Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Trauma


__ADS_3

Arga masih menemani Bianca di dalam kamarnya. Bianca yang terbaring pingsan setelah beberapa lama akhirnya mulai mengerjapkan matanya dengan perlahan.


Mata yang layu dengan sorot ketakutan itupun akhirnya terbuka. Melihat hal itu Argapun tersenyum pada Bianca.


"Kau di kamarku sekarang, minumlah!" ucap Arga lalu mengambil segelas air yang ada di mejanya dan memberikannya pada Bianca.


Bianca kemudian beranjak dan meminum sedikit air yang Arga berikan padanya.


"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, setelah itu ceritakan padaku apa yang terjadi padamu," ucap Arga.


Bianca hanya terdiam, ia menghela nafasnya panjang sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Arga kemudian duduk di tepi ranjangnya. Meraih kedua tangan Bianca dan menggenggamnya, berusaha menenangkan Bianca yang saat itu masih terlihat tidak baik baik saja.


Untuk pertama kalinya Bianca membiarkan Arga menggenggam tangannya saat kedua matanya masih terpejam, berusaha menenangkan gejolak rasa takut yang masih menghantuinya.


Namun saat Arga menggeser posisi duduknya, berniat untuk membawa Bianca ke dalam pelukannya, Bianca seketika menghindar dan menarik tangannya dari genggaman tangan Arga.


Bianca menarik nafas dalam dalam dengan memegang dadanya yang masih berdebar kencang karena rasa takutnya.


"Are you okay Bee?" tanya Arga penuh perhatian.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun kemudian menurunkan kakinya dari ranjang Arga.


"Bolehkah aku tidur di kamar tamu malam ini?" tanya Bianca pada Arga.


"Lampu di kamar tamu sedang bermasalah, sebaiknya kau tidur disini saja," jawab Arga.


"Tidak, aku akan tidur di tempat lain saja," ucap Bianca yang segera beranjak dari duduknya.


"Kau mau tidur dimana Bianca? lampu di kamarmu juga masih padam, besok baru bisa diperbaiki!"


"Aku bisa tidur di ruang tamu atau tempat lain yang terang," jelas Bianca.


"Lebih baik kau disini, aku janji aku tidak akan melakukan apapun yang kau tidak suka," ucap Arga.


Bianca menggelengkan kepalanya pelan kemudian berjalan keluar dari ruangan Arga. Bianca lalu membawa langkahnya ke arah dapur untuk mengambil minuman.


Ia meminum satu gelas penuh, berharap ia bisa menenangkan dirinya sendiri. Bianca kemudian berjalan ke arah ruang tamu lalu duduk di sofa ruang tamu.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Bayang-bayang kegelapan masih terekam dengan jelas di kepalanya.


Berkali-kali Bianca menghela nafasnya panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun tidak mudah baginya karena rasa takut itu masih saja menghantui pikirannya.


Tiba tiba Arga datang dan menghampiri Bianca sambil membawa selimut miliknya lalu memberikannya pada Bianca.


"Apa yang mengganggu pikiranmu Bianca? jika kau kau tidak bisa tidur disini, kau bisa tidur di kamarku," tanya Arga mengkhawatirkan Bianca yang hanya terdiam di atas sofa.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Pandangannya kosong, degup jantungnya masih berdetak kencang dan rasa takut masih menyelimuti dirinya saat itu.


Arga kemudian pergi ke dapur. Tak lama kemudian kembali dengan membawa coklat hangat dan memberikannya pada Bianca.


"Minumlah!" ucap Arga lalu duduk di samping bianca.


"Terima kasih," balas Bianca lalu meminum coklat hangat buatan Arga.


"Tidurlah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi," ucap Arga yang seolah mengerti kekhawatiran Bianca.


Bianca kemudian membawa pandangannya pada Arga, menatap Arga untuk beberapa saat kemudian mengalihkan pandangannya.


"Kau pasti sedang menertawakanku sekarang," ucap Bianca.


"Tidak, aku justru mengkhawatirkanmu, itu kenapa aku memintamu untuk tidur di kamarku," balas Arga.


"Kenapa kau mengkhawatirkanku?" tanya Bianca.


"Karena aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya, kau seperti bukan Bianca yang biasa aku temui, aku hanya melihat ketakutan dan kegelisahan di wajahmu," jelas Arga.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu menundukkan kepalanya.


"Ini hanya tentang masa laluku, tentang ketakutan yang belum bisa aku kendalikan sendiri, mungkin akan terdengar sangat konyol bagimu, tapi mengingatnya lagi seperti membuatku kembali berada di situasi yang membuatku takut," ucap Bianca.


"Kau bisa menceritakannya padaku jika kau mau, mungkin aku bisa membantumu untuk mengatasinya," balas Arga.

__ADS_1


Lagi-lagi Bianca menghela nafasnya panjang. Ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya, yang membuatnya sulit untuk menceritakan tentang apa yang sebenarnya ia rasakan saat itu.


"Kejadian itu terjadi saat aku masih kecil, malam itu adalah malam dimana aku dan mama papa akan pergi makan malam untuk merayakan ulang tahunku," ucap Bianca memulai ceritanya.


**Flashback**


Hari itu adalah hari ulang tahun Bianca. Mama dan papa Bianca memutuskan untuk menginap semalam di villa milik teman orang tua Bianca yang berada di daerah pegunungan.


Malam harinya, mama dan papa Bianca mengajak Bianca untuk pergi makan malam di restoran. Untuk menuju ke restoran itu mereka harus melewati jalanan yang sepi dan gelap.


Saat di tengah perjalanan, tiba tiba ponsel papa Bianca berdering. Dengan masih mengendarai mobilnya, papa Biancapun menerima panggilan itu.


Karena fokusnya terbagi, saat berada di tikungan jalan, papa Bianca terkejut dengan sorot lampu truk yang tiba tiba mengarah ke arah mobil keluarga Bianca.


Alhasil papa Biancapun segera membanting setir ke kiri, dimana tepat di kiri mereka adalah jurang yang cukup dalam dan sangat gelap.


Dalam kegelapan itu mobil mereka berguling ke bawah jurang dengan sesekali menabrak beberapa pohon yang ada disana.


"Mama.... papa.....!!" teriak Bianca kecil yang saat itu duduk di bangku belakang seorang diri.


Dalam keadaan yang sulit itu mama Bianca berusaha untuk meraih Bianca, namun belum sempat Bianca berada dalam dekapan sang mama, mobil sudah menghantam dasar jurang.


Suasana gelap bersama cuitan burung malam membuat Bianca kecil semakin ketakutan, terlebih saat ia melihat kedua orang tuanya yang sudah berlumuran darah tanpa bergerak sedikitpun.


"Mama.... papa.....!!" teriak Bianca dengan isak tangis yang menggema di dasar jurang.


Entah mendapat kekuatan dari mana, Bianca kecil yang sudah beberapa kali terbentur kursi mobil dan terkena pecahan kaca di beberapa bagian tubuhnya, masih bisa menjaga kesadarannya, bahkan masih bisa berteriak memanggil mama dan papanya.


Hingga akhirnya bantuan datang, Bianca dan mama papanya pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Setelah beberapa hari berlalu, orang tua Biancapun berhasil melewati masa kritis mereka.


Sejak kejadian itu Bianca menjadi sangat pendiam, hingga akhirnya orang tua Bianca membawa Bianca kecil ke psikolog.


Lambat laun Bianca mulai kembali menjadi anak kecil yang ceria seperti sebelumnya. Semua orang mengira jika trauma Bianca karena kejadian itu sudah sembuh dan hilang.


Namun siapa sangka, setelah bertahun-tahun berlalu, takdir membawa Bianca kembali ke masa-masa sulit itu.


Karena hari itu adalah hari ulang tahunnya, Biancapun menghubungi orang tuanya, sekedar ingin mendengar suara orang tuanya di pergantian hari tepat pukul 12 malam.


"Selamat ulang tahun sayang, maaf karena mama dan papa sibuk beberapa hari ini, besok mama dan papa akan pulang," ucap papa Bianca.


"Rasanya besok sangat lama, Bianca sudah tidak sabar bertemu mama dan papa, dimana mama sekarang pa? tumben sekali papa yang menerima panggilan Bianca di ponsel mama!"


"Mama ada di samping papa, sedang sibuk mengerjakan sesuatu," jawab sang papa.


"Mama dan papa jangan terlalu sibuk, Bianca....."


CKIIIIIITTTTTT BRAAAAAKKKKKKKKK


"AAAAAAAAAA!!!!"


"AAAAAAAAAA...... AAAAAAAA..... Bianca....."


Bianca terdiam, seketika jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mendengar suara benturan keras dan teriakan kedua orang tuanya.


Bianca ingat, suara itu seperti tidak asing di telinganya. Rekaman memori masa kecilnya kembali berputar di kepalanya.


Bersamaan dengan itu seluruh lampu di rumah Bianca tiba tiba padam. Hanya ada gelap dan suara teriakan kedua orang tuanya yang menggema di telinga Bianca saat itu.


Suara teriakan dan benturan terus Bianca dengar sampai akhirnya benturan yang sangat keras mengakhiri semua suara itu.


"Bianca....."


Terdengar suara yang lemah dari seorang wanita di ujung gelap yang jauh dari Bianca.


"Mama dan papa.... minta maaf sayang..... jaga dirimu baik baik..... dan tetaplah menjadi Bianca yang selalu ceria dan menebar kebahagiaan pada.... semua orang....."


Hening, tak ada suara apapun lagi yang terdengar. Bianca masih terdiam, kedua kakinya yang sudah lemas sejak tadi membuat Bianca akhirnya terjatuh di lantai.


Degup jantungnya berdetak sangat kencang. Tiba tiba saja dunia yang dipijaknya seperti runtuh dengan sangat dalam.


"Mama.... papa...." panggil Bianca pelan dengan suara bergetar dan air mata yang sudah membasahi pipinya sejak tadi.

__ADS_1


Tenggorokannya seperti tercekat, dadanya terasa sesak. Rasa takut yang pernah ia alami saat kecil kembali ia rasakan bahkan semakin terasa sakit dan menghancurkannya.


Dalam keadaan gelap di sekitarnya, Bianca hanya terduduk dengan menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya.


Rasa sakit dan takut bercampur memenuhi dirinya yang sangat lemah saat itu. Dadanya yang semakin sesak pada akhirnya membuatnya jatuh pingsan.


Saat Bianca membuka matanya, seseorang sudah ada di sampingnya, memberi tahunya jika kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan itu.


Biancapun hanya bisa diam dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit kini menjeratnya dengan sangat kuat. Untuk sekejap saja dia sudah kehilangan dua orang yang sangat ia cintai.


Di atas kedua makam orang tuanya, Bianca menangis tersedu-sedu dengan isak tangis yang begitu memilukan. Kebahagiaannya seolah menghilang begitu saja dari hidupnya.


Untuk beberapa saat ia merutuki kebodohannya sendiri yang tidak mengetahui jika saat itu sang papa menerima panggilannya dalam keadaan sedang mengemudi.


"Ini bukan kesalahanmu Bianca, apa yang terjadi sudah menjadi bagian dari takdir yang tidak bisa dihindari," ucap Bara yang saat itu masih menemani Bianca di makam orang tuanya.


"Jika saat itu Bianca tidak menghubungi mama, papa tidak akan menerima panggilan Bianca sambil menyetir kak," balas Bianca dengan terisak.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Bianca, aku yakin om dan Tante tidak akan suka melihatmu seperti ini," ucap Bara.


"Apa yang sekarang harus Bianca lakukan kak? tidak ada siapapun yang Bianca miliki kecuali mama dan papa!"


"Ada aku Bianca, aku akan selalu ada untukmu," ucap Bara sambil meraih Bianca ke dalam dekapannya.


"Tenangkan dirimu Bianca, biarkan mama dan papamu tenang disana, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah menjalani hidupmu dengan lebih baik, aku yakin itu akan membuat Mama dan papamu bahagia disana," ucap Bara.


Bianca hanya terdiam dengan isak tangis yang masih tersisa. Dalam diamnya, ia teringat ucapan terakhir sang Mama padanya.


"Tetaplah menjadi Bianca yang selalu ceria dan menebar kebahagiaan pada semua orang!"


Air mata Bianca kembali luruh, suara lembut itu kini tidak akan pernah bisa ia dengar lagi.


"Bagaimana Bianca bisa menebar kebahagiaan ma, sedangkan kebahagiaan Bianca sudah mama dan papa bawa pergi," ucap Bianca dalam hati.


Hari hari berlalu. Bara yang saat itu sedang menempuh kuliahnya di luar negeri, memutuskan untuk mengambil cuti demi menemani Bianca yang masih belum bisa menerima kepergian kedua orang tuanya.


Tidak mudah bagi Bianca untuk bisa melupakan kepergian orang tuanya. Namun Bara selalu ada untuk Bianca, berusaha menghibur Bianca dan membuat Bianca kembali tertawa.


"Jadi kau akan tinggal bersama Tante Felly sekarang?" tanya Bara.


"Iya kak, sepertinya itu lebih baik daripada tinggal sendirian," jawab Bianca.


"Kau benar, kau harus ingat pesan terakhir mamamu Bianca, kau harus tetap menjadi Bianca yang ceria dan menebar kebahagiaan pada semua orang, mama dan papamu pasti akan sangat bahagia jika melihatku bisa menjalani hidup seperti yang mereka inginkan!" ucap Bara.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Waktu yang ia lalui bersama Bara pada akhirnya bisa membuat Bianca kembali menjalani hari harinya dengan ceria.


Perlahan ia mulai bisa menerima kepergian orang tuanya. Bersamaan dengan itu, Barapun kembali ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.


"Tunggu aku kembali Bianca, aku janji akan mengatakan semuanya setelah aku kembali," ucap Bara pada Bianca saat Bianca mengantar Bara ke bandara.


"Mengatakan apa kak?" tanya Bianca.


"Aku akan mengatakannya setelah aku menyelesaikan kuliahku!" jawab Bara kemudian memeluk Bianca sebelum ia berjalan pergi.


Bianca hanya terdiam, menatap punggung Bara yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.


Tanpa seorangpun tahu, Bianca masih menyimpan kesedihan dan ketakutan yang besar dalam dirinya. Semua itu akan kembali ia rasakan saat ia berada di ruangan yang gelap.


Semua rasa menyakitkan itu kembali datang melemahkan Bianca, memperlihatkan sisi lain Bianca yang tidak banyak orang tahu, bahkan Barapun tidak mengetahuinya.


Hanya Lola yang mengetahui hal itu karena Lola pernah melihatnya sendiri saat tanpa sengaja ia mendengar teriakan Bianca di salah satu ruangan yang ada di kampus.


Saat itu sedang ada kegiatan kampus yang mengharuskan beberapa mahasiswa berada di kampus sampai malam. Bianca yang berada di salah satu ruangan tiba tiba berteriak kencang saat lampu di dalam ruangan itu padam dengan tiba tiba.


Lola yang mendengarnya segera berlari ke dalam ruangan itu, dengan dibantu senter ponselnya ia menemukan Bianca yang meringkuk ketakutan dengan keadaan sangat kacau.


Dari sanalah mereka saling mengenal dan menjadi sahabat baik. Sejak saat itu Bianca dan Lola seperti tidak pernah terpisahkan.


mereka saling berbagi cerita, saling membantu dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.


**Flashback off**


Arga terdiam mendengar semua cerita Bianca. kini Arga mengerti jika Bianca mengalami trauma karena masa lalunya saat kehilangan orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2