Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Meninggalkan Rumah Sakit


__ADS_3

Dengan penuh senyum Arga membawa langkahnya menghampiri Bianca yang tengah duduk di gazebo seorang diri.


"Kenapa kau ada disini? bukankah seharusnya kau menghadiri pertemuan penting dengan klienmu?" tanya Bianca pada Arga yang sudah duduk di sampingnya.


"Aku meminta Daffa untuk menggantikanku karena dia batal untuk pergi ke luar kota," jawab Arga.


"Aaahh begitu, bagaimana dengan Mama? apa Mama tetap akan kesini?" tanya Bianca.


"Aku sudah meminta Mama untuk tidak datang kesini, jadi aku yang akan menemanimu melakukan terapi terakhirmu disini," jawab Arga.


"Tapi kenapa kau berada disini? kau belum melakukan terapinya bukan?" lanjut Arga bertanya.


"Belum," sahut dokter Galih yang tiba-tiba datang.


"Sebenarnya aku dan dokter Galih menunggu Mama datang sebelum melakukan terapi, tapi jika Mama tidak akan datang itu artinya kita bisa melakukan terapinya sekarang karena sudah ada kau yang menggantikan mama," ucap Bianca.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang!" ucap Arga.


"Karena kita tidak bisa membawa kursi rodanya ke tepi pantai, kau harus menggendong Bianca kesana, apa kau bisa melakukannya?" ucap dokter Galih sekaligus bertanya pada Arga.


"Tentu saja," jawab Arga tanpa ragu lalu beranjak dari duduknya.


Tanpa banyak basa-basi Arga segera mengangkat tubuh Bianca, menggendongnya meninggalkan gazebo dan berjalan ke arah tepi pantai.


Dengan hati-hati Arga menurunkan Bianca di tepi pantai. Sebelum Bianca mulai berjalan di tepi pantai, dokter Galih meminta Bianca untuk duduk di tepi pantai, membiarkan kakinya merasakan ombak kecil yang menyapu pantai.


"Sekarang cobalah untuk berdiri Bianca, jaga keseimbanganmu meskipun ombak menghadang kakimu!" ucap dokter Galih pada Bianca.


Arga kemudian mengulurkan tangannya pada Bianca dan Biancapun segera meraih tangan Arga, menggenggamnya dengan kuat lalu berusaha untuk berdiri dari duduknya.


Beberapa kali Bianca berusaha dan beberapa kali juga ia terjatuh, namun ia tidak menyerah dan terus berusaha untuk bisa berdiri dengan tegak sampai akhirnya ia berhasil berdiri dengan memegangi tangan Arga begitu erat agar ombak pantai tidak membuatnya kembali terjatuh.


Setelah beberapa lama berusaha untuk menjaga keseimbangannya, dokter Galih kemudian meminta Bianca untuk melangkahkan kakinya.


Dengan masih berpegangan pada Arga, Bianca berusaha untuk berjalan maju sedangkan Arga berjalan mundur di hadapannya.


Tidak mudah bagi Bianca untuk terbiasa dengan tekstur pasir pantai, apalagi dengan ombak yang berkali-kali menghadangnya.


Bianca, Arga dan dokter Galihpun sudah basah kuyup saat itu, tapi melihat semangat Bianca, Arga dan dokter Galih tidak menghiraukan air pantai yang sudah membasahi tubuh mereka.


Berkali-kali Bianca kehilangan keseimbangannya, namun dengan sigap Arga bisa menahannya.


"Sekarang cobalah untuk melepaskan tanganmu dari Arga, percayalah jika kau bisa melakukannya sendiri Bianca," ucap dokter Galih pada Bianca.


"Tidak, jangan pernah melepaskan tanganku!" sahut Arga yang tidak setuju dengan ucapan dokter Galih.


"Bianca harus belajar untuk tidak bergantung padamu Arga, biarkan dia berusaha untuk bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, lagi pula kekuatan kakinya juga sudah membaik," balas dokter Galih.


"Bukankah dokter melihatnya sendiri bagaimana dia tidak bisa menjaga keseimbangannya? dengan dokter memintanya untuk melepaskan tangan Arga hanya akan membuatnya terjatuh dok!" ucap Arga yang dengan erat menggenggam kedua tangan Bianca.


"Kau harus percaya jika Bianca bisa melakukannya Arga, jikapun Bianca terjatuh biarkan dia berusaha untuk berdiri sendiri, ini adalah pantai dan hanya ada pasir lembut yang tidak akan melukai Bianca disini," ucap dokter Galih.


"Tapi....."


"Aku akan melakukannya," ucap Bianca yang membuat Arga menghentikan ucapannya.


"Apa kau yakin Bianca?" tanya Arga mengkhawatirkan Bianca.


"Ini adalah terapi terakhirku Arga, aku akan melakukannya dengan baik meskipun aku harus jatuh berkali-kali," jawab Bianca bersemangat.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu Bianca, aku tidak keberatan jika harus menemanimu untuk melakukan terapi setiap hari," ucap Arga.


"Tapi aku tidak mungkin melakukan terapi seumur hidupku bukan!" balas Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang lalu melonggarkan pegangan tangannya pada Bianca.


"Percayalah padaku Arga, aku pasti bisa melakukannya, kau tahu aku bukan!" ucap Bianca pada Arga.


"Aku tahu, tapi aku harap kau tidak terlalu memaksakan dirimu," balas Arga.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu dengan pelan melepaskan tangannya dari genggaman Arga.


Baru saja tangan Arga melepaskan Bianca dari genggamannya, ombak yang datang sudah berhasil membuat Bianca terjatuh.

__ADS_1


Arga yang khawatirpun segera membantu Bianca berdiri.


"Tenanglah Arga, percayalah pada kemampuan Bianca, dia pasti bisa melakukannya!" ucap dokter Galih pada Arga.


"Arga tidak mungkin membiarkan Bianca terjatuh dok," balas Arga.


"Aku baik-baik saja Arga, aku hanya terjatuh di atas pasir pantai, ini sama sekali tidak menyakitiku," ucap Bianca pada Arga.


Melihat Arga yang begitu mengkhawatirkan Bianca, dokter Galih kemudian memberikan saran agar Bianca melakukannya di tempat yang sedikit menjauh dari bibir pantai agar tidak ada ombak yang mengganggu keseimbangan tubuh Bianca.


Argapun menyetujuinya, begitu juga dengan Bianca.


Di atas hamparan pasir pantai Bianca berusaha untuk berdiri sendiri tanpa ada yang memegang tangannya.


Bianca berusaha untuk bisa berjalan sendiri meskipun ia harus terjatuh berkali-kali, ia sangat berusaha keras untuk bisa kembali berdiri dan membawa langkahnya dengan pelan hingga ia bisa berjalan tanpa bantuan siapapun.


Arga yang melihat Bianca berkali-kali terjatuh hanya bisa menahan dirinya untuk tidak membantu Bianca, karena dokter Galih yang selalu menahan dirinya dan Bianca yang selalu meyakinkan dirinya jika dia baik-baik saja.


Hingga akhirnya Bianca benar-benar bisa berjalan di atas pasir pantai meskipun dengan sangat pelan dan hati-hati.


"Aku bisa Arga, aku sudah bisa berjalan!" ucap Bianca sambil mengangkat kedua tangannya.


Karena terlalu senang, Bianca hampir saja kehilangan keseimbangannya yang membuatnya hampir saja terjatuh, namun Arga segera menahan Bianca dan memeluk Bianca dengan erat.


"Aku tidak akan membiarkanmu terluka Bianca, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, aku akan selalu membahagiakanmu dengan segala cara yang bisa aku lakukan," ucap Arga dengan masih erat memeluk Bianca sambil mengusap rambut Bianca.


Biancapun hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, detak jantungnya mulai berdebar kencang, terlebih saat ia mendengar apa yang Arga katakan padanya.


Ada sebuah rasa bahagia dalam hatinya saat ia mendengar apa yang Arga katakan padanya, namun ia berusaha untuk menepis rasa bahagia itu.


Bianca berpikir jika apa yang Arga lakukan dan apa yang Arga katakan saat itu hanya karena ada dokter Galih disana, hanya karena agar dokter Galih berpikir jika mereka benar-benar pasangan suami istri yang bahagia.


Arga masih memeluk Bianca dengan erat, sudah cukup ia membiarkan Bianca terjatuh berkali-kali di hadapannya dan ia tidak ingin melihat hal itu lagi.


Dokter Galih yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya pergi ke gazebo.


Tak lama kemudian Arga dan Bianca mendatangi dokter Galih yang sudah duduk di gazebo dengan 3 es kelapa muda di hadapannya.


Melihat Arga dan Bianca yang duduk di hadapannya, dokter Galih kemudian memberikan dua es kelapa itu pada Bianca dan Arga.


"Jadi bagaimana dengan terapi Bianca dok?" tanya Arga pada dokter Galih.


"Dia sudah banyak mengalami peningkatan, kekuatan pada kedua kakinya juga semakin meningkat, saran saya dia harus tetap menggunakan kursi roda sebelum dia benar-benar bisa menjaga keseimbangannya dengan baik," jawab dokter Galih.


"Apa Bianca sudah boleh meninggalkan rumah sakit dok? Bianca sudah benar-benar bosan berada di rumah sakit," tanya Bianca.


"Kau boleh meninggalkan rumah sakit tetapi kau harus datang untuk melakukan pemeriksaan, paling tidak setiap satu minggu sekali," jawab dokter Galih.


"Tapi bukankah lebih baik jika Bianca masih berada di rumah sakit dok?" tanya Arga.


"Untuk saat ini yang terpenting adalah kenyamanan bagi Bianca, dokter yang menanganinya sudah mengizinkan Bianca untuk meninggalkan rumah sakit jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menahannya di rumah sakit setelah keadaan kakinya sudah membaik," jawab dokter Galih.


"Tapi kau harus tetap sering berlatih saat di rumah Bianca, kau yang tahu batasanmu sendiri jadi jangan terlalu memaksakan dirimu jika kau sudah merasa lelah," lanjut dokter Galih memberitahu Bianca.


"Bianca mengerti dok," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya.


"Tapi jangan pernah berlatih di rumah tanpa ada aku, kau harus tetap berada di kursi roda sebelum keadaanmu benar-benar pulih Bianca!" ucap Arga pada Bianca.


"Iya aku mengerti," balas Bianca.


"Sebaiknya memang seperti itu, harus ada seseorang yang menemanimu jika kau sedang berlatih untuk berjalan, jangan sampai terjadi sesuatu yang membuat keadaan kakimu semakin memburuk," ucap dokter Galih.


"Baik dok, Bianca mengerti," balas Bianca.


Setelah mengobrol dan berkonsultasi cukup lama, Bianca meninggalkan pantai untuk kembali ke rumah sakit bersama Arga, sedangkan dokter Galih mengendarai mobilnya sendiri.


Sesampainya di rumah sakit, Arga mendorong kursi roda Bianca untuk masuk ke ruangan Bianca.


Arga kemudian mengemasi barang-barangnya lalu membawa semua barang-barang miliknya ke dalam mobilnya.


"Akhirnya aku bisa meninggalkan rumah sakit ini," ucap Bianca senang saat ia sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Apa kau sangat senang?" tanya Arga sambil mendorong kursi roda mendekat ke arah Bianca.

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat senang, kau juga senang bukan? kau bisa kembali tidur di kamarmu yang luas," balas Bianca.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, ia memang senang karena Bianca sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.


Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya yang membuatnya sedikit merasa tidak senang.


Jika Bianca sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit, itu artinya Bianca akan tidur di kamarnya sendiri, sedangkan Arga harus tidur di kamar yang lain, artinya Arga sudah tidak bisa menemui Bianca sewaktu-waktu dan ia tidak bisa melihat Bianca kapanpun ia mau, apalagi memperhatikan Bianca yang sedang tertidur setiap malam.


Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Arga mendorong kursi roda Bianca untuk meninggalkan ruangan Bianca dan setelah menyelesaikan biaya administrasi Argapun meninggalkan rumah sakit bersama Bianca.


"Sepertinya ini bukan arah pulang, apa mungkin aku sudah lupa arah jalan pulang?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Aku ingin membeli sesuatu sebelum kita pulang," balas Arga.


Tak lama kemudian Arga menepikan mobilnya di sebuah kafe yang merupakan tempat Bianca dulu bekerja.


"Tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali!" ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Arga kemudian berlari kecil memasuki kafe itu dan tak lama kemudian kembali dengan membawa kue kesukaannya.


"Kau membeli kue?" tanya Bianca saat Arga sudah masuk ke dalam mobil.


"Ini adalah kue kesukaanku," jawab Arga sambil menunjukkan kue yang ia beli.


"Bukankah ini kue yang pernah aku belikan untukmu?" tanya Bianca yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Arga.


"Sejak kapan kau menyukai kue? bukankah Daffa bilang kau sangat tidak menyukai makanan manis?" tanya Bianca.


"Sejak pertama kali aku makan kue yang kau belikan untukku, itu adalah kue pertamaku dan aku sangat menyukainya," jawab Arga dengan penuh senyum lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe untuk pulang ke rumahnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di rumahnya. Arga kemudian membantu Bianca turun dari mobil, namun Bianca menolak untuk duduk di kursi rodanya.


"Karena ada kau disini jadi bolehkah aku tidak menggunakan kursi roda itu? aku ingin berjalan sendiri Arga," tanya Bianca pada Arga.


"Baiklah, tapi jangan pernah melepaskan tanganku," ucap Arga sambil mengulurkan tangannya pada Bianca.


Bianca tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu menggenggam tangan Arga.


Arga kemudian meminta Pak Dodi untuk mengeluarkan kursi roda Bianca dari bagasi mobil.


Dengan menggenggam tangan Arga, Biancapun membawa langkahnya memasuki rumah dengan langkah yang cukup pelan.


Saat baru saja membuka pintu rumah, Bianca begitu terkejut saat tiba-tiba ia mendengar bunyi terompet dan confetti yang bertebaran di hadapannya.


Ternyata sudah ada Lola dan Daffa yang sengaja menunggu kedatangan Bianca disana, karena tanpa sepengetahuan Bianca Arga menghubungi Daffa agar menyiapkan kejutan itu.


"Welcome home Bianca," ucap Lola sambil meniupkan terompet di hadapan Bianca.


"Kalian berlebihan sekali, tapi aku suka hehehe...." ucap Bianca sambil memeluk Lola.


Arga, Bianca, Lola dan Daffa kemudian berjalan ke arah meja makan karena sudah banyak makanan yang baru saja bibi siapkan untuk makan siang.


Mereka menikmati makan siang mereka sambil sesekali mengobrol dan bercanda tawa.


"Setelah ini kalian harus segera pulang karena Bianca harus beristirahat!" ucap Arga pada Daffa dan Lola.


"Baiklah," balas Daffa dan Lola dengan kompak.


Setelah Daffa dan Lola pergi, Arga kemudian membantu Bianca untuk masuk ke kamarnya.


"Waaahhh rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak masuk ke kamar ini!' ucap Bianca yang sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Apa kau..... akan..... tidur sendirian malam ini?" tanya Arga dengan nada suara yang ragu.


"Tentu saja, memangnya aku akan tidur dengan siapa?" balas Bianca.


"Apa kau akan baik-baik saja? bagaimana jika kau akan pergi ke kamar mandi? apa kau bisa melakukannya sendiri?" tanya harga khawatir.


"Aku sudah bisa berjalan meskipun sangat pelan, jadi jangan terlalu mengkhawatirkanku," jawab Bianca tanpa ragu.


"Baiklah kalau begitu, beristirahatlah dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Arga yang merasa ragu untuk keluar dari kamar Bianca.


"Kau berlebihan sekali, kita sudah berada dalam satu rumah sekarang, kenapa aku harus menghubungimu!" balas Bianca.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau saja," ucap Arga lalu keluar dari kamar Bianca.


__ADS_2