan penjepit kupu-kupu yang baru saja dibelinya.
"Cantik sekali," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca sambil tersenyum.
Seketika Bianca terdiam dengan degup jantung yang kembali berdetak cepat. Kedua pasang matanya menatap pancaran lain dari kedua mata Arga yang juga tengah menatapnya saat itu.
__ADS_1