Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Berlibur Berempat


__ADS_3

Malam yang panjang belum juga berlalu, Bianca dan Arga masih menikmati malam mereka berdua di dalam kamar Arga dengan penuh tawa.


Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa sampai lewat tengah malam, bahkan mereka tidak sadar jika hari sudah hampir pagi saat mereka masih asik membicarakan banyak hal.


Tidak butuh waktu lama bagi Bianca untuk melupakan ketakutannya karena Arga yang selalu bisa menyenangkan suasana hati Bianca.


Sampai akhirnya mereka berdua tertidur di atas ranjang. Bianca tertidur dengan terlentang, sedangkan Arga tertidur dengan posisi duduk.


Beruntung, Arga bangun tepat waktu meskipun ia hanya tidur beberapa jam saat itu.


Arga tersenyum menatap Bianca yang tertidur di dekatnya. Arga kemudian menarik selimut dan menutup tubuh Bianca dengan selimut sebelum ia beranjak dari ranjang untuk masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi, Arga bersiap untuk pergi ke kantor. Sampai Arga selesai mempersiapkan dirinya, ia melihat Bianca masih tertidur nyenyak di ranjangnya.


Argapun membiarkannya dan memberi tahu bibi untuk tidak membangunkan Bianca.


Beberapa jam setelah Arga berangkat ke kantor, Bianca yang masih berada di kamar Arga mulai mengerjapkan matanya.


Dengan malas Bianca beranjak dari tidurnya saat dia sudah melihat jam yang menunjukkan pukul 9 pagi.


"Arga pasti sudah berangkat," ucap Bianca sambil menguap lalu membereskan ranjang Arga sebelum ia keluar dari kamar Arga.


Bianca membawa langkahnya masuk ke kamarnya lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai.


Bianca tersenyum saat ia mengingat kejadian semalam, tentang bagaimana ia ketakutan, bagaimana Arga berusaha menenangkannya dan tentang bagaimana ia menghabiskan malam bersama Arga di kamar Arga.


Bianca kemudian memeriksa ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Arga.


"Aku sengaja meminta bibi untuk tidak membangunkanmu, tapi jika kau sudah bangun kau harus segera makan."


Bianca kemudian membalas pesan Arga dengan stiker lucu lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi sebelum ia menikmati sarapannya yang cukup siang hari itu.


Beruntung Bianca baik-baik saja dan tidak merasakan sakit di perutnya meskipun ia terlambat makan pagi itu.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, Bianca meminta pak Dodi untuk mengantarnya membeli kue lalu membawanya ke tempat kerja Arga.


Sesampainya di kantor, Bianca segera membawa langkahnya ke arah ruangan Arga.


"Selamat siang nyonya Arga," sapa Daffa yang melihat kedatangan Bianca.


"Siang Daffa," balas Bianca sambil memberikan satu kotak kue untuk Daffa.


"Waaahhh aku juga mendapatkan kue ternyata," ucap Daffa senang.


"Karena aku tau Arga tidak memberikan kuenya untukmu, jadi aku sengaja membeli dua," ucap Bianca.


"Eheemm!!"


Arga berdehem di pintu ruangannya saat ia melihat Bianca bersama Daffa.


"Masuklah, dia akan cemburu melihatmu bersamaku," ucap Daffa pada Bianca.


Bianca hanya tersenyum lalu membawa langkahnya menghampiri Arga.


"Kue kesukaanmu," ucap Bianca sambil memberikan kue pada Arga.


"Apa kau juga membelinya untuk Daffa?" tanya Arga.


"Iya, karena aku tau kau tidak akan membagi kue ini padanya," jawab Bianca.


"Aku sudah berbagi banyak hal yang aku miliki pada Daffa dan kali ini semua hal tentangmu hanya aku yang boleh memilikinya," ucap Arga.


Bianca hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arga.


"Aku tidak mengganggu waktumu bukan?" tanya Bianca memastikan.


"Tentu saja tidak, tapi setelah ini aku akan pergi meeting di luar bersama Daffa," jawab Arga.


"Apa kau akan pulang terlambat nanti?" tanya Bianca.


"Aku usahakan untuk pulang secepat mungkin," jawab Arga.


"Aaahh ya, weekend besok Daffa mengajak kita berlibur, dia juga mengajak Lola," ucap Arga.


"Sepertinya menyenangkan, kemana kita akan berlibur?" tanya Bianca.


"Kita akan pergi ke daerah pegunungan dan menginap di villa selama 2 malam," jawab Arga.


Setelah beberapa lama mengobrol, Bianca kemudian meninggalkan ruangan Arga karena Arga harus melanjutkan pekerjaannya dan melakukan meeting di luar kantor.


**


Hari-hari berganti, waktu yang ditunggu untuk berlibur telah tiba.


Arga mengendarai mobilnya untuk menjemput Daffa terlebih dahulu kemudian menjemput Lola.


Setelah semuanya siap, Arga mengendarai mobilnya ke luar dari perbatasan kota untuk pergi ke daerah pegunungan bersama Bianca yang duduk di sampingnya, sedangkan Daffa dan Lola duduk di bangku belakang.

__ADS_1


Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa sepanjang perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di tujuan pertama mereka yaitu bukit perkebunan teh.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang ada disana, berfoto dan melakukan banyak hal menyenangkan lainnya.


Setelah puas menikmati udara segar di atas bukit perkebunan teh, Arga mengajak mereka untuk beristirahat di vila miliknya yang berada tidak jauh dari bukit perkebunan teh itu.


Sesampainya di vila, mereka segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam vila dengan disambut oleh 2 orang paruh baya yang memang Arga tugaskan untuk menjaga dan membersihkan vila miliknya.


"Disini hanya ada dua kamar, aku akan tidur bersama Daffa, kalian bisa tidur berdua di kamar utama," ucap Arga pada Bianca dan Lola.


"Kenapa kau tidak tidur bersama Bianca saja?" tanya Lola yang segera mendapat pukulan dari Bianca.


"Apa maksudmu kau ingin tidur berdua dengan Daffa?" tanya Bianca yang hanya membuat Lola terkekeh.


Bianca kemudian menarik tangan Lola untuk masuk ke salah satu kamar yang ada disana. Di dalam kamar, mereka segera membaringkan badan mereka di atas ranjang.


"Apa selama ini kau belum pernah tidur di satu ranjang bersama Arga, Bianca?" tanya Lola pada Bianca.


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"


"Aku merasa aneh saja, kalian tinggal satu atap dalam waktu yang cukup lama, bagaimana bisa kalian menahan diri untuk tidak tidur bersama?"


"Jawabannya mudah, karena aku dan Arga tidak berpikiran kotor sepertimu Lola!" ucap Bianca sambil memukul kepala Lola dengan bantal.


Lola hanya tertawa lalu beranjak dari ranjang untuk melihat pemandangan dari jendela kamarnya.


Diam-diam Lola mengirim pesan pada Daffa tanpa sepengetahuan Bianca.


"Ada gazebo tertutup di dekat kamar utama."


Tanpa menunggu lama, Daffapun membalas pesan Lola.


"Mau melihat bintang disana malam ini?"


Dengan cepat Lolapun membalasnya.


"Sepertinya menyenangkan."


Seketika Lola tidak dapat menahan senyumnya dan hal itu dilihat oleh Bianca.


"Apa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila, Lola? apa kau baru saja menang lotre?" tanya Bianca dengan masih berbaring di atas ranjang.


"Sepertinya begitu," balas Lola dengan penuh senyum lalu berjalan keluar dari kamar.


Bianca hanya mengernyitkan keningnya melihat sikap Lola. Ia kemudian beranjak dari ranjang dan mengikuti Lola untuk keluar dari kamar.


Mereka semua duduk melingkar di meja makan saat bibi baru saja menyiapkan makan siang untuk mereka.


Setelah selesai makan siang, mereka kemudian berbelanja kebutuhan barbeque dan saat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, merekapun mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Arga dan Daffa sibuk menyiapkan perapian dan pembakaran, sedangkan Bianca dan Lola sibuk menyiapkan bahan yang akan mereka panggang.


Di bawah langit dengan penuh bintang, mereka berempat menikmati pesta kecil mereka di depan vila.


Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa bersama sampai larut malam. Semakin malam angin semakin terasa dingin.


Merekapun memutuskan untuk menyudahi acara barbeque mereka lalu masuk ke dalam rumah setelah membereskan semuanya.


Bianca dan Lola masuk ke kamar utama, Arga dan Daffa masuk ke kamar lain.


Waktu berlalu dan malam semakin larut. Bianca yang sudah tertidur nyenyak tiba-tiba terbangun saat dia merasa ingin buang air kecil.


Dengan malas Biancapun membawa langkahnya ke kamar mandi. Setelah ia keluar dari kamar mandi dan akan kembali tidur, ia baru menyadari jika Lola tidak ada di sampingnya.


"Lola, kemana dia?" tanya Bianca yang segera keluar dari kamarnya.


Saat Bianca baru saja keluar dari kamar, ia bertemu Arga yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa minuman.


"Ada apa Bianca? apa kau mau minum?" tanya Arga sambil mengulurkan gelas miliknya pada Bianca.


"Tidak, aku mencari Lola," jawab Bianca.


"Apa dia tidak ada di kamar?" tanya Arga.


"Aku tidak akan mencarinya jika dia ada di kamar, Arga," balas Bianca.


"Aahh iya, sejak kapan dia pergi? apa mungkin dia pergi bersama Daffa?"


"Apa Daffa juga tidak ada di kamarnya?" tanya Bianca.


"Daffa keluar dari kamar sejak tadi, dia bilang hanya ingin mengambil minum tapi aku tidak melihatnya di dapur," jawab Arga.


"Aku harus mencari mereka berdua," ucap Bianca yang berniat untuk keluar dari vila.


"Untuk apa Bianca? mungkin mereka sengaja ingin keluar berdua," tanya Arga sambil menahan tangan Bianca.


"Setidaknya aku tau jika Lola memang benar-benar bersama Daffa, bagaimana jika Lola tidak bersama Daffa? aku hanya ingin memastikannya saja Arga," balas Bianca.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemanimu," ucap Arga lalu menaruh gelasnya dan berjalan keluar bersama Bianca.


Baru saja Arga membuka pintu, hawa dingin seketika terasa semakin menusuk tulang.


"Lola..... kau mmmppphhh!"


Bianca menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Arga menutup mulutnya dengan tangannya.


"Jangan memanggilnya, mungkin mereka berdua sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa kita ganggu," ucap Arga berbisik pada Bianca.


Bianca hanya mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Arga yang terdengar tidak masuk akal baginya.


"Kenapa kau berkata seperti itu? apa kau....."


"Sssssttt..... ikuti aku, jaga langkahmu tetap pelan dan hati-hati," ucap Arga memotong ucapan Bianca.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu berjalan pelan bersama Arga ke arah mobil yang terparkir.


Setelah mereka berada dekat dengan mobil, merekapun mengintip ke dalam mobil namun tidak mendapati siapapun disana.


"Tidak ada, mereka tidak ada disini, kau terlalu berpikiran jauh Arga, mungkin mereka....."


"Sssssttt..... aku tau tempat yang lain," ucap Arga berbisik.


Arga kemudian mengajak Bianca berjalan ke arah gazebo yang ada di samping kamar utama.


Di sisi kanan, kiri dan belakang gazebo itu memang cukup tertutup dengan lampu temaram di tengahnya.


Siapapun yang ada di gazebo itu tidak akan terlihat jika tidak dilihat dari depan. Namun Arga mengetahui ada sedikit celah di bagian belakang gazebo yang menghadap ke perbukitan yang ada di belakang vila itu.


Dengan pelan dan hati-hati Arga mendekati celah gazebo itu bersama Bianca. Namun sebelum mereka sampai, mereka mendengar suara-suara tipis dari gazebo itu.


Seketika Arga membawa pandangannya pada Bianca dengan tersenyum karena ia yakin suara itu pasti berasal dari Daffa dan Lola yang berada di gazebo.


Arga kemudian mendekatkan satu matanya pada lubang kecil yang ada di bagian belakang gazebo dan mendapati hal yang tidak terduga terjadi.


Argapun segera meminta Bianca untuk melihatnya dan sama seperti Arga, Bianca begitu terkejut melihat apa yang Lola dan Daffa lakukan disana.


Seketika Bianca membawa pandangannya pada Arga dengan menutup mulutnya, khawatir jika tiba-tiba ia bersuara karena terlalu terkejut melihat apa yang baru saja dia lihat dari celah kecil gazebo.


Arga hanya tersenyum lalu meraih tangan Bianca dan mengajaknya meninggalkan gazebo itu.


"Sudah ku duga, mereka pasti memiliki hubungan yang lebih dari teman," ucap Arga.


"Tapi aku tidak menyangka jika mereka sudah sejauh itu," balas Bianca.


"Sebaiknya kita masuk, udara disini sangat dingin," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Bianca dan Argapun masuk ke dalam vila, namun bukannya masuk ke kamar, mereka duduk di sofa ruang tamu menunggu Lola dan Daffa kembali.


"Tunggu disini, aku akan mengambil pakaian hangat dan selimut," ucap Arga lalu masuk ke kamarnya.


Tak lama kemudian Arga kembali dengan membawa selimut tebal dan hoodie miliknya.


"Pakailah!" ucap Arga sambil memberikan hoodienya pada Bianca.


"Bagaimana denganmu?" tanya Bianca yang melihat Arga hanya mengenakan baju berlengan pendek.


"Aku tidak merasa dingin," jawab Arga.


Biancapun memakai hoodie milik Arga lalu menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang Arga bawa.


"Setidaknya kau memakai selimut" ucap Bianca sambil melebarkan selimutnya untuk Arga.


Mereka kini duduk dengan satu selimut yang menghangatkan tubuh mereka.


"Mereka akan terkejut saat melihat kita menunggu mereka disini hehe...." ucap Arga dengan terkekeh.


"Menurutmu sejak kapan mereka berhubungan? apa kau sudah mengetahuinya sebelumnya?" tanya Bianca.


"Aku tau Daffa menyukai Lola, tapi aku tidak tau jika mereka sudah berhubungan, aku pikir mereka hanya berteman dekat," jawab Arga.


"Aku juga berpikir seperti itu," ucap Bianca


Setelah cukup lama menunggu, Bianca dan Arga akhirnya tertidur. Entah siapa yang lebih dulu tertidur malam itu, tapi yang pasti mereka tertidur dengan posisi duduk di sofa di dalam satu selimut yang sama


Bianca menyandarkan kepalanya di bahu Arga, sedangkan Arga tertidur dengan bersandarkan pada sandaran sofa.


Di sisi lain, Lola dan Daffa yang sudah menyelesaikan "aktivitas" rahasia mereka segera kembali masuk ke vila sebelum Arga dan Bianca memergoki mereka disana.


Namun saat baru saja masuk ke dalam vila, Lola dan Daffa begitu terkejut saat mereka melihat Arga dan Bianca yang tidur berdua dengan posisi duduk di sofa.


"Kenapa mereka tertidur disini?" tanya Lola berbisik pada Daffa.


"Tidak mungkin mereka mencari kita bukan?" balas Daffa bertanya.


"Entahlah, tapi biarkan saja, biarkan mereka tidur berdua dengan nyenyak, bukankah mereka tidak pernah tidur berdua seperti ini?"

__ADS_1


"Kau benar," balas Daffa dengan menganggukkan kepalanya.


Lola dan Daffapun masuk ke kamar mereka masing-masing, sedangkan Bianca dan Arga masih tidur dengan nyenyak di sofa ruang tamu.


__ADS_2