Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Di Dasar Jurang


__ADS_3

Di bawah langit malam dengan butiran salju yang turun, Arga masih berusaha untuk bisa menahan laju mobilnya yang semakin terperosok ke dalam jurang.


Hingga akhirnya laju mobil terhenti karena ada bagian mobil yang tersangkut pada batuan besar dan pohon.


Arga terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan saat itu. Arga kemudian membawa pandangannya pada Bianca yang masih terpejam saat itu.


"Aku harus tenang, aku hanya akan membuat Bianca semakin takut jika aku panik," ucap Arga dalam hati.


Arga kemudian meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.


"Tenangkan dirimu Bianca lalu buka matamu dengan perlahan," ucap Arga pada Bianca.


Namun bukannya membuka mata, Bianca justru menggelengkan kepalanya dengan semakin erat menggenggam tangan Arga.


"Ada aku disini Bianca, jangan takut," ucap Arga berusaha meyakinkan Bianca.


"Kita harus keluar dari mobil sekarang juga Bianca, jadi aku mohon buka matamu dan percayalah padaku!" lanjut Arga.


Bianca masih terpejam, ia terlalu takut untuk membuka matanya.


Arga kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Bianca, Arga melepaskan sabuk pengamannya lalu sedikit menggeser posisi duduknya.


Arga memegang wajah Bianca, membawa wajah Bianca menghadap ke arahnya.


"Buka matamu dan tatap mataku Bianca, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, seperti yang sudah pernah aku katakan padamu, aku akan selalu memberikan semua yang terbaik untukmu selama kau menjadi istriku, kau percaya padaku bukan? kau tau aku tidak pernah mengingkari janjiku bukan?"


Bianca menganggukkan kepalanya dengan pelan kemudian perlahan membuka kedua matanya.


"Tetap tatap mataku Bianca, aku akan selalu menjagamu," ucap Arga lalu melepas sabuk pengaman yang Bianca kenakan.


"Sekarang bergeserlah, mendekatlah padaku," ucap Arga.


Seperti terhipnotis oleh Arga, Biancapun hanya mengikuti perintah Arga. Hingga tiba-tiba mobil sedikit bergerak, membuat posisi mobil semakin miring.


"AAAAAAAA!!!!!!" teriak Bianca ketakutan.


"Tenang Bianca, bergeraklah dengan pelan, kita akan segera keluar dari sini," ucap Arga berusaha menenangkan Bianca.


"Aku takut Arga..... aku takut......" ucap Bianca yang enggan untuk menggerakkan tubuhnya.


"Tidak akan ada yang bisa menyakitimu selama ada aku disini, percaya padaku!" ucap Arga.


Dengan perlahan Arga membuka pintu mobilnya sambil menarik tangan Bianca agar menggeser posisi duduknya.


Arga melihat sebuah batu besar yang bisa ia jadikan pijakan di dekat mobilnya. Arga kemudian turun dari mobil, sedangkan Bianca kini duduk di balik kemudi.


"Turunlah dengan pelan, batu ini mungkin tidak akan bisa menahan beban yang lebih berat lagi," ucap Arga pada Bianca.


Dengan menggenggam tangan Arga, Bianca kemudian keluar dari mobil. Saat Bianca baru saja menginjakkan kaki pada batu besar itu, tiba-tiba batu itu bergeser, membuat mobil seketika meluncur jauh ke dalam jurang diikuti oleh batu besar yang Arga dan Bianca pijak.


Arga dengan cepat meraih akar pohon yang ada di dekatnya untuk ia jadikan sebagai pegangan, sedangkan satu tangannya yang lain menggenggam tangan Bianca yang hampir saja ikut meluncur bersama batu pijakan dan mobilnya.


"Argaaaa!!!!!" teriak Bianca ketakutan.


Bianca memang pernah meluncur ke bawah jurang saat ia diculik, namun kejadian itu berbeda dengan yang ia alami saat itu.


Hal yang paling membuat Bianca takut dan kehilangan keberaniannya adalah karena apa yang ia alami saat itu hampir sama dengan apa yang pernah ia alami saat ia masih kecil.


Keadaan yang gelap semakin membuat rasa takut Bianca memuncak. Kesedihan, ketakutan dan semua rasa yang menyakitkan seolah datang dengan bersamaan dan membuat Bianca semakin lemah.


"Tenangkan dirimu Bianca, kita akan baik-baik saja!" ucap Arga yang masih menahan tangan Bianca dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya yg lain berpegangan pada akar pohon.


"Sampai kapan kita akan seperti ini Arga?" tanya Bianca dengan suara bergetar.


"Bertahanlah Bianca," balas Arga tak pasti.


Arga sedang memikirkan hal lain yang bisa ia lakukan untuk meminimalisir kejadian buruk yang bisa saja terjadi pada mereka berdua. Terlebih saat Arga sudah merasakan sakit pada tangannya yang memegang akar pohon.


"Bianca, kau melihat akar pohon di dekatmu?" tanya Arga pada Bianca.


Bianca kemudian membawa pandangannya ke samping lalu menganggukkan kepalanya setelah ia melihat akar pohon yang Arga maksud.


"Apa kau bisa meraihnya?" tanya Arga.


"Kau tidak akan melepaskanku bukan?" balas Bianca bertanya.


"Tidak, cobalah untuk meraih akar pohon itu," jawab Arga.


Bianca kemudian berusaha untuk meraih akar pohon di dekatnya dan berhasil.

__ADS_1


"Aku akan turun dengan perlahan Bianca, kau bisa melepaskan tanganku sebentar," ucap Arga.


"Apa yang akan kau lakukan Arga?" tanya Bianca panik.


"Aku akan turun dengan berpegangan akar pohon ini Bianca, kita tidak bisa berada disini untuk menunggu bantuan, kita harus turun untuk mengambil ponselku di mobil," jelas Arga.


"Tapi ini sangat curam Arga," ucap Bianca.


"Bukankah kau pernah melakukan hal semacam ini?" tanya Arga dengan tersenyum.


"Aku..... aku pernah melakukannya, tapi.... tapi ini berbeda," jawab Bianca gugup.


"Bedanya adalah dulu kau sendirian dan sekarang kau bersamaku," ucap Arga.


"Lepaskan tanganmu Bianca, aku akan menghampirimu dan kita akan turun bersama," lanjut Arga.


Biancapun melepaskan satu tangannya yang menggenggam tangan Arga. kedua tangan Bianca kemudian berpegangan pada akar pohon, sedangkan Arga segera turun ke arah Bianca dengan bantuan akar pohon yang memanjang.


"Kita harus turun dengan menggunakan akar pohon ini Bianca, apa kau pernah melakukan rappelling sebelumnya?" ucap Arga sekaligus bertanya.


Bianca menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Bagus, sekarang kita harus turun dengan cara rappelling, apa kau siap?"


Bianca kembali menganggukkan kepalanya dengan menahan kuat-kuat pegangan tangannya pada akar pohon yang ia pegang.


"Aku akan turun terlebih dahulu, kau tetaplah berada di atasku dan turunlah dengan perlahan!" ucap Arga.


Setelah beberapa lama, Arga menghentikan langkahnya karena akar pohonnya sudah mencapai batas terakhirnya.


"Tetaplah fokus Bianca, ini akan menyenangkan!" ucap Arga kemudian melepaskan tangannya dari akar pohon lalu berguling sampai ke dasar jurang.


"Arga!!" panggil Bianca yang terkejut dengan apa yang Arga lakukan.


Di sisi lain, Arga yang sudah berada di bawah seketika memegang bagian samping perutnya yang terasa sakit.


Arga merasa tangannya basah dan terlihat darah segar yang kini membasahi tangannya yang baru saja memegang perutnya.


Arga kemudian segera mencari daun yang ada di sekitarnya untuk menghilangkan darah yang ada di tangannya karena tidak ingin Bianca khawatir jika melihat keadaannya saat itu.


"Bianca tidak boleh melihatku terluka!" ucap Arga sambil melepaskan syal yang dipakainya lalu melilitkannya di pinggang untuk menahan darahnya aga tidak semakin banyak yang keluar.


"Good job Bianca," ucap Arga sambil memeluk Bianca.


"Apa kau baik-baik saja Arga? apa kau terluka!" tanya Bianca mengkhawatirkan Arga.


"Aku baik-baik saja, kau yang terluka," jawab Arga yang melihat tangan Bianca terluka.


"Hanya sedikit tergores, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Arga?" tanya Bianca.


"Tunggulah disini, aku akan mencari ponselku di mobil," jawab Arga yang hendak berjalan pergi, namun ditahan oleh Bianca.


"Aku ikut," ucap Bianca.


"Terlalu berbahaya Bianca, tunggu saja disini, aku hanya sebentar," ucap Arga.


"Tapi...."


"Tunggu disini, aku akan segera kembali, aku janji," ucap Arga memotong ucapan Bianca kemudian berjalan ke arah mobilnya yang sudah tidak berbentuk.


Arga berusaha mencari ponselnya untuk beberapa lama hingga akhirnya ia menemukannya. Arga juga menemukan tas Bianca yang terjatuh tidak terlalu jauh dari mobilnya.


Arga kemudian segera kembali pada Bianca dengan membawa ponsel miliknya dan tas milik Bianca.


Saat Arga kembali, ia melihat Bianca yang meringkuk dengan menenggelamkan wajahnya pada kedua kakinya yang ditekuk.


Bianca yang memiliki trauma karena kejadian di masa lalunya membuatnya ketakutan, semua rasa takut dan sedih yang ia rasakan dulu kini kembali membayangi dirinya lagi.


Melihat hal itu, Argapun segera menghampiri Bianca dan meraih Bianca ke dalam dekapannya.


"Tenangkan dirimu Bianca, kau sudah melakukannya dengan baik, kita hanya perlu menunggu bantuan datang sekarang!" ucap Arga berusaha menenangkan Bianca.


Arga kemudian menyalakan flash light yang ada pada ponselnya kemudian mengarahkannya ke atas, berharap akan ada seseorang yang menyadari keberadaannya dan segera menolongnya.


"Bianca, bukankah kau ingin melihat salju? kau terlalu fokus dengan ketakutanmu sampai kau tidak sadar jika sudah ada salju di sekitarmu," ucap Arga pada Bianca.


Bianca kemudian mengangkat kepalanya dan melihat salju yang berjatuhan di sekitarnya.


Arga kemudian meraih tangan Bianca, membuka tangan Bianca lalu mengulurkannya ke arah dapan, membiarkan salju turun dan jatuh di atas telapak tangan Bianca.

__ADS_1


Bianca tersenyum tipis lalu membawa pandangannya pada Arga. Mereka berdua sangat dekat saat itu, benar-benar dekat.


"Ini adalah salju pertama dan disini adalah tempat salju pertama turun dalam tahun ini," ucap Arga dengan tersenyum pada Bianca.


"Terima kasih Arga," ucap Bianca dengan menatap kedua mata Arga.


"Untuk apa Bianca? justru seharusnya aku meminta maaf padamu karena membuatmu dalam posisi sulit seperti ini!"


Bianca menggelengkan kepalanya pelan dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ada sesuatu dalam dirinya yang melemahkan hatinya, sesuatu yang tidak ia mengerti yang membuatnya ingin menangis saat itu.


Menyadari hal itu, Argapun segera meraih Bianca dan membawa Bianca ke dalam dekapannya.


"Lupakan semua hal yang membuatmu bersedih dan takut Bianca, kau disini bersamaku, bersama salju yang sangat ingin kau lihat," ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca.


Entah kenapa Bianca hanya diam dalam dekapan Arga. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Semua rasa takut yang ia rasakan karena traumanya seperti perlahan membaur bersama hawa dingin yang terasa semakin menusuk tulang.


"Apa kau kedinginan?" tanya Arga yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Bianca, meski sebenarnya ia merasa kedinginan saat itu.


"Jaga dirimu agar tetap sadar Bianca, jangan tidur sampai bantuan datang," ucap Arga sambil memeluk Bianca semakin erat.


Waktu berlalu membawa malam semakin larut, Bianca dan Arga masih berada di dasar jurang dengan lampu yang menyala dari ponsel Arga dan Bianca.


Arga berusaha untuk terus mengobrol bersama Bianca meskipun Bianca hanya merespon ucapannya dengan anggukan atau gelengan kepala.


Karena salju yang turun tanpa henti, udara malam itu semakin terasa dingin. Pakaian merekapun sudah dipenuhi oleh salju di beberapa bagian.


Hingga tiba-tiba Bianca terdiam tak bergerak sedikitpun.


"Bianca, kau masih mendengarku bukan?" tanya Arga khawatir


Tak ada respon apapun dari Bianca. Arga kemudian melonggarkan pelukannya dan melihat Bianca yang terpejam dengan raut wajah yang tampak pucat.


"Bianca, bangunlah!" ucap Arga berusaha membangunkan Bianca.


"Bianca, kau tidak boleh tidur Bianca, bangunlah, sebentar lagi bantuan akan datang," ucap Arga yang masih belum mendapat respon apapun dari Bianca.


Bianca kemudian mengerjapkan matanya dan menatap Arga yang tampak khawatir padanya.


"Aku kedinginan," ucap Bianca dengan suara bergetar.


"Tunggu sebentar, aku akan melepas jaketku," ucap Arga sambil melepaskan pelukannya pada Bianca.


"Tapi bagaimana denganmu?" tanya Bianca.


"Aku tidak merasa dingin," jawab Arga berbohong lalu melepas jaket tebalnya dan mengenakannya pada Bianca.


Arga memang masih mengenakan jaket tebal, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya hangat.


"Kita hanya bisa saling menghangatkan sampai bantuan datang!" ucap Arga lalu kembali membawa Bianca ke dalam dekapannya.


"Bagaimana jika tidak ada yang menolong kita disini Arga? apa kita akan mati kedinginan disini?" tanya Bianca yang sudah merasa pesimis.


"Jangan berkata seperti itu Bianca, pasti akan ada yang datang menolong kita," balas Arga.


"Bagaimana jika kau menceritakan padaku tentang kehidupanmu bersama orang tuamu? ceritakan padaku apa saja yang membuatmu bahagia selama kau bersama orang tuamu!" ucap Arga, berusaha membuat Bianca tetap tersadar.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Bianca.


"Aku.... hanya ingin mengenalmu lebih jauh, sepertinya menyenangkan mendengarkan cerita tentang kebahagianmu!" jawab Arga.


"Orang tuaku adalah 2 manusia terbaik yang pernah aku temui," ucap Bianca memulai ceritanya dengan masih meringkuk dalam dekapan Arga.


"Mereka membesarkanku dengan sangat baik, aku tidak pernah kekurangan kasih sayang walaupun terkadang mama dan papa sibuk dengan pekerjaan mereka, mereka selalu bisa membagi waktu dengan baik," lanjut Bianca.


Bianca kemudian melanjutkan ceritanya dengan sesekali tersenyum mengingat kenangan indahnya bersama kedua orang tuanya.


Di sisi lain, mendengar Bianca yang terdengar kembali bersemangat membuat Arga lega. Baginya yang terpenting saat itu adalah mereka berdua tetap sadar dan bisa mengendalikan suasana hati mereka agar tidak panik.


Meskipun belum juga ada tanda-tanda bantuan yang datang, Bianca dan Arga masih saling berpelukan dengan mengobrol dan sesekali bercanda untuk menghilangkan ketakutan dan kepanikan mereka berdua.


Hingga tiba-tiba Arga merintih kesakitan sambil memegang bagian samping perutnya.


"Kenapa Arga? apa kau terluka?" tanya Bianca yang segera melepaskan dirinya dari dekapan Arga.


"Tidak, hanya sedikit kram," balas Arga sambil menarik Bianca untuk kembali ke dalam dekapannya.


Bianca hanya menurut, ia menenggelamkan dirinya dalam dekapan Arga sambil sesekali mengeluarkan tangannya, membiarkan salju terkumpul di atas telapak tangannya.

__ADS_1


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain salju," ucap Arga sambil meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.


__ADS_2