
Bianca masih terdiam dengan keterkejutannya saat itu, dengan rasa sakit dan sedih yang seolah memaksanya terjatuh sedalam-dalamnya.
Bianca menghapus air mata di pipinya dengan kasar lalu membawa pandangannya pada Lola yang berdiri di sampingnya.
"Kau tau tentang hal ini Lola?" tanya Bianca dengan suara bergetar.
Lola hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, ia merasa bersalah karena ikut terlibat dalam rencana Arga.
"Apa kau berbohong padaku sejak tadi?" tanya Bianca yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Lola.
Bianca menghela nafasnya panjang. Ia merasa kecewa pada Lola yang sudah berbohong padanya.
"Aku pikir kau teman yang paling mengertiku Lola," ucap Bianca kemudian membawa langkahnya pergi, namun Lola segera menahannya.
"Maafkan aku Bianca, aku hanya....."
"Aku sangat kecewa padamu," ucap Bianca memotong ucapan Lola sambil menarik tangannya dengan kasar lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Bianca...."
Lola yang hendak mengejar Bianca segera ditahan oleh Arga.
"Biarkan saja, kalian pulanglah, aku yang akan berbicara padanya," ucap Arga dengan membawa pandangannya pada Lola dan Daffa.
"Aku sudah memberi tahumu jika dia tidak akan menyukai hal ini Arga, tetapi kau malah memaksaku untuk terlibat dengan hal yang tidak Bianca sukai ini," ucap Lola kesal.
"Maafkan aku, aku akan mencoba berbicara dengannya," ucap Arga.
"Sebaiknya kita pulang Lola, biarkan Arga bertanggung jawab atas rencananya sendiri," ucap Daffa sambil meraih tangan Lola, mengajaknya keluar dari rumah Arga.
Di sisi lain, Bianca yang sudah berada di dalam kamarnya hanya terduduk di lantai kamar dengan bersandar pada ranjangnya.
Air matanya kini sudah tidak terbendung lagi. Rasa marah, kecewa, sedih dan sakit seolah menjadi satu memenuhi dirinya.
Bianca marah dan kecewa pada Lola yang berbohong padanya, Lola yang sebenarnya tahu jika Bianca tidak pernah merayakan ulang tahunnya setelah kepergian orang tuanya.
Bianca berpikir bagaimana mungkin ia bisa bersenang-senang di hari ulang tahunnya padahal pada hari itu juga ia sudah membuat kedua orang tuanya pergi meninggalkannya selamanya.
Bagi Bianca hari ulang tahunnya adalah hari paling menyedihkan untuknya. Jika biasanya seseorang akan bersenang-senang pada hari ulang tahunnya, Bianca justru memilih untuk menyendiri, menyesali apa yang sudah pernah terjadi, menyesali atas apa yang sudah ia lakukan yang membuatnya kehilangan kedua orang tuanya.
"Maafkan Bianca ma, pa, Bianca tidak bisa menahannya lagi, rasanya terlalu sakit," ucap Bianca dengan terisak sambil memeluk kedua lututnya.
Memorinya seolah kembali mengulas semua kejadian yang menyakitkan itu. Suara teriakan kedua orang tuanya seolah kembali menggema di kedua telinganya.
Saat terakhir kali sama Mama memanggil namanya, saat terakhir kali Bianca mendengar suara lembut sang mama membuat Bianca semakin terpuruk pada kesedihannya.
Isak tangis kini memenuhi kamarnya, tangis yang selama ini selalu Bianca pendam, tangis yang selama ini selalu Bianca sembunyikan dari semua orang pada akhirnya kini telah tumpah.
Bianca membiarkan dirinya larut dalam kesedihannya, membiarkan rasa sakit semakin memeluknya dengan erat.
Penyesalan terbesar Bianca selalu menghantui hidupnya, penyesalan karena sudah menghubungi orang tuanya malam itu yang pada akhirnya membuat orang tuanya pergi untuk selamanya.
Bianca bahkan merutuki dirinya sendiri, berpikir jika dirinya adalah pembunuh kedua orang tuanya.
Meskipun Bianca selalu berhasil menyembunyikan kesedihannya, tetapi pada kenyataannya dirinya belum bisa benar-benar menerima kepergian kedua orang tuanya
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu terdengar dari depan kamar Bianca, namun Bianca hanya diam mengabaikannya.
__ADS_1
"Bianca, aku akan masuk untuk menjelaskan semuanya," ucap Arga dari depan pintu kamar Bianca.
Bianca masih terdiam, larut dalam kesedihannya sendiri. Karena tidak mendapat jawaban apapun dari Bianca, Argapun memutuskan untuk membuka pintu kamar Bianca meskipun Bianca belum mengizinkannya.
Arga membawa langkahnya masuk ke dalam kamar Bianca dan mendapati Bianca yang duduk meringkuk dengan memeluk kedua lututnya.
"Bianca...." panggil Arga dengan memegang bahu Bianca.
Bianca hanya terdiam dengan sesekali terdengar isaknya yang membuat Arga semakin merasa bersalah.
"Berdirilah Bianca," ucap Arga sambil memegang kedua bahu Bianca, membawa Bianca beranjak dari lantai agar duduk di tepi ranjang
Kini Bianca dan Arga duduk di tepi ranjang, Bianca menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya, ia berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Arga, ia tidak ingin Arga melihat melihatnya lemah saat itu.
"Bianca aku minta maaf, aku hanya ingin membuat kejutan untukmu," ucap Arga.
Bianca masih terdiam tanpa mengatakan apapun, dadanya yang sesak seolah membuat lidahnya kelu, tidak mampu mengatakan apapun di hadapan Arga.
"Tolong jangan menyalahkan siapapun, ini murni kesalahanku karena aku yang merencanakan hal ini, jadi hanya akulah yang pantas disalahkan," ucap Arga.
"Sebenarnya Lola sudah memberitahuku jika kau tidak pernah merayakan ulang tahunmu sejak orang tuamu meninggal tetapi aku memaksa Lola untuk ikut dalam rencanaku, aku benar-benar hanya ingin membuat kejutan untukmu Bianca, aku ingin ulang tahunmu di tahun ini berbeda dari sebelumnya," lanjut Arga.
Arga menghela nafasnya panjang melihat Bianca yang hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, bahkan selalu mengalihkan pandangan darinya.
"Kau boleh marah padaku Bianca, tapi jangan sampai hal ini merusak persahabatanmu dengan Lola," ucap Arga.
"Kenapa Arga? kenapa kau memaksakan sesuatu yang sudah jelas tidak aku suka?" tanya Bianca dengan suara bergetar.
"Aku pikir aku bisa memberikan sesuatu yang berbeda pada ulang tahunmu kali ini, aku pikir dengan apa yang aku lakukan kali ini aku bisa membuatmu berubah pikiran tentang hari ulang tahunmu," jawab Arga.
"Tidak akan ada yang pernah berubah Arga, aku membenci hari ulang tahunku sendiri, selamanya akan seperti itu," ucap Bianca dengan berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika hal ini akan membuatmu sangat bersedih seperti ini, jika aku tahu aku tidak mungkin melakukan hal ini Bianca," ucap Arga.
Rasa marah, kecewa, sedih dan sakit masih memenuhi dirinya, bahkan memeluknya dengan semakin erat.
"Kau tidak akan pernah tahu sesakit apa yang aku rasakan saat ini Arga, kau tidak akan pernah tahu seberapa besar penyesalan yang selama ini menghantuiku, bagaimana bisa aku bersenang-senang merayakan ulang tahunku dimana hari itu juga aku sudah membuat kedua orang tuaku meninggal," ucap Bianca dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
"Aku hidup dalam rasa penyesalan yang selalu melemahkanku, aku hidup dengan kesedihan dan rasa sakit yang selalu berusaha untuk aku sembunyikan, aku bahkan tidak tahu kapan aku benar-benar bahagia atas hidupku setelah aku membuat kedua orang tuaku meninggal," lanjut Bianca.
"Bianca, mereka meninggal bukan karenamu, apa yang sudah terjadi adalah bagian dari takdir yang....."
"Kenapa takdir harus membuatku membunuh kedua orang tuaku Arga? kenapa?" tanya Bianca dengan menundukkan kepalanya, menghapus dengan kasar air mata yang seolah tidak berhenti menetes dari kedua sudut matanya.
Melihat hal itu, Arga menggeser posisi duduknya lalu membawa Bianca ke dalam dekapannya.
Arga mengusap punggung Bianca, membelai rambut Bianca dengan lembut berusaha untuk menenangkan Bianca.
"Aku yang sudah membunuh orang tuaku Arga, aku yang membuat mereka meninggal di hari ulang tahunku," ucap Bianca dengan terisak dalam dekapan Arga.
Arga hanya terdiam, membiarkan Bianca meluapkan semua kesedihannya yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.
Sampai beberapa lama Bianca membiarkan dirinya menuntaskan semua kesedihannya dalam dekapan Arga, ia menangis terisak, membiarkan air matanya menetes membasahi pakaian Arga.
Bianca sudah tidak memikirkan apapun lagi karena kesedihan yang semakin menghanyutkannya. Ia sudah tidak peduli pada apapun lagi karena rasa sakit dan penyesalan yang semakin dalam ia rasakan.
"Menangislah sepuasmu Bianca, luapkan semua emosi yang ada dalam dirimu," ucap Arga dalam hati dengan semakin erat memeluk Bianca.
Setelah beberapa lama membiarkan Bianca menangis dalam dekapannya, Arga akhirnya membuka suaranya
__ADS_1
"Bianca, hal yang pertama harus kau tahu adalah bahwa takdir tidak pernah berjalan sesuai dengan keinginan kita," ucap Arga.
"Banyak hal yang terkadang membuat kita marah dan bersedih, tidak jarang kita menganggap takdir tidak berlaku adil pada kita, tetapi bukankah kau tahu bahwa pemilik kehidupan ini sudah mengatur semuanya? dia sudah merencanakan seluruh kehidupan kita dengan baik, jauh lebih baik dari rencana kita sendiri," lanjut Arga.
Arga masih memeluk Bianca dengan erat, membelai rambut Bianca dengan lembut, berusaha memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk Bianca yang berada dalam dekapannya.
"Aku juga sama sepertimu Bianca, aku juga memiliki banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginanku, aku bahkan melakukan banyak hal bodoh hanya karena merasa takdir yang tidak berpihak padaku," ucap Arga.
"Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertindak bodoh dan menyalahkan takdir, tapi yang aku tahu takdir tidak pernah memberikan jalan yang salah begitu juga dengan apa yang terjadi padamu," lanjut Arga.
"Hari ini adalah hari dimana mama mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku Arga, tetapi hari ini juga aku yang membuat Mama pergi dari duniaku," ucap Bianca dengan terisak.
"Bukan kau yang membuat orang tuamu pergi Bianca, takdir yang terjadi sudah digariskan bahkan jauh sebelum kau ada, cobalah untuk melihatnya dari sisi yang berbeda Bianca, lihatlah dari sudut pandang lain dan kau akan menemukan hal baru yang selama ini tidak kau sadari," ucap Arga.
"Tidak ada yang berbeda dari semua sudut pandang yang kulihat, pada kenyataannya orang tuaku tetaplah pergi karena kesalahanku," balas Bianca.
"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu, tapi dari apa yang pernah kau ceritakan padaku mungkin kepergian mereka adalah yang terbaik untuk mereka, karena dengan begitu mereka terbebas dari beban yang mereka tanggung," ucap Arga yang membuat Bianca melepaskan dirinya dari pelukan Arga.
Seketika Bianca membawa pandangannya pada Arga, membuat agar tersenyum lalu menghapus sisa air mata di pipi Bianca.
"Mereka pergi ke luar kota untuk menyelesaikan masalah mereka bukan? mungkin hanya dengan cara itulah mereka bisa terbebas dari beban yang mereka hadapi," ucap Arga.
"Beban?" tanya Bianca.
"Iya, seperti yang pernah aku katakan bahwa tidak semua hal akan kita ceritakan bahkan pada orang terdekat kita, begitupun juga dengan orang tuamu Bianca, tidak semua kesulitan mereka akan mereka ceritakan padamu," jelas Arga.
"Kepergian mereka memang bukan hal yang kau inginkan, bahkan mereka sendiripun tidak menginginkannya, tapi takdir yang sudah menggariskan hal itu untuk terjadi," lanjut Arga.
"Tapi kecelakaan itu tidak akan terjadi jika aku tidak menghubungi Mama malam itu," ucap Bianca.
"Menyesali apa yang sudah terjadi tidak akan ada gunanya Bianca, mama dan papamu juga pasti akan sangat bersedih jika melihatmu menjalani hidupmu dengan penyesalan yang tidak seharusnya kau rasakan," balas Arga.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin berbahagia di hari kedua orang tuaku meninggal bukan?" tanya Bianca dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.
"Jangan hanya terpaku dengan hal itu Bianca, hari ini adalah hari dimana kedua orang tuamu sangat berbahagia karena mereka memilikimu, apa kau lupa itu?" ucap Arga sekaligus bertanya.
"Kau tahu bukan jika mereka sangat bahagia dengan keberadaanmu, kau juga pasti tahu bagaimana mereka sangat menyayangimu, jadi bagi mereka hari ini adalah hari paling berharga dalam hidup mereka, apa kau tidak bisa merasakan hal itu?" lanjut Arga.
Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia memikirkan semua yang Arga ucapkan padanya.
Arga kemudian beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan Bianca lalu memegang kedua bahu Bianca.
"Bianca Titania adalah gadis cantik terhebat yang pernah mereka miliki, Bianca Titania adalah kebahagiaan terbesar bagi mereka dan kebahagiaan Bianca Titania adalah tujuan hidup mereka," ucap Arga dengan tersenyum, seolah menyalurkan energi positifnya pada Bianca
"Sekarang persiapkan dirimu, aku akan membawamu pergi ke makam kedua orang tuamu," ucap Arga dengan menghapus sisa air mata di kedua pipi Bianca.
Meski awalnya ragu, akhirnya Bianca beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kemudian bersiap dan pergi ke makam kedua orang tuanya bersama Arga.
Sesampainya disana Bianca dan Arga duduk diantara dua gundukan makam orang tua Bianca. Bianca hanya terdiam menatap nisan dengan nama kedua orang tuanya.
Bianca berusaha keras untuk menjaga agar air matanya tidak tumpah saat itu karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia akhirnya berani untuk mendatangi makam kedua orang tuanya.
Bagi Bianca melihat makam kedua orang tuanya adalah hal yang begitu berat, mengingat bagaimana kedua orang tuanya meninggal karenanya.
Tapi hari itu ia berusaha untuk menguatkan dirinya, ia berdoa di antara makam kedua orang tuanya bersama Arga.
Setelah beberapa lama berada disana, Bianca dan Argapun beranjak lalu berjalan meninggalkan area pemakaman.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Bianca terdiam untuk beberapa saat, berusaha menghalau rasa sedih yang sedari tadi ia tahan.
__ADS_1
Arga yang menyadari hal itu segera membawa langkahnya mendekati Bianca lalu membawa Bianca ke dalam dekapannya.
"Menangislah karena bahagia Bianca, menangislah karena pada akhirnya kau bisa memberanikan dirimu untuk datang kesini, aku yakin mama dan papamu akan lebih bahagia setelah kau melepaskan semua rasa sedih dan penyesalan yang selama ini kau sembunyikan," ucap Arga.