
Daffa masih berada di ruangan Arga. Ia masih terkejut dengan semua yang Arga katakan padanya tentang pernikahan Arga dengan Bianca.
"Tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali kau, jadi jika ada orang lain yang mengetahuinya itu pasti karenamu dan jika sampai hal itu terjadi aku pastikan persahabatan kita selesai saat itu juga!" Ucap Arga.
"Terserah kau saja, aku pergi dulu!" Balas Daffa kemudian keluar dari ruang kerja Arga.
Daffa menuruni tangga satu per satu hingga ia sampai di lantai dua dan melihat Bianca yang berjalan ke arah balkon dengan membawa laptop dan buku.
Daffapun mengikuti Bianca dan melihat Bianca yang tampak sedang sibuk mengetik di laptopnya.
"Apa yang kau lakukan disini Bianca?" Tanya Daffa dari pintu balkon.
"Daffa, kau mengejutkanku!" Ucap Bianca yang begitu terkejut mendengar pertanyaan Daffa.
"Aku sedang mengetik artikel saja," lanjut Bianca.
"Artikel? Apa kau suka menulis artikel?" Tanya Bianca.
"Iya, aku mengelola website pribadiku, terkadang ada juga yang memintaku untuk menulis artikel," jelas Bianca.
"Ada apa kau kesini? Dimana Arga?" Lanjut Bianca bertanya.
"Arga ada di atas, aku kesini untuk berpamitan padamu," jawab Daffa.
"Kau mau pulang?" Tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Daffa.
"Baiklah, hati hati!" Ucap Bianca yang kembali dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Daffa.
Daffa kemudian membawa langkahnya pergi, keluar dari rumah Arga dan Bianca.
"Sepertinya dia gadis yang baik, pasti ada alasan kenapa dia membutuhkan uang sebanyak itu," ucap Daffa dalam hati sambil mengendarai mobilnya pergi.
Di sisi lain, Bianca masih fokus mengetik artikel barunya. Ia sudah tidak sabar untuk kembali menyapa para pembacanya di website pribadinya.
Setelah menyelesaikan semuanya, Bianca menutup laptopnya lalu membaca buku yang sebelumnya ia bawa dari ruang baca.
Tak lama kemudian Arga datang menghampiri Bianca di balkon.
"Aku tau kau pasti disini," ucap Arga.
"Ada apa?" Tanya Bianca.
"Nanti malam mama meminta kita untuk datang ke rumah," jawab Arga.
"Oke," balas Bianca santai.
Arga kemudian berjalan pergi meninggalkan Bianca, sedangkan Bianca segera menutup buku yang dibacanya lalu beranjak dari duduknya.
"Aku harus membuat sesuatu untuk mama, sudah lama aku tidak berkunjung kesana," ucap Bianca kemudian berjalan ke arah dapur.
Bianca membuka satu per satu rak penyimpanan yang ada di dapur untuk mencari bahan bahan yang ia perlukan.
"Ada yang bisa bibi bantu non?" Tanya bibi yang melihat Bianca tampak sedang mencari sesuatu.
"Bianca ingin membuat kue bi, apa disini ada coklat bubuk bi?" Jawab Bianca sekaligus bertanya.
"Sepertinya tidak ada non, bibi akan membelinya, berapa banyak yang non bianca butuhkan?"
"Satu kotak kecil saja cukup bi," jawab Bianca.
"Baik non, bibi akan membelinya," ucap bibi kemudian keluar dari rumah untuk membeli coklat bubuk yang Bianca butuhkan.
Tak lama kemudian bibi kembali dengan membawa coklat bubuk.
"Terima kasih Bi," ucap Bianca.
"Sama sama non, apa non Bianca membutuhkan bantuan bibi?"
"Tidak bi, terima kasih, Bianca akan membuatnya sendiri," jawab Bianca.
"Baik non, bibi permisi," ucap bibi yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.
Bianca kemudian menyiapkan semua bahan yang ia butuhkan, mulai dari beberapa butir telur, tepung, backing powder, coklat bubuk, gula, mentega dan bahan bahan lain yang dia butuhkan untuk membuat kue.
Biancapun mulai terlihat sibuk di dalam dapur, hingga tiba tiba Arga datang menghampiri Bianca.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arga pada Bianca yang sedang mengocok telur menggunakan mixer.
"Membuat kue, apa kau bisa membantuku memasukkan tepung itu?" jawab Bianca sekaligus bertanya.
Tanpa menjawab Arga kemudian menuang tepung ke dalam wadah tempat Bianca mengocok telur, alhasil tepungpun berhamburan ke wajah Bianca.
Dengan cepat Bianca segera mematikan mixernya saat tepung mulai berterbangan di hadapannya.
"Hahaha.... wajahmu....."
Arga tertawa melihat wajah Bianca yang penuh dengan tepung. Bianca kemudian mengambil tepung di tangannya lalu melemparnya ke arah wajah Arga.
"Bianca......"
Tak mau kalah, Arga mengambil seluruh tepung yang ada di wadah lalu menyiramnya ke arah Bianca. Kini seluruh wajah dan kepala Biancapun menjadi putih karena tumpahan tepung yang Arga berikan.
__ADS_1
Melihat hal itu Arga tidak bisa berhenti tertawa, terlebih saat Bianca terbatuk-batuk karena tepung yang bertebaran di sekitarnya.
Arga kemudian mengambil segelas air dan memberikannya pada Bianca karena taburan tepung itu membuat Bianca tidak bisa berhenti batuk.
"Hahaha..... wajahmu terlihat sangat aneh hahaha....." ucap Arga.
Bianca hanya menghela nafasnya kesal lalu menyeruput segelas air yang Arga berikan padanya.
"Pergilah, kau menggangguku saja!" ucap Bianca sambil mengusap tepung di wajahnya.
Arga hanya tersenyum tipis lalu mengambil tissue. Arga kemudian meraih kedua bahu Bianca agar Bianca menghadap ke arahnya. Hal itu membuat Bianca berdiri sangat dekat dengan Arga.
Arga kemudian membersihkan tepung di wajah Bianca dengan tissue yang baru saja diambilnya. Tanpa sadar, wajahnya semakin dekat dengan wajah Bianca.
Saat kedua matanya bertemu dengan mata Bianca, seketika Arga tersadar dan segera menjauh.
Tiba tiba saja jantungnya berdetak kencang, ia merasa ada yang salah dengan dirinya saat itu.
"Bersihkan wajahmu di toilet, aku akan mengocok telur di wadah yang lain!" ucap Arga lalu mengambil wadah lain dan beberapa butir telur.
Bianca kemudian berjalan ke arah toilet yang ada di dekat dapur sambil memegang dadanya yang berdebar.
Setelah membasuh wajah dan membersihkan tepung yang ada di rambutnya, Biancapun kembali ke dapur dan begitu terkejut dengan keadaan dapur saat itu.
"Arga, apa yang kau lakukan?" tanya Bianca setengah berteriak.
"Aku tidak sengaja menjatuhkan semua telurnya hehehe...." jawab Arga dengan memamerkan deretan giginya.
"Lalu apa yang kau lakukan disana? kenapa kau hanya diam?" tanya Bianca kesal.
"Aku sedang menunggu bibi untuk membersihkannya, aku juga sudah meminta bibi untuk membeli telur lagi," jawab Arga.
"Seperti ini saja kenapa harus meminta bibi yang membersihkannya? apa kau tidak punya tenaga untuk membersihkan kekacauan yang kau buat ini?"
Bianca kemudian pergi dari dapur lalu kembali dengan membawa beberapa peralatan yang dia pakai untuk membersihkan lantai.
"Biarkan bibi yang membersihkannya, aku menggaji bibi memang untuk hal ini!" ucap Arga.
"Terserah kau saja," balas Bianca yang masih melanjutkan untuk membersihkan lantai.
Setelah lantai bersih dan kering, bibipun kembali dengan membawa banyak telur untuk Bianca.
"Terima kasih Bi," ucap Bianca.
Bianca kemudian memulai dari awal persiapannya untuk membuat kue.
"Lebih baik kau pergi saja, jangan menggangguku!" ucap Bianca pada Arga.
"Aku membuat kue untuk aku berikan pada mama Nadine nanti malam, bukankah lebih spesial jika aku membuatnya sendiri?"
"Memangnya kau pernah membuat kue sebelumnya?" tanya Arga.
"Mmmm..... pernah, saat aku masih kecil hehehe....." jawab Bianca.
"Apa kau yakin kue ini akan berhasil?" tanya Arga meragukan kemampuan Bianca.
"Tentu saja yakin, aku sudah melihat banyak tutorial di YouTube, jadi aku yakin ini akan berhasil," jawab Bianca penuh keyakinan.
Arga hanya tersenyum tipis dengan tatapan keraguan dari kedua matanya.
"Baiklah kalau begitu, semoga saja berhasil, aku pergi dulu!" ucap Arga kemudian berjalan meninggalkan dapur.
"Lihat saja, aku pasti bisa membuat kue yang akan disukai oleh mama Nadine," ucap Bianca yakin.
Waktupun berlalu, Arga yang baru saja mengendarai mobilnya ke dalam garasi segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Saat ia akan menaiki tangga, ia melihat Bianca yang masih berada di dapur. Argapun penasaran dengan kue buatan Bianca, ia kemudian berjalan ke arah dapur untuk menghampiri Bianca.
"Kenapa kau tampak murung? dimana kuenya?" tanya Arga.
Bianca hanya menghela nafasnya lalu membuka penutup yang ada di meja dapur. Seketika Argapun tidak bisa menahan tawanya saat ia melihat kue buatan Bianca yang gagal, bahkan terlihat hancur.
"Hahaha.... mama pasti akan senang menerima kue ini darimu hahaha....." ucap Arga mengejek.
"Kau benar, lebih baik membelinya saja di toko kue," balas Bianca tak bersemangat kemudian berjalan keluar dari dapur.
"Ayo membuatnya lagi, aku akan membantumu," ucap Arga sambil menahan tangan Bianca.
"Apa kau serius?" tanya Bianca tak percaya.
"Tentu saja, apa kau meremehkanku?" balas Arga yang kemudian melepaskan kemejanya lalu menyiapkan bahan dan peralatan yang ia butuhkan.
"Kocok telur ini sampai mengembang, aku akan menyiapkan bahan keringnya," ucap Arga pada Bianca.
Bianca menganggukkan kepalanya penuh semangat kemudian mengocok beberapa telur seperti yang Arga minta.
Setelah kocokan telur mengembang, Arga menambahkan beberapa bahan kering ke dalamnya sedikit demi sedikit.
"Siapkan ovennya," ucap Arga pada Bianca.
Setelah Arga menyelesaikan adonan kuenya, iapun memasukkannya ke dalam cetakan lalu memanggangnya ke dalam oven dengan suhu yang sudah ia sesuaikan.
__ADS_1
"Sekarang aku akan membuat krimnya dan kau siapkan toppingnya," ucap Arga pada Bianca.
Bianca mengangguk patuh kemudian mengambil keju, coklat dan beberapa buah strawberry untuk ia jadikan topping.
"Apa ini cukup manis untukmu?" tanya Arga sambil mengulurkan ujung jari telunjuknya pada Bianca, agar Bianca mencicipi krim yang baru saja dibuat oleh Arga.
Tanpa ragu Bianca membuka mulutnya, merasakan krim yang ada di ujung jari telunjuk Arga. Karena terlalu bersemangat, Bianca tidak menyadari apa yang baru saja ia lakukan, begitu juga Arga.
"Hmmmm.... manis, tapi tidak terlalu manis, it's perfect," ucap Bianca.
Di sisi lain, untuk beberapa saat Arga terdiam mematung saat ia sadar apa yang Bianca lakukan pada jari telunjuknya.
Arga kemudian segera mencuci tangannya lalu mencoba lagi krim buatannya, diikuti oleh Bianca.
"Kenapa krim ini tidak berwarna putih?" tanya Bianca sambil menjilat krim yang ada di jarinya.
"Aku menambahkan sedikit bubuk coklat, mama tidak terlalu menyukai rasa yang sangat manis, jadi aku rasa ini cocok untuk mama," jelas Arga.
"Hmmmm.... kau memang pandai membuatnya, semoga saja kue itu juga akan berhasil," ucap Bianca sambil menatap kue yang ada di dalam oven.
Setelah beberapa lama menunggu, Argapun mengeluarkan kue yang ada di dalam oven.
"Waaaahhhh kuenya berhasil, kau bisa membuatnya dengan sempurna Arga, hmmmm..... kue ini bahkan sangat harum," ucap Bianca yang begitu senang melihat kue buatan Arga tampak sempurna.
"Sekarang waktunya menghias," ucap Bianca yang sudah siap untuk mengolesnya dengan krim.
Seketika Arga segera menahan tangan Bianca, membuat Bianca segera menarik tangannya dari Arga.
"Tunggu kuenya dingin Bianca, kau akan membuat krimnya meleleh jika menghiasnya sekarang!" ucap Arga.
"Oke," balas Bianca singkat.
Setelah kue sudah dingin, Biancapun mulai mengoles seluruh sisi kue itu dengan krim lalu mulai menghiasnya dengan cantik.
"Waahhhh cantik sekali kue ini," ucap Bianca mengagumi kue yang baru saja dihias olehnya.
"Kau hanya menghiasnya, aku yang membuatnya," ucap Arga dengan tersenyum tipis.
"Iya aku tau," balas Bianca dengan memanyunkan bibirnya lalu memasukkan kue itu ke dalam kulkas.
Langit petang membawa sinar senja menggores langit sore. Bianca sedang bersiap siap di dalam kamarnya untuk pergi ke rumah mertuanya.
Setelah selesai mempersiapkan dirinya dengan baik, Biancapun keluar dari kamarnya lalu memasukkan kue yang tadi dibuatnya bersama Arga ke dalam sebuah kotak.
Tak lama kemudian Arga turun dari lantai 3, merekapun segera keluar dari rumah menuju ke rumah orang tua Arga.
Sesampainya disana, mereka disambut oleh mama dan papa Arga. Tak lupa Bianca memberikan kue yang dibawanya pada mama Arga.
"Hmmm.... sepertinya ini enak sekali, apa kau membuatnya sendiri sayang?" tanya Nadine pada Bianca.
"Mmmm.... sebenarnya Arga...."
"Arga membuatnya bersama Bianca ma, dia menghiasnya dengan cantik bukan?" sahut Arga.
"Iya, cantik sepertimu," balas Nadine sambil mencubit kecil pipi Bianca.
Mereka kemudian makan malam bersama dengan tenang seperti biasa.
"Jangan lupa mengambil cutimu Arga, mama sudah menyiapkan bulan madu kalian bulan depan!" ucap Nadine setelah mereka menyelesaikan makan malam.
"Iya ma, jangan khawatir," balas Arga.
"Jika kalian tidak keberatan, mama bisa mengenalkan kalian dengan dokter kandungan agar kalian bisa segera memulai program hamil," ucap Nadine yang membuat Arga dan Bianca begitu terkejut.
"Kenapa mama terburu-buru sekali, kita bahkan belum satu bulan menikah," balas Arga.
"Mama tidak bermaksud untuk ikut campur Arga, mama hanya ingin segera menimang cucu saja," ucap Nadine.
"Biarkan mereka sendiri yang memutuskan kapan mereka siap ma," sahut David.
"Iya, mama mengerti pa, mama juga tidak bermaksud memaksa," balas Nadine.
"Arga dan Bianca akan mengurusnya sendiri ma, untuk saat ini kita memang sengaja menundanya karena sepertinya akan sangat tidak nyaman untuk Bianca jika kita pergi bulan madu dengan keadaannya yang hamil, benar begitu kan Bee?"
"Iii.... iiya...." jawab Bianca dengan tersenyum canggung.
Tiba tiba ponsel Arga berdering, sebuah notifikasi dari sosial medianya membuatnya harus segera pergi.
Argapun segera berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Ada pekerjaan yang lupa Arga kerjakan, lain kali Arga dan Bianca akan berkunjung lagi," ucap Arga beralasan.
Arga kemudian meninggalkan rumah orang tuanya bersama Bianca. Saat sudah berada di jalan raya, Arga tiba tiba menepikan mobilnya.
"Aku harus pergi ke tempat lain, kau bisa pulang menggunakan taksi bukan?" tanya Arga yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Tidak bisakah kau mengantarku pulang dulu?" balas Bianca bertanya.
"Tidak bisa, aku harus segera pergi, ini cukup untuk membayar taksi sampai ke rumah," ucap Arga sambil memberikan beberapa lembar uang pada Bianca.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu mengembalikan uang itu pada Arga kemudian keluar dari mobil Arga.
__ADS_1