Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Memulai Hari Baru


__ADS_3

Saat itu Arga sedang duduk di samping ranjang Bianca. Ia begitu terkejut saat tiba-tiba dokter dan beberapa suster datang dengan membawa beberapa peralatan yang tidak Arga mengerti.


"Arga, kau harus bisa menerima kepergian Bianca, biarkan Bianca tenang di kehidupan barunya," ucap Nadine pada Arga.


"Apa maksud Mama? kenapa mama bicara seperti itu? apa yang terjadi?" tanya Arga tak mengerti.


Dokter kemudian menjelaskan pada Arga tentang apa yang sudah terjadi pada Bianca. Dokter juga mengatakan jika pilihan yang terbaik adalah melepaskan seluruh alat penunjang hidup Bianca.


Melihat suster yang akan melepaskan salah satu alat yang melekat di tubuh Bianca, seketika Arga segera menepis tangan suster itu.


"Jangan sentuh istri saya!" ucap Arga penuh emosi.


"Arga, tenanglah, ini yang terbaik untuk Bianca," ucap Nadine berusaha menenangkan Arga.


"Tidak ma, Arga tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Bianca dan dokter tidak mempunyai hak untuk melakukannya hal ini pada Bianca!"


Dokter kemudian menjelaskan jika dokter bertindak sesuai dengan prosedur yang berlaku, sebagai dokter, dokter hanya bisa menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya pada sakit pasien.


Dokter juga memberikan saran dan akan melakukan hal selanjutnya setelah wali pasien menandatangani surat pernyataan yang memperbolehkan dokter untuk melepaskan alat penunjang hidup pasien.


"Tapi saya tidak pernah menandatangani surat pernyataan itu dok dan sampai kapanpun saya tidak akan pernah melakukan hal itu!" ucap Arga.


Dokter kemudian membawa pandangannya pada orang tua Arga dan Davidpun menjelaskan jika ialah yang menandatangani surat pernyataan itu.


"Kenapa papa melakukan hal itu? apa papa sadar jika apa yang papa lakukan itu akan membunuh Bianca?" tanya Arga dengan penuh emosi.


"Bianca sudah tidak memiliki harapan hidup Arga, dia tidak akan kembali sadar dan hanya terbaring seperti ini seumur hidupnya, apa itu yang kau mau?" balas David.


"Arga tidak peduli pa, Arga adalah suami Bianca, Arga yang lebih berhak memutuskan apapun yang terkait dengan Bianca!" ucap Arga.


"Mama tau kau sangat mencintai Bianca, tapi membiarkan Bianca seperti ini hanya akan menyakitinya Arga!" ucap Nadine.


"Tidak ma, Arga yakin Bianca sedang berjuang sekarang, Arga tahu dia bukan perempuan yang mudah menyerah, dia pasti sedang berjuang untuk kembali sadar," balas Arga dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Dok, tolong jangan lakukan hal ini pada istri saya, tolong biarkan dia berjuang sampai dia sadar dok, saya mohon," ucap Arga memohon pada dokter.


Arga kemudian membawa dirinya pada mama dan papanya. Arga bersimpuh di bawah mama dan papanya, memegang kedua kaki mama dan papanya dengan memohon.


"Arga mohon ma, pa, jangan melakukan hal ini pada Bianca, Arga akan melakukan apapun asalkan mama dan papa tetap membiarkan Bianca dengan alat penunjang hidupnya, Arga yakin dia akan sadar, Arga yakin dia akan berjuang untuk hidupnya," ucap Arga memohon dengan air mata yang sudah menetes dari kedua sudut matanya.


Nadine dan David hanya saling pandang, mereka tidak menyangka jika Arga akan memohon dengan menangis seperti itu pada mereka.


"Arga mohon ma, pa, jangan biarkan dokter melakukan hal itu, Arga tidak akan bisa hidup tanpa Bianca ma pa, Arga tidak akan bisa......" ucap Arga yang tidak berhenti memohon.


Arga kemudian beranjak dan membawa pandangannya pada nampan yang dibawa oleh suster. Di atas nampan itu ada beberapa benda tajam yang segera diambil oleh Arga dan mengarahkan benda tajam itu tepat di lehernya.


"Arga apa yang kau lakukan!" teriak Nadine terkejut melihat apa yang Arga lakukan di hadapannya.


Dengan mata merah menahan emosi dalam dirinya, Arga meraih tangan mamanya dan membawa tangan sang mama memegang tangannya yang berada di lehernya.


"Lebih baik bunuh Arga sebelum mama dan papa membiarkan dokter melepaskan alat penunjang hidup Bianca!" ucap Arga dengan menatap tajam kedua mata sang mama.


"Arga, lepaskan tangan mama, Arga!" ucap Nadine yang ketakutan dan berusaha untuk tidak menggerakkan tangannya sedikitpun.


"Arga benar-benar mencintai Bianca ma, Arga akan merelakan apapun yang Arga miliki hanya demi Bianca, jadi jika Bianca pergi dari dunia ini, maka Arga juga akan pergi bersamanya," balas Arga dengan memegang erat tangan sang mama di lehernya.


"Arga tenanglah, kita bisa bicarakan hal ini lagi," ucap David berusaha menenangkan Arga.


"Tidak ada yang harus dibicarakan pa, batalkan surat pernyataan itu atau Arga akan benar-benar mengakhiri hidup Arga disini!" balas Arga menatap sang papa tanpa takut.


"Kau sedang tidak bisa berpikir dengan jernih Arga, jadi lepaskan tangan mama dan kita bahas masalah ini bersama-sama dengan dokter," ucap David.


"Sepertinya papa memang meragukan ucapan Arga," balas Arga yang semakin menekan tangan sang mama.


Akibatnya, tangan sang mama ikut menekan tangan Arga yang memegang pisau tajam dan darahpun menetes dengan pelan.


"Arga!!" teriak Nadine histeris melihat darah yang menetes bahkan membasahi tangannya.


"Arga serius dengan apa yang Arga katakan ma, tapi sepertinya mama dan papa tidak mempercayai Arga," ucap Arga dengan nada suara yang melemah.


"Berhenti melakukan hal bodoh itu Arga, kau...."


"Arga akan melakukan hal yang lebih bodoh jika mama dan papa tidak membatalkan surat pernyataan itu!" balas Arga dengan nada tinggi yang semakin emosi.

__ADS_1


"Baiklah, papa akan membatalkannya sekarang juga tapi sekarang lepaskan tangan mama dan letakkan pisau itu!" ucap David tanpa pikir panjang sebelum Arga benar-benar mengakhiri hidupnya.


"Dok, bisakah saya membatalkan surat pernyataan itu?" tanya David pada dokter.


"Bisa, tapi seperti yang sudah saya jelaskan, tidak ada harapan apapun untuk pasien," jawab dokter.


"Saya mengerti, mulai sekarang Arga yang akan memutuskan semuanya," balas David.


Dokter dan para susterpun akhirnya keluar dari ruangan Bianca bersama David. Meninggalkan satu suster yang mengobati luka Arga lalu segera keluar setelahnya.


Kini hanya ada Arga dan Nadine di ruangan Bianca.


"Kenapa mama melakukan hal itu ma? apa mama sudah tidak menyayangi Bianca?" tanya Arga pada sang mama.


"Maafkan mama sayang, maafkan mama," jawab Nadine sambil memeluk Arga.


"Arga sangat mencintai Bianca ma, Arga tidak akan bisa hidup tanpa Bianca, jadi Arga mohon biarkan Bianca tetap seperti ini sampai dia sadar karena Arga yakin dia pasti akan sadar apapun yang terjadi padanya," ucap Arga dalam pelukan sang mama.


"Iya, mama akan mendukung apapun keputusanmu, maafkan mama dan papa yang sudah bertindak gegabah," balas Nadine.


Arga yang biasanya bersikap dingin dan terkesan arogan, kini tampak seperti anak kecil yang manja.


Ia hanya meringkuk dalam dekapan sang mama, berharap jika kedua orang tuanya masih tetap menyayangi Bianca seperti sebelumnya.


**


Waktu berlalu, karena emosi Arga yang belum stabil, mama Arga meminta tolong pada Daffa agar menemani Arga di rumah sakit.


Mama dan papa Arga khawatir jika Arga akan melakukan hal yang berbahaya lagi.


Setelah pulang dari kantor, Daffapun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit untuk menemani Arga sesuai dengan permintaan mama Arga.


Sesampainya disana Daffa segera membawa langkahnya menemui Arga dengan membawa satu kotak kue yang ia beli dari kafe tempat Bianca bekerja dulu.


Daffa kemudian membuka pintu ruangan Bianca, memberi kode agar Arga keluar. Dengan langkah yang tak bersemangat, Argapun keluar dari ruangan Bianca dan duduk di kursi tunggu bersama Daffa.


"Pasti mama yang memintamu kesini!" ucap Arga menerka.


"Kau benar, om dan Tante sudah menceritakan semuanya padaku," balas Daffa.


"Sama sekali tidak, justru aku merasa sangat bangga padamu," balas Daffa yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Daffa.


"Aku tidak menyangka jika cintamu untuk Bianca sebesar itu dan aku setuju dengan keputusanmu untuk tetap mempertahankan Bianca karena aku juga yakin jika Bianca pasti akan melewati semua ini!" ucap Daffa.


"Apa kau tau apa yang terjadi padanya sekarang?" tanya Arga pada Daffa.


"Aku tau, dalam sudut pandang medis mungkin sudah tidak ada harapan bagi Bianca, tapi kita tidak tau bagaimana takdir bekerja dalam hidup kita, keajaiban akan datang pada mereka yang tidak menyerah Arga, kau harus percaya itu!" balas Daffa.


Arga menganggukkan kepalanya pelan, ia sedikit merasa lega karena Daffa bisa memahami apa yang ia rasakan saat itu.


"Aaahh iya, aku membawa ini untukmu," ucap Daffa sambil memberikan kotak kue pada Arga.


"Aku sedang tidak nafsu makan, apa lagi kue manis seperti ini," balas Arga menolak.


"Tapi kue ini aku beli dari kafe tempat Bianca bekerja dulu, ini adalah kue yang sama yang Bianca bawa untukmu saat di kantor," ucap Daffa.


Seketika Arga segera membuka kotak kue itu dan memakannya dengan lahap.


"Manis," ucap Arga sambil mengunyah kue itu dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Seketika ia mengingat kebersamaannya dengan Bianca saat pertama kali ia memakan kue itu.


Saat keadaanya sangat kacau, Bianca justru semakin menunjukkan kepeduliannya pada Arga dan dengan mengingat hal itu membuat Arga semakin merindukan Bianca.


"Apa aku boleh memintanya?" tanya Daffa yang akan mengambil satu potong kue dari hadapan Arga, namun dengan cepat Arga menjauhkan kue itu dadi Daffa.


"Aku hanya meminta satu potong Arga, aku belum makan apapun dari siang," ucap Daffa merengek.


"Aku tidak peduli," balas Arga yang hampir menghabiskan kue di tangannya.


Melihat hal itu, Daffa hanya tersenyum tipis. Sepanjang ia mengenal Arga, Arga tidak pernah menyukai makanan apapun yang manis.


Tapi untuk kedua kalinya, ia melihat Arga menikmati kue manis karena Bianca.

__ADS_1


"Makanlah pelan-pelan Arga, aku bisa membelinya lagi jika kau mau!" ucap Daffa.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia menikmati setiap potong kue yang ia makan sambil mengulas kembali memorinya bersama Bianca.


Tanpa sadar ia tersenyum dalam rasa rindu yang sempat begitu menyakitkan baginya. Senyum, tawa dan keceriaan Bianca seolah kembali berputar dalam ingatannya.


Daffa kemudian memberikan sebotol air minum pada Arga setelah Arga menghabiskan kue yang Daffa bawa.


"Ada yang ingin aku katakan padamu Arga," ucap Daffa.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Aku tau kau sangat mencintai Bianca, tapi hidupmu juga harus tetap berjalan Arga, aku yakin Bianca tidak suka melihatmu seperti ini," ucap Daffa.


"Apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.


"Lihatlah dirimu sekarang, kau sangat berantakan, sangat jauh berbeda dengan Arga yang biasa Bianca kenal," jawab Daffa.


"Untuk apa aku memperhatikan penampilanku, aku sama sekali tidak peduli pada diriku sendiri karena aku hanya peduli pada Bianca!"


"Apa kau pikir Bianca akan senang melihatmu seperti ini? mungkin dia tidak akan mengenalimu saat dia sadar nanti, Arga yang sempurna di matanya tiba-tiba saja berubah 180 derajat saat ia bangun, dia pasti sangat terkejut dan tidak akan menyukaimu!" ucap Daffa.


"Bianca tidak mungkin seperti itu," balas Arga.


"Bukankah Bianca adalah putri yang tertidur bagimu? jika kau menganggap Bianca hanya tertidur, maka jangan memperlakukannya seperti seorang pasien, tetap jalani kehidupanmu seperti biasa dan kembalilah menemui Bianca setelah kau beraktivitas di luar, jangan hanya berdiam disini menunggunya, karena dia bukan pasien!"


Untuk beberapa saat Arga hanya terdiam memikirkan ucapan Daffa. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Daffa padanya.


"Daffa benar, Bianca bukan pasien, dia adalah putri yang tertidur, tidak seharusnya aku memperlakukannya sebagai pasien," ucap Arga dalam hati.


"Jangan terlalu mengkhawatirkannya saat kau tidak disini, ada suster yang akan selalu menjaganya, ada aku, Lola dan orang tuamu yang bisa menjenguknya setiap hari," ucap Daffa.


"Kau benar, tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti pasien," balas Arga.


"Sekarang ikut aku!" ucap Daffa lalu beranjak dari duduknya.


"Kemana?" tanya Arga.


"Ikut saja, cepatlah!" balas Daffa sambil menarik tangan Arga.


Daffa mengajak Arga pergi ke toilet, di dalam toilet, Daffa mencukur rambut Arga agar lebih rapi.


"Aku bisa melakukannya sendiri!" ucap Arga merebut alat cukur dari tangan Daffa.


Arga kemudian mencukur habis kumis tipisnya sampai semuanya terlihat rapi.


"Begini lebih baik," ucap Daffa memperhatikan Arga yang sudah terlihat lebih rapi saat itu.


"Apa kau sengaja membawa barang-barang ini?" tanya Arga.


"Tentu saja, kau harus berterima kasih padaku karena aku berhasil mengembalikan ketampananmu!" jawab Daffa.


Arga hanya tersenyum tipis lalu mengamblikan barang itu pada Daffa.


"Sekarang aku akan pergi ke ruanhmu untuk mengambil beberapa barang milikmu," ucap Daffa saat mereka sudah keluar dari toilet.


Sebelum malam, Daffa kembali datang ke rumah sakit dengan membawa koper yang berisi barang pribadi milik Arga.


"Aku sengaja membawa semua ini karena sepertinya kau membutuhkan semua ini, katakan padaku jika ada hal lain yang kau butuhkan!" ucap Daffa pada Arga.


"Terima kasih Daffa," balas Arga sambil memeluk Daffa.


Daffa hanya menepuk pelan punggung Arga lalu melepaskan dirinya dari pelukan sahabatnya itu.


"Aku tidak akan memaksamu untuk cepat kembali ke kantor, tapi aku akan selalu menunggumu kedatanganmu di kantor," ucap Daffa.


"Sekarang aku harus pulang, kau beristirahatlah dan mulai nikmati hidupmu bersama putri tidurmu!" lanjut Daffa lalu berjalan pergi.


Arga kemudian membuka isi kopernya dan melihat banyak barang di dalamnya.


"Dia tidak memaksaku cepat kembali ke kantor, tapi dia membawa banyak barang yang berhubungan dengan kantor," ucap Arga dengan menghela nafasnya.


Arga kemudian membawa langkahnya untuk duduk di samping ranjang Bianca.

__ADS_1


"Kita mulai hari kita dengan menyenangkan Bee, cepatlah bangun agar aku bisa mendengar suaramu," ucap Arga lalu mencium tangan Bianca dan menggenggamnya sampai ia tertidur.


__ADS_2