Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Memikirkan Bianca


__ADS_3

Hari telah berganti, Arga bangun dari tidurnya lalu segera memeriksa ponselnya.


"Dia tidak menghubungiku sama sekali," ucap Arga lalu kembali menaruh ponselnya dan segera beranjak dari ranjangnya untuk mandi.


Setelah berganti pakaian, Arga mengambil ponselnya lalu menghubungi Bianca. Tanpa menunggu lama Biancapun menerima panggilan Arga.


"Halo Bianca, apa kau masih ada di tempat Lola?" tanya Arga setelah Bianca menerima panggilannya.


"Iya, aku masih di tempat Lola, kenapa?" balas Bianca.


"Bagaimana keadaannya? kau tidak akan menginap lagi bukan?" tanya Arga.


"Keadaannya sudah membaik, sepertinya nanti siang aku akan pulang," jawab Bianca.


"Aku akan menjemputmu," ucap Arga.


"Tidak perlu, aku......"


Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt


Arga mengakhiri panggilannya begitu saja. Arga kemudian bersiap lalu keluar dari rumahnya.


Sebelum pergi ke tempat kost Lola, Arga terlebih dahulu membeli beberapa vitamin dan obat-obatan di apotek serta membeli roti dan berbagai macam buah-buahan untuk ia berikan pada Lola.


Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah tempat kos Lola. Sesampainya disana ia terdiam untuk beberapa saat menatap kantong belanja yang ada di sampingnya.


"Apa yang sudah aku lakukan? untuk apa aku melakukan hal ini?" tanya Arga pada dirinya sendiri.


"Aargghh entahlah.... anggap saja aku sedang beramal hahaha....." ucap Arga lalu turun dari mobilnya dengan membawa kantong belanjanya.


Arga kemudian berjalan ke arah kamar kost Lola lalu mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.


Bianca yang saat itu pembuka pintu kamar kos Lola begitu terkejut saat melihat Arga yang sudah berdiri di hadapannya.


"Arga, kenapa kau kesini?" tanya Bianca terkejut.


"Menjemputmu," jawab Arga singkat.


"Bukankah aku bilang akan pulang nanti siang!" balas Bianca.


"Aku.... ingin memberikan ini untuk Lola," ucap Arga mengalihkan pembicaraan sambil memberikan kantong belanja yang ia bawa.


"Masuklah!" ucap Bianca mempersilahkan Arga masuk ke kamar kos Lola.


Lola yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi begitu terkejut melihat Arga yang sudah ada di dalam kamar kosnya.


"Apa yang dia lakukan disini Bianca? apa kau yang memintanya datang atau dia memaksamu pulang?" tanya Lola pada Bianca.


"Dia membawa ini untukmu," jawab Bianca sambil memberikan kantong belanja dari Arga.


"Waahhh sejak kapan tuan muda Arga yang kaya raya ini sangat peduli padaku? dia bahkan membawa banyak buah, obat-obatan dan roti!"


"Aku hanya tidak ingin Bianca menghabiskan waktunya di tempat sempit seperti ini, jadi cepatlah sembuh dan berhenti menyusahkan Bianca!" ucap Arga yang membuat Bianca segera memukul lengan tangan Arga karena ucapannya yang terdengar begitu kasar.


"Jika kau tidak suka berada disini kenapa tidak kau saja yang pergi?" tanya Lola kesal.


"Ayo kita pulang Bee, dia bahkan tidak tau cara yg baik untuk menyambut tamu," ucap Arga sambil menarik tangan Bianca.


"Jika tamuku bersifat arogan sepertimu tentu saja aku tidak akan bisa bersikap baik padamu," balas Lola.


"Kau....."


"Bawa pulang kembali barang bawaanmu, aku tidak membutuhkannya!" ucap Lola memotong ucapan Arga sambil mengembalikan kantong belanja yang sebelumnya Arga bawa.


"Tidak Lola, ini untukmu, lagi pula kau juga membutuhkannya," ucap Bianca sambil menaruh kantong belanja itu di meja Lola.


"Sepertinya lebih baik aku pulang sekarang, aku akan menghubungimu lagi nanti," lanjut Bianca lalu berjalan keluar dari kamar kost Lola dengan menarik tangan Arga.


"Apa sebenarnya yang membuatmu kesini Arga? jika kau hanya ingin mencari masalah dengan Lola sebaiknya kau tidak datang kesini," tanya Bianca kesal saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Arga.


"Aku hanya ingin menjemputmu, apa aku salah?" balas Arga bertanya.


"Aku sudah mengatakan padamu jika aku akan pulang nanti siang, kau tidak perlu repot-repot menjemputku seperti ini!" ucap Bianca.


"Aku menjemputmu karena kau memang harus pulang sekarang juga!" ucap Arga.


"Kenapa?" tanya Bianca.


"Karena...... karena ada yang harus kita bicarakan, penting," jawab Arga memberi alasan.


"Soal cek yang aku kembalikan padamu?" tanya Bianca.

__ADS_1


"Iya...... tentang cek itu, kenapa kau mengembalikannya padaku?"


"Kau sendiri kenapa tiba-tiba memberikan cek itu pada tante Felly? apalagi kau memberikannya dengan nominal melebihi yang Tante Felly inginkan!" balas Bianca bertanya.


"Aku hanya tidak suka dengan sikap tante Felly yang menekanmu seperti itu, lagi pula bukankah kau sendiri yang bilang jika tidak seharusnya tante Felly menagih uang 50 juta yang didapat dari menjual aset yang papamu tinggalkan?"


"Kau benar tetapi ini adalah masalahku dengan tante Felly, jadi aku harap kau tidak terlalu ikut campur!" ucap Bianca.


"Jika kau melarang tante Felly untuk menerima cek 60 juta itu maka aku akan mentransfernya ke rekeningmu dan kau bisa menggunakannya untuk membayarnya pada tante Felly," ucap Arga.


"Kenapa kau sangat keras kepala sekali Arga? sudah kukatakan biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri, aku tidak membutuhkan uangmu," balas Bianca kesal.


"Kau juga sangat keras kepala Bianca, bagaimana kau bisa mendapat uang 50 juta itu jika bukan dari uang yang aku berikan padamu!" ucap Arga.


"Aku pasti bisa mendapatkannya, lagi pula aku sudah mengatakan jika aku akan mencicilnya, kau tidak perlu khawatir aku pasti bisa melunasi uang 50 juta itu tanpa menggunakan sepeserpun uangmu," balas Bianca dengan tegas.


Arga menghela nafasnya panjang, ia tidak mengerti kenapa Bianca begitu keras kepala untuk tidak menerima uang pemberiannya. Bianca bahkan memutuskan untuk mencicil uang 50 juta itu padahal ia yakin jika di dalam rekening yang Bianca pegang sudah ada uang lebih dari 100 juta.


"Aku yakin dia memiliki banyak uang di rekeningnya, dia bahkan tidak pernah terlihat membeli sesuatu yang mewah, apa dia hanya berniat untuk menyimpan semua uang yang aku berikan padanya?" batin Arga bertanya dalam hati.


"Aku tidak ingin kau menilaiku sebagai perempuan yang hanya menginginkan uangmu, aku memang menikah denganmu karena uang 50 miliar yang kau janjikan tapi bukan berarti aku menginginkan semua uang yang kau miliki," ucap Bianca.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu," balas Arga.


"Aku akan melakukan peranku dengan baik sampai kontrak kita berakhir, aku harap kaupun juga begitu!" ucap Bianca.


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


Tiba-tiba saja hari-hari yang ia lewati bersama Bianca terasa begitu cepat, seolah 2 tahun sudah tampak terlihat di depan matanya.


"Entah apa yang terjadi nanti setelah 2 tahun, apa aku bisa menjalani hari-hariku dengan lebih baik, apa aku bisa mendapatkan Karina lagi atau aku hanya menyesal karena membuang waktuku untuk hal konyol ini!" batin Arga dalam hati.


**


Waktu berlalu, bersama senja yang sudah terlihat di ujung barat Bianca sedang fokus membaca buku di balkon.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari seseorang yang sudah lama Bianca tunggu.


Tanpa menunggu lama, Biancapun segera menerima panggilan itu.


"Halo Bianca, aku tidak sedang mengganggumu bukan?" tanya Bara.


"Tentu saja tidak, justru Bianca sangat senang karena kak Bara menghubungi Bianca, rasanya sudah lama sekali tidak mendengar suara kak Bara," balas Bianca.


"Aku sekarang semakin sibuk Bianca, aku hanya menggunakan waktuku untuk belajar dan bekerja, kau tidak marah bukan?"


"Tidak, Bianca mengerti kesibukan kak Bara," jawab Bianca.


"Bagaimana keadaanmu Bianca? aku harap kau masih menjadi Bianca yang ceria, yang selalu memberikan kebahagiaan pada orang-orang di sekitarnya!"


"Kabar Bianca baik kak, sangat baik, kak Bara tidak perlu khawatir Bianca akan selalu ingat pesan mama, hanya itulah yang membuat Bianca kuat!"


"Mama dan papamu pasti senang melihatmu bahagia!" ucap Bara.


"Iya kak, bagaimana dengan kak Bara? Bianca harap kak Bara bisa membagi waktu dengan baik, meskipun kak Bara sibuk dengan kuliah dan pekerjaan paruh waktu kak Bara disana!"


"Tenang saja, kau tahu aku sangat pandai memanajemen waktu bukan?"


"Iya Bianca tau itu!"


"Apa kau disana masih menungguku Bianca? atau mungkin kau sudah punya kekasih?" tanya Bara yang membuat Bianca terdiam untuk beberapa saat.


"Halo Bianca!" panggil Bara membuyarkan lamunan Bianca.


"Iya kak halo, maaf tadi sedikit berisik," balas Bianca beralasan.


"Aku tidak mendengar apapun dari sini, disini juga sangat sepi, memangnya dimana kau sekarang?" tanya Bara.


"Bianca...... Bianca sedang di rumah, membaca buku," jawab Bianca.


Tiba-tiba....


"Kak Bara!!!"


Bianca mendengar dengan jelas suara seorang perempuan yang memanggil Bara.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti Bianca!" ucap Bara lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


Biancapun hanya terdiam dengan menatap ponselnya yang sudah tidak terhubung dengan Bara.

__ADS_1


"Siapa suara perempuan yang memanggil kak Bara tadi? kenapa kak Bara mengakhiri panggilannya setelah perempuan itu memanggilnya?" tanya Bianca yang masih menatap layar ponselnya.


"Sudah jelas itu kekasihnya!" sahut Arga yang tiba-tiba datang menghampiri Bianca.


"Arga, sejak kapan kau ada disana?" tanya Bianca yang terkejut dengan keberadaan Arga.


"Sejak kau tersenyum sendiri seperti orang gila!" jawab Arga sambil merebut buku yang ada di tangan Bianca dan duduk di samping Bianca.


"Kau menguping pembicaraanku?" tanya Bianca.


"Lebih tepatnya tidak sengaja mendengarnya," balas Arga.


"Kau sangat tidak sopan sekali, seharusnya kau segera pergi jika tidak ingin menguping pembicaraanku!" ucap Bianca kesal.


"Aku hanya penasaran siapa laki-laki yang sering kau sebut itu? sejauh aku mengenalmu sepertinya hanya dia laki-laki yang dekat denganmu," tanya Arga.


"Itu privasiku, tidak ada hubungannya denganmu," balas Bianca lalu merebut buku yang Arga pegang, kemudian beranjak dari duduknya.


Namun Arga segera menahan tangan Bianca. Seperti yang sering terjadi dengan cepat Bianca menarik tangannya dari genggaman Arga


"Kita tidak cukup dekat untuk membicarakan masalah pribadi sejauh itu, jadi jangan berharap aku akan menceritakan tentang kak Bara padamu," ucap Bianca lalu berjalan meninggalkan Arga begitu saja.


"Aku ingin tahu bukan karena aku peduli padamu aku hanya heran karena ternyata hanya ada satu laki-laki yang tertarik padamu hahaha....." ucap Arga dengan setengah berteriak.


"Benar-benar laki-laki gila!" gerutu Bianca kesal sambil menuruni tangga.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Arga bersiap untuk keluar dari rumah.


Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah tempat tinggal Daffa karena malam itu ia akan pergi ke restoran bersama Daffa untuk menemui klien mereka.


Sepanjang perjalanan Arga memikirkan sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Daffa. Namun Arga ragu untuk menanyakannya karena khawatir Daffa akan berpikir sesuatu yang jauh tentang pertanyaannya itu.


"Ada apa denganmu? kau terlihat sangat gugup!" tanya Daffa yang melihat Arga tampak sedang memikirkan sesuatu saat itu.


Arga hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"Tidak mungkin seorang Arga gugup saat bertemu klien bukan?" tanya Daffa.


"Tentu saja tidak, sebenarnya ada hal lain yang mengganggu pikiranku," jawab Arga


"Apa itu?" tanya Daffa.


Arga terdiam untuk beberapa saat. Ia ragu untuk menanyakannya pada Daffa, namun pada akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.


"Menurut pandanganmu, bagaimana Bianca di matamu?" tanya Arga yang membuat Daffa segera membawa pandangannya pada Arga.


Menyadari pandangan Daffa yang menatapnya dari samping, Argapun segera memberikan disclaimer agar Daffa tidak salah paham


"Tolong jangan berpikir terlalu jauh, aku hanya merasa dia memiliki banyak rahasia yang tidak aku tau, dia......"


"Dia cantik," ucap Daffa yang membuat Arga mengentikan ucapannya.


"Bahkan menurutku dia sangat cantik, kecantikan alami yang tidak membosankan, kau tau bukan jika zaman sekarang banyak gadis cantik hanya karena make up?" lanjut Daffa.


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Sama seperti apa yang ia pikirkan saat pertama kali bertemu Bianca. Di matanya Bianca adalah gadis cantik yang memiliki daya tariknya tersendiri.


Sekilas saja melihatnya, mata laki-laki akan dengan mudah menyukainya. Terlebih dengan kepribadiannya yang bisa dinilai baik dan menyenangkan, pasti tidak sedikit laki-laki yang berniat mendekati Bianca.


Setidaknya itulah yang Arga pikirkan tentang Bianca.


"Aku memang belum terlalu mengenalnya, tapi sepertinya dia gadis yang baik, Tante Nadine juga memberi tahuku jika Bianca memilki pengetahuan yang luas dan manner yang baik," ucap Daffa.


"Kau benar, jadi bukankah dengan semua yang Bianca miliki sangat mudah baginya untuk memiliki kekasih?"


"Apa dia belum pernah memiliki kekasih sebelumnya?" tanya Daffa.


"Aku tidak tahu, tapi melihat sikapnya saat bersamaku, dia seperti belum pernah berpacaran sebelumnya, dia bahkan selalu menepis tanganku saat aku hanya berniat membantunya," jelas Arga


"Itu artinya dia gadis mahal, kau tidak bisa sembarangan menyentuhnya," ucap Daffa.


"Tapi dia sangat berlebihan Daffa, apa mungkin sebenarnya dia sudah memiliki kekasih? kekasihnya laki-laki miskin yang tidak bisa memberinya uang 50 juta, jadi dia menerima pernikahan denganku hanya agar dia mendapatkan uang 50 juta itu!"


Daffa hanya tersenyum tipis mendengar pikiran liar Arga tentang Bianca.


"Jika dilihat-lihat dia nyaris sempurna jika dia tidak galak dan keras kepala, dia bahkan......"


Arga tiba-tiba menghentikan ucapannya saat ia menyadari jika ia terlalu banyak berbicara tentang Bianca, sedangkan Daffa hanya diam dengan menahan senyumnya.


"Kenapa berhenti? lanjutkan saja, aku ingin mendengarmu bercerita tentang Bianca!" ucap Daffa dengan nada mengejek.


"Lupakan saja!" balas Arga yang membuat Daffa terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2