
Nadine yang baru sampai di rumah Arga segera membawa langkahnya masuk dan mendapati Arga yang berdiri mematung di ruang tamu.
"Arga, kenapa kau di rumah? mama melihat mobilmu di luar tadi!" tanya Nadine pada Arga.
"Mmmm.... Arga...."
"Dimana Bianca? Mama ingin bertemu dengannya!"
"Bianca.... dia sedang tidak enak badan ma, dia baru saja tidur, jadi lebih baik Mama menemuinya lain kali saja," balas Arga berbohong.
"Apa dia sakit? kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit?" tanya Nadine khawatir.
"Dia hanya merasa pusing, sepertinya akan segera membaik setelah dia beristirahat," balas Arga beralasan.
"Kalau begitu mama akan menunggunya disini," ucap Nadine yang hendak berjalan masuk, namun ditahan oleh Arga.
"Lebih baik mama pulang saja, biarkan Bianca istirahat," ucap Arga.
"Mama tidak akan mengganggunya Arga, mama hanya akan menunggunya disini," balas Nadine.
"Mama pulang saja, Arga akan menghubungi mama jika Bianca sudah membaik," ucap Arga.
"Bagaimana denganmu? apa kau akan kembali ke kantor?" tanya Nadine.
"Arga harus kembali ke kantor ma, ada pekerjaan yang harus Arga selesaikan," jawab Arga.
"Tidak bisakah Daffa saja yang menghandle pekerjaanmu? Bianca sedang sakit dan kau tetap pergi ke kantor?"
"Arga juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaan Arga ma!" balas Arga.
"Tapi bertanggung jawab pada istri adalah hal yang paling utama Arga!"
"Arga mengerti, Arga akan pulang cepat hari ini, tapi Arga harus kembali ke kantor sekarang dan mama harus pulang sekarang!" ucap Arga dengan tegas sambil menggandeng tangan sang mama keluar dari rumahnya.
"Baiklah, mama akan pulang!" balas Nadine yang terlihat pasrah.
Setelah mencium pipi kiri dan kanan sang mama, Argapun segera berlari ke arah mobilnya lalu mengendarainya kembali ke kantor.
Sedangkan Nadine, meminta sang supir untuk pergi terlebih dahulu, meninggalkan Nadine yang tetap berada di rumah Arga.
Nadine kemudian kembali masuk ke dalam rumah lalu berjalan ke arah dapur.
"Apa yang sedang bibi masak?" tanya Nadine pada bibi.
"Ikan bakar kesukaan non Bianca Bu," jawab bibi.
"Saya saja yang memasaknya, bibi mengerjakan yang lain saja," ucap Nadine.
"Tapi Bu...."
"Tidak apa, saya ingin memasak untuk menantu kesayangan saya!"
"Baik Bu, saya permisi," ucap bibi kemudian keluar dari dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Di tempat lain, Bianca masih berbaring di ranjangnya dengan kekesalan yang masih membuncah di dadanya karena sikap Arga dengan semua aturan yang dibuatnya.
"Apa bibi sudah selesai memasak sekarang?" tanya Bianca pada dirinya sendiri sambil membawa pandangannya ke arah jam dinding di kamarnya.
"Karbohidrat, i'm coming," ucap Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya setelah ia memastikan jika mobil mama Arga sudah tidak ada di halaman rumah.
Bianca kemudian berjalan ke arah dapur dan begitu terkejut saat melihat mama Arga yang sedang memasak.
"Hai sayang, bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik? Arga bilang kau sedang sakit, jika masih merasa pusing lebih baik kita ke rumah sakit, mama yang akan mengantarmu!" tanya Nadine yang menyadari kedatangan Bianca.
"Bianca.... Bianca sudah membaik ma, hanya perlu istirahat saja," balas Bianca.
"Sejak kapan mama disini? kenapa mama memasak di dapur?" lanjut Bianca bertanya.
"Mama baru saja datang, mama sengaja menggantikan bibi memasak karena mama ingin memasak untukmu," jawab Nadine.
"Ma... mama tidak perlu repot-repot seperti ini, Bianca baik-baik saja ma," ucap Bianca yang merasa bersalah karena Nadine berpikir jika Bianca sedang sakit saat itu.
"Tunggu saja di meja makan sayang, ini sebentar lagi akan selesai," ucap Nadine sambil menaruh ikan bakar di atas piring.
Dengan dibantu Bianca, Nadine kemudian membawa ikan bakar dan beberapa makanan lainnya ke meja makan kemudian menikmatinya bersama Bianca.
Setelah menyelesaikan makan siang, Bianca dan Nadine duduk di dekat kolam renang yang ada di bagian belakang rumah Arga.
__ADS_1
"Ada apa denganmu Bianca? apa kau sedang bertengkar dengan Arga?" tanya Nadine yang memperhatikan Bianca tidak banyak bicara sejak tadi.
"Tidak ma, Bianca hanya sedikit pusing saja," jawab Bianca berbohong.
Nadine tersenyum lalu meraih tangan Bianca dan menggenggamnya. Ia bisa melihat jika Bianca tidak sedang baik-baik saja saat itu, sama halnya dengan Arga.
Intuisinya sebagai seorang ibu bisa melihat jika Arga dan Bianca sedang tidak baik-baik saja.
"Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu kau bisa menceritakannya pada mama, tentang apapun itu, bahkan tentang Arga sekalipun," ucap Nadine.
"Meskipun Arga adalah anak mama, tapi mama tidak akan membelanya jika dia salah, jadi jangan khawatir," lanjut Nadine.
"Terima kasih ma, terima kasih karena sudah mengisi sosok orang tua dalam hidup Bianca," ucap Bianca.
"Mama menyayangimu seperti mama menyayangi anak kandung mama Bianca, itu kenapa mama tidak ingin kau merasa bersedih ataupun tertekan," balas Nadine.
Bianca menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Nadine. Dalam hatinya ia begitu beruntung bisa mengenal Nadine sebagai mertuanya, meskipun pernikahannya dengan Arga hanya sebatas kontrak.
"Mama tidak tau sejauh apa kau mengenal Arga, tapi mama hanya ingin mengatakan jika Arga memang terkadang sangat keras kepala, dia selalu yakin dengan apapun yang dia lakukan," ucap Nadine.
"Tapi di balik sikap keras kepalanya itu, dia adalah laki-laki yang sangat penyayang dan peka dengan orang-orang di sekitarnya, itu kenapa dia bisa dengan mudah tau siapa orang yang tulus padanya dan siapa yang hanya ingin mendekatinya," lanjut Nadine.
"Sepertinya sikap penyayang dan pekanya itu menurun dari mama," balas Bianca.
"Mungkin, terkadang karena terlalu keras kepala, dia sama sekali tidak mendengar ucapan orang lain yang menentang keputusannya," ucap Nadine.
"Apa ada keputusan Arga yang membuat mama menentangnya?" tanya Bianca yang hanya dibalas senyum oleh Nadine.
Nadine sengaja tidak ingin memberi tahu Bianca tentang masa lalu Arga bersama Karina.
"Jika ada sikap Arga yang bertentangan denganmu, tolong jangan terburu-buru menghakiminya Bianca, komunikasikan terlebih dahulu, mama yakin kalian akan menemukan jalan tengah yang tidak akan memberatkan salah satu diantara kalian," ucap Nadine.
Bianca menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Semua yang dikatakan Nadine tentang Arga memang benar.
Sejauh ia mengenal Arga, Arga memang sosok yang keras kepala bahkan egois di mata Bianca.
Tetapi dibalik sifat buruknya itu, Arga adalah sosok laki-laki yang sangat peka dengan sekitarnya. Bianca bisa melihatnya saat bagaimana Arga memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.
"Arga memilihmu sebagai istrinya pasti bukan tanpa alasan Bianca, mama yakin dan percaya kalian akan bisa menjaga pernikahan kalian sampai maut memisahkan, jadi mama harap apapun masalah diantara kalian berdua, kalian akan bisa menyelesaikannya dengan baik," ucap Nadine yang membuat Bianca terdiam.
Waktupun berlalu, sudah cukup lama Bianca dan Nadine mengobrol. Hingga akhirnya Nadine menghubungi supirnya agar menjemputnya.
Setelah Nadine pergi, Biancapun membawa langkahnya ke arah ruang baca. Mencari beberapa buku baru yang akan ia baca di kamarnya.
Namun saat sudah berada di dalam kamar, Bianca tidak bisa fokus membaca buku yang ada di tangannya.
Kepalanya masih memikirkan obrolannya dengan mama Arga.
"Mungkin sebenarnya bukan Arga yang merampas kebebasanku, tapi uang 50 miliar itu yang sebenarnya membuatku bersedia memberikan hidupku pada Arga untuk 2 tahun," ucap Bianca dengan menghela nafasnya panjang.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Bianca duduk di ruang tamu dengan membaca buku.
Ia sengaja membaca buku di ruang tamu sembari menunggu Arga pulang. Entah jam berapa Arga akan pulang, ia hanya akan menunggunya disana karena ada beberapa hal yang harus ia komunikasikan dengan Arga.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang memasuki gerbang rumahnya, membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Apa dia sudah pulang?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Benar saja, tak berselang lama Argapun masuk ke dalam rumah. Melihat Bianca yang duduk di ruang tamu, Argapun menghampiri Bianca.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Arga pada Bianca.
"Aku hanya merasa kau terlalu berlebihan," jawab Bianca.
"Maafkan aku, aku hanya ingin menjagamu dari orang-orang jahat itu Bianca, setidaknya sampai aku menemukan siapa dan apa motif mereka melakukan hal itu padamu," ucap Arga.
"Bagaimana jika sampai kontrak kesepakatan kita selesai kau belum menemukan mereka? kau pasti sudah tidak peduli lagi padaku bukan?" tanya Bianca.
Arga terdiam beberapa saat, ia bimbang dengan jawaban apa yang harus ia berikan.
"Tidak perlu menjawabnya jika itu sangat sulit untukmu, aku mengerti kau melakukan hal itu memang hanya untuk kepentinganmu sendiri," ucap Bianca.
"Tidak Bianca, aku....."
"Aku akan menerimanya, asalkan kau bisa memastikan jika orang suruhanmu itu tidak akan mengganggu kegiatanku di luar rumah," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Aku bisa memastikannya Bianca, mereka hanya akan menjagamu dari jauh, tanpa harus ikut campur dengan apapun yang kau lakukan di luar rumah, mereka hanya akan memastikanmu aman," balas Arga.
__ADS_1
"Oke baiklah," ucap Bianca kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Arga yang masih duduk di ruang tamu.
"Kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran?" batin Arga bertanya dalam hati.
**
Hari telah berganti, pagi itu Arga sudah berangkat ke kantor. Sedangkan Bianca baru saja keluar dari kamarnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan dari Lola.
"Halo dayang-dayangku, ada apa kau menghubungiku pagi-pagi seperti ini?" tanya Bianca sambil mengupas pisang untuk sarapannya.
"Tante Felly baru saja mendatangiku, dia menanyakan padaku tentang pernikahanmu dengan Arga," jawab Lola yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Lalu apa yang kau katakan?" tanya Bianca.
"Tentu saja aku membenarkan apa yang Tante Felly tanyakan, karena berbohong pun percuma, bukankah kau tau jika semua media memberitakan pernikahanmu dengan Arga!"
"Kau benar, tapi kau tidak memberi tahu Tante Felly tempat tinggalku bukan?" tanya Bianca.
"Aku tidak memberi tahunya, aku berasalan jika kita sudah jarang berkomunikasi sejak kau menikah, jadi aku tidak mengetahui banyak hal tentangmu," jelas Lola.
"Bagus, kau memang selalu bisa diandalkan!" ucap Bianca.
"Tapi..... sepertinya Tante Felly tidak menyerah, bisa jadi Tante Felly akan mendatangimu dalam waktu dekat, karena mencari tahu tempat tinggal Arga bukanlah hal yang sulit bukan?"
"Kau benar, baiklah Lola, terima kasih sudah memberi tahuku hal ini," ucap Bianca.
Waktupun berlalu, langit senja mulai tergaris di ujung langit barat. Bianca yang saat itu baru saja menyelesaikan membaca buku segera beranjak dari duduknya di balkon.
Tiba-tiba bibi menghampiri Bianca dengan tergesa-gesa.
"Non bianca, ada seseorang yang mencari non Bianca, dia memarahi satpam yang melarangnya masuk, tetapi dia bilang dia adalah keluarga non Bianca," ucap bibi pada Bianca.
"Tante Felly!"
Bianca kemudian segera berlari turun dan menghampiri pos satpam dimana pak satpam dan Tante Felly sedang bersitegang saat itu.
"Saya mengenalnya pak, biarkan saja Tante saya masuk," ucap Bianca pada satpam.
Satpam kemudian memperbolehkan Tante Felly masuk. Tante Fellypun segera membawa langkahnya pada Bianca dan memeluk Bianca.
"Bianca, keponakanku yang paling cantik," ucap Tante Felly.
"Ada apa Tante kesini? bukankah masalah hutang itu sudah selesai?" tanya Bianca.
"Lupakan soal hutang itu, apa kau tidak akan mengajak Tante masuk ke rumahmu?"
Bianca menghela nafasnya lalu mengajak sang Tante masuk ke dalam rumah.
"Waahhh rumahmu benar-benar sangat mewah Bianca, kau beruntung bisa menikah dengan pengusaha kaya raya!" ucap tante Felly.
"Sebenarnya apa maksud Tante datang kesini? kenapa Tante mencari Bianca?" tanya Bianca tanpa basa-basi.
"Apa mertuamu tau tentang masa lalumu Bianca? apa mereka tau jika kau adalah anak pengusaha gagal yang....."
"Sekali lagi Bianca ulangi Tante, apa maksud Tante datang kesini mencari Bianca, tolong jangan berbelit-belit!" ucap Bianca memotong ucapan Tante Felly.
"Kau sombong sekali setelah menikah, tante yakin jika keluarga Arga tau siapa kau sebenarnya pasti mereka tidak akan menyetujui pernikahan anaknya denganmu!" ucap tante Felly.
"Tante kesini untuk meminta ganti rugi," lanjut Tante Felly.
"Ganti rugi apa maksud Tante?"
"Ganti rugi 50 juta yang sudah Tante keluarkan untuk membayar hutang papamu," jawab Tante Felly.
"Bukankah uang 50 juta itu Tante dapatkan dari menjual aset papa yang diwariskan pada Bianca?" tanya Bianca.
"Aset itu adalah hak tante karena Tante yang merawatku sepeninggalan papamu, jadi sudah seharusnya kau menggantinya, lagipula uang 50 juta bukanlah uang besar bagi suamimu!"
"Tidak.... Bianca tidak akan memberikan uang itu pada Tante karena uang itu adalah hasil dari aset Bianca yang Tante jual, bukan milik Tante sendiri," balas Bianca.
"Baiklah jika kau tidak akan memberikan uang itu, tapi Tante pastikan Tante akan mendatangi mertuamu yang super kaya raya itu untuk menceritakan semuanya pada mereka, mereka pasti akan terkejut mengetahui menantu mereka memiliki hutang yang sangat banyak!" ancam Tante Felly.
"Mereka pasti akan berpikir jika kau menikahi Arga hanya untuk membuat Arga membayar hutang papamu, aahhh.... satu lagi, Tante juga akan meminta 50 juta itu pada mereka!" lanjut Tante Felly dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1