Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Janji Bianca dan Arga


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di taman dan berusaha menenangkan Luna, Arga kemudian mengajak Luna pulang.


Arga beranjak dari duduknya dengan menarik tangan Luna, namun tiba-tiba Luna merintih dan segera menarik tangannya dari Arga.


"Kenapa Luna?" tanya Arga.


Luna hanya menggelengkan kepalanya sambil menyembunyikan tangannya dari Arga. Melihat hal itu Arga kembali menarik tangan Luna dengan paksa dan melihat pergelangan tangan Luna yang memerah.


"Apa Bara yang melakukannya?" tanya Arga.


"Kak Bara tidak sengaja," jawab Luna.


"Kenapa kau masih membelanya? apa kau masih menyukainya?" tanya Arga.


"Luna pernah sangat menyukainya kak, tapi sekarang Luna sedang berusaha berhenti menyukainya, tapi rasa suka itu tidak mudah hilang begitu saja, kakak mengerti bukan?"


"Kakak mengerti, tapi kau juga harus mengerti jika kakak tidak akan tinggal diam melihat seseorang yang kakak sayangi disakiti oleh siapapun," ucap Arga dengan tegas.


"Ini hanya hal kecil, kak Arga tidak perlu berlebihan, lagi pula Luna sudah meminta kak Bara untuk menjauhi Luna dan Luna tidak akan mau bertemu dengannya lagi," ucap Luna.


"Baguslah kalau begitu, tapi jangan menahan kakak untuk memberinya pelajaran jika dia masih mengganggu apa lagi menyakitimu!" ucap Arga yang dibalas anggukan kepala Luna.


"Kita pulang sekarang!" ucap Arga dengan membawa langkahnya keluar dari taman diikuti oleh Luna.


"Kak, tolong jangan memberi tahu kak Bianca tentang apa yang terjadi hari ini," ucap Luna pada Arga saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Luna tidak ingin hubungan Luna dan kak Bianca menjadi canggung, jadi biarkan kak Bianca berpikir jika Luna tidak mengetahui apapun tentang masa lalu kak Bianca dan kak Bara," jawab Luna.


"Baiklah," balas Arga dengan menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumah orang tuanya.


"Kau harus ingat Luna, kau memiliki kakak yang bisa menjadi tempat untukmu bercerita, jadi jangan memendam masalahmu sendiri, oke?" ucap Arga sebelum Luna keluar dari mobil Arga.


"Iya kak," balas Luna dengan menganggukkan kepalanya.


Luna dan Arga kemudian keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Luna segera berlari kecil menaiki tangga untuk masuk ke rumahnya, berusaha menghindar dari mama dan papanya yang ada di ruang tengah.


"Kenapa Luna bisa bersamamu?" tanya Nadine pada Arga.


"Dia mendatangi Arga di kantor, jadi Arga mengantarnya pulang," jawab Arga berbohong.


"Akhir-akhir ini dia tidak pernah keluar dengan supir, sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dari mama!" ucap Nadine.


"Dia hanya ingin bermain bersama teman-temannya ma, Arga yakin dia bisa menjaga dirinya dengan baik," balas Arga.


"Papa setuju, mama saja yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan Luna," sahut David.


"Mama hanya tidak ingin Luna bergaul dengan orang yang salah pa," ucap Nadine.


"Luna sudah dewasa ma, dia mengerti mana yang baik dan buruk untuknya," ucap Arga.


Setelah beberapa saat mengobrol, Arga kemudian berpamitan pulang. Arga segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah orang tuanya untuk pulang ke rumahnya.


"Bianca pasti sudah menungguku," ucap Arga sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumahnya. Ia segera berlari kecil memasuki rumahnya dan mendapati Bianca yang sedang duduk dengan menatap banyak makanan di hadapannya.


Menyadari kedatangan Arga, Biancapun segera beranjak dari duduknya.


"Maaf aku terlambat, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga," ucap Arga sambil memeluk Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena sejak siang tadi Arga sudah memberi tahunya jika Arga akan pulang terlambat hari itu.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Arga kemudian menikmati makan malamnya bersama Bianca.


Arga dan Bianca kemudian menikmati malam mereka di balkon setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.


Mereka duduk di balkon dengan Bianca yang menyandarkan kepalanya di bahu Arga dan satu tangan mereka yang saling menggenggam.


"Katakan padaku apa impian yang ingin kau wujudkan Bee, akan membantumu!" ucap Arga pada Bianca.

__ADS_1


"Aku tidak mempunyai mimpi apapun Arga, aku menjalani hidupku dengan mengikuti arus saja," balas Bianca.


"Apa itu membuatmu bahagia?" tanya Arga.


"Terkadang ada beberapa hal yang membuatku bersedih, tapi itu segera berlalu karena aku memilikimu yang selalu membuatku bahagia," jawab Bianca.


**


Hari telah berganti. Arga sudah berangkat ke kantor pagi itu. Ia menyibukkan dirinya dengan banyak pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan.


Tepat pukul 10 siang, ia memimpin meeting yang diadakan di kantornya dan selesai tepat pukul 12 siang.


Arga dan Daffa keluar dari ruangan meeting dan mendapati Bianca yang berdiri di depan ruangan Arga.


"Sejak kapan kau ada disini Bee? kenapa tidak masuk?" tanya Arga pada Bianca.


"Aku baru saja datang, aku membawa makan siang untukmu," jawab Bianca.


"Terima kasih Bee, masuklah," ucap Arga sambil membuka ruangannya agar Bianca masuk bersamanya.


"Ini adalah menu baru yang aku pelajari, bibi sudah mencobanya dan bibi bilang ini enak," ucap Bianca dengan penuh senyum.


"Terlihat sangat enak," ucap Arga dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tanpa ragu Arga menyendok nasi dengan potongan ayam berbumbu pekat di hadapannya lalu memakannya.


Arga mengunyah makanannya dengan membawa pandangannya pada Bianca yang sedang memperhatikan reaksi Arga saat itu.


Bianca hanya diam, menunggu respon Arga tentang makanan yang ia buat.


"Kau semakin pandai memasak Bee, kau bisa mencoba banyak menu baru jika kau mau," ucap Arga.


Bianca hanya tersenyum malu mendengar ucapan Arga.


"Aku harus pergi sekarang karena Lola juga mengajakku untuk makan siang," ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Arga menahan tangan Bianca.


"Apa kau yakin Lola yang mengajakmu?" tanya Arga memastikan.


"Tenang saja Arga, Lola sendiri yang menghubungiku tadi, lagi pula aku tidak akan pergi sendiri, ada pak Dodi ada orang suruhanmu yang akan menjagaku," ucap Bianca yang mengerti kekhawatiran Arga.


"Aku mengerti, nikmati makananmu, aku pergi sekarang!" ucap Bianca lalu keluar dari ruangan Arga.


Tak lama setelah Bianca pergi, Daffa datang dengan membawa satu kantong makanan dan memberikannya pada Arga.


"Berhenti makan makanan beracun itu, kau hanya akan menyakiti tubuhmu jika kau memaksa untuk memakannya!" ucap Daffa pada Arga.


"Jaga ucapanmu Daffa, ini bukan makanan beracun," balas Arga.


"Bagaimana aku tidak menyebutnya sebagai makanan beracun, Bianca bahkan seperti menuangkan satu kilo garam ke dalam masakannya," ucap Daffa.


"Tapi ini berbeda Daffa, cobalah!" ucap Arga sambil menyendok satu potong ayam dan memberikannya pada Daffa.


"Tidak, lebih baik aku makan satu potong roti daripada makan masakan Bianca," ucap Daffa menolak.


"Aku pastikan ini tidak akan seburuk kemarin, cobalah!" ucap Arga berusaha membujuk Daffa.


Akhirnya Daffa memberanikan dirinya untuk membuka mulutnya dan membiarkan Arga menyuapinya makanan buatan Bianca.


Seketika rasa manis menjalar di seluruh mulut Daffa, sangat manis, benar-benar hanya rasa manis yang Daffa rasakan saat itu.


"Bagaimana? lebih baik bukan?" tanya Arga dengan penuh senyum.


"Kau benar-benar gila, kalian berdua benar-benar gila!" ucap Daffa sambil mengambil kembali makanan yang ia berikan pada Arga lalu membawanya keluar dari ruangan Arga.


Sedangkan Arga hanya tertawa melihat sikap Daffa lalu melanjutkan kegiatannya, menikmati makanan buatan Bianca.


"Dia terlalu banyak tersenyum saat memasak, membuat ayam ini terasa sangat manis," ucap Arga dengan tersenyum sambil mengunyah makanannya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 petang saat Arga dan Daffa bersiap untuk meninggalkan kantor.


"Apa sudah ada kemajuan dari hubunganmu dan Bianca, Arga?" tanya Daffa pada Arga.


"Kemajuan seperti apa yang kau maksud?" balas Arga bertanya.


"Seperti layaknya pasangan suami istri yang lain, kalian sudah tidur di satu kamar yang sama bukan? apa kalian sudah....."

__ADS_1


"Kita belum berada di tahap itu Daffa," ucap Arga memotong ucapan Daffa.


"Kenapa? bukankah kalian sudah semakin dekat sekarang?"


"Aku dan Bianca masih sering merasa canggung saat kita sedang berdua, mungkin itu adalah hal yang aneh bagimu, tapi aku bisa mengerti kenapa itu terjadi, jadi aku tidak akan terlalu terburu-buru dan menikmati apa yang sekarang terjadi padaku dan Bianca," jawab Arga.


"Oke aku mengerti, tapi sampai kapan kau akan membiarkan Bianca memasak makanan beracun untukmu Arga? sejak dulu kau sangat pemilih dalam hal makanan, kenapa sekarang jadi seperti ini?"


"Kau tau betapa sempurnanya Bianca bukan? tapi dia sangat buruk dalam hal memasak, tapi dia selalu belajar untuk bisa memasak dengan baik, aku tidak ingin apa yang aku katakan akan membuatnya marah dan berhenti memasak, lagi pula hanya aku sendiri yang merasakan masakannya," balas Arga.


"Tapi dia tidak akan tau kesalahannya jika kau tidak memberi tahunya Arga," ucap Daffa.


"Dia pasti akan memasak dengan lebih baik Daffa, kita tunggu saja menu baru Bianca, kau akan terkejut saat dia bisa memasak dengan lebih baik," ucap Arga.


"Tidak, terima kasih, aku tidak akan membahayakan nyawaku hanya untuk mencoba masakan Bianca hahaha....." ucap Daffa sambil berlari kecil meninggalkan Arga lalu masuk ke dalam mobilnya.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu berjalan ke arah mobilnya.


Arga mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya dan sesampainya di rumah, sudah ada Bianca yang menunggu kedatangannya.


"Mama baru saja menghubungiku dan memberi tahuku jika malam nanti mama dan papa akan datang," ucap Bianca pada Arga.


"Apa mama mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Apa sebaiknya aku memasak untuk mama? bukankah hasil masakanku sudah lebih baik sekarang?" tanya Bianca yang membuat Arga sedikit terkejut.


"Lebih baik biarkan bibi saja yang menyiapkan semuanya, kau...."


"Kenapa? apa karena masakanku saat buruk?" tanya Bianca memotong ucapan Arga.


"Tidak Bee, biasanya kau hanya memasak untukku, jika kau memasak untuk mama dan papa, kau akan semakin banyak menghabiskan waktu di dapur dan kau akan mengabaikanku nanti," ucap Arga beralasan.


"Oke baiklah, aku akan meminta bibi untuk menyiapkan makan malam lebih banyak nanti," ucap Bianca yang membuat Arga bisa bernafas lega.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat orang tua Arga datang. Mereka berbasa-basi sebentar sampai bibi selesai menyiapkan makan malam.


Mereka kemudian menikmati makan malam mereka dengan tenang sampai akhirnya Nadine mengatakan maksud tujuannya datang menemui Bianca dan Arga malam itu.


"Sebelum mama mengatakan apa yang ingin mama bicarakan dengan kalian berdua, mama harap kita bisa membicarakan hal ini dengan kepala dingin tanpa ada emosi dan kesalahpahaman," ucap Nadine dengan membawa pandangannya pada Bianca dan Arga.


"Pada intinya, papa dan mama mendukung apapun keputusan kalian berdua, papa dan mama hanya mengungkapkan apa yang papa dan mama inginkan tanpa memaksa kalian berdua," ucap David.


"Sebenarnya apa yang ingin mama dan papa katakan? kenapa kalian terlihat sangat serius sekali?" tanya Arga.


"Ini tentang janji kalian berdua dulu, kalian berdua berjanji pada mama dan papa untuk mulai menjalani program hamil saat pernikahan kalian sudah berjalan 2 tahun dan sekarang pernikahan kalian sudah berjalan lebih dari 2 tahun, jadi.... kalian pasti mengerti maksud Mama bukan?" ucap Nadine sekaligus bertanya.


Arga dan Bianca yang terkejut mendengar apa yang Nadine katakan hanya diam dan saling pandang karena mereka sama sekali tidak pernah membahas hal itu sebelumnya.


"Mama tidak akan memaksa, tapi mama rasa 2 tahun menikmati hari-hari berdua sudah cukup untuk kalian berdua, bukankah ini waktu yang tepat untuk memiliki momongan?" lanjut Nadine.


"Maaf ma, pa, Arga dan Bianca belum sempat membahas hal ini karena kita masih fokus dengan pekerjaan dan bisnis yang baru kita jalankan," ucap Arga beralasan.


"Jangan terlalu sibuk dengan bisnis kalian Bianca, Arga, mama yakin apa yang kalian miliki saat ini sudah cukup sebagai bekal untuk kehidupan keluarga kecil kalian," ucap Nadine.


"Bianca dan Arga akan mencoba untuk membicarakan hal ini berdua ma pa, mungkin lain kali kita bisa membahasnya lagi," ucap Bianca.


"Tapi kalian....."


"Papa mengerti, kalian memang harus memikirkannya matang-matang sebelum kalian memutuskannya," ucap David yang sengaja memotong ucapan sang istri.


"Terima kasih pengertiannya ma, pa," ucap Bianca.


Tak lama setelah membahas masalah itu, Nadine dan Davidpun berpamitan pulang.


"Arga aku lelah, aku ke kamar dulu," ucap Bianca lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan segera membaringkan badannya di atas ranjang.


Tak lama kemudian Arga juga masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang dengan membawa pandangannya pada Bianca yang berbaring membelakanginya.


"Maafkan ucapan mama dan papa Bianca, aku tidak menyangka jika mereka akan membahas hal ini lagi," ucap Arga.


Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun meskipun ia belum tertidur saat itu.


"Aku tidak akan memaksamu Bee, aku tau bagaimana kita memulai pernikahan kita dulu, jadi aku bisa mengerti jika apa yang mama dan papa inginkan bukan hal yang mudah buatmu," ucap Arga.

__ADS_1


"Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu Bee, aku ingin kau bisa menjalani hari-harimu dengan bahagia sebagai istriku," lanjut Arga.


__ADS_2