Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Menemani Karina (2)


__ADS_3

Setelah beberapa lama dalam perjalanan Argapun sampai di rumah Karina. Arga kemudian membantu Karina turun dari mobil lalu membantunya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Beristirahatlah di kamar, aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucap Arga.


Karina menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke kamarnya, sedangkan Arga segera memesan bahan-bahan yang akan ia pakai untuk memasak.


Setelah beberapa lama menunggu, bahan masakan yang ia pesanpun datang. Arga kemudian menyibukkan dirinya di dapur, memasak makanan untuk dirinya dan Karina makan malam.


Langit senja kini tampak semakin gelap saat Arga sudah menyelesaikan masakannya. Arga kemudian menata semua masakannya di atas meja makan lalu berjalan ke arah kamar Karina.


Arga mengetuk pintu kamar Karina beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.


"Aku sudah selesai memasak," ucap Arga.


Karina tersenyum lalu membawa langkahnya ke meja makan bersama Arga.


"Kau yang memasak semua ini Arga?" tanya Karina yang melihat banyak masakan di atas meja makannya.


"Tentu saja, kau tahu bagaimana rasa masakanku bukan?" balas Arga.


Karina menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum lalu menikmati makanan buatan Arga.


"Masakanmu memang tidak pernah gagal Arga," ucap Karina.


"Selama aku disini aku akan selalu memasak untukmu, jadi kau tidak perlu memesan makanan di luar lagi," ucap Arga.


"Terima kasih Arga, tapi sepertinya ini terlalu berlebihan, aku....."


"Ini hanya hal kecil bagiku Karina, jangan terlalu memikirkannya," ucap Arga memotong ucapan Karina.


"Kau juga tidak perlu khawatir, aku akan segera pergi dari sini jika dalam 3 hari Bian sudah kembali," lanjut Arga.


"Terima kasih banyak Arga," ucap Karina hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Arga.


Setelah menyelesaikan makan malam, Arga masuk ke kamar Karina karena ia harus mengganti perban yang melingkar di kepala Karina.


Arga menyiapkan semua obat-obatan dan perlengkapan yang ia butuhkan lalu dengan perlahan melepas perban di kepala Karina.


Arga membersihkan bagian kepala karena yang terluka lalu memberinya obat kemudian kembali membalutnya dengan perban.


"Jangan lupa minum obat sebelum tidur," ucap Arga sambil menyiapkan minuman dan obat milik Karina.


"Apa kau sungguh akan bermalam disini Arga?" tanya Karina.


"Iya, aku akan tidur di sofa ruang tamu, kau bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu," jawab Arga.


"Mmmm..... bagaimana jika kau tidur disini?" tanya Karina sambil menepuk ranjangnya.


"Tidur disini bersamamu?" tanya Arga memastikan apa yang Karina maksud.


Karina hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Apa kau tidak keberatan jika aku tidur di


sini bersamamu?" tanya Arga.


"Aku mengenalmu Arga, kau tidak mungkin melakukan sesuatu yang melebihi batas bukan? lagi pula kau juga sudah memiliki istri, aku hanya tidak tega jika melihatmu tidur di sofa," jawab Karina.


Arga hanya tersenyum lalu meraih selimut Karina dan meminta Karina untuk berbaring.


"Tidurlah dan jangan memikirkan apapun, fokus saja dengan kesembuhanmu," ucap Arga sambil menutup tubuh Karina dengan selimut.


"Jika kau tiba-tiba berubah pikiran dan ingin pergi tolong bangunkan aku agar aku tidak mencarimu saat pagi," ucap Karina.


"Aku tidak akan pergi kemanapun Karina, aku akan selalu disini untukmu," balas Arga. dengan membelai lembut wajah Karina.


Arga kemudian mematikan lampu kamar Karina karena ia tahu jika Karina akan mudah tertidur saat lampu kamarnya padam.


"Kau masih mengingatnya rupanya!" ucap Karina setelah Arga mematikan lampu kamarnya.


"Aku selalu ingat semua hal tentangmu Karina, sekarang tidurlah," balas Arga sambil duduk di tepi ranjang Karina dan menggenggam tangan Karina.


Karinapun memejamkan matanya, waktu membawa Karina terlelap dalam tidurnya.


"Cepatlah sembuh Karina agar aku bisa segera pulang, aku tidak mungkin meninggalkan Bianca terlalu lama," ucap Arga dalam hati dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Karina.


Setelah memastikan Karina benar-benar tertidur, Arga melepaskan genggaman tangannya pada Karina lalu dengan pelan beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar Karina.


Arga membawa langkahnya ke ruang tamu, duduk di atas sofa dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, mendongakkan kepalanya lalu menutup kedua matanya.


"Apa yang aku lakukan ini salah? apa mungkin tidak seharusnya aku berada disini malam ini?" batin Arga bertanya dengan kedua mata yang terpejam.

__ADS_1


"Tidak..... aku memang harus berada disini, aku harus menunjukkan pada Karina jika aku bisa merubah kesalahanku yang dulu, lambat laun dia pasti akan mengerti jika aku benar-benar masih menginginkannya kembali padaku," ucap Arga dalam hati.


Di rumahnya Karina memang tinggal seorang diri. Sebenarnya Karina masih memiliki orang tua yang tinggal di kota lain yang jauh darinya.


Selama ini yang Arga tahu Karina memutuskan untuk tinggal sendirian di kota yang berbeda dengan orang tuanya karena dia ingin menjalani kehidupannya dengan mandiri.


Jadi sejak menginjak bangku SMA Karina sudah tinggal seorang diri di kota yang sama dengan Arga.


Karina menjalani kehidupannya sebagai seorang perempuan cantik yang sibuk dengan pendidikan dan pekerjaannya sampai akhirnya ia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan hasil kerjanya sendiri.


Kini Karina bekerja di salah satu perusahaan yang juga bekerja sama dengan perusahaan Arga.


Di rumahnya Karina mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang ia percayai untuk membersihkan rumahnya setiap hari.


Karina adalah tipe perempuan yang tidak menyukai kesendirian, itu kenapa Karina lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah bahkan terkadang ia tidak pulang sama sekali.


Hal itu jugalah yang membuat Karina mengakhiri hubungannya dengan Arga karena Arga yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan membuat Karina merasa terabaikan.


Hingga akhirnya Karina bertemu dengan Bian, laki-laki yang bisa memberikan banyak waktu dan kenyamanan untuknya.


Karina lebih memilih untuk berhubungan diam-diam dengan Bian di belakang Arga meskipun pada akhirnya Arga mengetahuinya saat Karina sudah bertunangan dengan Bian.


**


Hari telah berganti, pagi-pagi sekali Arga bangun dari tidurnya karena ia harus memasak untuk Karina.


Selama ia berada di rumah Karina ia benar-benar akan memperlakukan Karina dengan baik, dengan harapan Karina akan melihat seberapa besar usaha Arga untuk membuat Karina kembali padanya.


Di sisi lain Karina yang baru terbangun dari tidurnya sudah tidak mendapati Arga di dalam kamarnya.


"Kenapa dia tidak ada disini? apa mungkin dia sudah pulang?" batin Karina bertanya dalam hati.


Karina kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati tas milik Arga yang masih berada di ruang tamu.


"Dia masih disini," ucap Karina dalam hati lalu membawa langkahnya ke arah dapur saat ia mencium bau masakan dari dapur.


"Arga, apa yang kau lakukan?" tanya Karina saat ia melihat Arga yang tengah memasak di dapur.


"Tentu saja memasak untukmu," jawab Arga sambil menaruh telur mata sapi setengah matang di atas nasi goreng buatannya.


"Kau tidak perlu repot-repot seperti ini Arga, biarkan bibi yang akan melakukannya," ucap Karina.


"Selama aku disini aku yang akan menyiapkan semua kebutuhanmu Karina," balas Arga dengan tersenyum lalu membawa dua piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi lalu meletakkannya di meja makan.


"Jam berapa bibi akan datang? kenapa sampai sekarang belum datang juga?" tanya Arga.


"Bibi biasa datang jam 08.00 saat aku sudah berangkat ke kantor, aku memang meminta bibi untuk tidak datang terlalu pagi karena tugas bibi disini hanyalah untuk membereskan rumah," jawab Karina.


"Apa bibi tidak memasak untukmu?" tanya Arga.


"Tidak, aku biasa sarapan hanya dengan roti," jawab Karina.


"Kau tidak sedang diet bukan?" tanya Arga.


Karina hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Arga, karena memang sejak beberapa bulan yang lalu ia sedang menjalani program diet karena perintah dari Bian.


"Berat badanmu sudah cukup Karina, kau akan terlihat sangat kurus jika kau diet!" ucap Arga.


"Tapi Bian tidak menyukaiku yang seperti ini," balas Karina.


"Lalu seperti apa yang Bian inginkan? apa dia....."


"Arga cukup, lebih baik habiskan makananmu dan cepatlah berangkat ke kantor sebelum kau terlambat!" ucap Karina memotong ucapan Arga karena ia tidak ingin berdebat tentang hubungannya dengan Bian.


Arga hanya menghela nafasnya kasar lalu menghabiskan nasi gorengnya dan beranjak dari duduknya, kemudian bersiap untuk berangkat ke kantor.


Setelah selesai bersiap, Arga tidak segera berangkat ke kantor, ia membantu Karina untuk mengganti perban yang melingkar di kepalanya


Arga kemudian keluar dari kamar Karina, bersiap untuk berangkat ke kantor, namun tiba-tiba Karina menahan tangan Arga.


Karina beranjak dari duduknya lalu memeluk Arga begitu saja.


"Aku tahu apa yang kau lakukan adalah bentuk perhatianmu padaku, tapi tolong jangan mencampuri hubunganku dengan Bian, Arga" ucap Karina dengan mendongakkan kepalanya menatap Arga.


Arga terdiam untuk beberapa saat membalas tatapan Karina yang memeluknya saat itu.


"Hubungan kita sudah berakhir Arga, apa yang kau lakukan padaku hanya aku anggap sebagai kepedulian seorang teman pada temannya yang kesepian," ucap Karina sambil melepaskan Arga dari pelukannya.


Namun Arga tiba-tiba meraih Karina kembali ke dalam dekapannya, seolah tidak ingin Karina melepaskan dirinya dari pelukannya.


"Arga, lepaskan!" ucap Karina sambil berusaha meronta.

__ADS_1


"Sebentar saja," balas Arga yang masih menahan Karina dalam pelukannya.


Untuk beberapa saat Arga membiarkan semua rindunya meluap. Gadis yang dicintainya kini memang ada dalam pelukannya, tetapi entah kenapa rasanya kosong, ada sesuatu yang tidak Arga mengerti.


Entah karena Karina sudah bersama laki-laki lain atau tanpa Arga sadar cintanya pada Karina sudah tidak sebesar dulu.


"Aku hanya meminta satu hal padamu Karina, jangan pernah memintaku untuk menjauhimu karena aku tidak akan pernah sanggup melakukannya," ucap Arga.


"Tapi kau sudah memiliki istri Arga," balas Karina.


"Apa jika aku tidak memiliki istri kau akan kembali padaku?" tanya Arga yang membuat Karina segera melepaskan dirinya dari pelukan Arga.


"Tidak mungkin, aku sudah bertunangan dengan Bian dan kita akan segera menikah," jawab Karina lalu kembali duduk di tepi ranjangnya.


Arga menganggukkan kepalanya pelan lalu membawa langkahnya keluar dari kamar Karina dan meninggalkan rumah Karina untuk berangkat ke kantor.


Dalam perjalananya, Arga masih memikirkan ucapan Karina padanya.


"Terserah apa yang kau pikirkan tentangku Karina, tapi yang pasti aku tidak akan berhenti berjuang untuk membuatmu kembali padaku, sebelum kau menikah dengannya, aku akan tetap berusaha untuk itu," ucap Arga dalam hati.


Sesampainya di kantor Arga mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, tetapi Arga memilih untuk pulang lebih cepat.


Arga memutuskan untuk selalu pulang lebih awal selama ia tinggal di rumah Karina, ia hanya ingin menghabiskan banyak waktunya bersama Karina.


Hari-hari berlalu dan Arga masih tinggal di rumah Karina. Setiap hari Arga selalu meninggalkan meja kerjanya lebih awal dari biasanya.


"Kenapa kau selalu pulang cepat beberapa hari ini? ada apa? apa kau sudah tidak sabar untuk bertemu istrimu?" tanya Daffa pada Arga.


Arga hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Daffa. Daffapun tidak bertanya lebih jauh karena ia berpikir jika Arga memang pulang lebih cepat untuk bertemu Bianca di rumah.


"Jangan lupa untuk pergi ke perusahaan X sebelum kau pulang!" ucap Arga mengingatkan lalu berjalan pergi meninggalkan Daffa.


"Siap bos," balas Daffa.


Setelah Daffa menyelesaikan pekerjaannya, iapun meninggalkan meja kerjanya dengan membawa berkas yang akan ia antar ke perusahan X.


Sesampainya di perusahaan X, Daffa segera menemui pimpinan disana dan memberikan berkas yang ia bawa.


Saat Daffa akan meninggalkan perusahaan X, ia melihat seseorang yang ia kenal.


"Lola!" panggil Daffa lalu berjalan cepat menghampiri Lola yang sudah berjalan keluar dari pintu utama.


"Apa yang kau lakukan disini? apa kau bekerja disini?" tanya Daffa.


"Aku baru saja interview," jawab Lola.


"Kenapa kau tidak melamar di kantor tempatku bekerja saja Lola, aku bisa...."


"Tidak, terima kasih," ucap Lola memotong ucapan Daffa.


"Hahaha baiklah kalau begitu, bagaimana jika aku mengantarmu pulang?"


"Tidak perlu, aku akan pergi ke rumah Bianca, jadi....."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu kesana, kebetulan aku juga harus bertemu dengan Arga," ucap Daffa memotong ucapan Lola sambil menarik tangan Lola.


Akhirnya Lolapun pergi ke rumah Bianca bersama Daffa.


"Beberapa hari ini Arga selalu pulang lebih cepat, sepertinya dia sudah mulai menikmati waktunya bersama Bianca," ucap Daffa.


"Mereka suami istri, wajar jika mereka menikmati waktu berdua," balas Lola.


Daffa hanya tersenyum tipis, ia mengerti jika Lola sedang menyembunyikan bagaimana hubungan Arga dan Bianca yang sebenarnya.


Sesampainya di rumah Bianca, bibi segera memanggil Bianca saat Lola dan Daffa datang.


"Kau bersama Daffa?" tanya Bianca dengan membawa pandangannya pada Lola dan Daffa bergantian.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat interview," balas Lola.


"Tapi aku sengaja ingin mengantarnya kesini hehehe...." ucap Daffa.


"Apa kau kesini hanya untuk mengantar Lola?" tanya Bianca pada Daffa.


"Tidak, aku ingin menemui Arga karena ada masalah pekerjaan yang harus aku bicarakan dengannya," jawab Daffa.


"Arga? bukankah Arga sedang berada di luar kota? apa dia tidak memberi tahumu?" tanya Bianca.


"Di luar kota?" balas Daffa mengulang pertanyaan Bianca.


"Iya, dia memberi tahuku jika dia pergi ke luar kota sejak 3 hari yang lalu," jawab Bianca.

__ADS_1


Daffa terdiam beberapa saat, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi yang tidak ia ketahui.


__ADS_2