
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daffa akhirnya sampai di tempat kost Lola. Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah kamar Lola.
"Apa kau masuk?" tanya Lola saat ia baru saja membuka pintu kamarnya.
"Hanya jika kau mengizinkan," jawab Daffa dengan tersenyum.
Lolapun tersenyum lalu membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Masuklah," ucap Lola diikuti langkah Daffa yang masuk ke kamar Lola.
"Bagaimana pekerjaanmu Lola? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Daffa.
"Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, semoga saja aku bisa melakukan pekerjaanku dengan baik agar bisa menjadi pegawai tetap disana," jawab Lola.
"Jika kau sudah menjadi pegawai tetap apa kau tidak ingin pindah dari tempat ini?" tanya Daffa.
"Mmmm.... aku masih memikirkannya," jawab Lola.
"Apa tidak masalah jika kau tidak segera menemui Arga? mungkin dia sedang menunggumu," lanjut Lola bertanya.
"Aku sudah memberi tahunya jika aku akan menemuinya besok pagi," jawab Daffa.
"Apa kau sudah menyelesaikan masalah kantor, Daffa?" tanya Lola.
"Aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan, tapi belum ada hasil yang pasti, aku dan Arga hanya bisa menunggu," jawab Daffa.
"Semoga akan ada hasil yang terbaik untukmu dan Arga, Daffa," ucap Lola.
"Semoga saja," balas Daffa dengan menghela nafasnya.
Lola dan Daffa mengobrol beberapa lama hingga tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari depan kamar Lola.
Lola kemudian beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya. Untuk beberapa saat Lola hanya terdiam, ia begitu terkejut melihat seorang pria yang sudah berdiri di depan kamarnya saat itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lola dengan suara bergetar, takut jika pria itu akan melakukan sesuatu padanya di depan Daffa.
Mendengar suara Lola yang terdengar ketakutan, Daffa beranjak dari duduknya lalu menghampiri Lola.
"Kau harus pulang, sekarang!" ucap pria itu pada Lola.
"Ada apa Lola?" tanya Daffa yang sudah berdiri di belakang Lola.
"Daffa sebaiknya kau pulang sekarang, aku...."
"Dia siapa Lola? apa kau mengenalnya?" tanya Daffa memotong ucapan Lola.
"Dia..... saudaraku," jawab Lola berbohong.
"Siapa kau? kenapa kau ada disini? apa kau kekasihnya?" tanya pria itu dengan membawa pandangannya pada Daffa.
"Tidak, bukan, dia hanya temanku, dia baru pulang dari luar negeri dan dia kesini untuk memberiku oleh-oleh," sahut Lola menjawab.
"Daffa pergilah, aku akan menghubungimu nanti, terima kasih sudah membawa oleh-oleh untukku," ucap Lola sambil menarik tangan Daffa agar keluar dari kamar.
"Tapi Lola...."
"Pergilah Daffa, aku akan menghubungimu nanti," ucap Lola memotong ucapan Daffa sambil terus mendorong Daffa agar pergi dari depan kamarnya.
Dengan ragu Daffa membawa langkahnya pergi, membiarkan Lola bersama pria yang Lola sebut sebagai saudaranya.
Lola menghela nafasnya lega setelah ia melihat Daffa yang sudah masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya pergi.
"Dia kekasihmu bukan?" tanya pria itu pada Lola.
"Bukan, dia hanya temanku, jangan melibatkan orang lain jika mama dan papa merasa aku sudah berbuat salah," jawab Lola.
"Baiklah kalau begitu sekarang kau harus pulang!" ucap pria yang merupakan suruhan orang tua Lola.
Karena tidak ingin terjadi keributan, Lola akhirnya menurut, meninggalkan tempat kosnya untuk pergi ke rumah orang tuanya.
"Apa lagi kali ini, apa ini adalah hari terakhir aku hidup?" batin Lola bertanya dalam hati.
Tanpa Lola tau, diam-diam Daffa mengikuti mobil yang membawa Lola pergi sampai akhirnya mobil itu memasuki perumahan elit yang tidak bisa dimasuki oleh Daffa.
"Kenapa dia bisa masuk ke dalam perumahan itu? apa orang tuanya tinggal disana?" batin Daffa bertanya dalam hati.
Daffa kemudian menunggu beberapa lama, berharap mobil yang membawa Lola akan kembali keluar dari perumahan itu, namun sampai hampir tengah malam tidak ada tanda-tanda apa yang ia harapkan akan terjadi.
Daffa kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Lola, panggilan terhubung, namun tidak ada jawaban dari Lola.
"Jika pria itu adalah saudara Lola, bisa jadi Lola memang dijemput untuk pulang ke rumah orang tuanya, tapi kenapa Lola terlihat takut, mereka juga tidak terlihat akrab bahkan sangat kaku!"
Daffa kembali mencoba menghubungi Lola, namun tetap saja tidak ada jawaban apapun dari Lola
__ADS_1
Daffa kemudian mengirim pesan pada Lola.
"Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan!"
Pesan terkirim, namun sampai 15 menit berlalu pesannya belum juga memberikan tanda terbaca.
"Aarrghhh Lola.... kau membuatku sangat khawatir," ucap Daffa sambil memukul setir mobilnya dengan kesal.
"Aku harus menghubungi Bianca," ucap Daffa yang kemudian mencari nama Bianca di penyimpanan kontaknya lalu menghubunginya.
"Halo Daffa, ada apa kau menghubungiku tengah malam seperti ini?" tanya Bianca yang terbangun karena panggilan Daffa.
"Maaf mengganggumu Bianca, aku hanya ingin bertanya apa benar orang tua Lola tinggal di komplek perumahan X?"
Mendengar pertanyaan Daffa seketika Bianca beranjak dari tidurnya.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Bianca bertanya dengan khawatir.
"Aku tadi bersama lola di kosnya lalu ada seorang pria yang mengajak Lola untuk pulang, Lola bilang pria itu adalah saudaranya, karena merasa curiga, aku mengikuti mereka dan melihat mereka masuk ke komplek perumahan X, aku tidak bisa mengikutinya lagi karena satpam melarangku masuk," jelas Daffa.
Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia memikirkan apa yang harus ia katakan pada Daffa saat itu.
"Aku sudah mengingkari janjiku pada Lola dengan memberi tahu Arga apa yang seharusnya aku rahasiakan, aku tidak mungkin mengingkari janjiku lagi atau Lola akan semakin kecewa padaku," batin Bianca dalam hati.
"Halo Bianca, kau pasti mengetahui sesuatu bukan?"
"Aaahh iya, halo.... aku tidak banyak tau tentang keluarga Lola jadi lebih baik tanyakan sendiri padanya," jawab Bianca beralasan.
"Masalahnya aku tidak bisa menghubunginya, panggilanku terhubung tapi dia tidak menerima panggilanku, aku benar-benar khawatir Bianca, aku sudah menunggu di depan perumahan lebih dari 2 jam," ucap Daffa.
"Mmmm.... lebih baik kau pulang saja, bukankah Lola bilang dia bersama saudaranya!" ucap Bianca.
"Tapi aku curiga jika dia berbohong padaku, mereka sama sekali tidak terlihat seperti saudara," balas Daffa.
"Kau terlalu banyak berpikir Daffa, lebih baik pulang saja, mungkin ponsel Lola tertinggal di kosnya, dia pasti akan menghubungimu jika dia sudah kembali," ucap Bianca.
"Apa kau benar-benar tidak mengetahui apapun tentang hal ini Bianca? tolong jangan menyembunyikan apapun dariku Bianca, aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang!"
"Tunggu saja sampai besok pagi Daffa, Lola pasti baik-baik saja," balas Bianca berusaha tenang meskipun sebenarnya ia juga mengkhawatirkan Lola saat itu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggunya sampai besok, jika sampai besok dia tidak mengabariku, aku akan melaporkan hal ini pada polisi," ucap Daffa lalu mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilan Daffa berakhir, Bianca segera turun dari ranjangnya lalu mengambil hoodie miliknya, mengenakannya sambil berjalan keluar dari kamarnya.
"Aku tidak bisa pergi kesana sendiri, hanya Arga yang bisa membantuku masuk ke area perumahan itu," ucap Bianca sambil berlari kecil menaiki tangga.
Di bawah tangga lantai 3, Bianca mengentikan langkahnya. Tanpa ragu Bianca memanggil Arga, meskipun ia tidak tahu apakah Arga sudah tidur atau belum.
"Arga, apa kau sudah tidur?" tanya Bianca dengan sedikit berteriak.
"Arga, apa kau...."
Bianca menghentikan ucapannya saat ia melihat pintu ruang kerja Arga yang terbuka.
"Ada apa Bianca? kenapa kau belum tidur?" tanya Arga sambil membawa langkahnya menghampiri Bianca.
"Daffa baru saja menghubungiku, dia memberi tahuku jika ada pria yang membawa Lola pergi, aku yakin pria itu pasti suruhan orang tua Lola yang memaksa Lola untuk pulang, Daffa bahkan mengikuti mobil pria itu dan Daffa terhenti di depan perumahan karena satpam melarangnya masuk," jelas Bianca dengan panik.
"Tenanglah Bianca, jangan panik, apa kau sudah menghubungi Lola?"
"Belum, Daffa bilang Lola tidak menerima panggilannya, mungkin Lola meninggalkan ponselnya di kos," jawab Bianca.
"Coba kau hubungi Lola, mungkin Lola sengaja tidak menerima panggilan Daffa karena tidak ingin Daffa bertanya banyak hal padanya," ucap Arga.
"Kau benar, aku akan coba menghubunginya," balas Bianca yang segera menghubungi Lola.
Beberapa kali Bianca mencoba, panggilannya selalu tersambung, namun tidak pernah ada jawaban dari Lola.
"Tersambung, tapi dia tidak menjawabnya, apa yang harus aku lakukan sekarang Arga? aku tidak mungkin diam saja seperti ini!"
"Apa kau mau kita kesana sekarang?" tanya Arga.
"Apa kau tidak keberatan mengantarku kesana? hanya kau yang bisa membawaku kesana Arga!"
"Aku bisa mengantarmu kesana, tapi aku ragu apakah kita bisa masuk kesana karena sekarang sudah sangat malam Bianca," ucap Arga.
"Tidak bisakah kita mencobanya dulu?" tanya Bianca dengan penuh harap.
"Baiklah, aku akan....."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Arga menghentikan ucapannya saat mendengar ponsel Lola berdering.
__ADS_1
"Apa itu Lola?" tanya Arga.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya lalu menunjukkan layar ponselnya pada Arga.
"Apa kau tidak mengenal nomor itu?" tanya Arga yang melihat nomor tanpa nama di layar ponsel Bianca.
"Tidak, apa mungkin ini Lola?" balas Bianca yang dengan ragu menerima panggilan itu.
"Halo Bianca!"
Terdengar suara Lola yang membuat Bianca bisa sedikit bernafas lega saat itu.
"Lola, dimana kau sekarang? apa kau di rumah orang tuamu? apa kau baik-baik saja?"
"Iya aku di rumah orang tuaku, tapi dari mana kau tau?" balas Lola.
"Daffa yang memberi tahuku, apa kau baik-baik saja disana? apa mereka melakukan sesuatu padamu?"
"Aku baik-baik saja Bianca, aku sengaja menghubungimu dengan meminjam ponsel bibi karena aku tidak membawa ponsel," jawab Lola.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, tapi kenapa kau ada disana Lola? kenapa mereka memintamu untuk datang kesana?" tanya Bianca.
"Aku akan menceritakan padamu besok, aku menghubungimu karena ingin meminta tolong padamu untuk tidak menceritakan apapun pada Daffa," ucap Lola.
"Kau belum mengatakan apapun padanya bukan?" lanjut Lola bertanya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun padanya walaupun sepertinya dia tau jika aku berbohong," jawab Bianca.
"Aku tau dia mungkin curiga pada orang suruhan papa yang menjemputku, tapi aku mohon padamu Bianca jangan mengatakan apapun pada Daffa tentang apa yang kau tau," ucap Lola.
"Aku mengerti Lola, tapi bagaimana denganmu? kapan kau akan kembali?"
"Aku akan segera kembali karena besok pagi aku harus bekerja, jadi jangan mengkhawatirkanku Bianca, aku baik-baik saja," jawab Lola.
"Segera hubungi aku jika kau sudah kembali, hubungi Daffa juga karena dia sangat mengkhawatirkanmu!" ucap Bianca.
"Aku mengerti," balas Lola.
Panggilan berakhir. Bianca menghela nafasnya panjang setelah ia mengetahui jika Lola baik-baik saja.
"Bagaimana? apa dia baik-baik saja?" tanya Arga.
"Iya dia baik-baik saja, dia akan kembali besok pagi," jawab Bianca dengan membawa dirinya duduk di anak tangga.
"Syukurlah kalau begitu, tapi kenapa tiba-tiba orang tuanya memintanya pulang? pasti terjadi sesuatu bukan?"
"Aku juga tidak tau Arga, semoga semuanya baik-baik saja dan Lola benar-benar kembali besok pagi," jawab Bianca.
"Apa kau sangat mengkhawatirkannya?" tanya Arga yang sudah duduk di samping Bianca.
"Tentu saja, kau ingat bukan apa yang terjadi padanya saat dia kabur dari rumah orang tuanya?"
"Aku ingat dan aku masih tidak habis pikir kenapa orang tuanya bisa melakukan hal itu pada Lola," balas Arga.
"Aku juga tidak mengerti Arga, aku hanya berharap Lola baik-baik saja," ucap Bianca.
"Tenang saja, dia pasti baik-baik saja," balas Arga sambil menepuk pelan bahu Bianca.
Bianca menghela nafasnya panjang, memikirkan hubungan Lola dan keluarganya. Di saat kedua orang tua Lola masih ada, mereka justru memperlakukan Lola dengan sangat tidak baik.
Sedangkan Bianca, orang tuanya yang memperlakukannya dengan sangat baik kini sudah tidak ada bersamanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Bianca?" tanya Arga menatap Bianca yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Terkadang aku tidak mengerti kenapa takdir memperlakukan kita dengan tidak adil," jawab Bianca.
"Bukan takdir yang tidak adil, tapi kita sebagai manusia yang belum bisa menerima takdir kita," balas Arga.
"Orang sepertimu yang selalu hidup sesuai dengan rencana tidak akan mengerti ketidakadilan hidup Arga, kau memiliki keluarga yang sangat menyayangimu, kau memiliki karir yang cemerlang, semua orang mengenalmu dengan baik dan semua keinginanmu bisa dengan mudah kau dapatkan," ucap Bianca.
"Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang itu kau bahkan bisa membeli hidupku," lanjut Bianca dengan tersenyum getir.
"Kau hanya mengetahui apa yang terlihat dari luar Bianca, kau tidak tau bagaimana kehidupanku dengan orang tuaku yang sebenarnya, kau juga tidak tahu bagaimana aku berusaha mewujudkan keinginanku yang ditentang semua orang bahkan orang tuaku," balas Arga.
Bianca seketika membawa pandangannya pada Arga. Ia tidak tahu hal apa yang Arga inginkan yang mendapatkan tentangan dari keluarganya.
"Kita semua menjalani hidup dengan jalan yang sudah takdir tentukan Bianca, kita berjuang melalui rintangan kita masing-masing, mungkin rintangan dalam hidupku terlihat ringan bagimu, begitu juga sebaliknya, tapi begitulah hidup!" ucap Arga.
Bianca tersenyum dengan menundukkan kepalanya, laki-laki yang dikenalnya angkuh itu ternyata bisa mengatakan sesuatu yang bijak padanya.
"Kenapa kau tersenyum? apa yang aku katakan lucu?" tanya Arga yang melihat Bianca menyembunyikan senyumnya.
"Iya, sangat lucu," jawab Bianca dengan penuh senyum.
__ADS_1
"Aaahhh lucu..... bagaimana dengan ini? apa ini lucu?" tanya Arga sambil menggelitik pinggang Bianca, membuat Bianca tertawa kencang sambil berusaha menghindar dari Arga.