
Efek dari minuman yang Bianca minum membuat Bianca tidak bisa mengendalikan dirinya saat itu. Tanpa sadar ia berjalan semakin menjauh dari posisi Pak Dodi menunggunya.
Orang suruhan Arga yang sengaja mengikuti Biancapun segera mencari keberadaan Pak Dodi untuk memberitahu Pak Dodi jika Bianca sudah meninggalkan pesta.
Namun sampai beberapa lama mencari mereka tidak juga menemukan Pak Dodi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? tidak mungkin kita membawanya masuk ke dalam mobil bukan?" tanya salah satu dari mereka pada temannya yang lain.
"Tidak mungkin, bos sudah melarang kita untuk menyentuhnya, lebih baik kita menghubungi bos saja," jawab temannya yang lain kemudian segera menghubungi Arga.
Arga yang saat itu masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor segera meninggalkan meja kerjanya saat ia mendapat laporan jika Bianca sudah meninggalkan pesta dengan keadaan mabuk tanpa ada siapapun bersamanya.
Setelah Arga mendapatkan lokasi Bianca, Argapun segera mengendarai mobilnya meninggalkan kantor menuju ke tempat Bianca.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di daerah pesisir pantai. Arga memperlambat laju mobilnya dan mendapati Bianca yang tampak terduduk di trotoar jalan raya dengan menundukkan kepalanya.
Argapun segera keluar dari mobilnya lalu menghampiri Bianca.
"Bianca," panggil Arga.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Biancapun segera mengangkat kepalanya dan mendapati seorang laki-laki yang tengah berjongkok di hadapannya.
"Oohhh.... bukan kak Bara rupanya," ucap Bianca lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Kau mabuk Bianca?" tanya Arga sambil berusaha membuat Bianca duduk dengan tegak.
"Tidak, mereka memberikan minuman yang rasanya sangat aneh dan aku tidak menyukainya," jawab Bianca dengan kedua mata yang sudah tampak layu.
"Kenapa kau meminumnya Bianca, kau....."
"Sssstttt..... diamlah!" ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Arga.
"Bisakah kau membawa kak Bara padaku? aku benar-benar bingung sekarang, aku sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang dia maksud, tetapi aku takut jika apa yang aku pikirkan itu salah!"
"Apa yang kau bicarakan Bianca, ayo berdirilah!" ucap Arga sambil berusaha membantu Bianca untuk berdiri namun Bianca menolak dengan mendorong tubuh Arga.
"Bukankah seharusnya aku bahagia sekarang? tapi kenapa rasanya sangat aneh, sepertinya aku tidak benar-benar bahagia, kenapa? padahal aku mencintainya," tanya Bianca dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Apa ini tentang Bara?" tanya Arga.
Bianca menganggukkan kepalanya pelan lalu mendongakkan kepalanya dan menghapus air mata yang sudah memenuhi kedua matanya.
"Aku tidak boleh bersedih, aku tidak boleh menangis," ucap Bianca lalu segera beranjak dari duduknya, namun ia tidak bisa menjaga keseimbangannya dengan baik, membuatnya hampir saja terjatuh jika Arga tidak segera menahannya.
"Kenapa aku harus bertemu denganmu? kenapa semua ini harus terjadi padaku? apa aku pernah melakukan kesalahan di masa lalu?" tanya Bianca dengan menatap kedua mata Arga.
"Ini adalah bagian dari takdir yang harus kau jalani Bianca, tidak perlu ada pertanyaan kenapa hal ini terjadi, kau hanya harus menjalani apa yang sudah digariskan padamu," ucap Arga yang juga menatap kedua mata Bianca.
"Kau..... kenapa kau bisa sangat tampan seperti ini? apa benar kau suamiku?" tanya Bianca yang membuat Arga tersenyum.
"Iya aku suamimu, sekarang kau harus pulang denganku," jawab Arga lalu membawa Bianca masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kau akan menculikku?" tanya Bianca sebelum ia masuk ke dalam mobil Arga.
"Tentu saja tidak, aku akan membawamu kembali pulang ke rumah kita," jawab Arga sambil sedikit mendorong Bianca agar masuk ke dalam mobil.
Arga kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya bersama Bianca yang duduk di sampingnya dengan keadaan mabuk.
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku jatuh cinta padamu?" tanya Bianca yang membuat Arga begitu terkejut, membuat Arga tiba-tiba menginjak pedal remnya dengan kuat.
Bianca yang terkejut dengan apa yang Arga lakukan membuatnya hampir saja terpental ke depan jika ia tidak mengenakan sabuk pengaman saat itu dan hal itu membuat perutnya tiba-tiba terasa mual.
"Aaargghh perutku mual," ucap Bianca sambil memegang perutnya yang terasa mual.
"Tahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah," ucap Arga lalu kembali menginjak pedal gasnya.
Beruntung saat Arga tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan raya tidak ada mobil lain di belakangnya yang bisa jadi akan menabrak mobilnya jika ia tiba-tiba menghentikan mobilnya seperti itu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan akhirnya merekapun sampai di rumah. Arga segera membuka pintu mobilnya untuk Bianca lalu membantu Bianca untuk keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Bianca yang sudah mual dari tadi seketika mengeluarkan seluruh isi perutnya tepat dihadapan Arga.
"Aaarrghh Bianca...." ucap Arga yang melihat pakaiannya kotor karena ulah Bianca.
Bianca kemudian berjalan pergi begitu saja meninggalkan Arga. Karena langkahnya yang lemah, Bianca beberapa kali hampir saja terjatuh.
Arga yang melihat hal itu hanya menghela nafasnya panjang lalu melepas jasnya yang kotor kemudian segera berlari kecil mengikuti Bianca, membantu Bianca untuk berjalan masuk ke kamarnya.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga diri dengan baik Bianca? jika tahu seperti ini aku tidak akan mengizinkan untuk mengikuti pesta seperti itu!" ucap Arga sambil melepaskan sepatu Bianca saat Bianca sudah berbaring di atas ranjang.
"Kau mau kemana?" tanya Bianca pada Arga yang akan keluar dari kamar Bianca.
"Aku akan meminta bibi untuk mengganti pakaianmu," jawab Arga.
"Tidak bisakah kau disini saja? tidak bisakah kamu menemaniku kali ini saja? sepertinya aku sedang tidak baik-baik saja," tanya Bianca dengan mengulurkan kedua tangannya pada Arga.
Arga tersenyum tipis lalu membawa langkahnya mendekati Bianca, menggenggam kedua tangan Bianca lalu duduk di tepi ranjang Bianca.
"Tidurlah, kau akan menyesal jika kau mengingat apa yang kau lakukan malam ini," ucap Arga pada Bianca.
"Apa kau tidak mencintaiku Arga? apa kau tidak pernah sedikit saja menyukaiku?" tanya Bianca yang membuat Arga seketika terdiam.
Arga segera melepaskan kedua tangan Bianca dari genggamannya lalu mengalihkan pandangannya dari Bianca.
Pertanyaan Bianca benar-benar membuatnya terkejut dan salah tingkah.
"Cepatlah tidur, kau benar-benar sangat mabuk sekarang!" ucap Arga lalu beranjak dari tepi ranjang Bianca dan berjalan keluar dari kamar Bianca.
Bianca hanya menghela nafasnya panjang lalu memeluk guling yang ada di sampingnya.
"Apa aku masih mencintai kak Bara seperti dulu? apa aku masih mengharapkan kak Bara? atau aku sudah jatuh cinta pada Arga? aku tidak tahu bagaimana hatiku sebenarnya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan, menyedihkan sekali!"
Tak lama setelah Bianca terpejam, bibi masuk ke kamar Bianca untuk mengganti pakaian Bianca sesuai dengan perintah Arga.
**
Hari telah berganti, Bianca mengerjapkan matanya saat cahaya matahari terasa menyilaukan matanya yang masih terpejam.
"Arga, apa yang kau lakukan disini?" tanya Bianca sambil menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya.
"Apa kau tahu jam berapa sekarang?" balas Arga bertanya yang membuat Bianca segera membawa pandangannya ke arah jam dinding di kamarnya.
"Astaga ini sudah sangat siang," ucap Bianca yang begitu terkejut saat melihat jam dindingnya sudah menunjuk ke arah pukul 10.00 siang.
"Bangunlah, kau harus makan sebelum perutmu sakit," ucap Arga lalu berjalan keluar dari kamar Bianca.
Bianca seketika beranjak dari tidurnya, namun saat ia akan berdiri ia merasa kepalanya begitu pusing.
"Kepalaku pusing sekali," ucap Bianca sambil memijat kepalanya lalu beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi dengan langkahnya yang pelan.
Setelah Bianca selesai mandi ia segera berganti pakaian lalu menyisir rambutnya di depan cermin besar yang ada di kamarnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, Bianca segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja setelah ia mengikat rambutnya. Sebuah pesan masuk dari Lola.
"Bagaimana keadaanmu Bianca? apa kau baik-baik saja aja?"
Bianca mengernyitkan keningnya saat ia membaca pesan masuk dari Lola, ia tidak mengerti kenapa Lola tiba-tiba menanyakan keadaannya seolah baru saja terjadi sesuatu padanya.
"Kenapa dia bertanya seperti itu padaku?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
"Aahh entahlah, aku akan membalasnya nanti, aku harus segera makan sebelum perutku sakit," ucap Bianca lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Bianca membawa langkahnya ke arah meja makan lalu menikmati makanan yang sudah bibi siapkan untuknya.
Setelah menikmati sarapannya Bianca kemudian membawa langkahnya naik ke lantai 2 berniat untuk masuk ke ruang baca, namun saat melihat ruang gym yang terbuka Biancapun mengurungkan niatnya untuk ke ruang baca dan membawa pandangannya ke dalam ruang gym.
Bianca terdiam untuk beberapa saat ketika melihat Arga yang sedang berolahraga. Laki-laki tampan itu terlihat semakin menarik saat ia sedang berolahraga, keringat yang mengucur dari keningnyapun tidak dapat menghapus ketampanannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disana, masuklah!" ucap Arga yang menyadari keberadaan Bianca.
Biancapun segera tersadar dari lamunannya lalu membawa langkahnya memasuki ruangan gym itu.
"Selama aku tinggal disini ini pertama kalinya aku melihatmu memakai ruangan ini," ucap Bianca lalu membawa dirinya duduk di lantai ruangan itu.
"Itu karena kau tidak pernah tahu jadwal olahragaku," balas Arga.
"Kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu Arga, aku tahu itu," ucap Bianca.
"Tapi aku selalu menyempatkan waktuku untuk berolahraga walaupun hanya 30 menit," balas Arga.
"Bagaimana keadaanmu? apa sudah baik-baik saja?" lanjut Arga bertanya yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Ada apa sebenarnya? kenapa Arga dan Lola menanyakan hal yang sama padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.
Melihat Bianca yang hanya terdiam Arga sudah bisa menduga jika Bianca melupakan apa yang terjadi semalam.
"Apa kau tidak ingat apa yang sudah terjadi padamu semalam?" tanya Arga pada Bianca.
"Semalam? semalam aku......"
Bianca menghentikan ucapannya, ia berusaha mengingat tentang apa yang terjadi semalam.
Bianca berusaha menggali memorinya tentang apa saja yang ia lakukan kemarin, tetapi ia hanya mengingat saat ia menghadiri acara wisuda Lola kemudian kembali ke tempat kost Lola lalu berangkat ke acara pestanya bersama Lola dengan diantara oleh Pak Dodi.
Bianca juga ingat apa saja yang ia lakukan saat pesta, tapi ada sesuatu yang mengganjal di kepalanya.
Bianca sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi setelah pesta, memorinya seolah terpotong beberapa bagian sampai ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan melihat Arga yang sudah berdiri di dalam kamarnya.
"Kau benar, sepertinya aku melupakan sesuatu," ucap Bianca.
"Bagian mana yang kau lupakan? apa saat kau mabuk? saat kau berjalan di jalan raya sendirian? saat aku menjemputmu? atau saat kau memuntahkan isi perutmu tepat di hadapanku? atau mungkin saat kau merengek dan meracau di depanku tentang Bara?" tanya Arga yang membuat Bianca seketika terdiam.
Bianca tidak mengerti apa yang Arga katakan karena ia sama sekali tidak mengingat semua hal yang Arga katakan saat itu.
"Apa maksudmu? kenapa kau bertanya seperti itu? mana mungkin aku melakukan hal itu?" balas Bianca.
"Waaahh sepertinya kau benar-benar melupakan semuanya," ucap Arga.
Bianca segera beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya mendekati Arga dan menatap kedua mata Arga dengan tajam.
"Katakan padaku apa yang terjadi semalam, aku tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh itu bukan?" tanya Bianca pada Arga.
Arga hanya terkekeh lalu membawa langkahnya menghindari Bianca, ia sengaja tidak ingin memberitahu Bianca agar Bianca semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi malam kemarin.
"Argaaaa..... cepat katakan padaku, apa yang terjadi semalam?" tanya Bianca sambil mengikuti langkah Arga.
"Aku tidak akan memberitahumu, jadi cobalah untuk mengingatnya sendiri," ucap Arga.
"Jika aku bisa mengingatnya aku tidak akan bertanya padamu Arga," ucap Bianca kesal.
"Kau bahkan belum mencoba untuk mengingatnya Bianca, tapi sepertinya lebih baik kau tidak perlu mengingatnya, kau pasti akan sangat malu jika kau mengingatnya," ucap Arga.
"Baiklah, memang lebih baik aku tidak mengingatnya," ucap Bianca kemudian berjalan keluar dari ruang gym.
Arga hanya terkekeh melihat sikap Bianca, ia yakin tak akan lama lagi Bianca akan mengingat semua yang terjadi semalam.
Di sisi lain Bianca yang kesal segera membawa langkahnya ke ruang baca untuk mencari referensi buku yang ia butuhkan untuk mengerjakan artikelnya.
Namun saat sedang mencari buku yang ia butuhkan, pandangan Bianca tertuju pada sebuah novel yang ada di rak buku itu. Bianca kemudian mengambilnya lalu membacanya di sofa yang ada di dalam ruang baca itu.
"Aku harus menenangkan diriku dengan membaca novel sebelum aku mengerjakan artikel, agar aku bisa lebih fokus dan menghasilkan artikel yang berkualitas," ucap Bianca lalu membuka novel yang ia bawa.
Saat baru beberapa lembar membaca novel, ada sebuah paragraf yang membuat Bianca terdiam untuk beberapa saat.
Paragraf yang menjelaskan dimana kondisi tokoh utama dari novel itu sedang mabuk dan mengutarakan isi hatinya tanpa sadar pada tokoh laki-laki.
Seketika memori Bianca mengulas beberapa hal yang terjadi semalam. Mulai dari saat ia meneguk minuman dari temannya, ia yang kemudian berjalan mencari Pak Dodi lalu akhirnya ia merasa lelah dan duduk di trotoar hingga akhirnya ia melihat Arga yang tiba-tiba ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan semalam? apa aku benar-benar mabuk?" batin Bianca bertanya dalam hati.