Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Bertemu Psikiater


__ADS_3

Lola hanya terdiam di tempatnya berdiri, ia tidak menyangka jika ia akan bertemu Arga saat Arga bersama dengan perempuan lain.


"Lola, apa yang kau lakukan disini?" tanya Bianca yang sudah berdiri di belakang lola.


"Bianca, kenapa kau kesini?" balas Lola bertanya.


"Aku menunggumu lama di dalam, apa kau sudah menemukan ponselmu?"


"Belum, aku lupa dimana pak Dodi memarkirkan mobilnya," jawab Lola beralasan.


Bianca hanya tertawa kecil lalu mengajak Lola menemui Pak Dodi agar mereka bisa memeriksa apakah ponsel Lola tertinggal di mobil atau tidak.


Benar saja, ponsel Lola ternyata terjatuh saat ia berada di dalam mobil. Setelah mengambil ponselnya Lola dan Biancapun kembali masuk ke dalam restoran.


"Aku sudah memesan makanan dan minuman yang kau suka," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Lola.


"Ada apa Lola? apa terjadi sesuatu?" tanya Bianca yang melihat Lola tampak berbeda dari saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di restoran itu.


Lola yang tadi tampak penuh semangat kini terlihat tidak bersemangat sama sekali.


"Tidak, aku hanya kesal karena ponselku terjatuh di mobil," jawab Lola berbohong.


"Yang terpenting kau sudah menemukan ponselmu sekarang," ucap Bianca yang kembali dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Lola.


"Bianca, kau pernah bilang padaku jika Arga selalu memintamu untuk menunggunya saat makan malam, lalu kenapa hari ini kau tidak makan malam bersamanya?" tanya Lola pada Bianca.


"Sebelum kau menghubungiku untuk mengajak makan malam Arga sudah menghubungiku dan memberitahuku jika dia akan terlambat pulang, jadi dia menyuruhku untuk makan malam tanpa menunggunya," jawab Bianca.


"Kenapa dia terlambat pulang?" tanya Lola.


"Dia bilang banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan," jawab Bianca sambil mengunyah makanannya dengan santai.


"Apa kau mempercayainya?" tanya Lola yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada Lola.


"Sebenarnya ada apa denganmu Lola? kenapa kau tiba-tiba menanyakan banyak hal tentang Arga? apa ada sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Bianca dengan menatap kedua mata Lola.


"Tidak ada, aku hanya penasaran saja," jawab Lola sambil melanjutkan menikmati makan malamnya.


"Aku tidak peduli apa yang dilakukan Arga di luar sana, aku juga tidak peduli jika dia berbohong padaku, karena seperti yang kau tahu hubungan kita tidak seperti pernikahan pada umumnya," ucap Bianca.


"Tapi bukan berarti kau harus diam saat kau tahu Arga berbohong padamu bukan?"


"Memangnya apa yang harus aku lakukan Lola? aku tidak memiliki hak apapun atas hidupnya!" balas Bianca.


"Tapi kau istrinya Bianca!"


"Istri kontrak, kau harus ingat itu!" balas Bianca.


Lola mengolah nafasnya kesal lalu menyeruput minuman di hadapannya, berusaha untuk memadamkan api amarah yang menggebu dalam dadanya.


"Lupakan tentang Arga, aku tidak mau tau apapun tentangnya, aku hanya perlu menjadi istrinya di depan semua orang, di luar itu kita hanya orang asing yang tinggal dalam satu rumah," ucap Bianca.


Lola hanya diam tanpa mengatakan apapun, merekapun melanjutkan makan malam mereka tanpa berbicara lagi.


Suasana cukup canggung saat itu, hingga akhirnya mereka menyelesaikan makan malam mereka lalu meninggalkan restoran itu.


Bianca kemudian meminta pak Dodi untuk mengantar Lola pulang ke tempat kosnya. Sepanjang perjalanan, tidak sepatah katapun yang terdengar dari Bianca ataupun Lola.


Sampai akhirnya pak Dodi menghentikan mobilnya di depan tempat kos Lola. Lolapun segera beranjak dari duduknya.


"Terima kasih pak Dodi," ucap Lola lalu keluar dari mobil dan pergi begitu saja.


Bianca hanya menghela nafasnya panjang melihat sikap Lola yang tiba-tiba dingin padanya.


Bianca kemudian meminta Pak Dodi untuk mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah, Bianca segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.


"Bianca, kau dari mana?" tanya Arga yang baru saja sampai di rumah sedikit lebih cepat dari Bianca.


"Kau pasti tidak membaca pesanku lagi!" ucap Bianca tanpa menjawab pertanyaan Arga.


Arga kemudian segera mengambil ponselnya dan memeriksa pesan masuk yang ada di ponselnya, saat itulah ia baru menyadari pesan yang masuk dari Bianca.


"Aku akan pergi makan malam bersama Lola dan aku tidak akan pulang terlalu malam!"

__ADS_1


Seketika Arga terdiam, ia teringat pertemuannya dengan Lola di restoran beberapa saat yang lalu.


"Bianca, tunggu!" ucap Arga sambil menahan tangan Bianca yang akan masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Bianca dengan nada suara yang terdengar kesal, bukan karena Arga, tapi karena sikap Lola yang dingin padanya membuatnya kesal sampai ia tiba di rumah.


"Kenapa dia terlihat kesal? Apa Lola mengatakan semuanya pada Bianca?" batin Arga bertanya dalam hati.


"Ada apa Arga?" tanya Bianca membuyarkan lamunan Arga.


"Apa kau...... baru saja makan malam bersama Lola?" balas Arga bertanya dengan ragu.


"Bukankah aku sudah memberitahumu?" balas Bianca yang semakin kesal setelah ia mendengar pertanyaan Arga yang dinilainya tidak penting.


"Apa Lola mengatakan sesuatu saat di restoran?" tanya Arga.


"Restoran? dari mana kau tahu jika aku makan malam bersama Lola di restoran?" Bianca bertanya dengan mengernyitkan keningnya.


Seketika Arga terdiam, ia baru saja menyadari kebodohan yang baru saja dilakukannya.


"Aku tidak pernah mengatakan jika aku makan malam bersama Lola di restoran dan sepertinya kau juga tahu jika aku dan Lola tidak terbiasa untuk makan malam di restoran," ucap Bianca dengan menatap wajah Arga yang tampak gugup saat itu.


"Aku..... aku hanya menebaknya," balas Arga beralasan.


"Menebak?" tanya Bianca mengulang ucapan Arga.


"Aku..... maksudku aku.... aku melihat Lola disana, aku pikir dia bersama Daffa, aku tidak tahu jika dia bersamamu sebelum aku membaca pesanmu," jawab Arga beralasan yang semakin menunjukkan kegugupannya di hadapan Bianca.


"Kau ada di restoran itu?" tanya Bianca.


"Aku disana untuk menemui klienku dan aku tidak sengaja bertemu dengan Lola di tempat parkir, aku berpikir mungkin Lola mengatakan padamu jika dia bertemu denganku," ucap Arga yang berusaha mengatasi kegugupannya.


"Tidak, Lola tidak mengatakannya," ucap Bianca.


"Baiklah kalau begitu, aku.... harus segera mandi," ucap Arga lalu segera membawa langkahnya berjalan meninggalkan Bianca.


Bianca hanya terdiam di tempatnya berdiri, menatap punggung Arga yang semakin berjalan menjauh darinya


"Dia terlihat gugup, apa dia menyembunyikan sesuatu dariku? apa itu ada hubungannya dengan sikap Lola saat di restoran tadi?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari Bara yang membuat Bianca tersenyum tipis setelah membacanya.


Sebuah pesan singkat yang berisi puisi manis dari Bara sering Bianca terima sejak beberapa hari yang lalu.


**


Hari telah berganti. Pagi itu Bianca menikmati sarapannya seorang diri seperti biasa. Tiba-tiba Arga datang dan menghampiri Bianca.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia ragu apa ia harus membahas hal yang semalam terjadi atau tidak.


Sampai beberapa waktu berlalu Arga dan Bianca hanya diam sambil menikmati makanan mereka masing-masing, sampai akhirnya Arga membuka suaranya saat Bianca mulai beranjak dari duduknya.


"Tentang apa yang terjadi semalam, aku harap kau tidak salah paham," ucap Arga.


"Salah paham tentang apa?" tanya Bianca.


"Aku benar-benar menemui klienku di restoran, aku dan Daffa memang sering melakukan hal itu jika klien kita adalah klien penting yang kita temui saat jam makan siang ataupun saat jam makan malam," jelas Arga.


"Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Bianca.


"Iya, aku hanya tidak ingin kau salah paham karena ucapan Lola yang mungkin sudah salah paham padaku," jawab Arga.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu berjalan pergi meninggalkan Arga. Bianca kemudian membawa langkahnya ke balkon dengan membawa laptop dan bukunya, sedangkan Arga segera masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap setelah ia menyelesaikan sarapannya.


Arga kemudian keluar dari kamarnya dengan berpakaian santai lalu segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.


Di balkon, Bianca hanya diam memperhatikan mobil Arga yang keluar dari rumah. Dalam hatinya ia bertanya kemana sebenarnya Arga pergi dan apa yang harga lakukan di luar sana.


Namun sisi lain dari dirinya menolak untuk mempertanyakan semua hal itu dan lebih memilih untuk tidak mengetahui apapun tentang apa yang Arga lakukan di belakangnya.


Di sisi lain, Arga mengendarai mobilnya untuk menemui Karina di rumahnya. Hari itu Arga sudah berjanji untuk mengantarkan Karina pada psikiater yang ia kenal.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah Karina, Argapun segera mengendarai mobilnya bersama Karina yang duduk di sampingnya menuju ke tempat tujuan mereka, sebuah klinik psikiatri.


"Arga, siapa perempuan yang menemuimu di restoran kemarin?" tanya Karina pada Arga.


"Bukan siapa-siapa," jawab Arga.


"Tapi sepertinya dia sangat marah padamu, apa mungkin dia marah karena melihatmu bersamaku?" tanya Karina.


"Tidak, ada hal lain yang membuatnya marah padaku dan itu tidak ada hubungannya denganmu," jawab Arga berbohong.


"Aku pikir dia marah padamu karena dia adalah seseorang yang mengenal istrimu, aku tidak ingin orang lain salah paham dengan hubungan kita Arga," ucap Karina.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya Karina, buat dirimu bahagia dengan apa yang kau jalani saat ini," balas Arga.


Karina hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Dalam hatinya ia merasa menjadi perempuan paling beruntung karena meskipun ia sudah berpisah dengan Arga tetapi Arga masih memberikan perhatian padanya


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempat tujuannya. Arga kemudian segera keluar dari mobil bersama Karina.


Karena sudah membuat janji sebelumnya, Karinapun segera masuk untuk menemui psikiater yang sudah menunggunya di dalam.


Sedangkan Arga hanya duduk di ruang tunggu, menunggu Karina menyelesaikan konsultasinya bersama psikiater.


Arga memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Karina sehingga membuat Karina harus menemui seorang psikiater.


Dalam hatinya ia bertanya-tanya bagaimana sebenarnya hubungan Karina dengan Bian dan kenapa Karina tidak bisa terlepas dari Bian meskipun Bian sering memperlakukan Karina dengan kasar.


Setelah cukup lama menunggu, Karina akhirnya menyelesaikan konsultasinya.


"Sudah selesai?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Karina.


"Aku tidak akan bertanya apapun saat ini, tapi jika kau ingin menceritakan sesuatu aku akan selalu siap untuk mendengarnya," ucap Arga.


"Terima kasih banyak Arga, sekarang aku hanya ingin pulang dan beristirahat di rumah," ucap Karina.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang," balas Arga.


Saat Arga dan Karina baru saja keluar dari klinik, tiba-tiba seseorang berlari menghampiri Arga dan Karina.


"Waaahh waaahhh..... sepertinya aku sedang memergoki pasangan selingkuh sekarang!" ucap Clara sambil bertepuk tangan di hadapan Arga dan Karina.


"Apa maksudmu Clara? kau....."


"Diamlah Karina, ngomong-ngomong kenapa kalian berdua keluar dari klinik psikiatri? apa kalian berdua berkonsultasi tentang perselingkuhan kalian?" tanya Clara memotong ucapan Karina.


"Jaga ucapanmu Clara!" ucap Arga dengan nada suara meninggi.


"Tenang saja Arga, kali ini aku tidak akan merekam atau mengambil foto kalian berdua diam-diam, aku hanya perlu memberi tahu tante Nadine tentang apa yang aku lihat hari ini dan aku yakin tante Nadine pasti mempercayaiku bahkan tanpa foto atau rekaman video sekalipun!" ucap Clara dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan membuat orang lain salah paham Clara, aku dan Arga sama sekali tidak ada hubungan seperti itu, lagi pula yang baru saja menemui psikiater adalah aku bukan Arga, apalagi kita berdua," ucap Karina.


"Kenapa kau menemui psikiater? apa kau mulai gila dengan tunanganmu yang juga gila itu?" tanya Clara.


"Clara....."


"Abaikan saja dia, ayo kita pulang!" ucap Arga sambil menarik tangan Karina, membawa Karina masuk ke dalam mobilnya.


Clara yang sudah ditinggal pergi oleh Arga dan Karina hanya diam di tempatnya berdiri. Dalam hatinya ia yakin jika Arga dan Karina memiliki hubungan yang tidak diketahui oleh semua orang.


Di sisi lain, Karina khawatir jika Clara akan benar-benar memberitahu orang tua Arga tentang apa yang dia lihat hari ini.


"Arga, bagaimana jika Clara benar-benar memberitahu mamamu tentang apa yang dia lihat sekarang?" tanya Karina khawatir.


"Tidak perlu khawatir, serahkan semuanya padaku," jawab Arga.


"Bagaimana jika orang tuamu marah padamu Arga?"


Untuk beberapa saat Arga hanya terdiam, ia memikirkan apa yang akan ia lakukan jika Clara benar-benar memberitahu sang mama tentang apa yang Clara lihat hari itu.


"Mama pasti akan sangat marah jika mama mendengar apa yang Clara katakan tentang apa yang terjadi hari ini, tapi mama tidak mungkin memberitahu Bianca tentang hal ini, aku tahu Mama sangat menyayangi Bianca dan Mama pasti tidak ingin membuat Bianca bersedih," ucap Arga dalam hati.


"Maafkan aku Arga, seharusnya aku tidak meminta tolong padamu," ucap Karina dengan menundukkan kepalanya.


"Jangan berbicara seperti itu Karina, tidak banyak yang bisa aku lakukan untukmu sekarang, jadi jangan menyesal karena sudah meminta tolong padaku," ucap Arga sambil menggenggam tangan Karina.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud untuk membuat orang salah paham, aku juga tidak bermaksud untuk merebutmu dari istrimu Arga, kau tahu itu bukan?"


"Aku tau, semuanya akan baik-baik saja, jadi jangan terlalu mengkhawatirkannya," ucap Arga dengan membawa senyumnya sekilas pada Karina yang duduk di sampingnya.


__ADS_2