Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Bianca masih menemani Lola di rumah sakit. Ia sudah berjanji akan menemani Lola sampai Lola diperbolehkan untuk pulang.


"Daffa sangat mengkhawatirkanmu Lola, apa sebaiknya aku memberi tahunya jika kau ada disini?" ucap Bianca sekaligus bertanya pada Lola.


"Jangan, beri tau saja jika kau sudah bertemu denganku dan aku baik-baik saja, aku tidak bisa menghubunginya karena papa menghancurkan ponselku dan membuangnya," balas Lola.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu mengirim pesan pada Daffa.


"Daffa, aku sudah bertemu dengan Lola, dia baik-baik saja, jadi jangan mengkhawatirkannya lagi!"


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, panggilan masuk dari Daffa yang sepertinya sudah tidak sabar untuk mendengar kabar Lola dari Bianca.


"Halo Bianca, apa kau sedang bersama Lola sekarang?" tanya Daffa setelah Bianca menerima panggilannya.


Sebelum menjawab pertanyaan Daffa, Bianca membawa pandangannya pada Lola, memberi isyarat pada Lola tentang pertanyaan Daffa.


Lola hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Iya aku sedang bersamanya," jawab Bianca.


"Bisakah kau memberikan ponselmu padanya? aku sudah menghubunginya tapi tidak tersambung, semua pesanku juga belum dia baca!"


"Baiklah, kau bisa mengobrol dengannya sepuasnya," ucap Bianca lalu memberikan ponselnya pada Lola.


"Halo Daffa," sapa Lola yang membuat Daffa bisa bernafas lega di tempatnya.


"Lola, kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar? dimana kau sekarang? apa kau ada di tempat kos? kenapa aku tidak bisa menghubungimu? apa kau memblokir kontakku? apa kau...."


"Daffa, tanyakan satu per satu, aku bingung harus menjawab dari mana," ucap Lola memotong ucapan Daffa.


"Aahh iya, kau dimana sekarang? kau baik-baik saja bukan?" tanya Daffa.


"Aku baik-baik saja, aku bersama Bianca sekarang, kau jangan datang ke tempat kosku karena aku akan kembali ke kos dalam beberapa hari lagi," jawab Lola.


"Memangnya kau dimana sekarang?" tanya Daffa.


"Aku tidak bisa memberi tahumu, aku akan segera menghubungimu jika aku sudah kembali ke kos," jawab Lola.


"Baiklah kalau begitu, tapi kenapa aku tidak bisa menghubungimu? semua pesanku juga belum ada yang terkirim," tanya Daffa.


"Ponselku hilang dan aku belum membeli ponsel yang baru," jawab Lola berbohong.


"Hilang? dimana kau menghilangkannya Lola? aku akan membantumu mencarinya!"


"Tidak perlu, aku akan membeli lagi yang baru," balas Lola.


"Lalu bagaimana dengan foto, video dan semua yang kau simpan di ponselmu? kau akan kehilangan semuanya jika kau tidak menemukan ponselmu Lola!"


"Tenang saja, aku menyimpan semua hal penting di satu akun, jadi aku masih bisa membukanya di ponsel baruku nanti," balas Lola.


"Aahh begitu, baguslah kalau begitu!"


"Sekarang berhenti mengkhawatirkanku dan fokus saja pada pekerjaanmu, aku akan menghubungimu saat aku sudah memiliki ponsel," ucap Lola.


"Oke baiklah, aku menunggumu!"


Panggilan berakhir, Lola kemudian mengembalikan ponsel Bianca.


"Dia pasti senang karena sudah bisa mendengar suaramu," ucap Bianca dengan tersenyum menggoda Lola.


Lola hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ada rasa sedih yang berusaha ia simpan dengan rapi.


"Kau belum bercerita padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi," ucap Bianca.


"Apa yang harus aku ceritakan padamu Bianca, bukankah kau bisa menebaknya? aku yakin tebakanmu sudah tepat," balas Lola.


"Setidaknya ceritalah padaku Lola, aku masih sahabatmu bukan?"


"Tentu saja, kau sahabat terbaikku, Bianca," balas Lola.


"Meskipun aku tidak banyak membantumu, setidaknya kau bisa membagi masalahmu pada Lola," ucap Bianca.


Lola menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Orang suruhan papa mendatangiku dan memaksaku untuk pulang, aku sudah menolaknya tapi mereka memaksaku dan mengancam akan melibatkan polisi jika aku tidak pulang," ucap Lola memulai ceritanya.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba papamu memintamu untuk pulang? apa orang tuamu memintamu untuk tinggal disana?" tanya Bianca.


"Tidak, papa memaksaku untuk pulang karena video liburanku yang baru saja aku unggah di akunku, papa melihatnya dan tidak menyukainya, papa memaksaku untuk menghapus video dan akunku, mama dan papa tidak ingin jika aku menarik banyak perhatian orang di luar sana," jelas Lola.


"Lalu kenapa mereka sampai memukulmu Lola? apa karena kau tidak ingin menghapusnya?"


"Kau tau aku suka berada di depan layar Bianca, dari dulu aku ingin melakukan hal itu, pada awalnya aku berusaha bernegosiasi dengan mama dan papa agar tetap mengizinkanku memiliki media sosial meskipun aku harus menghapus video itu, tapi yang ada papa semakin marah padaku," jelas Lola.


"Mereka bahkan memaksaku untuk menghapus semua akun media sosialku sampai akhirnya papa melempar ponselku dan membuangnya ke tempat sampah begitu saja," lanjut Lola.


"Apa itu artinya kau sudah kehilangan semua video liburanmu bersama Daffa?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Lola.


"Daffa pasti masih memilikinya, jangan khawatir," ucap Bianca.


"Tidak Bianca, semua file video itu sudah Daffa berikan padaku, aku mengedit video itu di laptopku bersama Daffa tapi sekarang ponsel dan laptopku sudah tidak ada, papa sudah merusakkan semuanya dan membuangnya tanpa peduli file penting di dalamnya," balas Lola.


"Terkadang aku tidak mengerti kenapa mama melahirkanku jika mama dan papa tidak bisa memperlakukanku seperti anak mereka sendiri, aku bahkan tidak pernah merasakan sedikitpun kasih sayang dari mereka," lanjut Lola dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Kau masih memilikiku Lola, kita akan selalu bersama dan saling menyayangi," ucap Bianca dengan menggenggam tangan Lola.


"Terima kasih Bianca, setidaknya sekarang aku bisa keluar dari rumah itu, terima kasih sudah membantuku dan selalu ada untukmu," balas Lola.


"Tapi jika kau kabur dari rumah, apa mungkin mereka akan mencarimu dan memaksamu untuk kembali lagi kesana?" tanya Bianca khawatir.


"Mereka mengurungku di rumah itu karena mereka takut jika aku akan muncul lagi di sosial media, tapi selagi aku tidak melakukannya mereka pasti tidak akan mencariku," ucap Lola.


"Semoga saja begitu," balas Bianca.


"Aaahh iya, apa aku bisa meminjam ponselmu Bianca, aku ingin memeriksa emailku," ucap Lola.


Bianca menganggukkan kepalanya lalu memberikan ponselnya pada Lola. Setelah memasukkan emailnya ke ponsel Bianca, Lola segera memeriksa pesan masuknya.


"Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan, belum ada satupun yang mengirim email padaku setelah aku mengirim banyak surat lamaran pekerjaan," ucap Lola mengeluh lalu mengembalikan ponsel Bianca.


"Aku masih menyimpan emailku di ponselmu, tolong beri tahu aku jika ada email yang masuk," ucap Lola yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Apa kau tidak mencoba melamar di perusahaan Arga? mungkin Arga dan Daffa bisa membantumu!"


"Aku ingin mereka menerimaku karena kemampuanku Bianca, bukan karena mereka mengenalku," balas Lola.


"Bolehkah aku pulang saja Bianca? aku pasti sangat bosan sendirian disini!"


"Kau harus tetap disini sampai dokter mengizinkanmu pulang Lola, lagipula aku akan selalu menemanimu disini," ucap Bianca.


"Tapi hutangku pada Arga akan semakin besar jika aku terlalu lama disini Bianca, apa sebaiknya aku pindah ke ruang rawat bersama pasien lain saja?"


"Jangan, lebih nyaman disini, aku juga bisa menemanimu dengan nyaman disini," balas Bianca.


"Tapi....."


"Sudah ku bilang jangan memikirkan apapun, kau harus cepat sembuh agar dokter mengizinkanmu pulang!" ucap Bianca sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Lola, namun Lola malah menggigitnya lalu terkekeh.


"Aaarrgghh Lolaaaa....."


"Hahaha......"


Mereka tertawa bersama. Dalam hatinya Lola merasa benar-benar beruntung karena memiliki sahabat seperti Bianca yang selalu ada untuknya.


**


Waktu berlalu, sudah 2 hari Lola berada di rumah sakit dan selalu ditemani Bianca. Jika bukan karena Bianca bersahabat dekat dengan Lola, Arga tidak mungkin mengizinkan Bianca terus menerus menemani Lola di rumah sakit.


Hari itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Arga segera membawa langkahnya keluar dari ruangannya.


Pandangan matanya tertuju pada Daffa yang sejak kemarin terlihat sering memeriksa ponselnya, menunggu kabar dari Lola.


"Sudahlah jangan terlalu memikirkannya, bukankah kau bisa bermain-main dengan perempuan lain sebelum Lola kembali!" ucap Arga pada Daffa.


"Aku sama sekali tidak tertarik pada perempuan manapun setelah aku bertemu Lola," balas Daffa yang masih memperhatikan ponselnya.


"Jadi kau sungguh-sungguh yakin dengan perasaanmu padanya?" tanya Arga.


"Aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya, apa menurutmu dia benar-benar perempuan terakhir dalam hidupku?" balas Daffa dengan membawa pandangannya menatap Arga.


"Tidak ada yang lebih mengerti hatimu selain kau sendiri Daffa, hanya kau yang bisa menjawab pertanyaanmu itu!" ucap Arga.


"Aku tidak tau bagaimana aku bisa yakin jika dia adalah cinta terakhirku, kau saja yang begitu yakin pada Karina, pada kenyataannya kau ditinggalkan olehnya," ucap Daffa.

__ADS_1


"Itu karena kesalahanku yang sering mengabaikannya," balas Arga.


"Itu bukan alasan untuk berselingkuh Arga, apa lagi sampai bertunangan dengan selingkuhannya saat dia masih menjadi kekasihmu!" ucap Daffa.


"Itu tidak akan terjadi jika aku bisa menjaganya dengan baik, seperti yang selalu kau katakan padaku, aku akan menyesal jika aku tidak bisa menjaga milikku dengan baik dan itu sudah terjadi padaku, aku benar-benar menyesalinya dan itu hampir membuatku gila!" balas Arga.


"Apa kau tidak pernah berpikir Arga, apakah kau sekarang masih mencintainya? atau hanya sebatas ingin membuatnya kembali lagi padamu karena rasa bersalahmu itu!"


Seketika Arga terdiam mendengar ucapan Daffa. Ia tidak pernah memikirkan hal itu, baginya Karina adalah cinta dalam hidupnya yang pergi karena kesalahannya.


Arga rela melakukan kebohongan besar demi bisa membuat Karina kembali padanya. Tapi ia tidak tau, apakah saat ini cinta itu benar-benar masih ada atau hilang tanpa Arga sadari.


Bisa jadi ucapan Daffa benar, yang tersisa hanyalah ambisi Arga untuk membuat Karina kembali padanya karena rasa bersalahnya.


"Pikirkan baik-baik apa yang sebenarnya kau rasakan Arga, pikirkan dengan hati kecilmu, siapa sebenarnya yang ada dalam hatimu saat ini!" ucap Daffa.


"Aku tidak akan melakukan hal sejauh ini jika aku tidak benar-benar mencintainya Daffa, kau tau itu!" balas Arga lalu membawa langkahnya pergi meninggalkan Daffa.


"Kau hanya belum menyadari jika sebenarnya dia sudah hilang dari hatimu Arga, kau tidak bisa mendengar suara hatimu dengan baik," ucap Daffa dengan menghela nafasnya panjang.


Di sisi lain, Arga mengendarai mobilnya untuk membeli ponsel sebelum ia pergi ke rumah sakit.


Saat jam makan siang beberapa jam yang lalu, Bianca menghubunginya dan memintanya membeli ponsel sekaligus simcard untuk Lola. Bianca bahkan sudah mentransfer sejumlah uang pada Arga untuk membayar apa yang ia minta.


Setelah Arga mendapatkan ponsel dan simcard yang Bianca minta, Arga segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit.


Sesampainya disana, Arga segera membawa langkahnya ke ruangan Lola. Melihat Arga datang, Bianca segera beranjak dari duduknya lalu merebut tas yang Arga bawa, tas dengan logo brand ponsel yang cukup terkenal.


"Terima kasih," ucap Bianca lalu segera membawanya ke arah ranjang Lola.


"Kau membeli ponsel baru?" tanya Lola pada Bianca.


"Tidak, ini untukmu," jawab Bianca lalu memberikannya pada Lola.


"Untukku? kau serius Bianca?" tanya Lola tak percaya.


"Tentu saja, bukalah," jawab Bianca.


Dengan penuh semangat Lolapun membuka kotak ponsel yang Bianca berikan padanya.


"Bianca..... terima kasih banyak Bianca, aku pasti akan segera menggantinya jika aku sudah memiliki gaji," ucap Lola sambil memeluk Bianca.


"Kau harus menggantinya dengan mentraktirku makanan yang enak," balas Bianca.


"Tentu saja, aku pasti akan mengingatnya," ucap Lola senang.


"Apa malam ini kau tidak pulang lagi Bianca?" tanya Arga pada Bianca.


"Aku akan pulang setelah dokter mengizinkan Lola pulang, Arga," balas Bianca.


Arga hanya bisa menghela nafasnya panjang, tanpa Bianca di rumah membuat rumahnya terasa sepi, namun ia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Bianca.


"Aku ingin ke toilet sebentar, kau disini dulu, jaga Lola!" ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah toilet.


Kini hanya ada Lola dan Arga disana.


"Bagaimana keadaanmu Lola? kapan dokter memperbolehkanmu pulang?" tanya Arga pada Lola.


"Aku pikir aku sudah membaik, tapi dokter belum mengizinkanku pulang, aku juga sudah meminta Bianca untuk membicarakannya pada dokter, tapi tidak ada hasil, maaf jika aku harus merepotkanmu seperti ini," jawab Lola.


"Aku akan mengganti semua biaya rumah sakit setelah aku mendapatkan pekerjaan, tapi tentu saja aku akan mencicilnya," lanjut Lola.


"Bukan itu yang ingin aku bicarakan, aku hanya.... aku merasa Bianca terlalu lama disini, dia bahkan tidak pulang sama sekali!" ucap Arga.


"Aku sudah meminta Bianca untuk pulang, tapi dia selalu menolak," balas Lola.


"Menyebalkan sekali, cepatlah sembuh agar Bianca segera pulang Lola!" ucap Arga yang hanya dibalas senyum tipis oleh Lola.


"Apa kau merindukan Bianca jika dia tidak ada di rumah?" tanya Lola.


"Merindukannya? tentu saja tidak," balas Arga dengan membawa pandangannya ke sekelilingnya.


"Aku tidak tahu bagaimana hubunganku dengan Bianca yang sebenarnya, tapi aku harap kau bisa memperlakukannya dengan baik meskipun kau tidak mencintainya, jika bukan karena uang 50 miliar itu dia tidak mungkin menyerahkan hidupnya selama 2 tahun padamu," ucap Lola.


"Bianca bukan perempuan yang mudah menyerah dan cengeng, dia sudah berusaha lebih dari yang dia mampu tapi pada akhirnya takdir memaksanya untuk menerima kesepakatannya denganmu," lanjut Lola.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan Lola, jangan khawatir," balas Arga.

__ADS_1


__ADS_2