
Di tempat lain Bianca yang sedang berada di balkon lantai 2 segera beranjak dari duduknya setelah ia melihat mobil orang tua Arga yang masuk ke halaman rumahnya.
Bianca membawa langkahnya menuruni tangga untuk menemui orang tua Arga yang baru saja datang.
Mama Arga yang melihat Bianca menghampirinyapun segera memberikan pelukan dan kecupan singkatnya di pipi kanan dan kiri Bianca.
"Sepertinya Arga belum pulang," ucap Nadine sambil membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Mungkin sebentar lagi ma," balas Bianca.
"Sejak kedatangan mama dan papa kesini Arga belum juga mau menerima panggilan mama, sepertinya dia masih marah pada Mama," ucap Nadine.
"Bianca sudah beberapa kali memberitahu Arga agar tidak bersikap seperti itu ma, tetapi sepertinya dia memang memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk menenangkan pikirannya," balas Bianca.
"Tapi kau tidak marah pada Mama bukan?" tanya Nadine memastikan.
"Tentu saja tidak, Bianca mengerti maksud Mama baik," jawab Bianca.
"Kau benar Bianca, mama hanya tidak ingin media berspekulasi yang tidak-tidak tentang pernikahan kalian jika kalian belum juga dikaruniai momongan," ucap Nadine.
"Arga sudah pernah mengatakan hal itu pada Bianca ma, Arga memberi tahu Bianca jika dia bisa mengendalikan media jika ada pemberitaan yang tidak benar, jadi Mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," ucap Bianca.
"Dia memang memiliki pengaruh yang besar, dia bisa melakukan apapun yang dia mau, mama hanya berharap jika Arga tidak melakukan hal yang salah dengan apa yang dia miliki saat ini," ucap Nadine.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia terus merasa bersalah karena sudah berbohong pada orang tua Arga tentang pernikahannya dengan Arga.
Namun tidak ada apapun yang bisa Bianca lakukan karena memang pernikahan itu adalah kesepakatannya bersama Arga tanpa ada paksaan di antara mereka berdua.
Setelah beberapa lama mengobrol, terdengar suara mobil yang memasuki rumah.
"Sepertinya Arga sudah pulang," ucap Bianca.
"Mari kita lihat apakah dia mau menemui Mama atau tidak," ucap Nadine.
"Bianca akan coba berbicara pada Arga ma, mama jangan khawatir," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nadine.
Tak lama kemudian Argapun terlihat memasuki rumah dan membawa pandangannya sekilas ke arah sang Mama yang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Namun Arga terus melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan sang mama yang sudah cukup lama menunggunya.
"Arga!" panggil Nadine pada Arga yang berjalan melewatinya.
Arga hanya diam dan terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke arah sang mama.
Melihat hal itu Nadine hanya bisa menghela nafasnya panjang, anak laki-lakinya itu ternyata masih mengabaikannya.
"Dia masih tidak ingin menemui Mama," ucap Nadine.
"Bianca permisi sebentar ma, Bianca akan coba membicarakannya pada Arga," ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya dan berlari kecil mengejar Arga yang sudah menaiki tangga.
"Arga tunggu!" ucap Bianca namun tidak dihiraukan oleh Arga.
"Arga berhentilah!" ucap Bianca sambil mempercepat langkahnya menaiki tangga untuk mengejar Arga.
Namun Arga yang kesal terus melanjutkan langkahnya dan membiarkan Bianca yang terus mengejarnya hingga akhirnya terdengar suara Bianca yang mengaduh saat Bianca terpeleset di tangga.
Seketika Arga membalikkan badannya dan segera berlari kecil menghampiri Bianca.
"Tidak bisakah kau berhati-hati?" tanya Arga sambil membantu Bianca untuk berdiri.
"Katakan pada Mama aku sangat lelah dan ingin beristirahat," balas Arga.
"Tapi Arga....."
"Lebih baik aku menjaga jarak seperti ini sampai aku benar-benar melupakan kekesalanku Bianca, aku tidak akan bisa menahan emosiku jika kau memaksaku untuk menemui mama sekarang!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.
"Sampai kapan Arga? jika bukan karena mama sangat peduli padamu, mungkin mama sudah pergi ke kantor untuk menemuimu, tapi mama tidak ingin mengganggu pekerjaanmu dan...."
"Bianca stop, jangan memaksaku!" ucap Arga dengan nada suara yang lebih tegas.
Di sisi lain, Nadine yang mendengar suara Arga yang meninggi, segera beranjak dari duduknya.
Nadine tidak ingin kedatangannya membuat anak dan menantunya bertengkar.
"Bianca, mama akan pergi, sepertinya kedatangan mama mengganggu," ucap Nadine yang sudah berada di ruang tengah, melihat Bianca yang berusaha membujuk Arga di tangga.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Biancapun segera menuruni tangga untuk menghampiri Nadine.
"Maafkan Bianca ma, Bianca belum berhasil membuat Arga menemui Mama," ucap Bianca yang merasa bersalah.
"Ini bukan salahmu Bianca, tolong sampaikan pada Arga, mama dan papa berencana untuk mengadakan liburan keluarga bulan depan, mama papa harap kau dan Arga akan menyetujuinya," ucap Nadine.
"Bianca akan mengatakannya pada Arga ma," balas Bianca.
Setelah Nadine meninggalkan rumah itu, Bianca segera membawa langkahnya kembali menaiki tangga.
Namun Bianca menghentikan langkahnya saat ia akan menginjakkan kaki di tangga yang mengarah ke lantai 3.
Bagaimanapun juga ia tidak bisa sembarangan menaiki lantai 3 sesuai dengan larangan yang sudah Arga katakan padanya sejak hari pertama ia tinggal di rumah itu.
"Arga aku menunggumu di balkon!" ucap Bianca setengah berteriak lalu membawa langkahnya ke arah balkon.
Langit senja kemerahan kini hampir menghilang dari ujung barat, perlahan berganti menjadi gelap yang semakin pekat.
Bianca masih berada di balkon untuk menunggu kedatangan Arga.
Tak lama kemudian Argapun datang dan duduk di samping Bianca
"Apalagi yang mama katakan padamu?" tanya Arga.
"Berhentilah mendiamkan Mama seperti ini Arga, kau membuat Mama bersedih," ucap Bianca sebelum ia menjawab pertanyaan Arga.
"Aku harus tegas pada Mama agar Mama tidak mengulangi hal yang sama," balas Arga.
"Mama sudah berjanji tidak akan membahas hal itu lagi, Mama dan papa juga sudah berencana untuk mengadakan liburan keluarga bulan depan," ucap Bianca.
"Aku tidak akan ikut," balas Arga.
"Kita harus ikut Arga, aku yakin mama dan papa merencanakan liburan keluarga untuk kita," ucap Bianca.
"Abaikan saja apa yang mama dan papa katakan, kau tidak perlu terlalu memikirkannya," ucap Arga.
"Arga, pernikahan kita memang hanya sebatas pernikahan kontrak selama 2 tahun, tetapi Mama Nadine Dan papa David sudah menyayangiku seperti mereka menyayangi anak mereka sendiri, jadi bagaimana mungkin aku mengabaikan ucapan mereka," balas Bianca.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat peduli pada mereka Bianca? mereka hanya akan menjadi orang asing bagimu setelah kesepakatan kita berakhir!"
"Kesepakatan pernikahan kita memang akan berakhir setelah 2 tahun, tetapi sampai kapanpun Mama Nadine Dan papa David tidak akan pernah menjadi orang asing bagiku Arga, dari mereka berdua aku bisa merasakan kembali kasih sayang, perhatian dan keutuhan keluarga yang selama ini hilang dari hidupku," ucap Bianca.