Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kabar Bahagia


__ADS_3

Setelah mendengar semua ucapan Arga, Nadine memikirkan sesuatu yang membuatnya bahagia. Meskipun apa yang ia pikirkan belum pasti, tetapi ia yakin dengan apa yang ia pikirkan saat itu.


"Tolong berhenti di depan Arga, mama ingin membeli sesuatu di apotek," ucap Nadine sambil menunjuk apotek yang berada di persimpangan jalan.


"Tapi Arga harus segera pulang ma, apa mama akan lama?" tanya Arga.


"Kau bisa meninggalkan mama disana, mama akan pergi ke rumahmu bersama supir," jawab Nadine.


"Maaf ma, Arga tidak bermaksud meninggalkan mama, Arga hanya sangat mengkhawatirkan Bianca sekarang," ucap Arga yang merasa bersalah pada sang mama.


"Mama mengerti Arga," balas Nadine dengan tersenyum lalu keluar dari mobil Arga setelah Arga menghentikan mobilnya di depan apotek.


Arga kemudian segera mengendarai mobilnya pergi dengan kecepatan penuh agar ia segera sampai di rumahnya.


Sesampainya di rumah, Arga segera berlari masuk dengan memanggil Bianca. Arga berlari menaiki tangga lalu segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Bianca yang sedang menangis di atas ranjang.


Arga segera menghampiri Bianca dan duduk di samping Bianca, melihat Bianca yang tampak baik-baik saja membuat Arga sedikit bisa bernafas lega.


"Ada apa Bee? apa yang membuatmu menangis?" tanya Arga sambil membawa Bianca ke dalam dekapannya.


"Aku tidak tau Arga, aku...... aku hanya merasa sedih karena kau tidak ada disini," jawab Bianca dengan terisak.


"Apa kau merindukanku?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Sampai menangis seperti ini?" tanya Arga dengan sedikit meninggikan suaranya tanpa sengaja, karena tidak biasanya Bianca bersikap seperti itu.


"Kenapa kau membentakku Arga? aku hanya merindukanmu, apa aku salah?" balas Bianca dengan air matanya yang kembali luruh.


Arga yang bingung dengan sikap Biancapun hanya bisa memeluk Bianca dengan erat dan meminta maaf, meskipun ia tidak mengerti dengan sikap Bianca yang tidak biasa itu.


"Maafkan aku Bee, aku tidak bermaksud membentakmu, sekarang aku sudah ada disini, jadi berhenti menangis, oke?"


Bianca hanya diam dengan masih berada dalam pelukan Arga. Entah kenapa sejak pagi ia merasa begitu merindukan Arga, bahkan saat Arga baru saja berangkat bekerjanya.


Bianca hanya merasa ingin selalu ada di samping Arga dan kenyataan bahwa Arga masih sibuk di kantor membuat Bianca begitu sedih dan menangis.


Tooookkk tooookkk tooookkk


"Arga, Bianca, apa mama boleh masuk?" tanya Nadine dari depan pintu kamar.


"Kenapa mama tiba-tiba kesini?" tanya Bianca pada Arga.


"Aku tidak sengaja bertemu dengan mama saat aku akan meninggalkan kantor dan aku mengatakan pada mama kenapa aku pulang cepat, sepertinya mama juga mengkhawatirkanmu," jelas Arga.


"Kau tidak keberatan jika mama masuk bukan?" lanjut Arga bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Bianca kemudian melepaskan dirinya dari dekapan Arga. Sedangkan Arga segera membuka pintu kamarnya dan mendapati sang mama yang berdiri di depannya.


"Bagaimana keadaan Bianca, Arga?" tanya Nadine khawatir.


"Bianca baik-baik saja ma," jawab Arga sambil mempersilakan sang mama masuk.


"Ada apa denganmu sayang? apa kau baik-baik saja?" tanya Nadine menghampiri Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


"Arga sudah memberi tahu mama tentang apa yang terjadi padamu tadi pagi dan mama pikir sepertinya kau....... hamil," ucap Nadine yang membuat Bianca dan Arga begitu terkejut.


Bianca dan Arga seketika saling pandang tanpa mengatakan apapun.


"Mama baru saja membeli ini, kau bisa mencobanya untuk memastikan dugaan mama," ucap Nadine sambil memberikan sebuah test pack pada Bianca.


"Tapi ma....."


"Coba saja dulu Bianca, mama akan menunggunya disini," ucap Nadine memotong ucapan Bianca.


Bianca kemudian membawa pandangannya pada Arga dan Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai kode agar Bianca melakukan perintah sang mama.


Akhirnya Biancapun menerima test pack dari Nadine lalu membawanya ke kamar mandi. Tak lama kemudian Bianca keluar dari kamar mandi dengan membawa hasil test packnya.


Namun raut wajahnya seolah sudah bisa menunjukkan hasil dari test pack yang Bianca pegang.


Arga kemudian segera menghampiri Bianca dan mengambil test pack di tangan Bianca.


"Satu garis," ucap Arga lalu membuang test pack itu ke tempat sampah.


"Maafkan Bianca ma," ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya.


Nadine menghela nafasnya panjang lalu menghampiri Bianca.


"Tidak perlu meminta maaf Bianca, mama mengerti," ucap Nadine.


"Mama pasti kecewa," ucap Bianca dengan suara yang bergetar.


"Tidak Bee, mama tidak akan kecewa hanya karena hasil testpack itu," ucap Arga sambil merengkuh Bianca ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Arga benar, mama sama sekali tidak kecewa Bianca, maaf karena mama terlalu terburu-buru," ucap Nadine.


Bianca hanya diam dalam pelukan Arga, entah kenapa ia merasa sangat bersedih saat itu.


"Sepertinya lebih baik mama pulang, jaga kesehatanmu Bianca dan jangan terlalu memikirkan hal ini," ucap Nadine lalu keluar dari kamar Bianca.


Dalam hatinya Nadine masih merasa heran dengan sikap Bianca yang terlihat berbeda dari yang biasanya dia lihat.


"Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatnya menangis, dia bahkan terlihat sangat manja pada Arga, tidak seperti biasanya," ucap Nadine dalam hati.


Sedangkan di sisi lain, Arga membawa Bianca untuk duduk di tepi ranjang.


"Ada apa denganmu Bee? apa yang sebenarnya membuatmu bersedih? apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Arga pada Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya dengan memeluk Arga erat. Argapun hanya menghela nafasnya sambil membalas pelukan Bianca dengan erat.


Entah kenapa ia merasa istri yang sangat dicintainya itu tiba-tiba menjadi begitu manja padanya, bahkan dengan mudah menangis di hadapan Arga.


"Bagaimana dengan makan siangmu tadi Bee? apa bibi memasak makanan yang kau inginkan?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh bibi.


"Tapi kau sudah makan siang bukan?" tanya Arga yang kembali dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Bee..... kau tidak boleh terlambat makan, apa kau menangis karena perutmu sakit?"


"Tidak Arga, perutku tidak sakit, aku hanya sedang malas makan sekarang, aku tidak ingin makan apapun," jawab Bianca.


"Tunggu disini, aku akan membuat jus untukmu," ucap Arga yang segera beranjak dari duduknya, namun Bianca menahannya.


"Aku ikut," ucap Bianca manja.


Arga tersenyum lalu mengangkat tubuh Bianca dan menggendongnya menuruni tangga.


Arga kemudian menurunkan Bianca di sofa yang ada di ruang tengah lalu segera berjalan ke dapur untuk membuat jus.


Setelah selesai membuat jus, Arga segera memberikannya pada Bianca.


"Aku baru saja memesan beberapa makanan Jepang kesukaanmu Bee," ucap Arga.


"Tapi aku sedang tidak nafsu makan Arga," balas Bianca.


"Tapi kau harus tetap makan Bianca, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu," ucap Arga.


"Tapi aku baik-baik saja, aku...."


"Bee......"


Setelah beberapa lama menunggu, makanan pesanan Arga datang. Bianca hanya memakan beberapa potong sushi yang arga pesan dan membiarkan makanan lainnya tetap utuh.


"Aku membeli semua ini untukmu Bee, bukankah kau sangat menyukainya?"


"Aku sedang tidak nafsu makan Arga, aku....."


Bianca menghentikan ucapannya dan segera menutup mulutnya saat tiba-tiba ia merasa mual. Bianca kemudian segera berlari ke kamar mandi yang segera diikuti oleh Arga.


"Ada apa Bee? apa kau mual lagi?" tanya Arga dari depan pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Bianca keluar dari kamar mandi dengan raut wajahnya yang tampak kesal.


"Berhentilah memaksaku untuk makan Arga, memaksaku makan hanya akan membuatku mual," ucap Bianca kesal lalu berjalan masuk ke kamarnya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Arga tengah sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerjanya.


Di sela-sela kesibukannya, Arga tiba-tiba memikirkan tentang apa yang sang mama pikirkan tentang Bianca.


"Mama sangat yakin jika Bianca hamil, tetapi dari hasil testpack itu hanya menunjukkan satu garis yang artinya Bianca tidak hamil," ucap Arga dalam hati.


Arga kemudian membuka website dan membaca salah satu artikel tentang tanda-tanda kehamilan.


"Mual, mood swing, sama persis dengan apa yang terjadi pada Bianca sekarang, nafsu makannya juga tiba-tiba berubah dan dia menjadi lebih sensitif," ucap Arga setelah membaca seluruh artikel di hadapannya.


"Tapi hasil testpack itu...... bisa jadi salah atau mungkin Bianca hanya sedang...."


Tooookkk tooookkk tooookk


"Arga, apa aku boleh masuk?" tanya Bianca dari luar ruang kerja Arga.


"Masuklah Bee," jawab Arga yang segera menutup artikel di layar laptopnya.


Bianca kemudian masuk ke ruangan Arga lalu menghampiri Arga dan duduk di pangkuan Arga.


"Kapan pekerjaanmu akan selesai? kau membiarkanku sendirian di kamar sejak tadi," tanya Bianca manja sambil mengalungkan tangannya di leher Arga.


"Aku baru saja selesai," jawab Arga lalu menyimpan hasil kerjanya kemudian mengangkat tubuh Bianca dan membawa Bianca ke kamar.


Arga menjatuhkan Bianca di atas ranjang lalu ikut berbaring di samping Bianca sampai mereka tertidur hingga pagi.

__ADS_1


Sama seperti sebelumnya, Bianca bangun lebih pagi dari biasanya karena rasa mual yang mengganggunya.


"Aku tau ada sesuatu yang terjadi padaku, tapi tidak mungkin aku hamil bukan? aku baru melakukannya sekali dan lagi pula hasil testpack itu negatif," batin Bianca dalam hati.


"Bee, apa kau mual lagi?" tanya Arga sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Bianca kemudian keluar dari kamar mandi dan mendapati Arga yang berdiri dengan raut wajahnya yang khawatir.


"Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit Bee, aku tidak mungkin membiarkanmu seperti ini setiap hari," ucap Arga.


Bianca hanya diam dengan membawa pandangannya pada testpack yang ditinggalkan oleh Nadine di atas meja.


"Aku akan mencobanya lagi, tapi jangan berharap apapun Arga, aku tidak ingin kau kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan yang kau harapkan," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.


Bianca kemudian masuk ke kamar mandi dengan membawa testpack baru dan ia begitu terkejut setelah ia melihat 2 garis merah yang muncul pada testpack di hadapannya.


"Dua garis? apa ini tidak salah?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.


Biancapun segera keluar dan menunjukkannya pada Arga.


"Bianca, kau..... hamil?" tanya Arga terkejut.


"Aku tidak tau Arga, tapi ini....."


"Bersiaplah, kita harus ke rumah sakit sekarang," ucap Arga sambil mengambil kunci mobilnya.


"Tapi ini masih sangat pagi Arga," ucap Bianca.


"Tidak masalah, rumah sakit memang buka 24 jam untuk hal ini," balas Arga tidak sabar.


Akhirnya merekapun pergi ke rumah sakit dengan masih menggunakan pakaian tidur, karena terlalu bersemangat, mereka bahkan terlihat sedikit berantakan saat itu.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Bianca dengan melakukan USG dan dengan tersenyum dokter menunjukkan pada Arga dan Bianca sebuah janin yang terlihat pada layar hitam.


Setelah memeriksa, dokter mengajukan beberapa pertanyaan pada Bianca untuk memastikan usia kandungan Bianca saat itu.


"Jadi Bianca benar-benar hamil dok?" tanya Bianca tak percaya.


"Iya Bianca, seperti yang sudah kau lihat, sudah ada janin yang tumbuh dalam rahimmu," jawab dokter.


"Tapi kita baru melakukannya sekali dok, tidak mungkin jika....."


"Bee....." ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca, menghentikan Bianca yang berbicara terlalu jauh pada dokter.


"Aahh maaf, hehe..." ucap Bianca dengan tertawa canggung, malu karena hal bodoh yang baru saja dikatakannya.


"Pembuahan bisa cepat terjadi saat kalian melakukannya di waktu subur Bianca, jadi itu sangat mungkin terjadi," ucap dokter yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Selamat Arga, Bianca, semoga ibu dan janinnya selalu sehat sampai hari kelahiran," ucap dokter.


"Terima kasih dok," ucap Bianca dan Arga bersamaan.


Bianca dan Arga kemudian meninggalkan rumah sakit dengan penuh rasa bahagia dan syukur.


"Sebentar lagi kau akan menjadi ibu Bee, kita akan menjadi orang tua untuk anak pertama kita," ucap Arga sambil mengelus perut rata Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apa kita harus memberi tahu mama dan papa sekarang?" tanya Bianca.


"Tentu saja, mari kita membuat mama dan papa terkejut sekarang juga," jawab Arga yang segera mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya.


"Aaahh ya, sepertinya kau sangat akrab dengan dokter tadi, apa kau mengenalnya?" tanya Bianca.


"Dokter Sandra adalah teman baik mama Bee, jadi aku sudah lama mengenal dokter Sandra," jawab Arga.


Bianca mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Arga. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah orang tua Arga yang tentu saja membuat semua yang ada disana terkejut karena kedatangan Bianca dan Arga yang tiba-tiba, terlebih dengan pakaian tidur yang mereka kenakan.


Arga kemudian memberikan hasil pemeriksaan Bianca pada sang mama yang membuat sang mama terkejut sekaligus sangat bahagia.


"Bianca.... selamat sayang," ucap Nadine sambil memeluk Bianca.


Semua yang ada disanapun berbahagia dan memberikan selamat pada Arga dan Bianca karena setelah lebih dua tahun bersabar, Nadine akhirnya mendengar kabar gembira itu.


Setelah menyampaikan kabar gembira itu secara langsung, Arga segera mengajak Bianca pulang.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka masih diliputi dengan rasa bahagia yang tidak bisa mereka sembunyikan.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika ini akan cepat terjadi," ucap Bianca sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Mmmm.... tapi sebenarnya ada yang harus kau tau Bee, mmmm.... sebenarnya kita..... tidak hanya melakukannya satu kali," ucap Arga ragu.


"Apa maksudmu? bukankah kita hanya pernah melakukannya saat kau memberiku kejutan di hotel?" tanya Bianca.


"Itu memang yang pertama, tapi..... aku melakukannya lagi saat kau mabuk setelah kita menghadiri pesta pernikahan klienku hehe....."


"Arga, kau......"

__ADS_1


Bianca memukul-mukul lengan tangan Arga dengan kesal karena Arga melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan saat ia sedang mabuk.


"Maafkan aku Bee, hehe...." ucap Arga yang sama sekali tidak tampak menyesali apa yang sudah dia lakukan.


__ADS_2