Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Sebuah Solusi


__ADS_3

Daffa berjalan meninggalkan Arga begitu saja. Ia menuruni tangga dan mendapati Bianca yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Bagaimana keadaan Arga? apa dia baik-baik saja?" tanya Bianca pada Daffa.


"Dia baik-baik saja, mungkin sebentar lagi dia akan turun," jawab Daffa.


"Kau tetaplah disini, kita sarapan bersama sebelum kau ke kantor," ucap Bianca.


"Terima kasih Bianca tapi aku harus pergi untuk membereskan kekacauan yang dilakukan Arga semalam," balas Daffa.


"Ahhh begitu, baiklah kalau begitu terima kasih sudah mengantar Arga pulang," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Daffa.


Daffa kemudian meninggalkan rumah Arga. Sedangkan di kamarnya, Arga masih terdiam di tepi ranjangnya. Arga masih memikirkan apa yang baru saja Daffa katakan padanya.


"Bianca mengkhawatirkanku? apa aku sudah keterlaluan karena meninggalkannya di kantor begitu saja? padahal dia mendatangiku karena dia mengkhawatirkanku!"


Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya dan membasuh wajahnya di kamar mandi.


"Dia bahkan melepaskan sepatuku, kenapa dia jadi sangat perhatian padaku? tidak mungkin Bianca jatuh cinta padaku bukan?" tanya Arga pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Tidak, itu tidak mungkin, aku juga tidak boleh membiarkan hal itu terjadi, semuanya akan semakin rumit jika sampai hal itu terjadi," ucap Arga lalu mengeringkan wajahnya dengan handuk kemudian keluar dari kamar mandi.


"Lebih baik aku berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli dengan apa yang dia lakukan semalam," ucap Arga kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


Tepat saat Arga menuruni tangga, saat itu Bianca juga sedang menaiki tangga berniat untuk memanggil Arga.


"Aku baru saja akan memanggilmu," ucap Bianca.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Bibi sudah memasak sup ayam kesukaanmu, makanlah," jawab Bianca.


Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah meja makan dan menikmati satu mangkok sup ayam yang ada di meja makan.


"Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang? jika tidak bukankah sebaiknya kau tidak pergi ke kantor dulu?" tanya Bianca.


"Aku baik-baik saja, aku tetap harus pergi ke kantor karena ada masalah yang harus aku selesaikan," jawab Arga.


"Apa masalah itu yang membuatmu pergi ke bar dan membuat keributan disana?" tanya Bianca.


Arga terdiam untuk beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya pelan tanpa menatap Bianca. Ia sengaja berbohong karena ia tidak mungkin menceritakan tentang pertemuannya dengan Karina pada Bianca.


"Apa aku boleh tahu masalah apa yang sedang kau hadapi di kantor? mungkin aku tidak bisa menyelesaikan masalahmu tapi siapa tahu aku bisa memberikan sedikit sudut pandangku tentang masalahmu," tanya Bianca.


Arga terdiam untuk beberapa saat. Ia kemudian menceritakan pada Bianca tentang masalah yang ia hadapi di kantor, tentang klien pentingnya yang mengancam untuk tidak melanjutkan kontrak karena keinginan pribadinya yang ditolak oleh Arga.


"Jadi perempuan itu mengajakmu berlibur selama satu minggu agar dia mau menandatangani perpanjangan kontrak kalian?" tanya Bianca setelah ia mendengar semua penjelasan Arga.


Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan malas tanpa mengatakan apapun.


"Bisa-bisanya dia mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan, apa perusahaan itu miliknya sendiri atau masih menjadi milik orang tuanya?" tanya Bianca.


"Dia hanya CEO di perusahaan itu sama sepertiku, tetapi orang tuanya sangat mempercayakan perusahaan itu padanya," jawab Arga.


"Bagaimana jika kau mendatangi orang tuanya saja?" tanya Bianca.


"Orang tuanya sedang berada di luar negeri sekarang, jadi aku tidak bisa bertemu langsung dengan orang tuanya dan rasanya tidak etis jika membicarakan hal itu di telepon," jawab Arga.


"Apa dia satu-satunya klien yang sangat penting bagi perusahaanmu?" tanya Bianca.


"Bukan satu-satunya tapi dia salah satu yang terpenting, yang menyumbang keuntungan cukup besar bagi perusahaan, kehilangan perusahaannya sebagai partner perusahaanku pasti akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perusahaanku," jelas Arga.


"Tapi bukankah perusahaannya juga akan merugi jika memutus kontrak dengan perusahaanmu?" tanya Bianca.


"Jika dilihat dari presentasi perusahaannya tidak terlalu banyak menerima kerugian, sangat berbanding jauh dengan apa yang nanti terjadi pada perusahaanku," jawab Arga.


"Tapi perusahaan orang tuamu adalah perusahaan terbesar di negara ini Arga, pasti ada hal lain yang memberikan dampak negatif pada perusahaannya selain tentang kerugian yang sudah jelas kau ketahui itu," ucap Bianca


"Tapi itu bukanlah hal yang pasti Bianca, apa yang kau lihat dari luar belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi," balas Arga


Bianca terdiam untuk beberapa saat, berusaha memikirkan masalah Arga dari sudut pandang yang lain.

__ADS_1


"Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha mencari penggantinya, waktu satu minggu memang tidaklah mudah untuk mendapatkan perusahaan besar sepertinya jadi aku hanya bisa berharap pada perusahaan kecil karena setidaknya perusahaanku tidak akan merugi terlalu besar," ucap Arga.


"Sepertinya kau harus melakukan sesuatu yang bisa membuat orang tua perempuan itu segera pulang dan menemuimu," ucap Bianca.


"Melakukan sesuatu seperti apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.


"Bukankah kau bilang jika semua media di negara ini ada di bawah kekuasaanmu? bagaimana jika kau memanfaatkan hal itu?" balas Bianca.


"Kau bisa membuat berita yang menggiring opini tentang berakhirnya kontrak antara perusahaanmu dengan perusahaan perempuan itu, orang tua perempuan itu pasti akan melihat berita itu dan segera pulang untuk memastikan berita yang ramai di berbagai media," lanjut Bianca.


Arga terdiam untuk beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya pelan menyetujui ide brilian Bianca.


"Tapi bagaimana jika itu tidak berhasil? bagaimana jika ternyata orang tuanya mendukungnya?" tanya Arga pada Bianca.


"Kita harus punya plan B," jawab Bianca.


"Plan B seperti apa yang kau miliki?" tanya Arga.


"Mmmmm..... tidak ada cara lain selain yang kau jelaskan padaku tadi, tapi dalam waktu 1 minggu setidaknya kau harus bisa mendapatkan beberapa perusahaan agar kau bisa semakin menekan kerugian," jawab Bianca.


Arga menghela nafasnya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Setidaknya coba dulu untuk melakukan plan A kita, aku akan membantumu untuk menyebarkan berita itu, aku juga akan mencoba untuk mencari perusahaan yang sesuai untuk menggantikan perusahaan perempuan itu," ucap Bianca.


"Apa kau bisa melakukannya?" tanya Arga.


"Apa kau meragukanku?" balas Bianca bertanya.


Arga hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.


Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu menepuk pelan kepala Bianca.


"Kau memang sangat pintar!" ucap Arga kemudian berjalan meninggalkan Bianca begitu saja.


Setelah membereskan meja makannya bersama bibi, Bianca kemudian segera masuk ke kamarnya.


Bianca segera menulis artikel tentang apa yang sudah ia diskusikan dengan Arga beberapa saat yang lalu.


Beruntung Bianca memiliki banyak teman yang bisa membantunya. Hampir dari mereka semua memberikan Bianca daftar perusahaan yang kemungkinan bisa membantu perusahaan Arga.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang saat Bianca bersiap untuk keluar dari rumah. Bianca sudah membuat janji dengan beberapa pimpinan perusahaan yang sudah ia hubungi.


Biancapun mendatangi mereka satu persatu untuk menyampaikan maksud tujuannya. Meskipun perusahaan keluarga Arga adalah perusahaan besar namun tidak mudah mendapatkan perusahaan yang lebih kecil untuk bergabung dengan perusahaan Arga.


Banyak hal dan kendala yang membuat bergabungnya dua perusahaan tidak bisa berjalan dengan baik.


Meskipun begitu Bianca tidak menyerah, sampai matahari hampir tenggelam Bianca masih berada di luar rumah untuk mendatangi satu persatu pimpinan perusahaan yang sudah membuat janji dengannya.


"Ternyata ini bukan hal yang mudah, mereka membuat janji denganku tetapi mereka membatalkannya saat aku sudah berada disana, menyebalkan sekali," gerutu Bianca kesal saat ia sedang duduk di kursi yang ada di trotoar jalan raya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Bara yang membuat semangat Bianca kembali membuncah.


"Halo kak Bara selamat pag, disana sudah pagi bukan?" sapa Bianca sekaligus bertanya


"Iya aku sengaja menghubungimu pagi-pagi sebelum aku berangkat ke kampus," jawab Bara.


"Bagaimana keadaanmu Bianca?" lanjut Bara bertanya.


"Baik kak, tapi ada sesuatu yang membuat Bianca bingung," jawab Bianca.


"Ada apa Bianca? katakan padaku!"


Bianca kemudian menjelaskan pada Bara tentang masalah yang dihadapi Arga, tetapi tentu saja Bianca tidak mengatakan jika Arga adalah suaminya. Bianca hanya mengatakan jika masalah yang ia ceritakan itu tengah dihadapi oleh temannya.


Bianca juga menjelaskan betapa sulitnya ia untuk mendapatkan perusahaan yang bisa membantunya.


"Mungkin ada yang salah dengan proposal yang kau buat, jika boleh aku ingin memeriksanya," ucap Bara.


"Aku tidak mungkin memberikan proposal itu pada kak Bara karena pasti kak Bara akan tahu perusahaan siapa yang aku maksud," ucap Bianca dalam hati.

__ADS_1


"Jika kau tidak bisa memberikan proposal itu karena bersifat rahasia kau bisa menghilangkan nama perusahaannya, aku hanya ingin memeriksa isi proposalmu saja," ucap Bara yang seolah mengerti apa yang Bianca pikirkan.


"Aahhh iyaa kak, Bianca akan memberikannya pada kak Bara nanti," balas Bianca.


"Baiklah kalau begitu, aku harus ke kampus dulu, jaga dirimu baik-baik Bianca!"


Panggilan berakhir, Biancapun segera beranjak dari duduknya lalu memesan taksi yang akan mengantarnya pulang.


Saat Bianca baru saja sampai di rumah, saat itu juga Arga baru saja memarkirkan mobilnya di garasi.


"Kau baru pulang? dari mana?" tanya Arga pada Bianca.


Bianca kemudian memberitahu Arga apa saja yang dia lakukan hari itu.


"Kenapa kau melakukan hal itu Bianca? kau tidak sedang jatuh cinta padaku bukan? apa kau sudah menyiapkan uang 100 juta jika kau sungguh-sungguh jatuh cinta padaku?" tanya Arga yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.


"Jangan terlalu percaya diri, aku melakukan hal ini bukan untukmu tapi untuk perusahaan papa David dan mama Nadine, mereka sudah sangat baik padaku, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan mereka, jadi tidak ada salahnya bukan jika aku melakukan hal ini," balas Bianca.


"Hahaha..... baguslah kalau begitu, karena jika kau memberiku uang 100 jutapun aku tidak akan bisa membalas cintamu padaku hahaha...." ucap Arga yang membuat Bianca memutar kedua bola matanya lalu berjalan cepat meninggalkan Arga.


"Dia terlalu percaya diri, aku bahkan tidak pernah terpikirkan untuk jatuh cinta padanya," ucap Bianca lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya, membuka laptopnya lalu mengirimkan proposal yang sudah ia buat pada Bara, tak lupa dia menghapus nama perusahaan Arga agar Bara tidak mengetahuinya.


**


Malam yang panjang telah berlalu, pagipun datang. Bianca memeriksa ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Bara.


"Aku sudah memeriksa proposalmu, coba periksalah ada beberapa kesalahan yang aku revisi!"


Bianca kemudian membuka laptopnya dan benar saja, ia sudah mendapatkan proposal yang Bara revisi. Bianca kemudian mencetak proposal itu dan kembali membawanya untuk menemui beberapa pimpinan perusahaan yang sudah membuat janji dengannya hari itu.


Di sisi lain pagi-pagi sekali Daffa menghubungi Arga, memberitahu Arga jika orang tua klien mereka yang bermasalah ingin bertemu dengan Arga untuk membicarakan tentang berita yang sudah beredar di media.


Tanpa banyak berpikir Argapun mengiyakan pertemuan yang akan dilakukan nanti malam, tepat setelah kedua orang tua klien mereka baru saja mendarat di bandara.


"Sepertinya idemu berhasil Arga," ucap Daffa.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Masalah yang dihadapinya kini mulai menerima titik terang.


Waktupun berlalu jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam saat Arga dan Daffa sampai di restoran, tempat mereka akan bertemu orang tua klien mereka, pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan keluarga Arga.


Setelah pembicaraan yang cukup lama Argapun meninggalkan restoran itu bersama Daffa. Setelah mengantar Daffa pulang, Arga segera mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.


Saat Arga baru saja membuka pintu rumahnya, ia begitu terkejut saat mendapati Bianca yang tertidur di sofa ruang tamu.


Arga kemudian menghampiri Bianca, berniat untuk membangunkan Bianca. Namun belum sampai Arga menyentuhnya, Bianca sudah terbangun dari tidurnya.


"Arga, kau sudah pulang?" tanya Bianca yang segera beranjak dari tidurnya.


"Kenapa kau tidur disini? apa lampu kamarmu bermasalah lagi?" balas Arga bertanya.


"Tidak, aku memang sengaja menunggumu disini," jawab Bianca lalu mengambil beberapa map yang ada di meja dan memberikannya pada Arga.


"Ini adalah beberapa daftar perusahaan yang berpotensi untuk menjadi klien barumu, aku sudah mendatangi mereka semua dan mereka menerima proposal yang aku ajukan," ucap Bianca.


"Kau mendatangi mereka semua?" tanya Arga sambil membuka beberapa map di hadapannya.


"Iya, karena plan A belum tentu berhasil aku sudah mempersiapkan plan B, sekarang terserah padamu apa yang akan kau lakukan dengan beberapa perusahaan ini, tapi yang pasti mereka menunggu keputusan valid darimu," jawab Bianca sambil menguap.


"Bianca kau hebat sekali, kau melakukan semua ini bukan karena kau jatuh cinta padaku bukan?_ ucap Arga sekaligus bertanya yang membuat Bianca menghela nafasnya panjang.


"Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu, kau yang harus berhati-hati agar tidak jatuh cinta padaku karena kau tahu kehebatanku bukan?" balas Bianca sambil beranjak dari duduknya.


"Aku sangat mengantuk, aku tidur dulu," ucap Bianca sambil berjalan ke arah kamarnya dengan menguap.


Bianca segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang tanpa menutup pintu kamarnya karena terlalu mengantuk.


Arga yang berjalan mengikuti Bianca hanya tersenyum tipis melihat Bianca yang sudah terbaring di atas ranjang.


"Mungkin aku akan jatuh cinta padamu jika tidak ada Karina dalam hidupku sebelumnya," ucap Arga lalu menutup pintu kamar Bianca.

__ADS_1


__ADS_2