
Bianca seketika terdiam setelah ia membaca surat pemberian Bara. Ia tidak menyangka jika Bara akan memberikan cincin itu, terlebih dengan surat yang Bara tulis untuknya.
"Apa isi suratnya Bianca?" tanya Lola penasaran.
Biancapun memberikan surat itu pada Lola, membiarkan Lola membacanya. Sedangkan ia berusaha untuk mencerna apa maksud sebenarnya Bara memberikan cincin dan surat itu padanya.
Sama halnya seperti Bianca, Lolapun begitu terkejut setelah ia membaca surat dari Bara.
"Bianca, apa ini maksudnya kak Bara sedang melamarmu?" tanya Lola pada Bianca yang hanya terdiam dengan tatapan kosong.
"Bianca, kau tidak berpikir sama sepertiku bukan?" tanya Lola sambil menggoyangkan kedua tangan Bianca.
"Entahlah Lola, aku tidak bisa berpikir apapun saat ini," jawab Bianca.
Bianca kemudian membawa pandangannya pada cincin yang ada di hadapannya. Cincin putih dengan hiasan permata kecil di tengahnya dan terukir huruf B dengan tanda hati di bagian dalamnya.
Sebagai seseorang yang sudah dewasa Bianca cukup mengerti apa maksud dari cincin dan surat yang Bara berikan padanya.
Meskipun Bianca tidak pernah memiliki pengalaman apapun tentang laki-laki, tapi apa yang Bara lakukan sudah cukup jelas baginya.
"Apa kau tidak senang Bianca?" tanya Lola yang melihat Bianca hanya terdiam dengan pandangan kosong.
"Apa seharusnya aku senang? apa seharusnya aku bahagia Lola?" balas Bianca bertanya dengan kedua mata berkaca-kaca.
Entah kenapa ada sesuatu yang terasa menyakiti hatinya, membuat matanya terasa perih hingga berkaca-kaca.
Bianca yang sudah sejak lama mengharapkan Bara kini seolah mendapatkan jawaban atas penantian lamanya.
Namun bukannya bahagia dan senang atas apa yang ia dapatkan dari bara, Bianca justru merasa bersedih.
"Bukankah kau seharusnya senang karena kak Bara ternyata juga memiliki perasaan yang sama sepertimu, tetapi kenapa kau tidak senang dengan hal itu Bianca? kenapa kau tidak terlihat bahagia?" tanya Lola.
Bianca menggelengkan kepalanya pelan lalu membawa pandangannya menatap langit-langit kamarnya, berusaha keras menahan air mata yang ingin jatuh dari kedua sudut matanya.
Bianca tidak mengerti apa yang membuatnya bersedih saat itu, ia hanya merasa sesuatu telah menyakiti hatinya.
Fakta bahwa dirinya adalah istri laki-laki lain membuat dinding tinggi menghalangi hatinya yang seharusnya bahagia.
"Bianca, ada apa denganmu?" tanya Lola sambil menggenggam tangan Bianca.
"Aku tidak tahu kenapa aku merasa sedih Lola, aku merasa.... hatiku....."
Bianca menghentikan ucapannya, ia berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak terlalu larut dalam perasaan yang tidak ia mengerti, perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
"Apa kau merasa bersalah pada kak Bara? pada kenyataannya kau sekarang adalah istri laki-laki lain, sedangkan kau sudah berjanji untuk menunggu kak Bara dan bahkan sekarang kak Bara sudah terlihat memiliki perasaan yang sama sepertimu," ucap Lola yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Lola.
"Iya mungkin memang itu yang aku rasakan saat ini, aku merasa bersalah karena aku sudah membohongi kak Bara, aku bersedih karena aku merasa sudah mengkhianati kak Bara," ucap Bianca dalam hati.
"Apa aku sangat jahat Lola? apa aku perempuan yang jahat?" tanya Bianca pada Lola.
"Tidak Bianca, kau sama sekali tidak jahat, menikah dengan Arga bukanlah sesuatu yang kau inginkan, kau hanya menikah dengan Arga berdasarkan kontrak tanpa ada cinta sama sekali diantara kalian," jawab Lola dengan menggenggam kedua tangan Bianca.
"Jangan terlalu memikirkannya Bianca, kak Bara akan kembali 2 tahun lagi dan saat itu kontrakmu dengan Arga sudah berakhir jadi kau bisa melanjutkan hubunganmu dengan kak Bara dengan lebih serius," lanjut Lola.
"Bagaimana jika kak Bara kembali sebelum kontrak pernikahanku dengan Arga selesai?" tanya Bianca khawatir.
"Itu tidak mungkin Bianca, bukankah kau tahu bagaimana kak Bara selalu membuat planningnya dengan sangat cermat? jika dia berkata akan kembali setelah 2 tahun maka dia akan benar-benar kembali setelah 2 tahun," jawab Lola berusaha menenangkan Bianca.
"Semoga saja seperti itu," ucap Bianca.
"Jangan jadikan hal ini beban untukmu Bianca, bisa jadi apa yang kita pikirkan saat ini salah, bukankah kau sudah cukup lama dekat dengan kak Bara tetapi kak Bara bahkan tidak pernah menunjukkan hubungan yang serius denganmu," ucap Lola.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa ia yakin dengan apa yang ia pikirkan saat itu, ia yakin jika kini Bara benar-benar memiliki perasaan yang sama sepertinya.
Namun hal itu justru membuat Bianca tidak bahagia, ada sesuatu yang membuatnya sedih, sesuatu yang membuatnya khawatir tanpa ia tahu dengan pasti sesuatu seperti apa yang sebenarnya tengah ia rasakan saat itu.
"Apa kau akan memakai cincin ini?" tanya Lola pada Bianca.
Bianca terdiam untuk beberapa saat dengan menatap cincin pemberian Bara lalu membawa pandangannya ke arah cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin yang merupakan pemberian Arga saat pernikahan mereka.
"Aaahhh sudah ada cincin Arga di jari manismu," ucap Lola saat menyadari cincin lainnya sudah melingkar di jari manis Bianca.
__ADS_1
"Apa aku harus melepasnya? apa aku harus menggantinya dengan cincin pemberian kak Bara?" tanya Bianca.
"Terserah kau saja Bianca, tapi bagaimana jika Arga menanyakannya?" balas Lola.
"Arga sudah tahu tentang kak Bara," ucap Bianca yang membuat Lola begitu terkejut.
"Lalu apa yang dia katakan? apa dia memarahimu?" tanya Lola.
"Tidak, dia hanya memintaku untuk tidak terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti karena bisa jadi itu akan membuatku terluka," jawab Bianca mengingat ucapan Arga padanya.
"Hmmmm..... sepertinya dia memang tidak memiliki perasaan apapun padamu, dia bahkan tidak cemburu saat dia tahu jika kau menyukai laki-laki lain," ucap Lola.
"Memang tidak ada perasaan apapun di antara kita berdua Lola, di dalam kontrak itupun sudah jelas dikatakan bahwa tidak boleh ada cinta di antara kita berdua atau siapapun yang jatuh cinta akan membayar denda yang sangat banyak," balas Bianca.
"Tapi kau baru menikah 2 bulan bersama Arga, waktu 2 tahun masih sangat lama Bianca, bukankah tidak mungkin jika kalian akan jatuh cinta suatu hari nanti," ucap Lola sekaligus bertanya.
Bianca tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil menyimpan surat dan cincin pemberian Bara.
"Kau tahu seperti apa Arga bukan? dia laki-laki yang nyaris sempurna, pasti sangat mudah baginya untuk mendapatkan perempuan yang dia inginkan dan yang pasti perempuan yang jauh lebih baik daripada aku," ucap Bianca.
"Apapun itu aku hanya berharap yang terbaik untukmu Bianca, aku berharap kau akan selalu menjalani kehidupanmu dengan bahagia entah itu bersama kak Bara ataupun Arga," ucap Lola dengan menggenggam tangan Bianca.
"Aku juga berharap hal yang sama untukmu Lola," balas Bianca lalu memeluk Lola.
**
Waktu berlalu, langit mulai gelap namun Arga belum juga pulang ke rumahnya. Pekerjaan kantor yang menumpuk membuatnya harus menghabiskan lebih banyak waktunya di kantor.
Tidak hanya sendiri, Arga ditemani oleh Daffa yang juga sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah beberapa lama akhirnya Daffa menyelesaikan pekerjaannya. Daffa kemudian membawa laporan pekerjaannya dan memberikannya pada Arga.
"Akhirnya pekerjaanku selesai," ucap Daffa sambil menjatuhkan dirinya di atas kursi yang ada di hadapan Arga.
"Pekerjaanmu tidak akan selesai sebelum aku selesai," balas Arga yang masih fokus dengan komputer di hadapannya.
"Kau menyebalkan sekali," ucap Daffa kesal.
"Aku hanya libur satu minggu dan pekerjaan sudah menumpuk, bukankah itu bukti jika kau belum bisa menangani seluruh pekerjaan dengan baik?"
"Tidak hanya mudah dan cepat tetapi kau harus mengerjakannya dengan baik," ucap Arga.
"Dan hanya kau yang bisa melakukan hal itu jadi jangan coba-coba untuk mengambil libur lebih lama lagi, aku benar-benar tidak akan sanggup," balas Daffa.
"Kau terlalu banyak menghabiskan waktumu dengan para perempuanmu Daffa, membuatmu tidak fokus dengan pekerjaanmu," ucap Arga.
"Tapi aku sudah lama tidak pernah bertemu perempuan manapun selain Lola," balas Daffa.
"Benarkah? apa kau belum puas bermain-main dengannya?" tanya Arga.
"Sepertinya aku tidak berminat untuk bermain-main dengannya," jawab Daffa yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Daffa.
"Apa kau serius?" tanya Arga meragukan ucapan Daffa.
"Entahlah sepertinya Lola berbeda dari kebanyakan perempuan yang pernah aku temui," jawab Daffa.
"Jika kau hanya bersenang-senang dengannya sebaiknya kau segera menyelesaikannya, jangan membuatnya terlalu berharap padamu, bagaimanapun juga dia teman Bianca," ucap Arga.
"Iya aku mengerti, bagaimana bulan madumu dengan Bianca? sepertinya menyenangkan," tanya Daffa.
"Tidak ada bulan madu, aku dan Bianca hanya berlibur berdua," jawab Arga.
"Terserah kau menyebutnya apa tapi yang pasti semua orang tahu jika kau pergi ke Tokyo untuk bulan madu bersama Bianca," ucap Daffa.
"Apa kalian tidur dalam satu kamar atau jangan-jangan kalian sudah tidur satu ranjang?" lanjut Daffa bertanya.
"Kita bergantian tidur di ranjang," jawab Arga singkat sambil tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Bergantian? apa maksudmu?" tanya Daffa tak mengerti.
"Kita memang tidur dalam satu kamar tapi kita tidak tidur satu ranjang, kau tahu Bianca bukan? dia tidak mungkin mau melakukan hal itu," jelas Arga.
__ADS_1
"Apa itu membuatmu kesal?" tanya Daffa.
"Tidak, aku juga tidak ingin tidur satu ranjang dengannya, bagaimanapun juga aku harus menghargainya, aku hanya menikah dengannya sebatas kontrak, jadi aku harus tahu batasanku dalam bertindak," jawab Arga.
"Satu minggu tidur dalam satu kamar yang sama dengannya apa kau tidak merasa ada sesuatu yang berbeda?" tanya Daffa.
"Sesuatu yang berbeda seperti apa maksudmu?" balas Arga bertanya.
"Sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat jantungmu berdetak cepat, sesuatu yang membuat dadamu berdebar dan sesuatu yang....."
"Pergilah Daffa, ucapanmu terlalu melantur!" ucap Arga memotong ucapan Daffa.
"Apa jangan-jangan kau sudah merasakannya atau kau....."
"Pergilah sekarang juga jika kau tidak ingin aku menambah pekerjaanmu!" ucap Arga yang membuat Daffa segera beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangan Arga.
Daffa sudah cukup lelah hari itu dan ia tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di kantor.
Arga terdiam untuk beberapa saat ketika Daffa sudah keluar dari ruangannya. Memorinya memutar kembali kebersamaannya bersama Bianca saat ia berada di Tokyo selama satu minggu bersama Bianca.
Tak dapat dipungkiri Arga memang merasakan apa yang Daffa katakan padanya, tetapi Arga berusaha untuk tidak menghiraukan hal itu.
Arga tidak ingin terlalu terjatuh dalam perasaan yang tidak ia mengerti, perasaan sesaat yang bisa jadi timbul karena ia menghabiskan waktunya terlalu lama bersama Bianca.
"Aku memang pernah merasakannya, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya, aku yakin jika aku masih mencintai Karina dan akan selamanya seperti itu," ucap Arga dalam hati.
Waktu berlalu dan malam semakin larut, Arga yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera beranjak dari duduknya, keluar dari ruangannya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kantor untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Arga segera membawa langkahnya masuk. Ia ingin segera berbaring di atas ranjangnya karena sudah sangat lelah dengan semua pekerjaan kantor yang menumpuk.
Namun saat berada di lantai 2 Arga melihat pintu balkon yang terbuka, iapun segera membawa langkahnya ke arah balkon dan mendapati Bianca yang duduk di balkon, terdiam dengan pandangan kosong.
"Bee....." panggil Arga pelan karena tidak ingin membuat Bianca terkejut.
Bianca yang sedang melamun tentu saja terkejut mendengar Arga yang tiba-tiba memanggilnya.
"Arga, kau sudah pulang?" tanya Bianca.
Arga menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya duduk di samping Bianca.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga.
"Hanya duduk menikmati udara malam," jawab Bianca.
"Apa terjadi sesuatu? kau terlihat seperti sedang bersedih?" tanya Arga yang melihat raut wajah Bianca tampak sendu.
Seketika Bianca berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Ia tersenyum dengan membawa pandangannya pada Arga.
"Tidak ada alasan yang membuatku harus bersedih Arga," ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya.
Bianca berjalan melewati Arga yang masih berdiri di tempatnya, namun tiba-tiba Arga menahan tangan Bianca karena ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tangan Bianca.
Arga melihat jari manis Bianca, ia yakin jika cincin yang Bianca pakai bukanlah cincin yang ia berikan saat pernikahan mereka.
Arga meraih tangan Bianca untuk memastikan cincin yang ia lihat.
"Ini bukan cincin yang aku berikan padamu," ucap Arga yang membuat Bianca segera menarik tangannya dari Arga.
"Kenapa kau melepas cincin pernikahan kita? apa kau tidak menyukainya? apa kau sudah bosan memakainya?" tanya Arga.
"Tidak, aku hanya......"
"Apa cincin itu hilang?" tanya Arga yang melihat Bianca seperti ragu untuk menjawab pertanyaannya.
"Tidak, aku masih menyimpan cincin itu meskipun aku tidak memakainya," jawab Bianca.
"Itu cincin pernikahan kita Bianca, seharusnya kau memakainya, setidaknya sampai kontrak kesepakatan kita berakhir," ucap Arga.
"Atau jika memang cincin itu hilang aku akan membeli lagi cincin yang sama untukmu," lanjut Arga yang membuat Bianca segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, aku akan memakai cincin itu lagi," ucap Bianca lalu segera berjalan pergi meninggalkan Arga begitu saja.
__ADS_1
Arga hanya terdiam di tempatnya berdiri, menatap Bianca yang sudah berjalan menuruni tangga. Dalam hatinya ia bertanya-tanya tentang cincin yang Bianca pakai saat itu.
"Kenapa dia melepas cincin pernikahan dan menggunakan cincin yang lain? siapa yang memberikan cincin itu pada Bianca?" batin Arga bertanya dalam hati.