Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Prasangka Bianca


__ADS_3

Waktu berlalu, hari itu Bianca bangun lebih pagi dari biasanya. Dia sengaja bangun lebih awal untuk menunggu Arga di ruang tamu.


Setelah beberapa lama menunggu Argapun tampak menuruni tangga dengan pakaian kerjanya yang rapi serta membawa tas kerja di tangan kanannya.


"Bianca, tumben sekali kau sudah bangun!" ucap Arga yang melihat Bianca duduk di sofa ruang tamu.


"Aku sengaja menunggumu, apa kau sudah baik-baik saja?" balas Bianca sekaligus bertanya lalu beranjak dari duduknya.


"Aku baik-baik saja, aku akan mencari jalan keluarnya dengan pikiran yang lebih jernih sekarang," jawab Arga.


"Baguslah kalau begitu, tapi apa tidak sebaiknya kau memberitahukan hal ini pada papa, mungkin papa bisa membantu masalahmu," ucap Bianca.


"Tidak Bianca, dengan memberitahu papa artinya aku menyerah dalam menghadapi masalah ini dan menyerah tidak akan pernah ada dalam kamus hidupku," balas Arga.


"Tapi kau tidak mungkin membiarkan perusahaan papa hancur bukan? bukankah kau sendiri yang bilang jika masalah ini bisa menghancurkan perusahaan papa!"


"Aku akan berusaha mencari jalan keluarnya bersama Daffa, kau jangan khawatir, kau hanya perlu menjaga rahasia ini dari mama dan papa," ucap Arga.


"Tapi jika kau dan Daffa benar-benar sudah menemukan jalan buntu meminta tolong pada papa bukanlah hal yang salah Arga, karena papa juga berhak mengetahui bagaimana keadaan perusahaan yang sebenarnya," ucap Bianca.


"Aku mengerti, tapi berjanjilah padaku Bianca jangan pernah memberitahu masalah ini pada mama dan papa sebelum aku sendiri yang memutuskan untuk memberitahu mereka!"


"Baiklah aku mengerti," balas Bianca dengan menganggukkan kepalanya.


"Good girl," ucap Arga dengan menepuk pelan kepala Bianca lalu melanjutkan langkahnya keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya ke arah kantor.


Bianca kembali membawa dirinya duduk di sofa, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan untuk membantu Arga.


"Aku tidak mungkin memberitahu papa tanpa sepengetahuan Arga, dia pasti akan sangat marah dan bisa jadi itu akan menghancurkan harga dirinya," ucap Bianca dalam hati.


Bianca kemudian teringat pada pria yang ia temui saat ia menunggu Arga di kantor.


"Apa maksud sebenarnya pria itu mengganggu perusahaan Arga? jika memang hanya karena masalah bisnis kenapa dia melakukan hal yang membuat rugi perusahaannya sendiri," batin Bianca bertanya dalam hati.


Bianca menghela nafasnya kasar, ia tidak mengerti masalah apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh perusahaan Arga.


Entah murni karena masalah persaingan bisnis atau ada alasan lain di balik masalah itu, mengingat Bianca memiliki masa lalu yang buruk dengan pria itu.


Bianca kemudian beranjak dari duduknya, masuk ke dalam kamar lalu menyambar tas dan ponselnya.


"Aku harus menemui Lola," ucap Bianca lalu segera membawa langkahnya menemui Pak Dodi.


"Jika memang apa yang pria itu lakukan karena dia masih dendam padaku itu artinya masalah pria itu denganku bukan dengan Arga, apalagi dengan perusahaan keluarga Arga, aku tidak boleh membiarkan dendam itu menghancurkan Arga dan keluarganya," ucap Bianca dalam hati


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Pak Dodi akhirnya menghentikan mobil tepat di depan tempat kost Lola.


Bianca kemudian turun dari mobil dan segera membawa langkahnya ke arah kamar kost Lola lalu mengetuk pintunya beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.


"Bianca, tumben sekali kau kesini tanpa mengabariku!" ucap Lola yang terkejut melihat Bianca berdiri di depan kamarnya.


Bianca hanya tersenyum lalu mengikuti langkah Lola untuk masuk ke dalam kamar.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Lola khawatir karena tidak biasanya Bianca datang tanpa memberi kabar.


"Everything oke Lola, tidak ada yang perlu kau khawatirkan," jawab Bianca.


"Aaahh iya, bukankah kau baru saja pulang berlibur, apa kau kesini untuk memberiku oleh-oleh?" ucap Lola sekaligus bertanya.


"Astaga aku lupa membawanya, lain kali aku akan datang lagi dan membawa oleh-oleh untukmu," balas Bianca.


"Hmmm.... lalu kenapa kau tiba-tiba kesini? apa Arga melakukan sesuatu yang buruk padamu?" tanya Lola.


"Tidak Lola, aku hanya ingin kesini, bagaimana dengan interview yang sudah kau lakukan? apa sudah ada hasilnya?" balas Bianca bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tinggal satu kali tes lagi setelah itu aku akan tahu apakah aku lolos atau tidak," jawab Lola.

__ADS_1


"Semoga saja kau lolos Lola, tapi bagaimana dengan orang tuamu? sudah tidak ada yang memaksamu untuk pulang bukan?"


"Selama aku tidak memperlihatkan diriku di sosial media manapun aku akan tetap aman Bianca, mereka sama sekali tidak peduli padaku kecuali jika aku membuat ulah seperti kemarin," jawab Lola dengan helaan nafas yang terdengar begitu berat.


"Aku tahu ini tidak mudah untukmu Lola, tapi percayalah semuanya akan baik-baik saja, aku akan selalu ada untukmu," ucap Bianca sambil memeluk Lola.


"Aku tahu itu, kau memang sahabat terbaikku," balas Lola.


Mereka kemudian membicarakan banyak hal sebelum akhirnya Bianca menanyakan tentang apa yang sebenarnya membuatnya tiba-tiba mendatangi Lola.


"Lola, apa kau ingat om-om yang aku datangi di bar dulu?" tanya Bianca.


"Iya aku ingat, om om hidung belang yang kau bilang bersikap kurang ajar itu bukan?" balas Lola.


"Iya, apa kau tau siapa dia sebenarnya?"


"Aku tidak tahu apapun tentang om-om genit itu, yang aku tahu dia hanyalah om-om berduit yang selalu ingin ditemani perempuan cantik saat berjudi di bar, karena dia percaya dia akan selalu mendapatkan keberuntungan jika dia ditemani oleh perempuan cantik saat dia berjudi," jelas Lola.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang hal itu? apa kau ingin memarahiku lagi karena sudah membuatmu bertemu dengan om-om genit itu?" lanjut Lola bertanya.


"Sebenarnya mengingatnya saja sudah membuatku sangat kesal karena ternyata dia tidak hanya ingin ditemani, kau tau maksudku bukan?" balas Bianca.


"Aku tau, tapi aku tidak tahu jika dia akan melakukan hal itu padamu, karena temanku hanya mengatakan jika Om itu membutuhkan perempuan cantik hanya untuk menemaninya, jika aku tahu dia akan berbuat kurang ajar padamu sudah pasti aku tidak akan memintamu untuk mendatanginya," ucap Lola.


"Lupakan saja tentang hal itu, tapi sepertinya sekarang aku tahu dia siapa," ucap Bianca.


"Memangnya dia siapa dan kenapa kau mencari tahu tentangnya?" tanya Lola.


"Aku tidak mencari tahu tentangnya, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya dan ternyata dia masih mengenaliku," jelas Bianca.


"Benarkah? lalu apa yang dia lakukan padamu Bianca? dia tidak melakukan hal yang kurang ajar bukan?" tanya Lola khawatir.


"Dia menyapaku dan menyentuh daguku, jika saja saat itu aku tidak terlalu terkejut mungkin aku sudah menendangnya, tetapi aku benar-benar sangat terkejut saat itu, jadi untuk beberapa saat aku hanya diam dan membiarkannya pergi begitu saja," jawab Bianca.


"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya Bianca dan dimana kau bertemu dengannya?" tanya Lola penasaran.


"Di kantor Arga? memangnya ada hubungan apa antara pria itu dengan harga?" tanya Lola.


"Sebelumnya mereka tidak memiliki hubungan apapun tetapi sepertinya sekarang mereka adalah rival, pria itu ternyata CEO perusahaan besar Lola," jawab Bianca.


"Sudah kuduga, jika bukan dari kalangan pejabat pasti dia pebisnis yang sukses karena dia memiliki banyak uang untuk dia hamburkan, tetapi kenapa dia berada di kantor Arga jika dia rival perusahaan Arga?" tanya Lola tak mengerti.


"Ada masalah perusahaan yang melibatkan pria itu, pada intinya pria itu berhasil membuat perusahaan orang tua Arga merugi," jawab Bianca.


"Waaahhh sepertinya dia orang yang jahat," ucap Lola.


"Tapi tolong jangan katakan hal ini pada siapapun Lola karena Arga masih merahasiakannya dari kedua orang tuanya, Arga dan Daffa juga masih berusaha untuk menyelesaikan masalah itu secepat mungkin," ucap Bianca.


"Aku mengerti, aku juga tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah itu," balas Lola.


Bianca terdiam untuk beberapa saat, ia memikirkan apakah ia harus memberitahu Lola tentang suara pria itu yang ia pikir sama dengan suara yang ia dengar saat ia disekap atau sebaiknya ia tidak perlu memberitahu Lola tentang hal itu.


"Sebaiknya aku tidak perlu memberitahu Lola, lagi pula itu hanya prasangkaku saja dan apa yang aku pikirkan itu belum tentu benar," ucap Bianca dalam hati.


"Apa kau takut dia akan mengganggumu Bianca?" tanya Lola membuyarkan lamunan Bianca.


"Ada sesuatu yang membuatku berpikir terlalu jauh Lola," ucap Bianca.


"Apa maksudmu?" tanya Lola.


"Perusahaan pria itu menderita kerugian yang tidak sedikit hanya demi membuat perusahaan orang tua Arga rugi, Arga bahkan tidak tahu apa sebenarnya maksud pria itu melakukan hal itu pada perusahaan Arga," jelas Bianca.


"Lalu apa yang kau pikirkan dengan hal itu?" tanya Lola.


"Apa mungkin pria itu masih dendam padaku dan sengaja melakukan hal itu hanya untuk membalaskan dendamnya?"

__ADS_1


Lola terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja Bianca katakan padanya.


"Masalah perusahaan bukanlah masalah kecil Bianca dan sepertinya apa yang kau lakukan padanya bukanlah sebuah hal yang besar, jadi untuk apa dia membalas dendam padamu dengan mempertaruhkan kerugian perusahaannya," ucap Lola.


"Tapi saat itu dia terlihat sangat marah padaku, dia bahkan meminta anak buahnya untuk mengejarku dan membuatku kembali padanya," balas Bianca.


"Itu karena dia merasa malu atas apa yang sudah kau lakukan padanya, apalagi kau melakukannya di depan lawan judinya bukan?"


Bianca menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Membalas dendam hanya karena hal itu sepertinya sangat berlebihan, mungkin memang ada hal lain yang membuatnya ingin menghancurkan perusahaan orang tua Arga," ucap Lola.


"Benarkah seperti itu? aku akan benar-benar merasa sangat bersalah jika apa yang dia lakukan hanya untuk membalas dendam padaku!"


"Jangan terlalu memikirkannya Bianca, percayakan saja pada Arga dan Daffa, mereka pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik," ucap Lola sambil menggenggam tangan Bianca.


"Semoga saja begitu," balas Bianca dengan tatapan kosong, berharap jika masalah yang Arga dan Daffa hadapi segera selesai.


**


Di tempat lain, Arga sedang berada di ruangannya bersama Daffa. Mereka sedang sibuk memikirkan berbagai macam cara yang bisa mereka lakukan untuk membalikkan keadaan sebelum perusahaan benar-benar merugi.


Tiba-tiba pintu ruangan Arga terbuka, Karina masuk ke dalam ruangan Arga begitu saja.


"Karina, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga dengan terkejut.


"Aku akan memberimu satu kesempatan Arga, aku harap kau bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik," jawab Karina lalu berjalan mendekati Arga.


"Kesempatan apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.


"Karina lebih baik kau pergi, aku dan Arga sedang membahas masalah perusahaan yang penting dan keberadaanmu di


sini sangat mengganggu," sahut Daffa yang berdiri di hadapan Karina, berusaha untuk membuat Karina pergi dari ruangan Arga.


"Diamlah Daffa, tidak perlu ikut campur, ini masalahku dengan Arga!" ucap Karina dengan mendorong Daffa agar menjauh dari hadapannya.


Karina kemudian segera membawa langkahnya semakin mendekat pada Arga dan menggenggam erat kedua tangan Arga.


"Bawa aku pergi dari sini Arga, aku mohon!" ucap Karina memohon pada Arga.


"Apa maksudmu Karina? kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" tanya Arga tak mengerti.


"Jika kau masih mencintaiku buktikan dengan pergi bersamaku meninggalkan negara ini, aku tidak peduli kemana kau akan membawaku pergi, entah itu ke Amerika ke Australia atau ke manapun asalkan itu berada sangat jauh dari sini," ucap Karina.


"Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba seperti ini Karina, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu, lebih baik sekarang kau pulang karena ada hal penting yang harus aku lakukan dengan Daffa," balas Arga sambil melepaskan tangan Karina yang menggenggam tangannya.


"Apa ini masalah pekerjaan? apa kau mengabaikanku hanya karena masalah pekerjaanmu?" tanya karena dengan membawa langkahnya sedikit menjauh dari Arga.


"Karina, tolong jangan seperti ini, aku juga memiliki masalah yang harus aku selesaikan, aku memiliki tanggung jawab besar pada perusahaan tempat aku bekerja, aku....."


"Baiklah, sepertinya aku sudah salah paham padamu, aku pikir kau masih menginginkanku, tapi sepertinya tidak," ucap Karina memotong ucapan Arga.


"Sebenarnya apa yang kau mau Karina? aku akan membantumu sebisaku jika memang kau memiliki masalah yang tidak bisa kau hadapi sendiri!"


"Satu-satunya yang aku mau adalah pergi dari sini bersamamu Arga, tidak bisakah kau melakukannya bersamaku?"


Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa langkahnya mendekati Karina dan memegang kedua bahu Karina.


"Maafkan aku Karina, aku tidak mungkin pergi begitu saja, aku tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabku disini," ucap Arga dengan menatap kedua mata Karina yang berkaca-kaca.


"Kau benar-benar sangat menyakitiku Arga, dari dulu sampai sekarang ternyata kau tidak pernah berubah, bagimu hanya pekerjaan yang paling penting!" ucap Karina dengan air mata yang sudah menetes membasahi kedua pipinya.


"Maafkan aku Karina," balas Arga dengan melepas kedua tangannya dari bahu Karina.


Karina kemudian berlari keluar dari ruangan Arga dengan menangis. Karena tidak ingin menarik banyak perhatian orang, Karina berjalan dengan cepat sambil menundukkan kepalanya, yang membuatnya tanpa sengaja menabrak seorang perempuan saat ia melewati lobby.

__ADS_1


Karina dan perempuan itupun terjatuh di lantai, namun Karina segera beranjak dan pergi begitu saja tanpa melihat siapa perempuan yang ditabraknya.


__ADS_2