Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Terima Kasih


__ADS_3

Arga masih duduk di mobilnya yang terparkir di depan restoran. Arga hanya menghela nafasnya kasar setelah ia membaca pesan masuk dari Karina dan tak lama kemudian ia melihat Karina yang keluar dari restoran dan segera menghentikan taksi.


Setelah memastikan taksi yang dinaiki Karina pergi, Arga kemudian mengendarai mobilnya mengikuti taksi itu sampai ke rumah Karina.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun menghentikan mobilnya di depan rumah Karina dan segera keluar dari dalam mobil.


"Karina tunggu!" ucap Arga sambil menahan tangan Karina yang akan masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kau kesini Arga? bagaimana jika orang tuamu melihatmu disini?" tanya Karina sambil menarik tangannya dari Arga.


"Aku kesini karena aku mengkhawatirkanmu, maafkan sikap mama yang terlalu kasar padamu Karina," ucap Arga.


"Aku sudah terbiasa mendengar umpatan kasar dari Tante Nadine, jadi itu bukan masalah buatku," balas Karina dengan tersenyum tipis.


"Tidak perlu memikirkan apa yang mama katakan padamu, mama hanya kesal karena masa lalu kita," ucap Arga.


"Aku mengerti, aku memang bersalah, jadi aku tidak bisa menyalahkan apa yang Tante Nadine lakukan padaku, meskipun sebenarnya itu membuatku sangat bersedih," ucap Karina dengan menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku karena tidak bisa membelamu di depan mama, jika saja kita bisa bersama lagi aku pasti akan melakukan apapun untuk membelamu Karina," ucap Arga.


"Meskipun Tante Nadine melarangmu?" tanya Karina.


"Aku akan berusaha meyakinkan mama jika pilihan terbaikku adalah dirimu," balas Arga.


Karina tersenyum tipis lalu membawa langkahnya duduk di teras rumahnya diikuti oleh Arga.


"Kau sudah memiliki istri Arga, bagaimana bisa kau berkata seperti itu," ucap Karina.


"Kau tau tidak ada yang tidak bisa aku lakukan Karina," balas Arga.


"Iya aku tau itu, tapi sekarang ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kau lakukan," ucap Karina.


"Apa itu?" tanya Arga.


"Kembali padaku," jawab Karina dengan menatap kedua mata Arga.


"Aku menghubungimu karena aku menganggapmu sebagai teman baikku Arga, jadi aku mohon berhentilah untuk berharap lebih pada hubungan kita," lanjut Karina.


"Aku tidak peduli bagaimana kau menilaiku, yang kau harus tau hanya satu, pilihanmu untuk terus bersama Bian adalah pilihan yang salah karena hanya akulah yang benar-benar bisa membahagiakanmu," ucap Arga.


Karina terdiam untuk beberapa saat. Sebagai seseorang yang sudah dewasa, Karina mengerti jika Arga masih mengharapkannya.


Namun bagi Karina, kembali pada Arga adalah pilihan yang tidak mungkin ia pilih, terlebih setelah bagaimana hubungannya dengan Bian berjalan terlalu jauh.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Karina berdering, sebuah pesan masuk dari Bian.


"Sebentar lagi aku akan sampai, jadi bersiaplah!"


Seketika Karina beranjak dari duduknya setelah ia membaca pesan Bian.


"Ada apa Karina? apa terjadi sesuatu?" tanya Arga yang melihat Karina tampak panik.


"Cepat pergi Arga, Bian akan segera datang, jangan sampai dia melihatmu disini," jawab Karina sambil menarik tangan Arga agar beranjak dari duduknya.


Argapun segera beranjak, namun bukan untuk pergi, melainkan memeluk Karina dengan erat.


"Arga, apa yang kau lakukan? lepaskan aku!"


Semakin Karina meronta, semakin erat Arga memeluk Karina.


"Jika aku sudah tidak ada di hatimu, setidaknya aku masih ada dalam pikiranmu, aku yakin waktu yang akan membawaku kembali ke hatimu," ucap Arga lalu melepaskan Karina dari pelukannya.


"Pergilah Arga, cepat!" ucap Karina tidak mempedulikan ucapan Arga.


Argapun membawa langkahnya pergi lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Karina. Sedangkan Karina masih di tempatnya berdiri, memastikan jika Arga benar-benar pergi dari rumahnya.


Setelah memastikan Arga pergi, Karinapun segera masuk ke dalam rumah. Namun baru saja ia membuka pintu kamarnya, ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.


"Aaahh sial!" ucap Karina kesal lalu melemparkan tas selempangnya di atas ranjang dan segera membuka lemarinya.


Saat Karina akan melepas pakaiannya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


"Kau belum siap?" tanya Bian yang berdiri di pintu kamar Karina.


"Aku.... aku baru membaca pesanmu, maafkan aku," balas Karina berasalan.


"Aku memang baru mengirimnya," ucap Bian lalu membawa langkahnya masuk ke kamar Karina.


"Bisakah kau menunggu sebentar? aku akan bersiap dengan cepat!" tanya Karina.


"Tidak bisa, sudah sangat lama kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?"


"Tentu saja aku merindukanmu, aku....."


"Kau berbohong padaku?" tanya Bian memotong ucapan Karina sambil memeluk Karina dengan erat.

__ADS_1


"Tidak.... aku tidak berbohong apapun padamu," jawab Karina gugup.


"Hmmm.... sepertinya parfum yang kau pakai berbeda dari biasanya, apa mungkin kau baru saja bertemu seseorang? tapi tidak mungkin bau parfumnya menempel padamu jika hanya sekedar bertemu, apa mungkin kalian...."


"Tidak Bian, aku tidak bertemu siapapun, tunggulah di luar, aku akan bersiap dengan cepat," ucap Karina memotong ucapan Bian sambil mendorong Bian keluar dari kamarnya.


Namun bukannya keluar, Bian justru menarik rambut Karina dan mendorong Karina dengan kasar lalu menjatuhkannya di atas ranjang.


"Kau tidak bisa berbohong padaku Karina, lihatlah, tas selempangmu bahkan ada di atas ranjang, kau pasti baru saja memakainya bukan?" ucap Bian yang terlibat penuh emosi.


"Aku.... aku hanya mencobanya, aku...."


PLAAAAAKKKK


Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Karina.


"Semakin kau beralasan, semakin aku sangat marah Karina, jadi lebih baik kau diam, oke?"


Karina hanya menganggukkan kepalanya dengan menahan sakit di pipinya.


Bian tersenyum senang lalu membuka satu per satu kancing kemejanya dan melepaskan ikat pinggangnya.


Kini dada bidang Bian mulai terpampang di depan Karina setelah Bian melepaskan kemejanya.


Bian kemudian mendekati Karina dan memberikan kecupan singkatnya di pipi Karina yang baru saja dia tampar.


"Apa ini sakit?" tanya Bian dengan suara lembut.


Karina hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Jawablah jika aku bertanya, kau tidak bisu bukan?"


"Tidak.... ini sama sekali tidak sakit," balas Karina.


"Tapi kenapa kau terlihat muram? apa kau tidak senang melihat kedatanganku?" tanya Bian sambil memainkan rambut Karina.


"Tentu saja aku senang, aku sudah merindukanmu," jawab Karina dengan tersenyum, senyum yang ia paksakan.


"Good girl, tapi sayangnya aku sudah tidak tertarik padamu," ucap Bian lalu beranjak dari ranjang Karina.


"Apa maksudmu?" tanya Karina yang ikut beranjak.


"Kau terlihat sangat gendut Karina, apa kau berhenti diet?" balas Bian yang kembali terlihat emosi.


"Aku tetap diet, aku tidak bisa tiba-tiba kurus dalam waktu singkat Bian, semuanya butuh proses," ucap Karina.


"Kau mau kemana Bian? kau belum memberikannya padaku!" tanya Karina sambil menahan tangan Bian.


"Kau sudah membuatku marah Karina, anggap ini hukuman untukmu," balas Bian.


"Tidak Bian, aku benar-benar minta maaf, aku janji tidak akan berbohong lagi padamu, tolong berikan barang itu padaku sekarang," ucap Karina memohon, namun Bian melepas tangan Karina dengan kasar.


"Aku akan kembali besok pagi, jadi tunggu saja, nikmati malam yang akan menyiksamu Karina hahaha....." ucap Bian lalu pergi begitu saja.


Sedangkan Karina hanya terduduk di depan kamarnya, membiarkan Bian pergi meninggalkannya.


"Aaarrggghhh!!!!!" teriak Karina kesal pada dirinya sendiri.


**


Hari-hari berlalu, pagi itu Lola sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter.


Dengan diantar oleh Arga dan Bianca, Lola kembali ke tempat kosnya.


"Terima kasih atas semua hal yang kalian berdua lakukan untukku selama beberapa hari ini," ucap Lola saat ia sudah sampai di tempat kosnya


"Itulah gunanya teman Lola," balas Bianca sambil memeluk Lola.


"Tentang biaya rumah sakitnya, aku baru bisa mencicilnya setelah aku mendapatkan pekerjaan, karena untuk saat ini aku hanya memiliki uang untuk kebutuhanku sehari-hari, aku harap kau bisa mengerti Arga," ucap Lola pada Arga.


"Aku tidak memintamu untuk mengambilkannya, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan," balas Arga.


"Tidak Arga, itu uang yang sangat banyak, aku harus menggantinya walaupun dengan cara mencicil," ucap Lola.


"Aaahh iya, akun emailmu masih ada di ponselku dan tadi pagi sepertinya ada email masuk, apa kau sudah memeriksanya?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Lola.


"Iya aku sudah memeriksanya," jawab Lola.


"Apa isinya tentang surat lamaran yang kau kirimkan?" tanya Bianca yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bianca.


"Benarkah? apa itu artinya kau bisa bekerja disana?" tanya Bianca bersemangat.


"Tidak semudah itu Bianca, aku harus mengikuti beberapa tes dan wawancara, jika aku lolos aku akan bekerja disana selama beberapa bulan sebagai masa training," jelas Bianca.


"Aku yakin kau bisa lolos Lola, semoga ini adalah bagian dari langkah awal yang baik untukmu," ucap Bianca.


"Semoga saja," balas Lola.

__ADS_1


"Memangnya perusahaan apa yang mengirim email padamu?" tanya Arga pada Lola.


Argapun mengangguk-anggukkan kepalanya pelan setelah Lola menyebut nama sebuah perusahaan.


"Apa kau mengetahui perusahaan itu?" tanya Bianca pada Arga.


"Tentu saja, itu adalah salah satu anak cabang perusahaan papa," jawab Arga yang membuat Lola dan Bianca saling pandang karena terkejut.


"Kau serius Arga?" tanya Bianca tak percaya.


"Tentu saja, saat ini aku bekerja di perusahaan utama milik papa, tapi ada beberapa anak perusahaan yang di kelola oleh orang-orang kepercayaan papa yang bertanggung jawab langsung pada papa, jadi aku tidak terlalu banyak terlibat di perusahaan itu," jelas Arga.


"Aahhh begitu, itu artinya kekayaanmu itu adalah milik orang tuamu?" tanya Lola dengan polosnya.


"Perusahaan tempatku bekerja dan beberapa anak perusahaan itu memang milik papa, tapi...."


"Hotel!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Iya, bisnis yang benar-benar aku jalani sendiri hanya hotel, restoran dan kafe yang ada di beberapa kota," ucap Arga.


"Waaahhh..... ternyata kau memang kaya raya," ucap Lola dengan bertepuk tangan kecil.


"Tapi tetap lebih kaya orang tuaku," balas Arga dengan menghela nafasnya.


"Sudah cukup membicarakan hal itu, sekarang kau harus beristirahat!" ucap Bianca pada Lola.


Bianca dan Arga kemudian berpamitan pulang. Arga mengendarai mobilnya meninggalkan tempat kos Lola.


"Sepertinya temanmu mulai menyukaiku," ucap Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


"Lola?" tanya Bianca yang dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Jangan terlalu percaya diri, Arga!" ucap Bianca.


"Apa kau tidak melihatnya? dulu dia selalu marah padaku tanpa alasan, sekarang dia seperti seseorang yang berbeda!"


"Itu karena dia merasa berhutang banyak padamu," ucap Bianca.


"Padahal aku tidak memintanya untuk mengembalikan biaya administrasi rumah sakit," ucap Arga.


"Bukan hanya tentang itu Arga, dia sangat berterima kasih padamu karena kau sudah membantunya kabur dari rumahnya, meskipun sempat ada kesalahpahaman, tetapi aku sudah menjelaskannya pada Lola," ucap Bianca.


"Sekarang dia sudah melihat sisi baik yang ada dalam dirimu Arga, itu kenapa sikapnya berubah padamu," lanjut Bianca.


"Apa sebelumnya dia tidak pernah sadar jika aku laki-laki yang sangat baik dan sempurna?" tanya Arga yang membuat Bianca memutar kedua bola matanya.


"Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Lola dan keluarganya," ucap Arga.


"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?" balas Bianca.


"Kita tidak sedekat itu untuk membicarakan masalah pribadi," ucap Arga.


"Aku tidak bisa memberi tahumu lebih banyak Arga, aku sudah berjanji pada Lola," ucap Bianca.


"Baiklah aku mengerti, tapi apa Lola akan baik-baik saja jika dia di tempat kosnya sendirian? bisa jadi orang suruhan orang tuanya akan kembali bukan?"


"Semoga saja tidak, lagi pula tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya saat ini," balas Bianca.


"Aku masih tidak mengerti orang tua macam apa yang tega menyakiti anaknya seperti itu, apa mereka sudah kehilangan hati nurani mereka?"


"Itulah kenapa kau harus banyak bersyukur karena memiliki keluarga utuh yang penuh dengan kasih sayang, kau lihat sendiri bukan bagaimana aku dan Lola tidak memiliki keberuntungan itu!" ucap Bianca.


Seketika Arga terdiam. Ia memikirkan apa yang sudah ia lakukan pada orang tuanya. Dengan penuh kesadaran ia sudah membohongi kedua orang tua yang begitu menyayanginya.


Terlebih sang mama, sudah berkali-kali Arga membuat sang mama bersedih atas sikapnya.


"Maafkan Arga ma, Arga benar-benar tidak bisa melepaskan Karina begitu saja, Arga janji akan melepaskan Karina setelah Karina benar-benar menikah dengan Bian, tapi sebelum itu, Arga akan berusaha untuk membuatnya kembali pada Arga," ucap Arga dalam hati.


"Aku juga harus berterima kasih padamu Arga," ucap Bianca.


"Terima kasih? untuk apa?" tanya Arga.


"Terima kasih karena sudah mengenalkanku pada orang tuamu, terima kasih karena sudah mengizinkanku menjadi bagian dari kehangatan keluargamu," jawab Bianca dengan penuh senyum.


"Apa aku juga harus berterima kasih padamu sekarang?" tanya Arga.


"Tidak perlu, kau sudah melakukan banyak hal untukku, meskipun pada awalnya pernikahan ini terasa sangat berat, tapi sekarang aku mulai bisa beradaptasi dengan baik, aku mulai menikmatinya tanpa banyak mengeluh," ucap Bianca.


"Apa itu artinya kau senang menjadi istriku?" tanya Arga.


"Yang membuatku senang adalah mama Nadine dan papa David, mereka memberiku kasih sayang keluarga yang sudah lama tidak aku rasakan, sepertinya hanya itu yang membuatku menikmati pernikahan ini," balas Bianca


"Bagaimana denganku? apa aku tidak membuatmu senang?" tanya Arga dengan menunjuk dirinya sendiri


"Tentu saja kau membuatku senang, tapi sepertinya kau lebih sering membuatku kesal hehe...." balas Bianca dengan terkekeh.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia juga berterima kasih pada Bianca.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah menjalankan peranmu dengan sangat baik Bianca," ucap Arga dalam hati.


__ADS_2