Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Liburan Keluarga


__ADS_3

Waktu berlalu, tiba pagi Bianca, Arga dan mama papanya untuk pergi berlibur. Sejak semalam Bianca sudah menyiapkan semua barang yang akan ia bawa, sedangkan Arga sama sekali belum menyiapkan apapun.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Terdengar ketukan dari pintu kamar Bianca saat ia sedang mempersiapkan dirinya. Biacapun segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Arga yang sudah berdiri disana.


"Ada apa?" tanya Bianca.


"Cepat ikut aku!" ucap Arga sambil meraih tangan Bianca dan membawanya berlari kecil menaiki tangga.


"Ada apa Arga? apa pada masalah?" tanya Bianca yang berlari kecil mengikuti Arga.


Arga tidak menjawab pertanyaan Bianca, ia terus membawa Bianca menaiki tangga sampai akhirnya mereka tiba di lantai 3.


Argapun segera membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Bianca untuk masuk.


"Astaga Arga, kamarmu berantakan sekali!" ucap Bianca yang terkejut melihat keadaan kamar Arga.


"Itulah kenapa aku mengajakmu kesini, bantu aku untuk memasukkan barang-barangku ke dalam koper karena aku baru bangun dan belum menyiapkan apapun," balas Arga.


"Apa kau gila? 30 menit lagi mama dan papa akan kesini untuk menjemput kita dan kau......"


"Ssssttt..... ini bukan waktunya untuk mengomel, ini adalah beberapa barang yang harus aku bawa, tolong masukkan ke dalam koper, aku harus mandi sekarang!" ucap Arga sambil mendudukkan Bianca di atas ranjangnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Bianca hanya menghela nafasnya kesal lalu memasukkan beberapa barang Arga ke dalam koper.


"Apa aku juga harus memasukkan itu?" batin Bianca bertanya pada dirinya sendiri dengan membawa pandangannya pada pakaian dalam Arga yang ada di atas ranjang.


Bianca menggelengkan kepalanya lalu mengambil beberapa barang yang ada di meja Arga dan memasukkannya ke dalam koper.


Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Bianca yang melihat hal itupun terkejut dan berteriak sambil menutup kedua matanya.


"AAAAAAA..... Argaaaa......"


"Hahaha..... kau berlebihan sekali!" ucap Arga yang berjalan santai melewati Bianca lalu mengambil pakaian yang akan ia kenakan dari dalam lemari.


Biancapun segera mengalihkan pandangannya dan matanya tertuju pada sebuah buku yang ada di atas laci di samping ranjang Arga.


Sedangkan Arga sedang mengenakan pakaiannya saat Bianca sudah mengalihkan pandangannya.


"Jangan mengintipku!" ucap Arga.


"Tidak ada yang berniat untuk mengintipmu Arga, cepatlah sebelum mama dan papa datang," balas Bianca lalu mengambil buku yang ada di atas laci.


"Emotional First Aid...." ucap Bianca membaca judul yang ada di buku itu.


Mendengar apa yang Bianca katakan, Arga segera membawa pandangannya pada Bianca dan dengan cepat merebut buku itu dari tangan Bianca.


Karena Arga terlalu panik saat Bianca memegang buku itu, tanpa sengaja Arga membuat Bianca terbaring di atas ranjangnya dengan posisi Arga berada di atas Bianca.


Bianca yang terkejut hanya bisa terdiam dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang, begitu juga dengan Arga yang menyadari jika saat itu dadanya tengah berdebar.


Karena jarak mereka berdua yang sangat dekat, Bianca bahkan bisa mencium wangi sabun mandi yang Arga pakai.


"Apa kau.... berdebar?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


Mendengar pertanyaan Arga, seketika Bianca tersadar dan segera mendorong tubuh Arga yang ada di atasnya.


"Cepat bersiap-siap, sebentar lagi mama dan papa akan datang!" ucap Bianca tanpa menjawab pertanyaan Arga lalu berjalan keluar dari kamar Arga begitu saja.


Sedangkan Arga segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang, memegang dadanya yang berdebar semakin kencang.


"Aku pasti sudah gila!" ucap Arga dalam hati.


Menyadari sebuah buku yang masih ia pegang, Arga kemudian memasukkan buku itu ke dalam laci.


"Ini bukan karena aku jatuh cinta, ini pasti karena aku takut Bianca melihat foto yang ada di dalam buku ini," ucap Arga sambil kembali memegang dadanya yang terasa tidak bisa berhenti berdebar saat itu.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, membuat Arga begitu terkejut dan segera mengambil ponsel yang ada di atas lacinya.


Ternyata sebuah pesan masuk dari sang mama.


"Mama akan segera sampai."

__ADS_1


Argapun membalas pesan sang mama lalu segera melanjutkan persiapannya.


"Astaga, kenapa ada pakaian dalamku disini? memalukan sekali!" ucap Arga yang baru sadar jika ia menaruh pakaian dalamnya di atas ranjang dan meminta Bianca untuk memasukkannya ke dalam koper.


"Semoga dia belum menyentuhnya," ucap Arga sambil memasukkannya ke dalam koper.


Setelah Arga selesai mempersiapkan dirinya, iapun segera membawa kopernya keluar dari kamarnya.


Setelah menaruh kopernya di teras, Arga berjalan ke kamar Bianca lalu mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali.


"Bianca, kau belum selesai?" tanya Arga dari depan pintu kamar Bianca.


"Sebentar lagi, tunggu saja di depan," jawab Bianca dari dalam kamarnya.


Arga kemudian kembali ke depan dan duduk di teras untuk menunggu Bianca.


Tanpa Arga tahu, Bianca sedang menenangkan dirinya di dalam kamar. Detak jantungnya yang tidak beraturan membuatnya gugup dan ia tidak akan membiarkan Arga mengetahui kegugupannya saat itu.


"Tenang Bianca, tidak perlu berlebihan seperti ini, kau hanya terkejut dengan apa yang Arga lakukan tiba-tiba jadi dadamu berdebar seperti ini, sekarang kau harus tenang karena kita akan segera pergi berlibur bersama mama dan papa Arga," ucap Bianca sambil mengusap dadanya sendiri.


Berkali-kali Bianca menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


Bianca kemudian menyemprotkan parfum ke lehernya sebelum ia keluar dari kamarnya dengan membawa koper miliknya.


Bianca kemudian duduk di teras bersama Arga, tetapi ia memilih untuk duduk di kursi yang berjauhan dengan Arga.


Melihat hal itu, Argapun segera beranjak dari duduknya dan pindah ke dekat Bianca.


"Kenapa kau pindah kesini?" tanya Bianca dengan menjauhkan dirinya dari Arga.


Arga hanya tersenyum tipis lalu memegang bahu Bianca dan menarik Bianca mendekat padanya.


"Arga lepaskan!" ucap Bianca dengan sedikit meronta.


"Mama dan papa akan mengira kita sedang bertengkar jika kita duduk dengan berjauhan," ucap Arga memberikan alasannya pada Bianca.


"Aaahh iya, kau benar, tapi tidak perlu seperti ini," balas Bianca sambil melepaskan tangan Arga dari bahunya.


"Sepertinya dari dulu kau selalu memakai parfum yang sama, benar bukan?" ucap Arga sekaligus bertanya.


"Benar, dari mana kau tau?" balas Bianca.


"Aaahhh saat itu, aku ingat, aku juga ingat kau sangat bau alkohol saat itu," balas Bianca.


"Tidak bisakah kau melupakan bagian yang buruk seperti itu!" ucap Arga dengan nada kesal yang membuat Bianca terkekeh.


Tak lama kemudian tampak mobil orang tua Arga memasuki halaman rumah. Tanpa berbasa-basi terlalu lama mereka segera berangkat ke bandara.


"Akhirnya kita bisa menghabiskan waktu bersama, mama benar-benar senang sekali," ucap Nadine saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Bianca juga senang ma," balas Bianca.


"Mama sudah mempersiapkan semuanya sejak semalam, bagaimana denganmu Bianca? kau sudah mempersiapkan semuanya bukan? tidak ada yang tertinggal?"


"Bianca juga menyiapkan semuanya sejak semalam dan Bianca juga sudah memeriksanya tadi pagi, Bianca yakin tidak ada yang tertinggal," jawab Bianca.


"Kau juga menyiapkan barang milik Arga bukan?" tanya Nadine.


"Iiiyaa.... Bianca juga menyiapkan barang milik Arga," jawab Bianca dengan membawa pandangannya pada Arga.


"Tapi kau tidak menyentuh pakaian dalamku bukan?" tanya Arga berbisik dengan sangat pelan pada Bianca.


"Tentu saja tidak, kau pikir aku perempuan seperti apa?" balas Bianca yang juga berbisik.


"Kalian tidak sedang bertengkar bukan?" tanya Nadine yang mendengar Arga dan Bianca berbicara dengan berbisik.


"Tidak ma, Arga hanya memastikan jika Bianca tidak lupa memasukkan barang milik Arga," jawab Arga beralasan.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di bandara. Setelah cukup lama menunggu, pesawat akhirnya membawa mereka berdua pergi ke Lombok, tujuan liburan mereka.


Setelah kurang lebih 2 jam berada dalam pesawat, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Bianca dan Arga hanya berjalan mengikuti mama dan papanya yang sudah menyewa mobil untuk mereka selama mereka berlibur disana.


Tak lama kemudian papa Arga menemui dua orang laki-laki yang sudah menunggu kedatangan mereka, dua orang laki-laki itu kemudian memberikan sebuah kunci mobil pada papa Arga.


"Ini mobil yang akan kau kendarai bersama Bianca, papa dan Mama akan mengendarai mobil lain," ucap David sambil memberikan kunci mobil pada Arga.

__ADS_1


"Kenapa tidak satu mobil untuk berempat saja? bukankah kita akan berlibur bersama disini?" tanya Arga.


"Kita memang berlibur bersama disini, tapi mama dan papa tidak ingin mengganggu momen kalian berdua, jadi nikmati waktu kalian berdua dengan santai selama kalian disini," sahut Nadine menjawab.


"Sekarang kau tahu bukan dari siapa sifatku menurun!" ucap Arga pada Bianca saat orang tua Arga sudah masuk ke dalam mobil lebih dahulu.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis.


"Kita akan pergi makan siang dulu sebelum beristirahat di hotel, jadi ikuti saja mobil papa!" ucap David pada Arga sebelum Arga masuk ke dalam mobilnya.


"Baik Pa," balas Arga.


Arga kemudian mengendarai mobilnya mengikuti mobil sang papa, sampai akhirnya mereka sampai di restoran lalu menikmati makan siang mereka bersama dengan sesekali bercanda dan tertawa setelah mereka menghabiskan makanan mereka.


Setelah makan siang selesai, Bianca, Arga dan mama papanya segera pergi ke hotel untuk beristirahat.


"Mama sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua," ucap Nadine sambil memberikan kunci kamar pada Bianca setelah ia mendapatkannya dari resepsionis.


"Terima kasih ma," balas Bianca lalu berjalan ke arah kamar yang akan ia tempati bersama Arga.


"Kau masih ingat peraturan kita bukan?" tanya Arga pada Bianca saat mereka sedang berjalan ke arah kamar mereka.


"Tidur di atas ranjang dengan bergantian bukan?" balas Bianca diikuti anggukan kepala oleh Arga.


"Tapi jika kau mau, kau bisa tidur di ranjang bersamaku hehe...."


"Jangan harap," balas Bianca lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Arga.


Bianca kemudian menempelkan kartu akses kamarnya lalu membuka pintu kamarnya dan begitu terkejut saat ia sudah masuk ke dalam kamar yang dipesan oleh Mama Arga.


Bianca melihat banyak kelopak mawar di lantai dan di atas ranjang, dengan beberapa lilin aromaterapi yang sudah menyala dan menyebarkan wangi yang terasa menenangkan.


"Apa kita salah kamar Arga?" tanya Bianca pada Arga yang sudah berdiri di sampingnya.


"Kau tidak akan bisa membuka pintunya jika kita salah kamar, Bianca," balas Arga lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Ini seperti kamar pengantin baru, apa kau tidak berpikir seperti itu?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Aku tidak ingin terlalu memikirkannya Bianca, aku ingin segera beristirahat karena aku sangat lelah," balas Arga dengan kedua mata yang sudah tertutup.


"Lemah sekali, padahal ini hanya perjalanan 2 jam!" ucap Bianca mencibir yang membuat Arga segera membuka matanya.


"Asal kau tahu Bianca, aku bahkan tidak tidur semalaman dan baru tidur saat menjelang pagi untuk mengerjakan seluruh pekerjaanku sebelum aku meminta Daffa menyelesaikannya," ucap Arga dengan menatap Bianca yang duduk di sofa.


"Iyaa iyaa aku tau, kau memang laki-laki paling sibuk di dunia ini, tidurlah jika kau memang ingin tidur," balas Bianca dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Waktupun berlalu, sebelum senja menyapa Nadine mengajak Bianca dan Arga untuk pergi menikmati sunset di pantai yang berada tidak jauh dari hotel mereka menginap.


Sesampainya di pantai Bianca, Arga dan mama papanya duduk di tepi pantai menikmati lembayung senja yang sudah sedikit menampakkan diri.


"Bianca, ikut mama sebentar!" ucap Nadine yang beranjak dari duduknya.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu ikut beranjak dari duduknya dan berjalan pergi bersama Nadine.


"Kita mau kemana ma?" tanya Bianca pada Nadine.


"Membeli kelapa muda, minum kelapa muda dengan pemandangan sunset adalah waktu paling sempurna, kau setuju?" balas Nadine.


"Setuju," ucap Bianca dengan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan kamarmu di hotel, Bianca? apa terasa nyaman?" tanya Nadine pada Bianca saat mereka duduk di salah satu tempat yang menjual kelapa muda.


"Sangat nyaman ma, Bianca bahkan merasa seperti memasuki kamar pengantin baru," jawab Bianca.


"Mama sengaja mempersiapkan semua itu untukmu dan Arga, semoga sepulang dari sini kalian bisa memberi kabar gembira untuk mama," ucap Nadine yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Nadine.


"Mama memang tidak boleh mengatakan hal ini pada Arga karena Mama tahu Arga akan sangat marah pada mama, tapi Mama boleh mengatakannya padamu bukan?" tanya Nadine yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Memiliki keturunan adalah hal yang paling penting dalam pernikahan Bianca, karena hanya anak kalian berdualah yang akan melanjutkan bisnis Arga, kau setuju dengan mama bukan?"


"Iya, Mama benar," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"Mama tidak bermaksud untuk ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangga kalian, mama hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua dan memiliki anak dalam usia kalian yang sekarang adalah pilihan yang terbaik menurut mama," ucap Nadine.


"Tolong bicarakan hal ini dengan Arga, mama sangat berharap padamu Bianca," lanjut Nadine dengan menggenggam tangan Bianca.


Bianca hanya terdiam dengan menganggukkan kepalanya pelan dan senyum yang ia paksakan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Nadine membuat hatinya terasa teriris karena rasa bersalah yang ia rasakan.


__ADS_2