
Bianca yang mendapat pelukan dari Arga seketika membalikkan badannya lalu membalas pelukan Arga.
Malam yang larutpun membawa mereka berdua terbang bersama mimpi indah mereka sampai pagi datang.
Bianca mengerjapkan matanya dan tersenyum saat melihat Arga yang masih terpejam di sampingnya.
Bianca kemudian mendaratkan kecupan singkatnya yang dengan mudah membangunkan Arga.
"Bee...."
"Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Bianca.
"Tentu saja tidak," jawab Arga sambil memeluk Bianca.
"Tentang apa yang terjadi semalam, aku berharap jika kau benar-benar mempercayaiku Arga," ucap Bianca.
"Aku mempercayaimu Bianca, maafkan sikapku yang berlebihan, aku hanya cemburu melihatmu bersama Bara, pikiranku kacau dan aku hanya berpikir jika kau membela Bara dan lebih menghawatirkan Bara," balas Arga.
"Aku tidak mungkin seperti itu Arga, rasanya sangat sedih saat kau tidak mempercayaiku," ucap Bianca.
"Maafkan aku," ucap Arga yang semakin erat mendekap Bianca.
Untuk beberapa saat mereka menikmati pagi mereka dengan saling berpelukan di atas ranjang sampai tiba-tiba ponsel Arga berdering.
"Lepaskan aku Arga, ponselmu berdering!" ucap Bianca yang sedikit meronta.
"Biarkan saja, aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu hari liburku," balas Arga yang masih memeluk Bianca dengan erat.
"Lihatlah dulu, mungkin itu Daffa, Luna atau orang tuamu!" ucap Bianca.
Dengan menghela nafasnya, Arga melepaskan Bianca dari pelukannya lalu mengambil ponsel yang ada di atas laci dan mendapati sebuah pesan masuk dari Luna.
"Luna ingin bertemu kakak."
Argapun segera membalas pesan Luna.
"Tunggu saja di rumah, kakak akan kesana bersama Bianca."
Arga dan Bianca kemudian bergantian untuk mandi lalu menikmati sarapan mereka bersama sebelum mereka meninggalkan rumah untuk pergi ke rumah orang tua Arga.
Sesampainya di rumah orang tua Arga, Bianca segera membantu Nadine yang sedang menanam tanaman baru di halaman belakang, sedangkan Arga segera menemui Luna di balkon lantai 2.
"Kenapa kau mengganggu kakak pagi-pagi sekali? apa kau sangat merindukan kakak?" tanya Arga sambil merangkul bahu Luna.
"Jawablah dengan jujur kak, apa yang sudah kakak lakukan pada kak Bara?" ucap Luna sambil melepaskan tangan Arga dari bahunya.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Arga.
"Kak Bara tiba-tiba mengirimkan pesan yang aneh pada Luna dan Luna yakin pasti kak Arga baru saja melakukan sesuatu pada kak Bara," jelas Luna sambil memberikan ponselnya pada Arga dan menunjukkan pesan yang Bara kirimkan padanya.
"Maafkan aku Luna, mungkin memang seharusnya kita tidak bertemu dan saling mengenal, terima kasih atas banyak hal indah yang sempat kita jalani, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Arga tersenyum tipis lalu membawa pandangannya ke arah taman dimana ada Bianca dan sang Mama disana.
"Kak Bara tidak mungkin tiba-tiba mengirim pesan seperti ini, pasti kak Arga melakukan sesuatu padanya bukan?" ucap Luna sekaligus bertanya.
"Apa kau mengkhawatirkannya?" tanya Arga.
"Luna tidak mengkhawatirkannya, Luna hanya tidak ingin kak Arga melakukan hal yang terlalu jauh hanya karena hubungan Luna dan kak Bara yang tidak baik," jawab Luna.
"Kakak hanya sedikit memberinya pelajaran agar dia berhenti mengganggumu dan mengganggu Bianca," ucap Arga.
"Mengganggu kak Bianca? tapi bukankah kak Bara dan kak Bianca sudah tidak berhubungan?" tanya Luna.
"Dia bukan laki-laki yang baik Luna, setelah kau mencampakkannya dia berusaha untuk kembali pada Bianca dan itu membuat kakak sangat marah, jadi apa yang kakak lakukan padanya bukan hanya karena dia menyakitimu tapi juga karena dia berusaha merebut Bianca dari kakak," jelas Arga.
Luna menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi.
"Tidak perlu bersedih hanya karena laki-laki brengsek sepertinya Luna, kau berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada Bara," ucap Arga.
"Luna hanya tidak menyangka jika kak Bara sejahat itu, karena selama ini Luna hanya melihatnya sebagai sosok laki-laki yang sangat sempurna di mata Luna, Luna bahkan terang-terangan menunjukkan perasaan Luna padanya, benar-benar sangat memalukan," ucap Luna sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sekarang kau harus bisa belajar dari pengalaman burukmu itu, satu hal yang harus kau tahu Luna, tidak ada laki-laki di dunia ini yang sempurna selain kakak hahaha....." ucap Arga sambil menepuk pelan kepala Luna.
"Walaupun itu terdengar menyebalkan tapi Luna setuju, kak Bianca pasti sangat beruntung karena mendapatkan kakak," ucap Luna dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Tidak Luna, justru kakak yang sangat beruntung karena mendapatkan Bianca, dengan adanya Bianca dalam hidup kakak, kakak bisa menjalani kehidupan kakak dengan lebih baik dan menyadari banyak kebodohan yang sudah kakak lakukan."
"Kalau begitu kalian berdua sama-sama beruntung, Luna hanya bisa berdoa untuk kebaikan pernikahan kakak dan kak Bianca," ucap Luna.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan kembali membawa pandangannya menatap Bianca yang sedang sibuk menanam bunga bersama sang Mama di taman.
Setelah Bianca menyelesaikan kesibukannya dengan Nadine dan Arga sudah menyelesaikan pembicaraannya dengan Luna, merekapun berkumpul di teras rumah.
"Bagaimana dengan kafemu Bianca? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Nadine pada Bianca.
"Semuanya berjalan dengan baik ma, Bianca juga belajar banyak hal dari Arga," jawab Bianca.
"Bagaimana denganmu Arga? mama dengar belum lama ini kau menjual beberapa aset milikmu yang ada di beberapa kota, apa itu benar?" tanya Nadine pada Arga yang membuat Arga sedikit gugup saat itu.
Mendengar pertanyaan Nadine, Biancapun segera membawa pandangannya pada Arga karena ia sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang Nadine ditanyakan pada Arga.
"Arga perlu pembaharuan ma," jawab Arga beralasan.
"Kau tidak sedang terlibat masalah besar bukan? aset yang kau jual tidak hanya berharga puluhan miliar Arga," tanya Nadine curiga
"Mama jangan berpikir terlalu jauh, Arga memang hanya ingin melakukan pembaharuan saja, lagi pula beberapa aset yang Arga jual adalah aset yang kurang berkembang karena berada di daerah yang kurang produktif," jelas Arga berusaha meyakinkan sang mama.
"Baiklah untuk saat ini Mama mempercayaimu, Mama harap kau bisa menyelesaikan semua masalahmu dengan baik Arga," ucap Nadine yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
Setelah cukup lama berada di rumah orang tuanya, Arga kemudian berpamitan untuk pulang. Ia kemudian mengendarai mobilnya pergi bersama Bianca yang duduk di sampingnya.
"Tentang beberapa aset yang kau jual, apa itu untuk membayar denda untuk mengakhiri kontrak kesepakatan kita?" tanya Bianca pada Arga.
Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena memang sebenarnya ia ingin menyembunyikan hal itu dari Bianca.
"Astaga Arga.... kenapa kau melakukan hal itu, kau membuatku merasa sangat bersalah sekarang!"
"Tidak perlu terlalu memikirkannya Bee, lagi pula aku tidak benar-benar kehilangan asetku karena kau bisa menggunakan uang denda itu dengan sangat baik," balas Arga.
"Mulai sekarang berjanjilah satu hal padaku Arga, jangan pernah memutuskan sesuatu sendirian jika itu tidak berhubungan dengan pekerjaan, kau memilikiku dan aku berhak untuk tahu apapun keputusanmu," ucap Arga.
"Iya aku berjanji," balas Arga dengan menggenggam tangan Bianca.
**
Hari berlalu berganti minggu yang terlewati begitu saja. Pagi itu Bianca terbangun dari tidurnya karena merasa tidak nyaman dengan perutnya yang tiba-tiba mual.
"Sepertinya semalam aku tidak memakan sesuatu yang aneh, tapi kenapa perutku sangat mual sekarang?" batin Bianca bertanya dalam hati.
Di sisi lain, Arga yang masih nyenyak dalam tidurnya tiba-tiba terbangun saat ia mendengar suara dari dalam kamar mandi.
Argapun segera beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Apa yang terjadi padamu Bee? apa kau baik-baik saja?" tanya Arga sambil mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
"Aku baik-baik saja Arga, hanya..... mmmmpphhh"
Bianca menghentikan ucapannya saat rasa mual kembali menyerang dirinya.
Menyadari Bianca yang tidak baik-baik saja, Argapun segera membuka pintu kamar mandi dan mendapati Bianca yang bersimpuh di lantai dengan keadaan yang sudah lemas.
Arga kemudian mengangkat tubuh Bianca dan membawa Bianca kembali berbaring di atas ranjang.
"Aku akan menghubungi dokter agar segera memeriksamu," ucap Arga sambil meraih ponselnya di atas meja, namun dengan cepat Bianca menahan tangan Arga yang akan menghubungi dokter.
"Aku baik-baik saja Arga, sepertinya aku hanya perlu beristirahat, tolong biarkan aku tidur sebentar lagi," ucap Bianca.
"Kau bisa beristirahat dan aku akan tetap menghubungi dokter untuk memeriksa keadaanmu," ucap Arga
"Tidak Arga, aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang jika kau meminta dokter untuk datang kesini," ucap Bianca.
"Baiklah kalau begitu, jika sampai pukul 7 nanti kau tetap seperti ini, aku akan segera menghubungi dokter," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Bianca kemudian kembali memejamkan matanya bersama Arga yang berbaring di sampingnya dengan memeluknya.
Waktu berlalu, Bianca sudah terbangun dari tidurnya untuk yang kedua kali dan mendapati Arga yang sedang mandi di dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar mandi lalu mengenakan kemeja putihnya sebelum menutupnya dengan jas hitamnya.
"Lepaskan!" ucap Bianca sambil menarik jas hitam Arga.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arga tak mengerti.
"Lihatlah, ini sangat tidak rapi, aku akan menyetrikanya lagi," balas Bianca dengan memaksa Arga untuk melepas jas dan kemejanya.
"Kau tidak perlu melakukannya sendiri Bianca, biarkan bibi yang melakukannya, lagi pula aku bisa memakai kemeja dan jas lainnya," ucap Arga.
"Diamlah disini dan tunggu aku selesai menyetrikanya!" ucap Bianca sambil memaksa Arga untuk duduk di tepi ranjang.
Setelah beberapa lama menyetrika kemeja dan jas Arga, Biancapun memakaikannya pada Arga.
"Seperti ini lebih baik," ucap Bianca dengan penuh senyum.
"Seperti tidak ada bedanya," balas Arga.
"Tentu saja berbeda, aku sudah menyetrikanya dengan sangat rapi," ucap Bianca.
"Terima kasih Bee, tapi lain kali biarkan bibi yang melakukannya," ucap Arga sambil memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 saat Arga dan Bianca menuruni tangga untuk menuju meja makan.
"Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Arga pada Bianca.
"Iya, sudah kukatakan aku hanya perlu beristirahat," jawab Bianca.
Namun tidak seperti biasanya, Bianca merasa makanan di hadapannya tidak membuatnya ingin makan saat itu, padahal setiap hari ia selalu bersemangat untuk menikmati semua masakan bibi.
Bianca hanya mengambil sedikit nasi dan sedikit lauk.
"Kenapa kau makan sangat sedikit Bee? apa kau tidak menyukai masakan bibi hari ini?" tanya Arga.
"Entahlah, sepertinya nafsu makanku hilang setelah aku muntah tadi pagi," jawab Bianca.
"Kau harus tetap makan dan aku akan membuat jus buah untukmu," ucap Arga lalu beranjak dari duduknya untuk membuat jus buah dan memberikannya pada Bianca.
"Habiskan jus buah ini dan kau bisa meminta bibi untuk memasak makanan lain yang kau inginkan saat makan siang nanti," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Aku berangkat Bee, jaga dirimu baik-baik dan....."
"Apa kau akan pulang cepat hari ini?" tanya Bianca memotong ucapan Arga.
"Aku akan pulang seperti biasa, tapi jika kau ingin aku pulang cepat aku akan mengusahakannya," balas Arga.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu memeluk Arga dengan manja.
"Cepatlah pulang Arga," ucap Bianca.
"Aku pasti akan segera pulang Bianca," balas Arga sambil mendaratkan kecupan singkatnya di kening Bianca.
Namun Arga begitu terkejut saat ia menyadari jika kedua mata Bianca tengah berkaca-kaca saat itu.
"Ada apa Bee? apa aku melakukan kesalahan? apa karena jus buah yang aku buat tidak enak?" tanya Arga.
"Entahlah, aku hanya merasa sedih karena kau akan meninggalkanku di rumah sendirian," jawab Bianca dengan mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak tumpah.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lama Bianca, aku hanya akan berangkat bekerja seperti biasanya," ucap Arga.
"Apa sebaiknya aku libur saja?" lanjut Arga bertanya.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk Arga, Argapun membalas pelukan Bianca dengan erat dan kembali mendaratkan kecupan singkatnya di kening Bianca sebelum ia akhirnya benar-benar keluar dari rumah untuk berangkat bekerja.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3 siang saat Arga sedang fokus dengan pekerjaannya dan tiba-tiba sebuah panggilan masuk yang membuat Arga tidak bisa menolaknya.
"Halo Bee, ada....."
Arga menghentikan ucapannya saat ia mendengar Bianca yang menangis di ujung sambungan ponselnya.
Tanpa banyak bertanya, Arga segera menyambar kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangannya.
Arga bahkan tidak sempat mengatakan apapun pada Daffa karena ia begitu mengkhawatirkan Bianca, namun saat berada di lobby, sang Mama tiba-tiba datang dan menahan Arga.
Argapun menjelaskan apa yang membuatnya terburu-buru pulang dan karena khawatir, Nadinepun ikut bersama Arga.
"Sejak pagi Bianca memang terlihat tidak baik-baik saja ma, pagi-pagi sekali Bianca bangun karena mual, dia bahkan muntah sampai terlihat lemas," ucap Arga pada sang mama.
"Apa ada hal aneh yang Bianca lakukan pagi ini?" tanya Nadine.
__ADS_1
"Hal aneh...... aaahh iya, Bianca tiba-tiba menyetrika pakaian kerja Arga yang sebenarnya sudah disetrika oleh bibi, Bianca juga makan sangat sedikit padahal biasanya dia sangat menyukai masakan bibi, dia juga tiba-tiba menangis saat Arga akan berangkat ke kantor," jelas Arga.
Mendengar penjelasan Arga, Nadinepun hanya diam dengan penuh senyum.