
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Entah sudah berapa kali ponsel Arga berdering di atas meja kerjanya. Arga sengaja mengabaikan panggilan yang ada di ponselnya karena ia sedang fokus dengan pekerjaannya.
Setelah beberapa panggilan itu tidak terjawab, sebuah pesan masuk pada ponsel Arga, namun Arga masih mengabaikannya sampai akhirnya ponselnya kembali berdering karena sebuah panggilan yang kembali masuk.
Arga yang kesal kemudian segera mengambil ponsel yang ada di atas mejanya, berniat untuk memasukkannya ke dalam laci meja.
Namun Arga mengurungkan niatnya saat ia melihat siapa yang sedang menghubunginya saat itu. Sebuah nomor yang ia simpan dengan emoticon hati berwarna merah sudah menghubunginya beberapa kali.
Arga kemudian membuka pesan yang juga dikirim oleh nomor yang ia simpan dengan emoticon hati berwarna merah itu.
"Arga, apa kau sedang sibuk?"
Saat Arga akan membalas pesan itu, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan Daffapun masuk ke dalam ruangannya, membuat Arga segera menaruh ponselnya ke dalam laci meja kerjanya.
"Aku sudah menemukan orang-orang yang menyerangmu, ini adalah data-data mereka," ucap Daffa sambil memberikan sebuah map pada Arga.
"Ternyata mereka adalah orang-orang suruhan dari rentenir yang meminjamkan uang pada tante Bianca, uang yang kau transfer pada mereka adalah pinjaman tante Bianca beserta bunganya," lanjut Daffa menjelaskan.
"Sudah ku duga, pasti Tante Felly memanfaatkan Bianca untuk melunasi hutangnya," ucap Arga.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus menyerahkan mereka semua pada polisi sekarang?" tanya Daffa.
"Aku akan menemui mereka sebelum membawa mereka masuk ke penjara," jawab Arga.
"Lalu bagaimana dengan tante Bianca? dia sudah pergi ke luar pulau, apa kau mau aku menemuinya?" ucap Daffa sekaligus bertanya.
"Tidak perlu tentang tante Bianca aku sendiri yang akan menyelesaikannya, urus aja orang-orang itu setelah aku menemui mereka," jawab Arga.
"Apa yang akan kau lakukan pada tante Bianca, Arga?" tanya Daffa khawatir jika Arga akan melakukan sesuatu hal yang berlebihan pada tante Bianca.
"Dia sudah sangat keterlaluan Daffa, jika bukan karena Bianca yang melarangku, aku pasti akan menuntaskan semua emosiku padanya," jawab Arga.
"Kau harus tahu batasanmu Arga, bagaimanapun juga dia adalah tante Bianca, Bianca pasti tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada tantenya," ucap Daffa.
"Tapi dia tante yang sangat jahat Daffa, dia menjadikan Bianca umpan untuk melunasi hutangnya!" ucap Arga.
"Aku tahu kau sangat marah pada tante Bianca, tapi cukup buat dia menyesal agar dia tidak mengulangi kejahatannya pada Bianca," balas Daffa.
"Aku tidak yakin orang sepertinya akan menyesali apa yang sudah dia lakukan meskipun dia tahu konsekuensinya, aku sudah pernah memperingatkannya sebelumnya tapi sepertinya dia meremehkanku," ucap Arga.
"Aku tahu kau tidak akan bertindak gegabah Arga, kau juga harus ingat jika dia adalah tante Bianca yang masih memiliki hubungan persaudaraan dengan Bianca, jadi aku harap kau bisa berpikir dengan jernih sebelum kau bertindak untuk menuruti emosimu!" ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.
"Aku akan pastikan tante Felly tidak akan mengganggu Bianca lagi, jika sampai hal seperti ini terjadi lagi aku benar-benar tidak akan memaafkannya," ucap Arga dalam hati.
Arga menghela nafasnya panjang lalu kembali membawa pandangannya ke arah komputer di hadapannya, berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya.
Waktupun berlalu, Arga baru saja membereskan meja kerjanya sebelum ia beranjak dari duduknya.
Arga kemudian berjalan keluar dari ruangannya, namun ia begitu terkejut saat ia melihat Karina yang sedang berdebat dengan Daffa.
"Karina, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga pada Karina.
"Apa kau sangat sibuk? kau bahkan tidak membalas pesanku," balas Karina bertanya.
"Aku.... aku sangat sibuk hari ini, maafkan aku," jawab Arga.
"Kau akan mendapat masalah jika kau terus seperti ini Arga," ucap Daffa lalu berjalan keluar meninggalkan Arga dan Karina.
"Aku akan mengantarmu pulang, tunggu aku di basement!" ucap Arga pada Karina.
"Baiklah, aku akan menunggumu di basement," balas Karina lalu berjalan pergi meninggalkan Arga.
Sedangkan Arga masih berdiri di tempatnya, menatap Karina yang berjalan menjauh darinya. Dalam hatinya ia membenarkan apa yang baru saja Daffa katakan padanya.
"Daffa benar, aku tidak bisa membiarkan Karina menemuiku seperti ini, aku tidak boleh membuat Mama ataupun papa mencurigaiku," ucap Arga dalam hati.
Di basement, Karina berdiri di dekat mobil Arga menunggu kedatangan Arga. Setelah beberapa lama menunggu, terlihat Arga berjalan ke arahnya.
Namun Arga masuk ke dalam mobilnya begitu saja seolah tidak menghiraukan Karina yang sudah menunggunya. Karinapun segera mengikuti Arga untuk masuk ke dalam mobil Arga.
__ADS_1
"Apa kau marah padaku? apa aku mengganggumu?" tanya Karina pada Arga.
"Tidak, aku hanya sangat sibuk hari ini jadi aku tidak sempat membalas pesanmu," jawab Arga sambil fokus mengendarai mobilnya meninggalkan kantor.
"Ini bukan tentang pesanku, tapi kau terlihat seperti sedang marah padaku, kau seperti sedang mengabaikanku," ucap Karina.
"Aku tidak akan mengantarmu pulang jika aku mengabaikanmu Karina," balas Arga tanpa membawa pandangannya pada Karina sedikitpun.
"Jika kau tidak marah padaku bisakah kita pergi ke tempat lain sebelum kau mengantarku pulang?" tanya Karina.
"Aku hanya bisa mengantarmu Karina, aku harus segera pulang," jawab Arga.
"Kenapa? apa kau sudah merindukan istrimu?" tanya Karina dengan raut wajah tidak suka.
"Banyak hal yang harus aku kerjakan Karina, aku harap kau mengerti," jawab Arga.
"Aku pikir kau sudah berubah Arga, aku pikir kau bisa memperioritaskanku dibanding dengan kesibukanmu, tapi ternyata kau sama saja seperti Arga yang dulu!" ucap Karina kesal.
"Dulu dan sekarang berbeda Karina, sekarang aku sudah menikah dan kau juga sudah memiliki tunangan, apa yang akan orang katakan jika mereka melihatku bersamamu!" ucap Arga.
"Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu, bukankah kau tidak memikirkan hal itu?" balas Karina yang semakin kesal pada Arga.
"Jangan salah paha, kita bicarakan di rumahmu saja!" ucap Arga.
Karina hanya diam tanpa mengatakan apapun karena ia begitu kesal pada sikap Arga yang seolah mengabaikannya. Setelah beberapa lama dalam perjalanan merekapun sampai di rumah tempat tinggal Karina.
Namun harga tidak membawa masuk mobilnya, melainkan menghentikan mobilnya di depan rumah Karina.
Arga kemudian meraih tangan Karina dan menggenggamnya lalu membawa pandangannya menatap kedua mata gadis yang dicintainya itu.
"Karina dengarkan aku, kau sudah memiliki Bian dalam hidupmu, kau sudah memilihnya bahkan setelah aku memohon padamu untuk kembali padaku," ucap Arga.
"Aku memang pernah mengatakan agar kau tetap menghubungiku kapanpun kau membutuhkanku, aku akan berusaha selalu ada untukmu Karina, tetapi bagaimanapun juga aku adalah laki-laki yang sudah beristri dan semua orangpun tahu itu, jadi aku harap kau bisa mengerti," lanjut Arga.
"Seharusnya kau tidak perlu peduli padaku jika aku memang bukan prioritasmu," ucap Karina dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Karina...." panggil Arga dengan suara yang lembut.
Arga membawa pandangan Karina padanya dengan pelan lalu menghapus air mata yang menetes di pipi Karina.
"Kau yang membuatku bersedih Arga, kau membuatku seolah-olah aku akan merebutmu dari istrimu," balas Karina.
"Aku tidak pernah berpikir kau seperti itu, aku hanya ingin kau mengerti bagaimana posisi kita saat ini, aku tidak bisa menemuimu di semua tempat dan kaupun tidak bisa menemuiku sesukamu, kau mengerti maksudku bukan?"
Karina hanya diam dengan terisak, membuat Arga semakin merasa bersalah karena sudah membuat gadis yang dicintainya menangis karenanya.
"Karina, kau sudah memiliki Bian, jika kau tidak bahagia dengannya selesaikan hubunganmu dengannya, jangan memaksakan dirimu untuk tetap bersamanya jika itu tidak membuatmu bahagia," ucap Arga.
"Kau salah Arga, aku bahagia bersama Bian, aku hanya sedang merasa kesepian karena dia tidak ada disini, aku harap kau tidak salah paham pada sikapku beberapa hari ini," ucap Karina lalu keluar dari mobil Arga dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Arga hanya menghela nafasnya kasar lalu mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
"Apa maksudmu sebenarnya Karina? kau seperti mendekat padaku tapi kau tidak ingin melepaskan Bian darimu!"
Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Karina untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Arga segera membawa langkahnya menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya, namun tiba-tiba Bianca memanggilnya, membuat Arga menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya ke arah Bianca.
"Ada yang harus kita bicarakan," ucap Bianca pada Arga.
"Aku sangat lelah Bianca, bisakah kita bicara nanti saja?" balas Arga.
"Baiklah," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Bianca kemudian mengambil laptop dan beberapa bukunya lalu membawanya ke balkon untuk mengerjakan artikelnya disana.
Saat Bianca tengah sibuk dengan artikelnya tiba-tiba Arga datang dan duduk di samping Bianca.
"Kenapa kau kesini? beristirahatlah di kamarmu jika kau lelah!" ucap Bianca yang segera menyimpan filenya lalu menutup laptopnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Arga.
__ADS_1
"Kita bisa membicarakannya nanti," jawab Bianca lalu beranjak dari duduknya namun Arga segera menahan tangan Bianca.
"Duduklah, aku sudah menyempatkan waktuku untukmu," ucap Arga.
Biancapun kembali duduk di samping Arga.
"Apa kau sudah tahu dimana Tante Felly sekarang berada?" tanya Bianca pada Arga.
"Iya aku tahu, aku bahkan sudah tahu dimana orang-orang itu tinggal dan apa maksud mereka melakukan hal itu padamu," jawab Arga.
"Lalu apa rencanamu pada mereka?" tanya Bianca.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Arga.
"Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan pada orang-orang itu tapi sekali lagi aku mohon padamu jangan menyakiti tante Felly," ucap Bianca.
"Apa kau tidak berpikir jika apa yang sudah tantemu lakukan itu sangat keterlaluan?" tanya Arga.
"Aku tahu dan aku juga sangat marah dengan apa yang tante Felly lakukan, tapi menyakitinya tidak akan membuatku merasa puas Arga," jawab Bianca.
"Kau boleh membuat Tante Felly menyesali apa yang sudah dia lakukan, kau boleh mengancamnya atau melakukan hal lain yang kau mau asalkan jangan menyakitinya, aku yakin kau mengerti maksudku!" lanjut Bianca.
"Kau terlalu naif Bianca, orang seperti tantemu itu seharusnya mendapatkan balasan yang lebih dari apa yang sudah dia lakukan, karena orang sepertinya tidak akan pernah menyesal dan bisa jadi akan mengulangi perbuatan buruknya!" ucap Arga.
"Jika kau marah karena uang 50 juta itu aku akan menggantinya, aku hanya perlu waktu untuk mengumpulkan uang itu, tapi aku janji akan segera memberikannya padamu setelah aku mendapatkan uang itu!" ucap Bianca.
"Jadi kau pikir aku marah karena uang 50 juta itu?" tanya Arga yang segera beranjak dari duduknya karena terkejut mendengar ucapan Bianca yang tiba-tiba membahas uang 50 juta.
"Aku tahu kau sangat marah karena para pria itu sudah memukulmu dan membuatmu terluka, tapi aku tidak mengerti kenapa kau sangat marah pada tante Felly jika bukan karena uang 50 juta itu, aku......"
"Ternyata kamu tidak secerdas itu Bianca, kau benar-benar mengecewakan!" ucap Arga memotong ucapan Bianca lalu berjalan pergi begitu saja.
"Mengecewakan? memangnya apa yang sudah aku lakukan?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca menghela nafasnya kesal lalu kembali membuka laptopnya, berniat untuk melanjutkan kegiatannya mengerjakan artikel, namun ia tidak bisa berkonsentrasi karena masih memikirkan ucapan Arga padanya.
Bianca tidak mengerti kenapa Arga tiba-tiba terlihat emosi padanya setelah ia mengatakan jika ia akan mengganti uang 50 juta yang sudah Arga transfer pada para pria itu.
"Apa yang sebenarnya membuatnya sangat marah? aku benar-benar tidak bisa membaca pikirannya, dia memang sangat sulit untuk dimengerti!"
Bianca menghela nafasnya kesal lalu kembali menutup laptopnya dan membawa laptop serta bukunya meninggalkan balkon.
Saat Bianca akan masuk ke kamarnya, ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah.
Biancapun segera membawa langkahnya keluar untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Hai Bianca, apa Arga di rumah?" sapa Daffa sekaligus bertanya pada Bianca.
"Dia ada di kamarnya, tapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk," jawab Bianca.
"Kenapa?" tanya Daffa.
"Entahlah, aku sama sekali tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya dia pikirkan, apa yang aku lakukan seperti selalu salah di matanya," jawab Bianca.
"Jangan terlalu dipikirkan, dia mungkin hanya sedang tertekan dengan pekerjaannya," ucap Daffa sambil menepuk pelan kepala Bianca.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga dari ujung tangga dengan nada suara yang meninggi saat ia melihat apa yang Daffa lakukan pada Bianca.
"Kau lihat sendiri bukan? dia bahkan terlihat marah tanpa alasan!" ucap Bianca pada Daffa lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Daffa hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya ke arah Arga.
"Pelankan suaramu Arga, satu kota bisa mendengarmu jika kau berteriak seperti itu!" ucap Daffa.
"Jaga sikapmu pada Bianca, jika Lola melihatnya dia akan berpikir jika kau menyukai Bianca," balas Arga.
Daffa hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, ia bisa melihat jika Arga sedang cemburu saat melihatnya bersama Bianca.
"Apa yang kau lakukan disini? pergilah jika kau hanya ingin menggangguku," tanya Arga pada Daffa yang berjalan ke arah balkon lantai dua
"Aku kesini hanya untuk memastikan jika kau ada di rumah," jawab Daffa.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Arga.
"Aku melihatmu pergi dari kantor bersama Karina, aku hanya ingin memastikan jika kau tidak akan melakukan hal bodoh lagi," jawab Daffa.