
Arga yang masih dipenuhi emosi mendorong Daffa agar menjauh darinya.
"Carikan aku penerbangan ke Singapura secepatnya Daffa, aku harus membawa Bianca pergi dari rumah sakit sialan ini!" ucap Arga pada Daffa.
"Kau tidak boleh membawa Bianca pergi Arga, bukankah dokter sudah menjelaskannya padamu?" balas Daffa.
"Itu hanya alasan dokter yang tidak bisa menyembuhkan Bianca, jika kau tidak mau membantuku aku akan melakukannya sendiri!" ucap Arga yang segera mengambil ponsel di sakunya.
Melihat apa yang Arga lakukan, Lola segera beranjak dari duduknya dan mendaratkan tamparan keras di pipi Arga.
PLAAAAAKKKK
"Apa kau bodoh? apa kau mau membunuh Bianca?" tanya Lola penuh emosi.
"Justru aku ingin yang terbaik untuk Bianca, Lola!" balas Arga.
"Apa yang kau lakukan itu membahayakan nyawanya Arga, membawanya pergi dari sini hanya akan membuatnya menemui kematian lebih cepat!" ucap Lola.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang? aku tidak mungkin diam saja menunggu Bianca seperti ini, kau dengar sendiri bukan? dokter bahkan tidak tau apa yang akan terjadi pada Bianca, entah dia akan sadar atau dia akan......"
Arga menghentikan ucapannya, sangat berat baginya untuk mengatakan hal terburuk yang mungkin terjadi pada Bianca.
"AAARGGGHHHHH!!!!" teriak Arga sambil meninju dinding di dekatnya.
"Tenanglah Arga, aku tau kau mengkhawatirkan Bianca, tapi apa yang Lola katakan benar, lebih baik ikuti apa yang dokter katakan, percayakan Bianca pada dokter yang akan berusaha menyembuhkannya," ucap Daffa yang berusaha menjauhkan Arga dari dinding.
"Tapi kau dengar apa yang dokter katakan bukan? dokter tidak bisa menjamin apapun Daffa, bagaimana mungkin aku hanya diam membiarkan Bianca terbaring tanpa kepastian dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi!"
"Kau percaya keajaiban Arga? hanya itulah yang akan menyelamatkan Bianca, kau hanya perlu berdoa agar Tuhan memberi waktu Bianca untuk menikmati hidupnya lebih lama," balas Daffa.
"Kau sudah merampas hidupnya Arga, kau sudah merampas kebebasan dan kebahagiaan Bianca, jika pada akhirnya Bianca menyerah, kaulah orang yang paling bersalah, hanya kau yang pantas disalahkan atas apa yang terjadi pada Bianca!" ucap Lola dengan penuh penekanan.
Arga hanya diam, emosi yang memuncak dalam dirinya kini berubah menjadi rasa takut yang semakin menyesakkan dadanya.
Terlebih setelah ia mendengar apa yang Lola katakan padanya, ia seolah semakin jatuh ke dasar jurang yang dalam dan gelap.
Hanya ada rasa gelisah dan sakit yang memenuhi dirinya saat itu.
Tak lama kemudian mama dan papa Arga datang. Mereka segera menemui dokter untuk mendengar penjelasan dokter secara langsung.
Sama seperti Arga, Nadinepun sempat berpikir untuk membawa Bianca pergi ke rumah sakit yang ada di luar negeri, namun dokter melarang karena itu hanya akan membahayakan nyawa Bianca.
"Sekarang pasien berada di ruang ICU dan kami akan tetap mengusahakan yang terbaik untuk pasien," ucap dokter di akhir penjelasannya.
Mama dan papa Arga kemudian meninggalkan ruangan dokter dengan rasa sedih yang menyesakkan hati, terlebih setelah dokter memberi tahu jika akan ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika Bianca terlalu lama dalam keadaan koma.
"Arga pasti sangat terpukul dengan hal ini ma, jadi mama harus terlihat lebih tegar di depan Arga!" ucap David pada sang istri.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Meskipun Bianca hanya menantu baginya, tapi ia benar-benar sangat menyayangi Bianca seperti anaknya sendiri.
Waktu berlalu dengan sangat lambat bagi Arga. Sejak kedatangan orang tuanya, Daffa dan Lola meninggalkan rumah sakit karena mereka harus tetap menjalankan tanggung jawab mereka di tempat kerja.
Sedangkan orang tua Arga hanya duduk di depan ruang ICU, membiarkan Arga berada di dalam ruangan untuk menemani Bianca.
Di dalam ruang ICU, Arga hanya diam menatap Bianca dengan rasa bersalah yang meninggalkan sesak dalam dadanya.
"Maafkan aku Bianca, aku menyesal karena tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi aku sama sekali tidak menyesal karena sudah bertemu dan mengenalmu," ucap Arga dalam hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sakit yang begitu dalam di hatinya, bahkan rasa sakit itu begitu melemahkannya melebihi rasa sakit yang ia rasakan saat Karina meninggalkannya.
"Bangunlah Bianca, kau masih memiliki waktu lebih dari satu tahun untuk menjadi istriku, kau harus bangun dan menunjukkan pada semua orang bahwa kita adalah keluarga yang bahagia," ucap Arga dengan suara bergetar, menahan sesak di dadanya.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membaringkan kepalanya di tepi ranjang Bianca.
Arga memejamkan matanya dan tiba-tiba memorinya mengulas kembali mimpi Arga, seolah ia benar-benar mendengar suara Bianca saat itu.
__ADS_1
"Apa karena kau mencintaiku?"
Arga seketika membuka matanya dan menegakkan kepalanya lalu menatap Bianca yang terbaring di hadapannya.
"Tidak, aku.... aku hanya merasa bersalah karena sudah membuatmu seperti ini,"
Arga menggelengkan kepalanya pelan saat ia mengingat jawaban apa yang ia berikan pada Bianca dalam mimpinya.
Seketika Arga menggenggam tangan Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Tidak Bianca, apa yang aku lakukan bukan karena aku merasa bersalah, aku takut kehilanganmu Bianca, aku benar-benar takut kau akan pergi dariku, jadi aku mohon bangunlah Bianca, aku mohon......"
Tetes air mata terjatuh membasahi pipi Arga. Hatinya yang terasa sakit semakin teriris perih saat ia menyadari bagaimana perasaannya pada Bianca yang sebenarnya.
Daffa benar, waktu telah menumbuhkan cinta dalam hati Arga, menyembuhkan luka yang pernah ada karena masa lalunya.
"Aku.... mencintaimu Bianca," ucap Arga dengan rasa sesak yang semakin melemahkannya.
Arga terisak di dalam ruangan Bianca, bukan karena cinta yang kini ada dalam hatinya, tapi karena ia terlambat menyadari cinta yang sudah tumbuh di hatinya.
Cukup lama Arga menumpahkan air matanya dengan menggenggam tangan Bianca.
"Bangunlah Bianca, marahlah padaku karena aku menggenggam tanganmu seperti ini, pukul aku dan lakukan apapun yang kau mau, aku tidak peduli asalkan kau bangun dan kembali padaku," ucap Arga yang berkali-kali menyeka air matanya sendiri.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik, aku minta maaf karena sudah merampas kebebasan dan kebahagiaanmu dengan kontrak kesepakatan bodoh itu, aku minta maaf," ucap Arga lalu memberikan kecupan singkatnya di tangan Bianca yang ia genggam.
Cinta bisa datang tanpa permisi, namun ia juga bisa pergi tanpa aba. Seperti yang terjadi pada Arga saat itu.
Di masa lalunya, ia begitu mencintai Karina, membuatnya tanpa sadar mengikuti ambisi yang ada pada dirinya untuk membuat Karina kembali padanya.
Namun kedatangan Bianca perlahan menyembuhkan luka di hati Arga, menyadarkan Arga jika cinta di hatinya untuk Karina telah tiada.
Cinta telah memilih tempat yang tepat, namun datang di waktu yang tidak tepat.
**
Selama Bianca berada di ruang ICU, Arga sama sekali tidak pernah meninggalkannya sedetikpun.
Meskipun orang tuanya, Daffa dan Lola sering bergantian datang, namun Arga tetap ada disana dan menolak untuk pulang.
Setiap hari Arga akan menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan Bianca, meskipun Bianca hanya terbaring tanpa kesadaran.
Selama tiga hari itu juga Arga berusaha untuk menerima apa yang terjadi pada Bianca. Meskipun sangat berat baginya, tapi ia sudah lebih bisa mengendalikan dirinya.
Bagi Arga, Bianca hanya tertidur. Gadis cantik yang terbaring dengan alat penunjang hidup itu adalah putri tidur yang menunggu takdir membangunkannya dari tidur panjangnya.
Satu minggupun berlalu dan belum ada kepastian apapun dari keadaan Bianca saat itu.
Pagi itu Daffa datang bersama Lola. Lola meminta izin pada Arga agar ia bisa menemui Bianca di ruangannya.
Argapun mengizinkannya.
"Aku akan menunggumu di luar Bee, cepatlah bangun dan panggil aku," ucap Arga dengan membelai pelan rambut Bianca lalu keluar dari ruangan Bianca.
"Jangan terlalu lama, dia harus beristirahat," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Lola.
Lolapun masuk ke ruangan Bianca, sedangkan Arga duduk di kursi tunggu bersama Daffa.
"Sampai kapan kau akan disini Arga?" tanya Daffa pada Arga yang duduk di sampingnya.
"Sampai Bianca bangun," jawab Arga dengan pandangan kosong.
"Besok ada meeting penting, hanya kau yang bisa mendatanginya," ucap Daffa.
"Aku tidak peduli pada apapun selain Bianca, Daffa!" balas Arga.
__ADS_1
"Tapi ini menyangkut masa depan perusahaan Arga, kau jangan egois!" ucap Daffa.
"Egois? jadi selama ini kau berpikir aku egois? kau bahkan tidak tau apa-apa Daffa!"
"Disini sudah banyak suster dan dokter yang memantau keadaan Bianca, ada mama dan papamu yang akan sering menjenguk Bianca, kau juga harus ingat tanggung jawabmu sebagai CEO di perusahaan!" ucap Daffa.
"Persetan dengan perusahaan Daffa, aku sama sekali tidak peduli, jika memang aku harus melepaskan jabatanku sebagai CEO di perusahaan papapun aku tidak peduli!" balas Arga.
"Dimana Arga yang sangat profesional itu? dimana Arga yang selalu mementingkan tanggung jawabnya pada pekerjaan? dimana....."
"Aku tau apa yang harus aku prioritaskan Daffa dan saat ini aku satu-satunya prioritasku hanya Bianca, aku tidak peduli bahkan jika aku kehilangan semua yang aku miliki asalkan aku tidak kehilangan Bianca!" ucap Arga memotong ucapan Daffa.
"Apa kau serius dengan yang baru saja kau ucapkan, Arga? kau seperti bukan Arga yang selama ini aku kenal!"
Arga menghela nafasnya lalu menyadarkan kepalanya di dinding.
"Aku mencintainya Daffa, aku benar-benar mencintainya, aku takut dia meninggalkanku saat aku baru menyadari jika aku mencintainya, aku tidak peduli jika aku akan kehilangan semua yang aku miliki saat ini asalkan aku tidak kehilangan Bianca," ucap Arga dengan suara bergetar dan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Arga, kau....."
"Aku tau aku sangat bodoh karena baru menyadari hal ini, aku terlalu berambisi pada masa laluku yang membuatku tidak sadar jika sebenarnya aku sudah jatuh cinta padanya," ucap Arga memotong ucapan Daffa.
"Sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menjaganya tetap bersamaku Daffa, tidak ada yang bisa aku lakukan agar dia tidak meninggalkanku, aku hanya bisa menunggunya, menemaninya sampai aku tau kemana takdir akan membawa cinta yang bahkan belum sempat aku sampaikan padanya," lanjut Arga.
Seketika Daffa terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana Arga mengabaikan segala hal hanya demi satu perempuan dan perempuan itu adalah Bianca.
Arga yang selama ini selalu mengutamakan tanggung jawab dan pekerjaannya, kini tidak memperdulikan apapun selain perempuan yang dicintainya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan alat penunjang hidup di tubuhnya.
"Baiklah, aku mengerti, aku akan mendiskusikan masalah perusahaan dengan om David, kau tidak perlu memikirkan apapun dan fokus saja pada Bianca," ucap Daffa sambil menepuk pelan bahu Arga.
"Terima kasih Daffa," balas Arga dengan berusaha menahan genangan air di kedua matanya.
Di sisi lain, Lola yang akan keluar dari ruangan Bianca tidak sengaja mendengar apa yang Arga katakan pada Daffa.
Meskipun pada awalnya ia menyalahkan Arga atas apa yang sudah terjadi pada Bianca, namun sekarang ia bisa melihat bagaimana Arga begitu mencintai Bianca.
Saat Lola melihat Daffa pergi, Lola kemudian keluar dari ruangan Bianca dan duduk di samping Arga.
Menyadari lola yang sudah keluar, Argapun segera beranjak, berniat untuk masuk ke ruangan Bianca.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Lola yang membuat Arga menghentikan langkahnya.
Lola kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Arga.
"Aku sudah mendengar semuanya," ucap Lola.
"Apa maksudmu?" tanya Arga.
"Apa yang kau bicarakan pada Daffa, aku sudah mendengarnya, tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu," jawab Lola.
"Apa kau sungguh mencintainya? atau kau hanya merasa bersalah padanya?" lanjut Lola bertanya.
"Aku tau aku bukan laki-laki baik di matamu, tapi sejak aku bertemu Bianca, aku tidak pernah berniat buruk padanya, terlepas dari bagaimana hubungan kita yang sebenarnya, tapi aku tetap berusaha memperlakukannya dengan baik sejauh yang aku bisa," jawab Arga.
"Dan jika kau berpikir apa yang aku rasakan hanyalah karena rasa bersalah, kau salah Lola, aku sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah membawa Bianca dalam hidupku dan apa yang terjadi padanya saat ini aku anggap sebagai takdir yang sedang menghukumku karena untuk pertama kalinya aku merasakan cinta dan luka dengan bersamaan," lanjut Arga.
"Aku hanya ingin memastikan karena aku tidak ingin Bianca terluka, apa lagi karenamu!" ucap Lola.
"Aku mengerti bagaimana kau mengkhawatirkan Bianca, aku juga tidak memaksamu untuk percaya padaku karena aku tidak peduli hal itu, bagiku yang terpenting hanyalah keberadaan Bianca di sampingku dan aku akan membuktikan padanya bagaimana aku sangat mencintainya," balas Arga.
Lola hanya diam tanpa mengatakan apapun, sedangkan Arga segera membawa langkahnya masuk ke ruangan Bianca.
"Cepatlah bangun Bianca, lihatlah laki-laki bodoh yang mencintaimu ini, dia bahkan rela kehilangan apapun miliknya asalkan dia tidak kehilanganmu," ucap Lola dalam hati sambil menatap Bianca dari celah pintu kaca.
"Dimana Arga?" tanya Daffa yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Sudah masuk," jawab Lola.
"Aku harus mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan itu dan aku akan pastikan jika dia akan menyesali apa yang sudah dia lakukan!" ucap Daffa sambil membawa pandangannya menatap pintu ruangan Bianca.