Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Pria itu...


__ADS_3

Bianca dan Arga masih berada di bukit dengan pemandangan hamparan laut yang luas bersama gulungan ombak yang menyentuh tepi pantai.


Arga terdiam mendengar pertanyaan Bianca, dalam hatinya ia merasa bersalah karena sudah banyak berbohong pada Bianca.


"Aku dan papa tidak membicarakan sesuatu yang serius, papa hanya memberi beberapa nasihat padaku tentang pernikahan kita," ucap Bianca.


"Maaf jika apa yang papa katakan mengganggumu, Bianca," balas Arga.


"Aku tidak merasa terganggu, aku bisa memahami kenapa papa mengatakan hal semacam itu padaku, karena sepengetahuan papa aku adalah istri dari anak laki-lakinya," ucap Bianca.


"Terima kasih sudah memahami papa," ucap Arga yang hanya dibalas senyum tipis oleh Bianca.


"Sebaiknya kita kembali ke hotel sekarang, aku harus mengemasi beberapa barang milikku di hotel," ucap Bianca.


"Baiklah," balas Arga.


Mereka berdua kemudian meninggalkan tempat itu. Arga segera mengendarai mobilnya kembali ke hotel bersama Bianca.


Sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan. Arga sibuk dengan pikirannya yang merasa bersalah pada Bianca , sedangkan Bianca masih memikirkan ucapan papa Arga padanya saat di restoran.


"Seharusnya aku tidak perlu memikirkannya, bagaimanapun masa lalu Arga, apapun kekurangan Arga, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku karena aku hanya istri yang sebatas kontrak," ucap Bianca dalam hati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga dan Biancapun sampai di hotel. Mereka masuk ke dalam kamar lalu membereskan barang milik mereka masing-masing.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, Bianca tersenyum tipis saat melihat nama Bara yang ada di layar ponselnya.


Tanpa menunggu lama, Biancapun menerima panggilan Bara


"Halo kak Bara," ucap Bianca dengan penuh senyum sambil membawa dirinya duduk di atas sofa.


"Halo Bianca, bagaimana dengan artikelmu? apa kau sudah menyelesaikannya?"


"Sudah kak," jawab Bianca berbohong karena sebenarnya ia belum mengerjakan artikelnya.


"Baguslah kalau begitu, itu artinya aku bisa melakukan panggilan video padamu bukan?" tanya Bara yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada Arga yang sedang mengemasi barang-barangnya.


"Panggilan video? Mmmm.... tapi sekarang Bianca sedang ada di rumah teman Bianca kak," balas Bianca beralasan.


"Lola maksudmu?" tanya Bara


"Bukan, Bianca....."


Bianca menghentikan ucapannya saat ia melihat Arga keluar dari kamar. Tanpa Bianca tahu, Arga sengaja keluar dari kamar saat ia mengetahui jika Bianca akan melakukan panggilan video dengan Bara.


Entah kenapa ada sedikit rasa kesal dalam dirinya, membuatnya memilih untuk keluar dari kamar.


"Kapan kau akan pulang? aku akan menghubungimu lagi nanti!" tanya Bara.


"Sekarang saja kak, Bianca akan merubahnya menjadi panggilan video," balas Bianca yang pada akhirnya merubah panggilan Bara menjadi panggilan video setelah Arga keluar dari kamar.


"Bianca..... kau terlihat berbeda," ucap Bara saat ia melihat Bianca melalui panggilan video.


"Apa Bianca bertambah gendut kak?" tanya Bianca.


"Tidak, tapi pakaianmu..... sepertinya aku tidak pernah melihatmu mengenakan pakaian seperti itu," balas Bara.


Seketika Bianca tersadar jika saat itu dirinya sedang memakai pakaian dengan model Sabrina dengan motif bunga bunga kecil yang memperlihatkan bagian bahunya.


"Aaaahhh ini..... Bianca.... mencoba pakaian milik teman Bianca tadi hehe...." ucap Bianca beralasan.


"Kenapa kau mencobanya? apa kau mau berpakaian seperti itu?" tanya Bara yang tampak tidak suka dengan pakaian yang Bianca kenakan saat itu.


"Tidak kak, teman Bianca memaksa jadi Bianca memakainya, sebentar lagi Bianca akan melepasnya," balas Bianca beralasan.


"Tetaplah menjadi dirimu sendiri Bianca, tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mengikuti apa yang orang lain suka," ucap Bara.


"Iya kak, Bianca mengerti," balas Bianca.


"Apa kau bersama Lola disana?" tanya Bara.


"Iya Bianca bersama Lola, tapi Lola baru saja keluar ke minimarket," jawab Bianca berbohong.


Setelah beberapa lama mengobrol, Bara akhirnya mengakhiri panggilannya. Bianca kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang mengenakan sebuah mini dress dengan kedua bahu dan bagian atas dadanya yang terpampang jelas.


Bianca menghela nafasnya panjang, ia baru sadar jika kini ia mulai nyaman dengan pakaian yang dulu sangat ia benci.


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, Arga hanya diam melihat Bianca yang tampak melamun di depan cermin.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Arga membuyarkan lamunan Bianca.

__ADS_1


"Aku baru menyadari sesuatu yang berbeda dari diriku sendiri," jawab Bianca yang masih berdiri di depan cermin.


"Apa yang berbeda?" tanya Arga.


"Gaya berpakaianku, dulu ini adalah pakaian yang paling aku hindari, tapi sekarang aku merasa nyaman memakainya, aku bahkan sering memakai pakaian yang kau belikan untukku meskipun aku di rumah," jawab Arga.


"Apa ada masalah dengan hal itu?" tanya Arga.


"Ini seperti bukan aku, aku bahkan sudah sangat jarang memakai pakaianku yang lama," jawab Bianca.


"Apa Bara baru saja mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga menerka.


"Kak Bara terkejut melihat pakaianku yang seperti ini karena memang dari dulu aku tidak pernah berpakaian seperti ini dan sepertinya kak Bara tidak menyukainya," jelas Bianca.


Arga menghela nafasnya panjang lalu berjalan menghampiri Bianca dan berdiri tepat di belakang Bianca lalu memegang kedua bahu bianca.


"Mungkin Bara hanya tidak terbiasa melihatmu berpakaian seperti ini, yang penting pakaianmu masih terlihat sopan dan kau nyaman memakainya," ucap Arga.


"Tapi kak Bara terlihat tidak menyukaiku dengan pakaian seperti ini Arga!"


"Yang terpenting bukan seperti apa pakaianmu Bianca, tapi seperti apa kepribadianmu, kau tetap Bianca yang baik dan menyenangkan dengan pakaian apapun yang kau kenakan," balas Arga.


"Aku akan tetap menjadi Bianca seperti yang kak Bara suka, setelah kontrak kesepakatan kita selesai, aku akan kembali menjadi Bianca yang membenci pakaian seperti ini," ucap Bianca sambil melepaskan kedua tangan Arga dari bahunya lalu duduk di sofa.


"Jika dia benar-benar mencintaimu dia tidak akan mempermasalahkan hal itu Bianca," ucap Arga dengan membawa pandangannya pada Bianca.


"Karena aku mencintainya jadi aku akan melakukan apa yang dia suka," balas Bianca.


"Kau mencintainya? apa kau sudah yakin dengan perasaanmu padanya? apa kau yakin itu cinta dan bukan sekedar suka?" tanya Arga yang membuat Bianca terdiam untuk beberapa saat.


"Aku sudah lama menyukai kak Bara, aku bahkan menjalani hari-hariku dengan harapan bersama kak Bara, sudah pasti itu cinta bukan? aku bahkan tidak menoleh pada laki-laki manapun dan hanya menunggu kak Bara, itu pasti cinta bukan?" batin Bianca bertanya dalam hati.


"Jika kau masih mempertanyakan perasaanmu padanya, itu artinya kau belum benar-benar mencintainya Bianca, kau masih ragu pada perasaanmu sendiri!" ucap Arga yang seolah mengerti apa yang Bianca pikirkan saat itu.


"Aku tidak ragu, aku yakin dengan perasaanku!" balas Bianca.


"Benarkah? tapi kau terlihat tidak yakin dengan ucapanmu itu!"


"Kau tidak tahu apa-apa Arga!" balas Bianca lalu kembali memeriksa barang-barangnya yang ada di dalam koper.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


"Halo Daffa, ada apa?"


"Sepertinya kau harus kembali lebih awal Arga, ada masalah disini," jawab Daffa yang terdengar panik.


"Ada masalah apa Daffa? apa kau tidak bisa menghandle-nya sementara? pesawatku akan take off nanti malam!"


"Tidak bisa Arga, kau harus segera datang, ini tentang klien besar kita, mereka tiba-tiba membatalkan kesepakatan dan membuat kesepakatan baru dengan perusahaan lain," jelas Daffa.


"Apa kau sudah menemui mereka?" tanya Arga.


"Aku sudah berusaha menemui mereka tapi tidak bisa, mereka bahkan sudah membayar denda karena memutuskan kesepakatan secara sepihak, yang bisa kita lakukan sekarang hanya menemui perusahaan itu untuk membicarakan masalah ini!" jelas Daffa.


"Baiklah aku akan mencari penerbangan secepatnya, hubungi aku jika ada masalah lain!"


"Oke," balas Daffa lalu mengakhiri panggilannya pada Arga.


Arga kemudian segera memasukkan beberapa barangnya yang masih ada di atas meja dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Arga? apa ada masalah?" tanya Bianca yang melihat Arga tampak panik.


"Ada masalah di kantor Bianca, aku harus pergi sekarang, kau bisa pulang bersama mama dan papa bukan?"


"Tidak, aku akan ikut bersamamu," balas Bianca.


"Aku akan ke bandara sekarang Bianca, kau pulanglah bersama mama dan papa nanti malam, kau....."


"Tidak Arga, aku akan pulang bersamamu, aku akan mencari tiket pesawatnya sekarang," ucap Bianca memotong ucapan Arga lalu segera mencari tiket pesawat melalui ponselnya.


Arga tersenyum tipis lalu melanjutkan mengemasi barang-barangnya.


"Aku sudah mendapatkannya, kita hanya punya waktu 2 jam dari sekarang," ucap Bianca bersemangat.


"Terima kasih Bee, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca lalu menggandengnya keluar dari kamar.


"Aku tidak punya waktu untuk berpamitan pada mama dan papa, bisakah kau memberi tahu mereka Bianca?" tanya Arga pada Bianca saat Arga sudah mengendarai mobilnya ke bandara.


"Iya, aku akan menghubungi mama," jawab Bianca.


"Tapi jangan membuat Mama dan papa khawatir, kau mengerti maksudku bukan?"

__ADS_1


"Aku mengerti," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya lalu segera menghubungi Nadine dan memberi tahu Nadine jika ia dan Arga akan pulang lebih dulu.


"Apa tidak bisa Daffa saja yang menyelesaikannya?" tanya Nadine pada Bianca.


"Mama tau bagaimana Arga bukan? dia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya, jadi dia merasa harus menyelesaikan masalah itu sendiri," balas Bianca.


"Katakan pada Arga agar menghubungi papa jika masalahnya sangat serius, papa pasti akan membantunya!" ucap Nadine.


"Iya ma, mama dan papa tidak perlu khawatir, Arga pasti bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan baik, Arga akan segera menghubungi papa jika membutuhkan bantuan papa," balas Bianca.


Panggilan berakhir tepat saat mereka baru saja tiba di bandara. Sembari menunggu jadwal penerbangan mereka, Arga tampak sibuk dengan ponselnya.


Terlihat jelas bagaimana Arga tampak panik saat itu, namun Bianca tidak ingin bertanya lebih jauh karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Arga.


Sampai akhirnya pesawat membawa mereka pergi dari tempat mereka berlibur. Setelah hampir dua jam akhirnya pesawat mendarat dengan selamat.


"Bianca, aku harus segera ke kantor, kau bisa pulang menggunakan taksi atau menghubungi pak Dodi agar menjemputmu disini!" ucap Arga pada Bianca.


"Aku akan ikut denganmu ke kantor," balas Bianca.


"Apa kau yakin? aku harus segera menemui seseorang di kantor, jadi...."


"Aku mengerti, aku akan menunggu dan tidak mengganggu," ucap Bianca memotong ucapan Arga lalu segera menghentikan taksi.


Merekapun pergi ke kantor dengan menggunakan taksi. Sesampainya di kantor, Arga segera berlari kecil memasuki kantornya.


Karena terlalu terburu-buru, Arga bahkan melupakan kopernya yang ada di bagasi taksi. Alhasil, Bianca menarik koper miliknya dan koper milik Arga lalu menitipkannya di resepsionis.


Bianca kemudian membawa langkahnya memasuki lift untuk pergi ke ruangan Arga. Baru saja Bianca keluar dari lift, ia melihat Arga yang baru saja keluar dari ruangannya bersama Daffa.


"Arga tunggu!" ucap Bianca menghentikan Arga yang akan memasuki ruangan lain.


"Ada apa Bianca? kenapa kau disini? tunggu saja di lobby!"


"Kau tidak boleh berantakan seperti ini," balas Bianca sambil merapikan jas Arga yang baru saja Arga kenakan saat berada di ruangannya.


Bianca juga merapikan rambut Arga sekenanya, setidaknya Arga tidak terlihat sangat berantakan saat itu.


Melihat apa yang dilakukan Bianca padanya, tanpa sadar Arga tersenyum tipis.


"Terima kasih Bee," ucap Arga dengan mengusap pelan kepala Bianca.


"Masuklah, selesaikan semua masalah dengan baik," ucap Bianca dengan penuh senyum, berusaha memberikan semangatnya pada Arga yang tampak panik saat itu.


Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan itu untuk bertemu dengan seseorang.


Di dalam ruangan itu, Arga dan Daffa berusaha bernegosiasi dengan CEO dari perusahaan lain yang berhasil merebut klien pentingnya.


Namun Arga dan Daffa tidak mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Pada akhirnya mereka tetap kehilangan klien penting mereka.


"Kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan, tapi kalian harus pikirkan apa yang kalian dapatkan jika kalian membawa masalah ini ke persidangan, tidak hanya kalah di persidangan, tapi nama perusahaan kalian juga akan dipertaruhkan!" ucap CEO itu lalu beranjak dari duduknya.


"Sepertinya sudah cukup pertemuan kita kali ini, saya permisi," lanjutnya lalu keluar dari ruangan itu.


Bianca yang sedari tadi menunggu di dekat ruangan pertemuan Arga hanya diam dengan harapan agar Arga bisa menyelesaikan masalah perusahaannya.


Bianca segera membawa pandangannya ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu yang terbuka.


Namun Bianca begitu terkejut saat ia melihat pria yang keluar dari ruangan itu.


"Hai cantik, kau disini rupanya," ucap pria itu sambil menyentuh dagu Bianca sekilas.


Seketika Bianca terdiam, jantungnya berdegup kencang setelah ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


"Dia.... suara itu......"


"Bianca, kau masih disini?" tanya Arga yang baru saja keluar dari ruangan bersama Daffa.


Bianca masih terdiam, dadanya bergemuruh menahan amarah dan rasa takut yang menjadi satu.


"Bianca, ada apa denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya Arga yang melihat wajah Bianca tampak pucat.


"Sepertinya dia tidak baik-baik saja," sahut Daffa.


Tiba-tiba Bianca merasa lututnya terasa lemas, membuatnya hampir saja terjatuh jika Arga tidak segera menangkapnya.


"Bianca, ada apa denganmu?" tanya Arga khawatir.


"Aku.... aku sedikit lelah," jawab Bianca berbohong.


Tanpa sadar Bianca memegang tangan Arga dengan sangat kuat saat itu. Melihat Bianca yang tampak tidak baik-baik saja, Argapun segera membopong Bianca masuk ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2