Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Liburan Lola dan Daffa


__ADS_3

Malam semakin larut, Bianca baru saja menyelesaikan artikel yang sedang dia kerjakan.


Bianca kemudian menutup laptopnya lalu membawa langkahnya ke arah sofa yang ada di dalam kamarnya dan berbaring disana.


Tanpa menunggu lama, Biancapun terlelap dalam tidurnya.


waktu berlalu, malam yang panjang telah berganti pagi. Arga mengerjapkan matanya pelan dan ia baru sadar jika ia tidak berada di kamarnya saat itu.


Argapun beranjak dari tidurnya dan melihat ke sekelilingnya.


"Kenapa aku tertidur disini?" batin Arga bertanya dalam hati lalu membawa pandangannya menatap gadis cantik yang sedang tertidur di atas sofa.


Arga tersenyum tipis lalu turun dari ranjang Bianca dan menghampiri Bianca yang masih terlelap saat itu.


Arga terdiam untuk beberapa saat, menatap Bianca yang masih lelap dalam tidurnya.


"Dia memang gadis yang cantik, dia juga sangat baik, Bara pasti sangat beruntung jika dia bisa memiliki Bianca," ucap Arga dalam hati.


Arga kemudian menyentuh pelan tangan Bianca, berniat untuk membangunkan Bianca namun Bianca sama sekali tidak bergerak karena terlalu nyenyak dengan tidurnya.


Arga kemudian memberanikan dirinya untuk membopong Bianca, memindahkan Bianca dari sofa ke atas ranjangnya lalu menutup tubuh Bianca dengan selimut.


Di atas ranjangnya, Bianca hanya menggeliat pelan dengan kedua matanya yang masih tertutup.


Melihat hal itu Argapun segera membawa langkahnya keluar dari kamar Bianca, membiarkan Bianca melanjutkan tidurnya.


Arga berjalan ke arah kamarnya untuk segera mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Sebelum Arga berangkat, Arga mengingatkan bibi agar tidak lupa mengingatkan Bianca untuk makan.


Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah untuk berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor ia segera fokus mengerjakan pekerjaannya di ruangannya.


Tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka dan Daffa masuk ke dalam ruangan Arga dengan membawa sebuah map dan memberikannya pada Arga.


"Tadi pagi tante Nadine menghubungiku," ucap Daffa pada Arga.


"Apa yang mama katakan padamu?" tanya Arga.


"Tante Nadine memintaku untuk memberitahumu agar kau menerima panggilan tante Nadine," jawab Daffa.


Arga hanya menghela nafasnya panjang lalu menandatangani berkas yang baru saja Daffa berikan padanya.


Arga memang sengaja tidak menerima panggilan sang Mama karena ia masih kesal dengan sikap sang Mama yang terus saja meminta agar Bianca melakukan program hamil.


Bagi Arga itu adalah hal yang paling mustahil ia lakukan, tetapi ia tidak mungkin mengatakannya pada sang mama dan itu semakin membuatnya kesal karena sang mama selalu saja membicarakan masalah itu padanya.


"Apapun masalahmu dengan tante Nadine sebaiknya kau bicarakan secara dewasa Arga, kau bukan anak kecil lagi yang harus selalu dimengerti oleh orang tuamu," ucap Daffa mengingatkan Arga.


"Apa yang harus aku bicarakan dengan Mama, berkali-kali mama memintaku dan Bianca untuk melakukan program hamil, kau tahu bukan jika hal itu tidak mungkin terjadi," balas Arga kesal.


"Program hamil? lalu apa yang kau katakan pada mamamu?" tanya Daffa.


"Aku sudah memberitahu Mama agar tidak ikut campur tentang masalah itu, tetapi Mama terus saja membicarakan hal itu dan itu sangat membuatku kesal," jawab Arga.


"Sebenarnya aku bisa memahami kenapa Tante Nadine melakukan hal itu, sebagai orang tua tante Nadine pasti ingin melihatmu segera memiliki momongan karena tante Nadine tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tanggamu yang sebenarnya," ucap Daffa.


"Walaupun yang menjadi istriku saat ini adalah Karina, aku tidak ingin terlalu terburu-buru Daffa, aku tidak siap jika cinta dan perhatian istriku akan terbagi," ucap Arga.


"Apa kau serius dengan ucapanmu itu? Jika kau masih berpikir seperti itu, itu artinya kau belum siap untuk menikah Arga," ucap Daffa yang terkejut mendengar ucapan Arga.


Arga menghela nafasnya kesal lalu menggeser map yang ada di hadapannya ke arah Daffa.


"Pergilah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ucap Arga lalu mengalihkan pandangannya pada komputer di hadapannya.


"Kau memang harus berpikir dengan dewasa dulu sebelum kau benar-benar menjalani pernikahan yang sebenarnya," ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.


"Aku tidak habis pikir dengan apa yang Arga pikirkan, tapi semoga saja Bianca bisa merubah pikiran Arga," ucap Daffa dalam hati lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Arga kemudian keluar dari ruangannya untuk menemui Daffa.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum klien kita datang lebih dulu!" ucap Arga pada Daffa.


"Kau benar, dia salah satu klien yang selalu tepat waktu dan akan sangat marah bahkan jika kita terlambat 1 menit sekalipun," balas Daffa sambil menyiapkan beberapa berkas yang harus dia bawa.


Arga dan Daffa kemudian meninggalkan kantor menuju ke salah satu restoran tempat mereka akan bertemu dengan klien mereka.

__ADS_1


Saat sudah berada di restoran, Arga memperhatikan seorang wanita yang tampak sibuk dengan anaknya yang masih kecil, sedangkan di dekatnya ada seorang laki-laki yang sudah bisa Arga terka jika dia adalah suami wanita tersebut.


"Lihatlah Daffa, wanita itu pasti terlalu memperhatikan anaknya sampai tidak memperhatikan suaminya," ucap Arga berbisik pada Daffa.


"Dari mana kau tahu? kau bahkan tidak mengenal mereka," tanya Daffa.


"Lihat saja suaminya, kemejanya bahkan terlihat tidak disetrika dengan baik, si istri pasti lebih mementingkan anaknya daripada suaminya," jawab Arga.


Daffa hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


"Aku harap kau tidak salah paham dengan pemikiranku yang sepertinya tidak sejalan denganmu, aku tidak ingin terburu-buru memiliki anak bukan karena aku tidak menyukai anak kecil, aku hanya tidak siap jika perempuan yang aku cintai mengabaikanku," ucap Arga.


"Tapi bukankah menyenangkan jika ada anak kecil dalam kehidupan rumah tanggamu? kau tahu bukan bagaimana menggemaskan dan lucunya tingkah anak kecil," tanya Daffa.


"Aku tahu karena aku sering menemui mereka di panti asuhan, tapi aku tidak ingin mereka hadir dalam pernikahanku, setidaknya sampai aku benar-benar siap untuk menerima kehadiran mereka," jawab Arga.


"Bagaimana jika istrimu menginginkannya?" tanya Daffa.


"Aku akan menjelaskan padanya bagaimana cara pandangku tentang hal itu dan aku harus meyakinkannya agar dia setuju dengan pemikiranku," jawab Arga.


"Kau memang egois," ucap Daffa dengan tersenyum tipis.


"Egois? apa maksudmu?" tanya Arga kesal.


"pernikahan itu antara kau dan istrimu, kau tidak bisa memaksanya untuk menyetujui semua pemikiranmu," jawab Daffa.


"Sudahlah, berhenti membicarakan hal itu, lagi pula aku belum memiliki istri yang benar-benar aku cintai saat ini, mungkin jika aku sangat mencintai istriku aku bisa merubah pemikiranku itu," ucap Arga.


Tak lama kemudian seseorang yang mereka tunggupun datang. Setelah cukup lama membahas tentang pekerjaan, merekapun menyudahi pertemuan mereka siang itu.


Setelah makan siang Arga dan Daffapun meninggalkan restoran lalu kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan mereka di kantor.


**


Waktu berlalu, tiba hari bagi Daffa untuk berlibur bersama Lola. Lola berencana untuk membuat konten liburannya bersama Daffa tetapi tanpa melibatkan Daffa di dalam videonya.


Lola sudah mengatakannya pada Daffa jika ia tidak ingin Daffa terlihat di dalam setiap konten yang akan ia unggah dan Daffapun menyetujuinya.


"Aku sangat bersemangat hari ini, rasanya sudah sangat lama aku tidak pergi berlibur," ucap Lola yang sudah duduk di samping Daffa.


"Kenapa tujuanmu yang pertama ingin ke daerah pegunungan?" tanya Daffa.


"Aku hanya ingin menghirup udara segar disana, udara kota rasanya sudah terlalu sesak di dadaku," jawab Lola.


"Baiklah kalau begitu, kau bisa mulai merekamnya dari sekarang untuk beberapa menit dan kita akan melanjutkannya saat kita sudah sampai di tujuan," ucap Daffa.


"Oke," balas Lola lalu mengeluarkan kamera milik Daffa yang dibawanya.


Lola kemudian menyorot jalanan yang ia lewati. Sesekali ia juga mengarahkan kamera ke arahnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daffa akhirnya sampai di tempat tujuannya. Setelah memarkirkan mobilnya, Daffa dan Lola kemudian berjalan ke arah perkebunan teh yang ada disana.


"Aku akan mulai merekamnya dari sekarang, kau bisa berjalan dan menikmati udara segar disini dan jangan terlalu menyadari keberadaan kamera," ucap Daffa yang dibalas anggukan kepala oleh Lola.


Setelah puas menjelajahi perkebunan teh yang ada disana, Lola dan Daffa kemudian berjalan ke arah aliran sungai yang begitu jernih.


Daffa mengambil beberapa video saat Lola sedang bermain air disana. Ia bisa melihat bagaimana Lola sangat bersemangat dan ceria saat itu.


Setelah menghabiskan waktu beberapa lama untuk bermain air, Lola dan Dafa kemudian berburu kuliner di daerah pegunungan itu.


Udara yang cukup dingin tidak membuat mereka ingin segera menghangatkan diri di dalam hotel, mereka bahkan tidak sadar jika malam sudah semakin larut saat mereka baru saja menghabiskan makan malam mereka.


Hampir semua hal yang dilakukan Lola tidak luput dari kamera yang Daffa bawa, mulai dari saat mereka datang sampai mereka menikmati beberapa kuliner yang ada disana.


"Daffa, ini sudah sangat malam, apa tidak sebaiknya kita menyudahinya untuk hari ini?" ucap Lola sekaligus bertanya pada Daffa.


"Astaga.... sepertinya aku melupakan sesuatu!" ucap Daffa tanpa menjawab pertanyaan Lola setelah ia menyadari hal penting yang ia lupakan.


"Apa yang kau lupakan Daffa?" tanya Lola.


"Aku lupa belum memesan hotel," jawab Daffa dengan memamerkan deretan giginya.


"Ooohh hanya itu? bukankah kita bisa memesannya secara mendadak? lagi pula ini bukan musim libur jadi sepertinya akan ada banyak kamar kosong di hotel," ucap Lola santai.

__ADS_1


"Tapi masalahnya hanya ada satu atau dua hotel dan penginapan kecil yang ada di daerah ini," balas Daffa.


Lolapun hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia berharap jika ia akan bisa bermalam dengan tenang malam itu.


Daffa kemudian mengendarai mobilnya ke arah salah satu hotel yang ada disana namun sudah tidak ada kamar yang tersedia.


Pihak hotel itu menyarankan agar Daffa dan Lola menginap di salah satu penginapan yang ada di dekat hotel.


Namun saat Daffa dan Lola sampai di penginapan itu mereka ragu untuk masuk ke dalam.


"Apa kau yakin kita akan menginap disini Daffa?" tanya Lola ragu saat ia melihat seperti apa penginapan yang akan mereka tempati untuk bermalam.


"Kita coba saja," jawab Daffa.


Namun baru saja Daffa memasuki lobby kecil yang ada di penginapan itu, ia begitu terkejut saat melihat beberapa ekor tikus yang tampak berlarian disana.


Daffapun segera meraih tangan Lola dan membawanya lari dari tempat itu.


"Di lobby ada beberapa tikus, bagaimana dengan tempat lainnya? penginapan ini benar-benar mengerikan!" ucap Daffa kesal lalu mengendarai mobilnya pergi dari penginapan itu.


"Hanya ada satu hotel lagi, semoga masih ada kamar kosong disana," ucap Daffa yang dibalas anggukan kepala oleh Lola.


Sesampainya disana ternyata hanya ada satu kamar yang tersisa. Setelah berpikir dan berdiskusi untuk beberapa lama akhirnya Daffa dan Lolapun memutuskan untuk mengambil kamar itu.


Setelah mendapatkan kunci kamar, Daffa dan Lola segera membawa langkah mereka untuk memasuki kamar yang akan mereka tempati malam itu.


"Sepertinya tidur dalam satu kamar lebih baik daripada tidur bersama tikus, benar begitu bukan?" ucap Daffa yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum tipis oleh Lola.


"Tapi hanya ada satu ranjang disini, aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu," ucap Lola.


"Aku akan tidur di bawah," balas Daffa.


"Apa kau yakin?" tanya Lola.


"Tidak ada pilihan lain bukan?" balas Daffa.


Lola hanya diam tanpa mengatakan apapun atau bahkan menganggukkan kepalanya. Setelah mereka bergantian untuk mandi dan berganti pakaian, mereka kemudian bersiap untuk tidur karena hari sudah sangat malam.


Lola yang sudah terbaring di atas ranjang diam-diam membawa ekor matanya untuk melihat Daffa yang tidur di lantai.


Dalam hatinya ia tidak tega melihat Daffa saat itu, namun ia ragu untuk membiarkan Daffa tidur di ranjang bersamanya.


Menit-menit berlalu, jampun sudah berganti namun Lola belum juga terpejam, ia gelisah melihat Daffa yang tertidur di lantai malam itu.


Lola menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia turun dari ranjang untuk menghampiri Dafa.


"Daffa bangunlah!" ucap Lola sambil menyentuh pelan tangan Daffa.


"Lola, ada apa? kenapa kau terbangun?" tanya Daffa yang terkejut saat melihat Lola yang duduk di sampingnya.


"Aku bahkan belum tidur sama sekali," batin Lola dalam hati.


"Tidurlah di ranjang," ucap Lola.


"Tidak perlu, aku bisa tidur disini, asal kau tahu aku bisa tidur dimanapun dengan mudah," balas Daffa.


"Kita masih punya waktu satu hari untuk berlibur, jika kau sakit liburan kita di hari kedua akan gagal," ucap Lola.


"Itu tidak akan terjadi, sekarang lanjutkan tidurmu di atas ranjang," balas Daffa.


"Tapi....."


Lola menghentikan ucapannya saat Daffa beranjak lalu memegang kedua bahu Lola dan membawa Lola berdiri untuk duduk di tepi ranjang.


"Sekarang tidurlah dan jangan memikirkan apapun, aku tidak masalah jika aku harus tidur di lantai bahkan untuk 2 hari," ucap Daffa berusaha meyakinkan Lola.


"Tapi Daffa....."


"Lola.... kau akan membuatku semakin jatuh cinta padamu jika kau mengkhawatirkanku seperti ini!" ucap Dafa memotong ucapan Lola.


Mendengar apa yang Daffa katakan, Lola hanya menghela nafasnya kesal lalu segera membaringkan badannya di atas ranjang.


Melihat hal itu, Daffa hanya tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan tidurnya di lantai.

__ADS_1


__ADS_2