Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Penyembuh Luka?


__ADS_3

Bianca masih berlari di tengah malam tanpa ada seorangpun yang ia lihat selain dua pria yang mengejarnya.


Dengan menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, Bianca hanya bisa berusaha mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk bisa keluar dari gang sepi itu.


Hingga akhirnya Bianca sampai di ujung gang yang mengarah ke jalan raya. Namun Bianca tidak menghentikan langkahnya, ia masih berlari dengan tertatih ke arah penjualan makanan pinggir jalan yang berada tidak jauh dari Bianca.


Bianca berpikir jika dia harus berada diantara banyak orang agar dua pria itu berhenti mengejarnya.


Setelah memastikan 2 pria itu berhenti mengejarnya, Biancapun memesan minuman pada penjual itu sambil memesan taksi.


Setelah minum dan menunggu beberapa lama, taksi pesanan Biancapun datang. Bianca segera meninggalkan tempat itu bersama taksi menuju ke tempat kos Lola.


Bianca sengaja meminta supir taksi untuk berhenti sedikit menjauh dari tempat kos Lola karena ia tidak ingin pak Dodi melihatnya keluar dari taksi.


Setelah taksi sampai di tempat tujuannya, Biancapun berjalan ke arah tempat kos Lola melalui jalan lain yang tidak terpantau oleh pak Dodi.


Bianca mengetuk pintu kamar Lola beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.


Melihat Bianca yang tampak kacau, Lolapun begitu terkejut.


"Bianca, apa yang terjadi padamu?" Tanya Lola terkejut.


"Ceritanya panjang Lola, sekarang aku membutuhkan bantuanmu," jawab Bianca yang segera dibantu Lola untuk masuk ke kamarnya.


Lola kemudian mengambil minuman dan memberikannya pada Bianca.


"Apa Arga tau apa yang terjadi padamu?" Tanya lola yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Apa kau sejak tadi disini Lola? Kau tidak bertemu pak Dodi di luar bukan?" Tanya Bianca memastikan.


"Aku dari tadi disini dan tidak melihat pak Dodi, apa kau kesini bersama pak Dodi?" Balas Lola.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu menceritakan pada Lola tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Mulai dari saat Bianca bertemu pria itu di kafe, Bianca yang berbohong pada pak Dodi demi bisa menemui pria itu di bar.


Bianca yang mendapat kabar dari Arga jika masalah perusahaan sudah selesai hingga akhirnya ia harus berusaha kabur dari orang-orang suruhan pria itu dan beruntung karena ia berhasil lolos dari kejaran orang-orang itu.


"Astaga Bianca, kenapa kau tidak memberi tahu Arga?" tanya Lola.


"Aku takut pria itu akan melakukan hal lain yang semakin membuat perusahaan orang tua Arga bermasalah Lola," jawab Bianca.


"Tapi apa yang kau lakukan itu sangat berbahaya Bianca, pria itu bisa melakukan apa saja padamu jika kau kesana sendirian, tidakkah kau memikirkan hal itu?"


"Aku tau, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan agar dia mengembalikan keadaan perusahaan," balas Bianca.


"Sadarlah Bianca, jika kau hanya menganggap pernikahanmu dengan Arga hanya sebatas kontrak, maka jangan melakukan hal yang membahayakanmu seperti itu, kecuali jika kau memang benar-benar mencintainya!" ucap Lola.


Bianca hanya diam, dalam hatinya ia tidak menyetujui ucapan Lola karena ia melakukan hal itu bukan demi Arga, tapi demi membantu perusahaan orang tua Arga.


"Tidak ada yang bisa menjaga dirimu selain kau sendiri Bianca, jadi aku mohon jangan melakukan hal bodoh seperti ini lagi," ucap Lola yang khawatir jika Bianca akan membahayakan dirinya lagi.


"Aku mengerti Lola," balas Bianca.


"Sekarang apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Lola.


"Tolong rahasiakan hal ini dari siapapun Lola, aku mohon padamu," jawab Bianca.


"Untuk saat ini aku akan merahasiakannya, tapi jika kau melakukan hal bodoh lagi hanya demi Arga dan keluarganya aku benar-benar tidak akan tinggal diam Bianca!" balas Lola dengan tegas.


"Terima kasih Lola, aku juga ingin meminjam peralatan make up milikmu, tapi sepertinya aku harus ke toilet untuk membasuh wajah," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Di toilet, Bianca melepas hoodie yang dipakainya dan menyadari jika tangannya terluka.


Bianca segera membasuh lukanya dengan air mengalir lalu membersihkan sisa darahnya dengan tissue yang ada disana.


"Aku harus menyembunyikan luka ini dari Arga," ucap Bianca lalu mengenakan kembali hoodienya kemudian keluar dari toilet.


"Kemarilah, aku akan mengobati lukamu," ucap Lola pada Bianca yang baru saja keluar dari toilet.


"Aku akan mengobatinya sendiri di rumah, aku hanya perlu meminjam topi dan masker agar pak Dodi tidak melihat lukaku," balas Bianca yang kemudian menyisir rambutnya di depan cermin.


"Bagaimana jika Arga melihat lukamu?" tanya Lola sambil memberikan topi dan masker pada Bianca.


"Dia akan pulang terlambat malam ini, aku hanya perlu berada di kamar sepanjang waktu agar tidak bertemu dengannya sampai lukaku menghilang," jawab Bianca.


Lola menghela nafasnya panjang melihat Bianca yang berusaha menutup luka di beberapa bagian wajahnya.


"Jika kau melakukan hal bodoh lagi aku akan menganggap jika kau sudah mencintai Arga, karena tidak akan ada yang mau melakukan hal gila dan bodoh jika bukan karena cinta," ucap Lola.


"Cintaku hanya untuk kak Bara, kau tau itu!" balas Bianca dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kau bahkan masih bisa tersenyum saat wajahmu penuh luka seperti itu!"


"Kau berlebihan Lola, ini hanya luka kecil," balas Bianca.


"Kau yang berlebihan Bianca, hanya karena orang tua Arga baik padamu kau jadi kehilangan akal seperti ini!" ucap Lola.


Bianca tersenyum lalu memeluk Lola.


"Berhentilah marah padaku Lola, bukankah aku baik-baik saja sekarang?"


"Iya, tapi bagaimana jika....."


"Sssstttt..... lupakan saja masalah ini, bagaimana denganmu? kau belum menceritakan padaku tentang kepulanganmu kemarin!"


"Aku tidak akan menceritakannya sekarang, aku sedang kesal padamu!"


"Hahaha... baiklah kalau begitu, aku harus pulang sekarang sebelum Arga pulang," ucap Bianca.


Bianca kemudian berpamitan pada Lola untuk pulang. Biancapun membawa langkahnya ke arah mobil dengan sedikit tertatih.


"Sepertinya kakiku juga terluka," ucap Bianca dalam hati sambil menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya.


"Terima kasih sudah menunggu Bianca pak, kita pulang sekarang," ucap Bianca pada pak Dodi.


"Kenapa non Bianca tiba-tiba memakai masker? apa non Bianca baik-baik saja?" tanya pada Dodi pada Bianca.


"Aaahh ini..... Bianca tiba-tiba flu, jadi Bianca memakai masker dari Lola hehe..." jawab Bianca beralasan.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit dulu non?" tanya pada Dodi.


"Tidak perlu pak, hanya flu biasa, besok pasti sudah sembuh, lebih baik kita segera pulang sebelum Arga sampai di rumah," jawab Bianca.


"Baik non," balas pak Dodi lalu mengendarai mobil meninggalkan tempat kos Lola.


Sepanjang perjalanan Bianca hanya terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Apa aku sudah berlebihan? apa mungkin yang aku lakukan ini salah?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Bianca sampai di rumah. Bianca segera turun dari mobil lalu membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.


Namun saat baru saja membuka pintu, Bianca begitu terkejut saat ia melihat Arga yang sedang menaiki tangga.


Di sisi lain, Arga yang menyadari kedatangan seseorang segera membalikkan badannya dan terkejut melihat Bianca dengan hoodie, topi dan masker yang dipakainya.


"Aku baru saja menemui Lola, maaf karena lupa memberi tahumu," jawab Bianca yang berjalan dengan menundukkan kepalanya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arga yang membawa langkahnya menuruni tangga.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit flu," jawab Bianca berbohong sambil mempercepat langkahnya.


Namun saat Bianca baru saja memegang handle pintu, Arga sudah ada di belakang Bianca dan menarik tangan Bianca.


"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku!" ucap Arga sambil menarik topi yang Bianca pakai.


"Kau bisa menghubungi Lola jika tidak percaya, aku....."


Bianca mengentikan ucapannya saat tiba-tiba Arga menarik masker yang Bianca pakai saat itu.


Biancapun segera memalingkan wajahnya dari Arga, membuat Arga segera memegang kedua bahu Bianca, membawa Bianca agar menghadap padanya.


Biancapun hanya menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan luka di wajahnya. namun percuma karena Arga masih bisa melihatnya dengan jelas.


"Apa yang terjadi padamu Bianca? kenapa kau terluka?" tanya Arga terkejut.


"Aku.... aku terjatuh dari tangga di tempat kos Lola," jawab Bianca.


"Kemarilah!" ucap Arga lalu menarik tangan Bianca dan mendudukkan Bianca di sofa ruang tengah.


Arga kemudian mengambil kotak P3K lalu membawanya pada Bianca.


"Aku bisa mengobatinya sendiri!" ucap Bianca yang segera beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Arga menahan tangan Bianca.


Tanpa Arga tahu, ia memegang bagian luka yang ada di tangan Bianca, membuat Bianca seketika merintih.


"Apa tanganmu juga terluka?" tanya Arga yang segera dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


Arga seketika kembali mencengkeram tangan Bianca, membuat Bianca berteriak kesakitan.


"Lepaskan hoodiemu!" ucap Arga dengan tegas.


"Tidak mau," balas Bianca yang segera berjalan pergi, namun lagi-lagi Arga menahannya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat lukamu Bianca, lepaskan sendiri atau aku yang akan melepasnya!" ucap Arga.


Bianca menghela nafasnya kasar lalu membuka hoodienya dengan perlahan. Seketika Argapun terkejut melihat luka dan memar di tangan Bianca.


"Duduklah!" ucap Arga sambil menarik Bianca agar kembali duduk.


Dengan pelan dan hati-hati Arga mengobati luka di tangan Bianca, ia juga mengoles krim di beberapa bagian luka memar di wajah dan tangan Bianca.


"Apa ada luka yang lain?" tanya Arga.


"Sepertinya di kaki," jawab Bianca.


Arga kemudian menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dan tanpa ragu menarik kaki Bianca lalu membawanya ke pangkuannya.


Arga kemudian menyingkap bagian bawah celana Bianca dan benar saja ada memar di beberapa bagian kaki Bianca.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Bianca? kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Arga sambil mengoleskan krim di kaki Bianca.


"Aku.... hanya terjatuh," jawab Bianca.


Tanpa Arga tahu, Bianca sedang berusaha menangkan dirinya yang sedang berdebar saat itu.


Melihat apa yang Arga lakukan padanya membuat jantungnya berdetak cepat, debar-debar yang selalu ia rasakan kini semakin nyata terasa, bukan hanya dalam dadanya tapi juga terasa jauh sampai ke sudut hatinya.


"Kenapa kau melakukan ini padaku Arga? bukankah aku hanya istri di atas kontrak bagimu?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Sudah," ucap Arga sambil menurunkan kaki Bianca dari pangkuannya dengan pelan.


"Sekarang katakan padaku kenapa kau bisa terjatuh di tangga sampai terluka dimana-mana seperti ini!" ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


"Aku hanya tidak sengaja terpeleset," jawab Bianca beralasan.


"Benarkah? kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" tanya Arga tak percaya.


"Sebenarnya aku sengaja tidak ingin memberi tahumu karena malu, tapi ternyata aku gagal menyembunyikannya darimu," jawab Bianca.


"Kau tidak akan bisa menyembunyikan apapun dariku Bianca, sekarang beristirahatlah!" ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca lalu beranjak dari duduknya.


"Bagaimana dengan masalah perusahaan? apa semuanya benar-benar sudah selesai?" tanya Bianca yang membuat Arga berbalik menghadap Bianca.


"Aku dan Daffa sudah menyelesaikan semuanya Bianca, tentu saja berkat kerja keras Daffa dan juga bantuanmu," jawab Arga.


"Tapi kau bilang jika kau harus merelakan salah satu bisnismu, apa maksudmu?" tanya Bianca.


Arga menghela nafasnya lalu kembali duduk di samping Bianca.


"Aku membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk menjalankan rencanaku dan Daffa, jadi aku memutuskan untuk menjual kepemilikan salah satu kafe dan restoranku," jawab Arga.


"Apa mama dan papa mengetahuinya?" tanya Bianca.


"Tentu saja tidak, tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan Bianca, anggap saja itu adalah caraku untuk bertanggung jawab pada perusahaan yang papa percayakan padaku," jawab Arga.


Bianca hanya diam mendengar jawaban Arga. Kini ia tahu jika laki-laki di sampingnya itu benar-benar laki-laki yang penuh tanggung jawab.


"Tapi jangan khawatir, apa yang aku lakukan kemarin bukan hal besar, aku masih memiliki restoran dan hotel yang aku jalankan sendiri," ucap Arga.


"Untuk apa aku mengkhawatirkanmu Arga, aku hanya mengkhawatirkan perusahaan papa, bukan mengkhawatirkanmu," balas Bianca sambil beranjak dari duduknya.


"Benarkah? tapi sejak kemarin kau sering datang ke kantor membawakan makanan untukku, bukankah karena kau mengkhawatirkanku?"


"Itu hanya karena kau sedang ada masalah besar, setelah ini aku tidak akan melakukan hal itu lagi," balas Bianca.


Mendengar hal itu seketika Arga mengikuti langkah Bianca dan segera menahan tangan Bianca.


"Bisakah kau terus melakukannya untukku?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


"Tidak bisakah dia tidak menatapku seperti itu? dia selalu membuatku berdebar saat aku dekat dengannya, apa lagi di saat seperti ini!" batin Bianca dalam hati dengan kedua matanya yang membalas tatapan mata Arga.


"Aku tidak akan memaksa, hanya.... lakukan saja jika kau mau, tidak perlu melakukannya jika kau merasa keberatan," ucap Arga sambil melepaskan tangan Bianca darinya.


Bianca seketika tersadar dari lamunannya lalu segera melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamarnya.


"Aku akan memikirkannya," ucap Bianca lalu masuk ke dalam kamar.


Di tempatnya, Arga hanya tersenyum tipis lalu berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Arga masih memikirkan Bianca. Ia merasa ada sebuah rasa nyaman yang semakin ia rasakan saat ia bersama Bianca.


Hal itu membuatnya teringat ucapan Daffa padanya beberapa saat yang lalu.


"Apa kau tidak sadar jika Bianca mampu menyembuhkan sakit hatimu?"

__ADS_1


Arga menghela nafasnya, kedua matanya terpejam namun angannya masih memikirkan Bianca.


"Menyembuhkan sakit hatiku? benarkah begitu?" batin Arga bertanya dalam hati.


__ADS_2