
Suara tawa terdengar memenuhi rumah Arga saat Arga menggelitik pinggang Bianca. Meskipun Bianca sudah berkali-kali meminta ampun, tapi Arga masih terus menggelitik Bianca.
"Eheemm!!"
Suara deheman seketika membuat Arga menghentikan kegiatannya menggelitik Bianca. Dengan kompak Arga dan Bianca membawa pandangan mereka ke arah bawah dan begitu terkejut karena melihat Daffa yang sudah berdiri disana.
"Daffa, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga yang segera beranjak dari duduknya, sedangkan Bianca masih terduduk karena merasa sangat lemas setelah Arga menggelitik pinggangnya.
"Apa lebih baik aku pulang saja?" tanya Daffa yang masih berdiri di tempatnya.
"Jangan, masuklah," sahut Bianca.
"Masuk kemana Bianca? aku sudah berada di dalam rumah kalian sekarang," balas Daffa
"Aaahh iya, maksudku.... mmmm.... aku yang akan masuk ke kamarku hehehe...." ucap Bianca yang sudah beranjak dan berjalan menuruni tangga.
"Tunggu, ada yang ingin aku tanyakan padamu!" ucap Daffa sambil menahan tangan Bianca yang berjalan melewatinya.
Melihat hal itu Arga segera berlari menuruni tangga dan menepis tangan Daffa yang memegang tangan Bianca.
"Jaga sikapmu!" ucap Arga sambil menarik tangan Daffa dari Bianca.
"Astaga, kenapa kau jadi pencemburu sekali sekarang, aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada Bianca!" ucap Daffa kesal dengan sikap Arga.
"Aku tidak cemburu, aku hanya...."
"Sudah sudah.... apa yang ingin kau tanyakan padaku?" sahut Bianca bertanya pada Daffa.
"Tentang Lola, tolong katakan dengan jujur padaku, apa benar orang tua Lola tinggal di perumahan itu?"
"Aku tidak tau Daffa, tanyakan saja pada Lola saat dia sudah menghubungimu!" jawab Bianca berbohong.
"Dia bahkan tidak menerima panggilanku Bianca, apa kau tidak mengkhawatirkannya?"
"Bukankah kau bilang dia pergi bersama saudaranya? jadi untuk apa aku khawatir, dia tidak sedang bersama orang jahat bukan?"
"Tapi....."
"Bianca masuklah ke kamarmu, aku akan mengurus laki-laki gila ini!" ucap Arga sambil mendorong Bianca ke arah kamar.
"Kau tau apa yang tidak boleh kau katakan padanya bukan?" tanya Bianca berbisik pada Arga.
"Aku tau, percaya padaku," balas Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.
"Kenapa kalian berbisik? kalian pasti menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" tanya Daffa yang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Arga dan Bianca bicarakan.
"Sepertinya kau sangat lelah, masuklah ke kamarmu!" ucap Arga sambil membawa langkahnya menaiki tangga.
"Aku kesini bukan untuk menginap Arga, aku mengkhawatirkan Lola yang dibawa pergi oleh pria yang mencurigakan," balas Daffa yang mengikuti langkah Arga.
"Dan pria mencurigakan itu adalah saudaranya," ucap Arga.
"Dari mana kau tau? apa kau mengenalnya? apa kau tau siapa saja saudara Lola? apa kau juga tau dimana Lola tinggal?" tanya Daffa.
"Bukankah baru saja Bianca mengatakan jika pria itu saudaranya? lalu apa yang membuatmu curiga Daffa?"
"Mereka tidak terlihat seperti saudara Arga, mereka seperti orang asing!" balas Daffa.
"Itu hanya pikiran burukmu saja, pasti karena kau terlalu lama tidak bertemu dengannya," ucap Arga.
"Tidak Arga, aku....."
"Aku akan membantumu menyelidikinya jika sampai besok pagi tidak ada kabar dari Lola," ucap Arga memotong ucapan Daffa saat ia sudah berada di depan kamarnya.
"Benarkah?" tanya Daffa memastikan.
"Tentu saja, sekarang kau beristirahatlah sebelum ketampananmu yang tidak seberapa itu memudar," balas Arga lalu masuk ke dalam kamarnya, namun saat ia akan menutup pintu kamarnya, Daffa menahannya dan segera ikut masuk ke kamar Arga.
"Tidurlah di kamar tamu Daffa!" ucap Arga sambil menarik Daffa agar keluar dari kamarnya.
"Aku sangat lelah dan sedang stres saat ini, apa kau akan membiarkanku tidur sendirian?" balas Daffa sambil menjatuhkan dirinya di ranjang Arga.
"Aku tidak peduli, cepat keluar!" ucap Arga sambil berusaha menarik Daffa.
"Kenapa kau sangat ingin aku keluar dari sini? apa jangan-jangan kau akan tidur disini bersama Bianca?"
"Jaga ucapanmu, cepat pergi!"
"Jika kau masih memaksaku untuk keluar, itu artinya kau akan tidur disini bersama Bianca!" ucap Daffa yang enggan untuk beranjak dari ranjang Arga.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa langkahnya ke kamar mandi.
"Terserah kau saja," ucap Arga menyerah.
"Keputusan yang bijak, kau memang sahabat yang baik Arga, hehehe...." balas Daffa yang segera beranjak untuk berganti pakaian lalu kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang Arga.
__ADS_1
"Baiklah, untuk saat ini aku tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, tapi jika sampai besok Lola belum mengabariku aku akan segera bertindak dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku," ucap Daffa dalam hati.
Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi segera membawa langkahnya ke arah ranjangnya.
Ia duduk di ranjangnya sambil membaca buku karena memang itu adalah salah satu kebiasaannya sebelum ia tidur.
"Sepertinya kau sudah jatuh cinta," ucap Daffa dengan kedua mata yang terpejam.
"Apa kau mengigau?" tanya Arga yang segera membawa pandangannya pada Daffa.
"Tidak," jawab Daffa sambil tersenyum tipis, membuat Arga seketika memukul Daffa dengan buku yang dipegangnya.
"Aaargghh Arga!!" teriak Daffa yang segera beranjak dari tidurnya.
"Tidurlah di kamar tamu, kau hanya menggangguku disini!" ucap Arga yang kembali membuka buku yang dipegangnya.
"Aku sangat mengkhawatirkannya Arga, aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini, jadi kau harus menemaniku sampai pagi," balas Daffa.
"Jangan harap," balas Arga yang segera menaruh bukunya di atas meja lalu berbaring dan menarik selimutnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini!" ucap Daffa sambil menarik selimut Arga.
"Pergilah Daffa, kau benar-benar sangat menyebalkan!"
"Bukankah kau yang tidak ingin aku pergi? apa kau lupa ucapanmu sebelum aku pergi ke luar negeri kemarin?" tanya Daffa.
"Lupakan saja, sekarang pergilah!" balas Arga sambil kembali menarik selimutnya.
"Tidak, aku akan tetap disini bersamamu," ucap Daffa lalu berbaring di samping Arga.
"Kalau begitu diamlah dan cepat tidur, besok pagi kita ada pertemuan penting!" ucap Arga.
Daffa menghela nafasnya panjang sambil menatap langit-langit kamar Arga.
"Arga, jika kau sudah jatuh cinta pada Bianca, segera lepaskan Karina sebelum Bianca mengetahui masa lalumu bersama Karina, Bianca pasti akan sangat sedih jika dia mengetahuinya," ucap Daffa.
"Apa yang kau bicarakan Daffa, cepatlah tidur!" balas Arga.
"Aku serius Arga, sejak kau berpisah dari Karina aku tidak pernah melihatmu sebahagia saat kau bersama Bianca, apa kau tidak sadar jika Bianca mampu menyembuhkan sakit hatimu?"
Arga hanya diam, kedua matanya terpejam tapi ia masih mendengar apa yang Daffa katakan padanya.
"Meskipun kalian bertemu dan menikah tanpa cinta, tapi aku yakin waktu akan menumbuhkan benih cinta dalam hati kalian berdua dan saat cinta itu sudah benar-benar tumbuh, aku harap kalian berdua bisa menjaganya dengan baik," ucap Daffa.
"Diamlah Daffa, kau tidak tahu apa-apa!" balas Arga.
Arga hanya diam meskipun sebenarnya ia memikirkan apa yang Daffa katakan padanya.
"Aku dan Bianca tidak mungkin lebih dari sekedar apa yang sudah kita sepakati, tidak hanya karena aku yang masih menginginkan Karina, tapi juga karena Bianca yang sudah memiliki laki-laki yang dia harapkan menjadi masa depannya," ucap Arga dalam hati.
**
Waktu berlalu, Arga menghela nafasnya saat ia melihat Daffa yang masih tertidur pulas setelah ia selesai bersiap.
"Siapa yang semalam bilang tidak bisa tidur nyenyak," ucap Arga lalu keluar dari kamarnya dengan pakaian kerjanya yang sudah rapi.
Saat melewati ruang tamu, sudah ada Bianca yang duduk di sofa dan segera beranjak saat melihat Arga.
"Arga, pak Dodi belum datang dan aku ingin menemui Lola di tempat kosnya, aku...."
"Aku akan mengantarmu," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
"Benarkah? apa kau tidak terburu-buru ke kantor?"
Arga hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar diikuti oleh Bianca.
"Apa Lola sudah menghubungimu?" tanya Arga saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Pagi-pagi sekali Lola menghubungiku, dia memberi tahuku jika dia sudah ada di kosnya," jawab Bianca.
"Untuk apa kau kesana? bukankah dia harus bekerja hari ini?" tanya Arga.
"Aku tau, aku hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja," jawab Bianca.
"Katakan pada Lola jika dia membutuhkan bantuan aku pasti akan membantunya jika aku bisa," ucap Arga.
"Terima kasih Arga, aku akan mengatakannya pada Lola," balas Bianca.
Sepanjang perjalanan sesekali Arga membawa pandangannya pada Bianca, menatap Bianca sekilas lalu kembali fokus pada jalan di hadapannya.
Ia teringat ucapan Daffa padanya tentang waktu yang bisa jadi akan menumbuhkan cinta dalam hati mereka.
"Apa mungkin akan seperti itu? apa mungkin kita bisa....."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
__ADS_1
Ponsel Bianca berdering, membuyarkan Arga dari lamunannya dan segera membawa pandangannya pada Bianca.
Ia bisa melihat Bianca tersenyum senang sambil membaca pesan masuk pada ponselnya.
"Jangan tersenyum sendiri atau orang akan mengira kau gila," ucap Arga.
"Diamlah, kau tidak akan mengerti bagaimana bahagianya aku saat mendapat pesan dari kak Bara," balas Bianca.
"Kau sangat berlebihan!" ucap Arga kesal.
"Tidak ada yang berlebihan dalam cinta, Arga," balas Bianca.
"Cinta? apa kau yakin sudah mencintai Bara? sepertinya kau hanya menyukainya saja!"
"Aku memang sudah lama menyukainya dan selama ini aku sudah setia menunggunya pulang, setiap hari aku hanya memikirkannya dan berharap dia akan segera kembali, bukankah itu cinta?" balas Bianca yang membuat Arga seketika tertawa.
"Hahaha.... kau lucu sekali Bianca hahahaha...."
"Apanya yang lucu Arga, aku sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang lucu!" balas Bianca kesal melihat Arga yang menertawakannya.
"Jika kau tidak ingin disebut lucu, maka julukan yang cocok untukmu adalah bodoh hahaha...."
"Bodoh? kau mengataiku bodoh? kau benar-benar keterlaluan!" balas Bianca dengan memukul Arga berkali-kali.
"Hahaha.... hentikan Bianca, aku sedang menyetir sekarang!" ucap Arga dengan satu tangannya menahan tangan Bianca.
Biancapun segera menarik tangannya dari Arga dan kembali duduk dengan tenang. Bianca berusaha menenangkan debaran dalam dadanya saat Arga tiba-tiba memegang tangannya.
"Aku pasti sudah gila!" ucap Bianca dalam hati dengan memegang dadanya.
"Kenapa Bianca? apa kau baik-baik saja?" tanya Arga yang kembali memegang tangan Bianca saat ia menyadari Bianca tiba-tiba diam dengan memegang dadanya.
Menyadari apa yang dilakukan Arga, Bianca segera menarik tangannya dari Arga.
"Jaga sikapmu Arga, kau sangat menyebalkan!" ucap Bianca dengan nada suara kesal, meskipun sebenarnya ia gugup saat itu.
"Hahahah.... maafkan aku, aku hanya bercanda," balas Arga sambil menepuk pelan kepala Bianca.
Bianca hanya menghela nafasnya kesal lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil yang ada di sampingnya.
"Aku pasti sangat kacau, aku selalu berdebar seperti ini setiap dekat dengan Arga, aahhh tidak.... aku bisa gila jika terus seperti ini," batin Bianca dalam hati.
"Maaf Bee, aku benar-benar hanya bercanda, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," ucap Arga yang merasa bersalah karena tiba-tiba Bianca hanya diam.
Bianca hanya diam mengabaikan Arga, bukan karena ia marah pada Arga, tapi karena dadanya yang terus berdebar tanpa bisa ia kendalikan.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga menghentikan mobilnya di depan tempat kos Lola.
"Bagaimana jika aku mengantar Lola sekalian?" tanya Arga pada Bianca yang akan keluar dari mobilnya.
"Ide bagus, aku akan memberi tahunya," balas Bianca.
Bianca kemudian berlari kecil ke arah kamar kos Lola, belum sempat Bianca mengetuk, Lola sudah keluar dengan pakaian rapinya.
"Kau sungguh kesini? aku sudah bilang aku baik-baik saja Bianca, kenapa kau kesini sepagi ini?" tanya Lola yang terkejut melihat Bianca sudah ada di depan kamarnya.
"Aku belum bisa tenang sebelum aku bertemu denganmu Lola," balas Bianca yang segera memeluk Lola.
"Lepaskan, kau membuat pakaianku kusut!" ucap Lola sambil mendorong Bianca.
"Hehe... maafkan aku, apa kau akan berangkat bekerja?" tanya Bianca.
"Tentu saja, aku bukan pengangguran sekarang," jawab Lola sambil mengenakan sepatu kerjanya.
"Jika kau mau Arga bisa mengantarmu, pasti lebih cepat daripada naik kendaraan umum," ucap Bianca.
"Arga? apa kau kesini bersama Arga?" tanya Lola sambil membawa pandangannya ke arah halaman kosnya dan mendapati mobil Arga yang sudah terparkir disana.
"Iya, dia mengantarku karena pak Dodi belum datang, ayo cepatlah sebelum kau terlambat," jawab Bianca sambil menarik tangan Lola ke arah mobil Arga terparkir.
Bianca dan Lola kemudian duduk di bangku belakang, sedangkan Arga masih duduk di balik kemudi.
"Kenapa kau duduk di belakang Bianca? kau pikir aku pak Dodi?" protes Arga.
"Cepat jalan, jangan membuat temanku terlambat sampai di kantor," balas Bianca diikuti tawanya bersama Lola.
Arga hanya menghela nafasnya dengan tersenyum tipis lalu mengendarai mobilnya ke arah tempat kerja Lola.
"Bianca dan Daffa sangat mengkhawatirkanmu Lola, apa kau sudah menghubungi Daffa?" ucap Arga sekaligus bertanya pada Lola.
"Aku sudah menghubunginya tapi sepertinya dia masih tidur, dia tidak menerima panggilanku dan tidak membalas pesanku," jawab Lola.
"Tidur? bagaimana mungkin dia bisa tidur setelah dia mengatakan jika dia sangat mengkhawatirkanmu!" protes Bianca.
"Tidak, dia memang tidak bisa tidur semalam, dia... dia mungkin tidak menyadari jika ponselnya lowbat!" sahut Arga yang berusaha membela Daffa.
__ADS_1
"Kau pasti mencari alasan karena dia temanmu!" ucap Bianca.
"Keadaan perusahaan sedang tidak baik-baik saja Bianca, pasti fokusnya terbagi antara Lola dan perusahaan," balas Arga berusaha meyakinkan Bianca dan Lola.