
Cinta bisa datang kapanpun ia mau, bahkan terkadang cinta datang tanpa isyarat yang tak disadari sang pemilik hati. Cinta tumbuh begitu saja, mengisi setiap sudut hati dengan keindahannya.
Bagi Bianca, salju pertama dalam hidupnya adalah salah satu momen yang tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya.
Salju pertamanya saat ia terperosok di jurang bersama Arga, saat dimana ia membiarkan Arga memeluknya dengan erat, saat dimana ia membiarkan dirinya merasa nyaman dalam dekapan Arga dan saat dimana ia bisa mengatasi ketakutannya sendiri saat ia bersama Arga.
Bagi Bianca salju hanya akan memberikan memori indah padanya. Seperti malam itu, malam dimana ia dan Arga berdansa ditemani alunan musik yang damai, bersama butiran salju yang turun bersama malam.
Musik berhenti, semua yang ada disana bertepuk tangan setelah menyaksikan bagaimana Arga dan Bianca berdansa dengan penuh cinta.
Tanpa harus bertanya, mereka bisa melihat raut kebahagiaan penuh cinta diantara Bianca dan Arga.
Bianca dan Arga seketika menghentikan langkah mereka, mereka terdiam dengan saling menatap untuk beberapa saat.
Hingga tiba-tiba musik berubah menjadi musik ceria, membuat Bianca dan Arga segera tersadar dari dunia mereka sendiri.
Bianca dan Arga saling melempar senyum lalu sedikit membungkukkan badan pada semua yang ada disana sebelum mereka berjalan pergi.
Arga meraih tangan Bianca, menggenggamnya di dalam saku jaket tebalnya sambil kembali berjalan menyusuri trotoar.
Mereka berjalan tanpa mengucapakan apapun. Mereka hanya terdiam dengan menahan senyum di sudut bibir mereka, menahan gejolak dalam dada yang membuat jantung berdetak dengan kencang.
Bunga-bunga indah seolah bermekaran dalam hati mereka, tanpa mereka tahu jika bibit cinta perlahan mulai tumbuh di dalam hati mereka.
Sepanjang perjalanan tidak ada satupun kata yang keluar dari Bianca ataupun Arga. Mereka hanya diam, menahan senyum dengan segala pikiran mereka masing-masing.
Biiiipp biiiiippp biiiipp
Ponsel Arga berdering, membuat Arga menghentikan langkahnya, begitu juga Bianca.
Sebuah panggilan masuk dari sang mama yang membuat Arga segera menerima panggilan itu.
"Halo sayang, apa mama mengganggumu?"
"Tidak, ada apa ma?" balas Arga bertanya.
"Semuanya baik-baik saja bukan? kau bahkan tidak mengabari Mama sejak kau sampai disana!"
"Aahh iya, maafkan Arga ma, Arga dan Bianca terlalu bersemangat jadi lupa mengabari Mama," balas Arga.
"Semuanya baik-baik saja, mama tidak perlu khawatir," lanjut Arga.
"Baguslah kalau begitu, dimana Bianca? apa dia bersamamu?" tanya Nadine.
"Iya, dia bersama Arga, apa mama berbicara dengannya?"
"Iya, mama ingin mendengar suaranya," jawab Nadine.
Arga kemudian memberikan ponselnya pada Bianca. Biancapun menarik tangan kanannya dari genggaman Arga lalu menerima ponsel Arga.
Bianca kemudian mengobrol bersama Nadine sampai beberapa lama. Setelah puas mengobrol, Biancapun mengembalikan ponsel Arga.
"Sepertinya seru sekali, apa yang kau bicarakan dengan mama?" tanya Arga sambil menyimpan kembali ponselnya.
"Rahasia perempuan, kau tidak perlu tau," balas Bianca.
"Hmmm.... sepertinya mama dan papa sangat menyayangimu, terutama mama yang terlihat sangat menyukaimu," ucap Arga.
"Bukankah itu hal yang bagus?" tanya Bianca.
"Bagus, sangat bagus, kau memang pandai merebut hati mama," jawab Arga.
"Asal kau tau, jika aku mau, aku bisa merebut hati laki-laki manapun yang aku inginkan," ucap Bianca percaya diri.
"Benarkah? tapi sepertinya kau sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang hal itu!" balas Arga meragukan.
"Aku memang tidak pernah memilik kekasih, tapi aku yakin aku bisa mendekati siapapun yang aku inginkan, bukankah kau tau aku perempuan yang cantik dan menyenangkan?"
"Hahaha..... kau benar, kau memang cantik dan menyenangkan," balas Arga dengan tertawa melihat Bianca yang terlalu percaya diri.
Malam semakin larut, Bianca dan Argapun memutuskan untuk kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, mereka segera berganti pakaian di dalam kamar mandi dengan bergantian.
Saat Arga di dalam kamar mandi, Bianca menyiapkan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengobati luka Arga.
"Kenapa kau menaruh semua itu di atas meja?" tanya Arga saat ia sudah keluar dari kamar mandi.
"Duduklah," ucap Bianca sambil menarik tangan Arga dan memintanya duduk di tepi ranjang.
Bianca kemudian menarik pakaian Arga ke atas, untuk melihat luka di bagian samping perut Arga.
"Apa yang kau lakukan Bianca?" tanya Arga sambil menahan tangan Bianca.
"Mengobati lukamu, apa lagi?" balas Bianca
"Aaahhh aku pikir kau akan melakukan sesuatu yang....."
__ADS_1
"Buang pikiran kotormu itu jauh-jauh, aku bukan perempuan seperti itu!" ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil melepas perban pada luka Arga.
Dengan hati-hati Bianca membersihkan luka Arga, kemudian mengobatinya dan menutupnya dengan perban seperti sebelumnya.
"Sepertinya kau berbakat untuk menjadi dokter," ucap Arga.
"Aku memang memiliki banyak bakat," balas Bianca.
"Tapi kau sangat buruk dalam hal memasak," ucap Arga yang membuat Bianca membawa pandangannya pada Arga dengan tatapan tajam.
"Jangan menatapku seperti itu, apa yang aku katakan memang benar bukan? kau bahkan tidak bisa membuat kue dengan baik!" ucap Arga dengan terkekeh.
"Aku pasti bisa jika aku mau belajar, hanya saja.... aku..... aku memang tidak suka memasak saja," balas Bianca beralasan.
"Tidak masalah jika kau tidak bisa memasak Bianca, jangan terlalu memaksakan dirimu, bukankah setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing!"
"Kau benar dan sebagai perempuan, kekuranganku itu adalah yang terburuk," ucap Bianca dengan menghela nafasnya panjang lalu membawa dirinya duduk di sofa.
"Menurutku itu bukan masalah besar," ucap Arga.
"Sebagai perempuan rasanya aneh jika aku tidak bisa memasak Arga, apa yang akan suamiku katakan jika dia tau istrinya tidak bisa memasak!"
"Aku akan mengatakan it's oke Bee, it's not a big deal, aku memiliki restoran dan jika perlu akan mempekerjakan koki untuk memasak di rumah kita," ucap Arga.
"Itu sangat berlebihan Arga!" balas Bianca lalu membaringkan dirinya di sofa.
"Sebagai suami aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk istriku Bianca, aku akan memastikan istriku selalu bahagia saat bersamaku," ucap Arga.
"Hmmm.... semoga saja istrimu nanti bisa menerima sikapmu yang terkadang egois dan kekanak-kanakan!" ucap Bianca lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
"Egois dan kekanak-kanakan?" batin Arga mengulang ucapan Bianca
"Bianca, kau....."
Arga menghentikan ucapannya saat ia melihat Bianca yang sudah terpejam.
"Kau sudah tidur, Bee?" tanya Arga memastikan.
Tidak ada jawaban, Bianca sudah terpejam dengan lelap. Arga tersenyum tipis melihat Bianca yang cepat tertidur malam itu.
"Dia pasti sangat lelah, pasti membosankan menghabiskan waktu di rumah sakit selama beberapa hari hanya untuk menemaniku," ucap Arga kemudian membaringkan badannya di ranjang dan mulai memejamkan matanya.
**
Hari telah berganti, pagi itu Bianca bangun terlebih dahulu. Bianca turun dari sofa lalu berjalan ke arah jendela dan begitu terkejut saat ia melihat pemandangan di hadapannya.
Bianca terdiam menatap jalanan yang penuh dengan salju, bahkan pohon dan atap rumahpun sudah dipenuhi dengan salju.
Bianca kemudian membawa pandangannya pada Arga, ia segera berjalan mendekati Arga lalu membangunkan Arga.
"Arga bangunlah, Arga cepat bangun!" ucap Bianca sambil menggoyangkan tangan Arga.
Arga mengerjapkan matanya dan melihat Bianca yang sudah ada tepat di depan wajahnya.
"Bee, kau membuatku terkejut!" ucap Arga terkejut.
"Bee?"
"Kenapa?" tanya Arga.
"Terserah kau saja, sekarang cepatlah bangun, kita harus cepat keluar sekarang juga!" ucap Bianca penuh semangat.
"Kenapa terburu-buru sekali? ini masih pagi Bianca!" protes Arga.
"Jika kau tidak mau keluar sekarang, aku akan keluar sendiri!" ucap Bianca.
Arga menghela nafasnya lalu beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Saat Arga keluar dari kamar mandi, Bianca sudah siap dengan segala perlengkapan untuk mengganti perban pada luka Arga.
"Tadi kau sangat terburu-buru, sekarang kau menyiapkan semua ini!" ucap Arga.
"Ini hal wajib yang tidak boleh ditinggalkan Arga," balas Bianca yang segera melepas perban pada luka Arga, kemudian membersihkan lukanya, mengobati dan kembali menutupnya dengan perban yang baru.
"Selesai, sekarang kita harus cepat keluar!" ucap Bianca lalu mengambil jaket tebalnya dan mengenakannya.
"Kenapa kau sangat bersemangat sekali hari ini?" tanya Arga saat mereka sudah berjalan keluar dari kamar.
"Apa kau tidak lihat di luar sudah penuh dengan salju?" balas Bianca.
"Jadi kau mengajakku keluar hanya karena itu?" tanya Arga.
"Mungkin itu hal sepele buatmu, tapi ini adalah yang paling aku tunggu sejak aku pertama kali menginjakkan kaki disini," balas Bianca.
"Jika kau tidak suka kembalilah ke kamar, aku bisa menghabiskan waktu sendirian di luar," lanjut Bianca.
"Aku tidak bilang jika aku tidak suka, tapi sebelum itu kita harus makan sesuatu yang hangat," ucap Arga.
__ADS_1
"Oke," balas Bianca.
Arga kemudian meraih tangan Bianca dan menggandengnya ke arah restoran hotel. Mereka menikmati sarapan mereka dengan pemandangan salju yang terlihat dari dinding kaca besar yang ada disana.
Setelah meyelesaikan sarapan, merekapun segera meninggalkan hotel.
Bianca terdiam di tempatnya berdiri untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka jika ia akan benar-benar bermain salju hari itu.
Aku tau dimana kita bisa bermain salju ucap Arga lalu kembali menggandeng tangan Bianca.
"Dimana?" tanya Bianca penuh semangat.
"Ikut saja," balas Arga.
Sepanjang perjalanan Bianca terlihat begitu bahagia melihat salju yang ada di sekitarnya. Setelah beberapa lama berjalan, merekapun sampai di taman yang letaknya tidak begitu jauh dari hotel.
Disana sudah ada beberapa orang yang tampak bermain salju, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa yang kemungkinan adalah turis, seperti Bianca dan Arga.
"Aku akan pergi ke mini market sebentar, kau tunggulah disini!" ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Bianca kemudian mengambil ponselnya, memotret beberapa sudut taman yang menampakkan hamparan salju yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
"Waaahhh.... ini benar-benar seperti mimpi," ucap Bianca yang masih kagum dengan apa yang ia lihat saat itu.
Bianca kemudian bermain salju disana tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Ia benar-benar seperti anak kecil yang baru saja diberi mainan baru saat itu.
Tak lama kemudian Arga kembali dari mini market dengan membawa mainan yang biasa dipakai untuk mencetak salju berbentuk bebek.
Melihat Bianca yang tampak sedang menikmati waktunya sendiri, Argapun hanya berdiri di tempatnya dengan tersenyum menatap Bianca.
Arga kemudian mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen yang dinilainya menggemaskan itu.
Saat Bianca menyadari keberadaannya, Argapun segera menyimpan ponselnya lalu membawa langkahnya ke arah Bianca sambil memamerkan mainan yang baru saja dibelinya.
"Apa itu?" tanya Bianca pada Arga.
Arga tidak menjawab pertanyaan Bianca, kemudian memberikan satu mainan itu pada Bianca.
Arga kemudian menggunakan mainan itu untuk mencetak salju menjadi bentuk bebek lalu menaruhnya di atas kursi panjang yang ada disana.
"Aahh aku tau, aku pernah melihatnya di internet," ucap Bianca kemudian mengikuti apa yang Arga lakukan.
Mereka membuat kursi taman yang ada di dekat mereka penuh dengan salju berbentuk bebek-bebek kecil.
"Kita seperti sedang berternak bebek sekarang hahaha....." ucap Bianca lalu mengambil foto kumpulan bebek salju buatannya dengan Arga.
Bianca kemudian mengirimkan foto itu pada Lola. Di sisi lain, Arga sedang membuat bulatan salju yang cukup besar.
Melihat apa yang sedang dilakukan Arga, Biancapun segera membantu Arga untuk membuat bulatan yang lebih besar.
"Apa kita akan membuat manusia salju?" tanya Bianca.
"Iya, kita akan membuatnya berpasangan," jawab Arga.
Bianca tersenyum senang dan semakin bersemangat untuk membuat bulatan salju. karena terlalu bersemangat, Bianca bahkan tidak mengindahkan hawa dingin yang ia rasakan saat itu.
Akhirnya satu manusia salju sudah selesai Arga buat. Untuk sentuhan terakhirnya Arga memberikan sepasang tangan pada manusia saljunya.
Arga kemudian berdiri di belakang manusia salju buatannya lalu memegang kedua tangan manusia salju yang terbuat dari ranting pohon.
"Hai, i'm Olaf, i like warm hugs!" ucap Arga menirukan adegan dalam film Frozen.
Bianca tertawa melihat apa yang Arga lakukan, tanpa sadar Bianca segera membawa dirinya memeluk manusia salju di hadapan Arga.
Tentu saja manusia salju itu seketika rusak saat Bianca memeluknya dengan erat.
"Astaga, maafkan aku!" ucap Bianca yang menyadari kebodohannya.
"Apa kau pikir ini Olaf sungguhan?" tanya Arga dengan menghela nafasnya panjang karena manusia salju buatannya rusak.
"Hehehe.... maaf, aku terlalu bersemangat, rasanya aku tidak bisa mengendalikan diriku saat ini!" ucap Bianca menunjukkan deretan giginya.
"Lupakan saja, aku akan membuatnya lagi!" ucap Arga kemudian membuat manusia saljunya yang kedua.
Setelah beberapa lama akhirnya 2 manusia salju selesai dibuat.
"Hahaha.... kenapa manusia salju milikmu gendut sekali Arga?" tanya Bianca sambil menunjuk manusia salju buatan Arga.
"Karena dia suka makan hahaha...." jawab Arga.
Bianca dan Arga benar-benar bersenang-senang saat itu. Mereka bercanda dan tertawa, bermain salju dan saling melempar salju seperti anak kecil.
Mereka menikmati waktu mereka berdua dengan penuh kebahagiaan. Tanpa sadar, kebersamaan mereka membuat mereka semakin dekat.
Bianca kini mulai terbiasa dengan sentuhan Arga, dengan kebiasaan Arga yang tiba-tiba meraih tangannya dan menggenggamnya.
__ADS_1
Mereka menjadi diri sendiri tanpa harus terikat dengan kontrak kesepakatan yang mereka sepakati, mereka bahagia bukan karena kontrak kesepakatan itu, melainkan karena kebersamaan mereka.