Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Meninggalkan Rumah Sakit


__ADS_3

Bianca yang baru tersadar jika ia sedang berada di dalam toilet seketika berteriak dengan kencang. Argapun segera membungkam mulut Bianca dengan tangannya, membuat Bianca dengan cepat meninju bagian perut Arga, membuat Arga meringis kesakitan dengan memegangi perutnya.


"Aaarrghh Bianca..... Kau hampir membunuhku," ucap Arga pelan sambil merintih kesakitan.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau gila?" Tanya Bianca dengan berbisik.


"Aku hanya ingin menunjukkan keromantisan kita di depan dokter Cindy, kenapa kau tidak peka sama sekali Biancaa......"


"Tapi bukan berarti kau bisa masuk ke toilet bersamaku Arga, aku.... Aku.... Ingin buang air kecil," ucap Bianca sambil merapatkan kedua kakinya, berusaha untuk menahan cairan yang sudah hampir keluar.


"Tidak bisakah kau menahannya sampai dokter Cindy keluar?" Tanya Arga.


"Tidak bisa Arga, aku sudah tidak tahan," jawab Bianca.


"Karena aku sudah menahannya sejak tadi, sejak aku melihat dokter Cindy bersamamu di depan pintu," ucap Bianca dalam hati.


"Baiklah lakukan saja, aku tidak akan melihatnya," ucap Arga dengan membawa pandangannya menatap pintu toilet.


"Apa kau gila?" Tanya Bianca dengan semakin kesal karena ia sudah terlalu lama menahan sesuatu yang harus segera ia keluarkan.


"Cepatlah, aku benar benar tidak akan melihatnya, tidak ada untungnya juga untukku jika aku melihatnya," ucap Arga yang masih berdiri menatap pintu, membelakangi Bianca.


"Aarrghhh.... Aku tidak peduli, aku tidak tahan lagi," ucap Bianca yang kemudian segera menuntaskan apa yang sedari tadi ia tahan.


Sedangkan Arga hanya tersenyum tipis, ia tidak menyangka akan melakukan hal gila itu bersama Bianca.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bianca setelah ia menyelesaikan "kewajibannya".


"Tentu saja keluar dari sini, apa kau senang berada disini bersamaku?" Balas Arga yang membuat Bianca memutar kedua bola matanya.


Dengan dibantu Arga, Bianca keluar dari toilet lalu kembali ke ranjangnya.


"Apa terjadi sesuatu di dalam toilet? Saya mendengar suara teriakan Bianca tadi!" Tanya Dokter Cindy.


"Tidak ada dok, Bianca hanya hampir terpeleset saja," jawab Bianca.


Dokter Cindy tersenyum lalu memeriksa luka-luka Bianca.


"Luka ini sudah mengering, kau bisa berhenti memakai obat ini dan berganti obat lain yang sudah aku berikan," ucap Dokter Cindy.


"Baik dok," balas Bianca.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, Arga aku pergi dulu," ucap Dokter Cindy sambil memegang lengan tangan Arga, namun dengan cepat Arga menepisnya lalu menggeser posisinya menjauh dari Dokter Cindy.


Dokter Cindy hanya tersenyum kemudian membawa langkahnya keluar dari ruangan Bianca.


"Ada apa dengan mereka berdua sebenarnya? sikap Arga sangat dingin pada dokter Cindy!" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Arga, kapan aku boleh pulang? aku sangat bosan berada disini, bukankah aku baik baik saja? dokter pasti sudah mengizinkanku pulang bukan?" tanya Bianca.


"Kau harus berada disini sampai kau benar benar sembuh, aku tidak ingin membuat Mama khawatir jika melihat keadaanmu yang seperti ini," jawab Arga.


"Tapi aku sangat bosan Arga!!"


"Jangan merengek seperti anak kecil, panggil saja Lola agar menemanimu disini!" balas Arga.


"Kau pikir dia pengangguran yang bisa menemaniku setiap waktu? dia juga punya kesibukannya sendiri!"


"Aku pikir kalian bersahabat dekat, ternyata dia tidak terlalu peduli padamu," ucap Arga yang membuat Bianca semakin kesal.


Biancapun dengan sengaja meninju bagian perut Arga, membuat Arga kembali merintih kesakitan dengan memegangi perutnya.


"Kau...."


"Jaga ucapanmu, jangan suka menilai orang sembarangan," ucap Bianca.


"Sepertinya kau memang benar benar sudah sembuh, pukulanmu sudah seperti petinju," ucap Arga lalu membawa langkahnya pergi.


"Kau mau kemana?" tanya Bianca.


"Kembali ke kantor, aku bukan pengangguran yang bisa menemanimu setiap waktu!" balas Arga dengan tersenyum tipis kemudian keluar dari ruangan Bianca.


"Huh menyebalkan sekali!" gerutu Bianca kesal.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Lola datang.


"Kenapa kau kesini lagi Lola? bukankah kau harus mengerjakan skripsimu?"


"Aku akan mengerjakannya disini bersamamu," balas Lola.


"Bagiamana jika kita keluar?" lanjut Lola bertanya.


"Aku juga sangat ingin keluar dari sini, tapi Arga pasti akan sangat marah jika dia tau aku keluar dari sini," balas Bianca.


"Dia marah karena dia tidak ingin orang lain mengenalimu bukan?" tanya Lola yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Tenang saja, aku sudah mempersiapkannya," ucap Lola kemudian mengeluarkan jaket, masker dan topi dari dalam tasnya.


"Ini tidak akan membuatmu dikenali siapapun," ucap Lola lalu memberikan semua itu pada Bianca.


"Waahhh kau benar benar penuh persiapan," balas Bianca yang segera mengenakan jaket, masker dan topi milik Lola.


Dengan dibantu Lola, Bianca kemudian turun dari ranjangnya lalu duduk di kursi rodanya. Lola kemudian mendorong kursi roda Bianca keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Jangan sampai dokter ataupun suster melihat kita Lola," ucap Bianca.


"Serahkan semuanya padaku, kau tenang saja," balas Lola.


Setelah beberapa lama berjalan dengan mendorong kursi roda Bianca, Lola tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Aku harus ke toilet sebentar, kau jangan kemana-mana!" ucap Lola lalu segera berlari ke arah toilet, meninggalkan Bianca begitu saja di persimpangan lorong rumah sakit.


Bianca yang sedang menunggu Lola dibuat terkejut dengan keberadaan Arga yang sedang berjalan ke arahnya.


Biancapun segera menggeser kursi rodanya untuk menghindar agar Arga tidak melihatnya.


"Arga!"


Terdengar suara seseorang yang memanggil nama Arga, membuat Bianca ikut menoleh karena penasaran.


"Jika tidak ada yang ingin dokter bicarakan tentang Bianca, lebih baik dokter Cindy tidak menghentikan langkah saya!" ucap Arga.


"Aku ingin membicarakan tentang Bianca, bagaimana jika kita mengobrol di kantin?"


"Dokter jelaskan saja disini, saya tidak punya banyak waktu untuk pergi ke kantin!" balas Arga.


"Sikap dinginmu itu tidak akan membuatku berhenti menyukaimu Arga, aku....."


"Saya permisi," ucap Arga memotong ucapan dokter Cindy kemudian melanjutkan langkahnya, namun Dokter Cindy menahan tangan Arga.


"Tolong jangan memaksa saya untuk berbuat tidak sopan pada Dokter Cindy!" ucap Arga.


"Kau sangat berbeda dengan Arga yang dulu aku kenal, sejak mengenal Ka....."


"Tolong jangan ganggu saya, dokter Cindy akan sangat menyesal jika dokter Cindy tidak bisa menjaga sikap!" ucap Arga sambil menarik tangannya dengan kasar kemudian berjalan pergi begitu saja.


"Waahhh dia benar benar terlihat menakutkan saat sedang marah," batin Bianca dalam hati saat ia diam diam memperhatikan apa yang terjadi antara Arga dan Dokter Cindy.


Tak lama kemudian Lola kembali dan bersiap untuk mendorong kursi roda Bianca.


"Sebaiknya kita kembali saja Lola," ucap Bianca.


"Kenapa? apa kau lelah?" tanya Lola.


"Aku melihat Arga datang, tapi sepertinya dia tidak masuk ke ruanganku, sebaiknya kita segera kembali sebelum Arga tau jika aku keluar dari ruanganku!" jelas Bianca.


"Hmmm.... baiklah," balas Lola kemudian mendorong kursi roda Bianca kembali ke ruangan Bianca.


**


Hari telah berganti. Pagi itu Dokter Cindy kembali memeriksa keadaan Bianca dan memberi tahu Bianca jika tidak akan lama lagi bekas lukanya akan menghilang.


Dokter Cindy hanya tersenyum kemudian berjalan keluar dari ruangan Bianca. Tepat saat itu Arga masuk ke ruangan Bianca.


"Hai Arga!" sapa Dokter Cindy.


Arga hanya menoleh sekilas dengan raut wajah datar lalu menghampiri Bianca.


"Kita pulang sekarang!" ucap Arga sambil menggeser kursi roda Bianca.


"Pulang?" tanya Bianca memastikan apa yang ia dengar.


"Tidak bisa," sahut Dokter Cindy yang mendengar ucapan Arga pada Bianca.


"Maksudku Bianca belum bisa pulang sebelum bekas lukanya menghilang, dia....."


"Dia dirawat disini karena kecelakaan, dokter yang menanganinya sudah memperbolehkannya pulang jadi tidak ada alasan lagi Bianca tetap disini!" ucap Arga memotong ucapan Dokter Cindy.


"Tapi....."


"Lebih baik Dokter Cindy segera pergi ke kantor, sepertinya akan ada perubahan besar dari kantor untuk posisi dokter Cindy disini!" ucap Arga sambil membantu Bianca turun dari ranjangnya.


"Apa maksudmu Arga, kau....."


Dokter Cindy menghentikan ucapannya saat mendengar ponselnya berdering, sebuah panggilan dari pihak kantor membuat Dokter Cindy segera meninggalkan ruangan Bianca.


"Ada apa Arga? kenapa aku tiba tiba pulang? kenapa kau dan Dokter Cindy....."


"Jangan banyak bertanya Bianca, bukankah kau sudah bosan disini?"


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan, membiarkan Arga melakukan apapun yang Arga inginkan.


"Aku akan mencarikan dokter spesialis lain untukmu, jangan khawatir!" ucap Arga sambil mendorong kursi roda Bianca keluar dari ruangan Bianca.


Arga kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumah bersama Bianca. Sesampainya di rumah, Arga kembali mendorong kursi roda bianca untuk masuk ke kamar Bianca.


"Aku bisa sendiri," ucap Bianca saat Arga baru saja membuka pintu kamar Bianca.


"Apa kau yakin?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Biancapun masuk ke dalam ruangannya dengan memutar sendiri kursi rodanya. Di dalam kamarnya, Bianca segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Akhirnya aku kembali ke kamar ini," ucap Bianca senang.


Bianca kemudian menghubungi Lola, memberi tahu Lola jika ia sudah keluar dari rumah sakit.


Tak lama kemudian pintu kamar Bianca diketuk oleh bibi, bibi lalu masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk bianca.

__ADS_1


"Terima kasih Bi," ucap Bianca.


Bianca kemudian menikmati sarapannya di dalam kamar sambil memeriksa website pribadinya yang sudah beberapa hari tidak ia buka.


Sesekali Bianca menggerakkan kedua kakinya yang terasa kaku. Bianca kemudian menjatuhkan kakinya dari ranjang. Perlahan, Bianca mencoba berdiri dan berjalan dengan pelan.


"Aku sudah tidak membutuhkan kursi roda itu!" ucap Bianca kemudian membawa nampan yang berisi gelas dan piring kotor untuk ia bawa ke dapur.


Setelah menaruhnya di dapur, Biancapun kembali berjalan ke kamarnya dengan pelan karena ia masih merasakan sedikit rasa sakit di kakinya.


"Bianca, kau mau kemana?" tanya Arga yang segera berlari menuruni tangga saat ia melihat Bianca berjalan tanpa kursi roda.


"Ke kamar," jawab Bianca santai.


"Kenapa kau tidak memakai kursi rodamu?" tanya Arga sambil meraih tangan Bianca, namun Bianca segera menepis tangan Arga.


"Sudah ku bilang jangan sembarangan menyentuhku!" ucap Bianca kesal.


"Aku hanya ingin membantumu, aku....."


"Kita sudah berada di rumah sekarang, jadi tidak perlu bermain peran lagi!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Aku hanya....."


"Aku tidak lumpuh Arga, kakiku hanya terluka dan sekarang sudah baik baik saja!" ucap Bianca yang tidak membiarkan Arga menyelesaikan ucapannya.


Arga hanya diam, membiarkan Bianca masuk ke kamarnya dengan langkah yang tertatih.


"Dia bahkan belum bisa berjalan dengan normal," ucap Arga dalam hati.


**


Hari hari telah berganti, semua luka yang ada di tubuh Bianca kini sudah menghilang tanpa bekas. Ia juga sudah bisa berjalan dengan normal tanpa tertatih.


Malam itu, Bianca yang sedang berada di balkon tiba tiba dihampiri oleh Arga.


"Kenapa kau suka sekali berada disini?" tanya Arga lalu duduk di samping Bianca yang sedang membaca buku.


"Karena aku tidak merasa kesepian disini," jawab Bianca.


"Memangnya siapa yang menemanimu?" tanya Arga.


Bianca menutup buku yang dipegangnya kemudian membawa pandangannya ke atas langit malam dengan tersenyum, membuat Arga ikut membawa pandangannya ke arah Bianca memandang.


"Bulan dan bintang yang membuatku tidak merasa kesepian," ucap Bianca.


"Aneh sekali, aahh yaa.... tentang kejadian beberapa hari yang lalu, ceritakan semuanya padaku agar aku bisa mencari tahu siapa yang melakukan hal itu padamu!" ucap Arga.


"Apa yang harus aku ceritakan? aku sama sekali tidak mengenal mereka," balas Bianca.


"Ceritakan apapun yang terjadi Bianca, obrolan mereka yang kau dengar, mobil yang kau lihat, atau apapun lainnya!"


Seketika Bianca terdiam, ia teringat suara seorang pria yang berbicara padanya saat kedua matanya masih tertutup.


"Siapa aku? kau akan tau nanti saat kita sudah berada di atas ranjang hahaha....."


Bianca berpikir untuk beberapa saat, berusaha menggali lebih jauh ingatannya tentang suara pria yang ia dengar.


"Dia juga mengenal Arga, dia tau jika aku adalah istri Arga, jika dia tidak merasa takut dengan Arga, itu artinya dia memiliki kekuasaan sama seperti Arga," batin Bianca dalam hati.


"Bianca, apa yang kau pikirkan?" tanya Arga membuyarkan lamunan Bianca.


"Tidak banyak hal yang aku tau karena kejadiannya sangat cepat, mereka membuatku pingsan dan saat aku tersadar aku sudah berada di bangunan kosong," jawab Bianca.


"Apa ada sesuatu yang mereka bicarakan padamu?" tanya Arga.


"Tidak," jawab Bianca dengan menggelengkan kepalanya.


Bianca sengaja berbohong agar Arga berhenti mencari tahu tentang pria itu. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Arga.


"Baiklah kalau begitu, jangan tidur terlalu malam, besok pagi aku akan mengajakmu pergi ke pertemuan penting," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya.


"Pertemuan penting? apa maksudmu?"


"Pertemuan penting dengan para klien, kau harus menemaniku besok," jawab Arga.


"Tidak, aku tidak mau!" ucap Bianca menolak.


"Kau tidak bisa menolaknya, persiapan saja dirimu dengan baik," balas Arga kemudian berjalan pergi begitu saja.


"Dia selalu saja memaksaku!" gerutu Bianca kesal.


Setelah puas menghabiskan waktunya di balkon, Bianca kemudian masuk ke kamarnya.


Keesokan paginya, Bianca terbangun dari tidurnya dan begitu terkejut saat melihat gaun indah yang terpajang di dalam kamarnya.


"Cantik sekali, tapi kenapa gaun ini ada disini?" tanya Bianca sambil memperhatikan detail gaun di hadapannya.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat Bianca segera membuka pintu kamarnya.


"Ini sepatu yang harus kau pakai, cepat bersiap, satu jam lagi kita harus berangkat!" ucap Arga kemudian berjalan pergi begitu saja.


Untuk beberapa saat Bianca terdiam, menatap gaun dan sepatu yang Arga berikan padanya.

__ADS_1


__ADS_2