
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Arga dan Bianca keluar dari kamar untuk makan malam bersama orang tua Arga.
Malam itu mereka makan malam di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
"Setelah selesai makan malam, mama ingin mengajak kalian ke tempat yang bagus untuk dikunjungi, mama yakin kalian akan suka!" ucap Nadine dengan membawa pandangannya pada Arga dan Bianca.
"Maaf ma, tapi Arga ingin istirahat saja di hotel, sepertinya Arga sedikit tidak enak badan," balas Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.
"Sepertinya dia dari tadi baik-baik saja," ucap Bianca dalam hati.
"Jika kau mau, kau bisa pergi bersama mama dan papa, Bianca," ucap Arga pada Bianca.
"Tidak, aku menemanimu di hotel saja," balas Bianca.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya rencana kita gagal pa," ucap Nadine.
"Kita jalan-jalan saja di dekat sini ma," balas David.
Setelah makan malam selesai, Arga segera mengendarai mobilnya kembali ke hotel. Sedangkan Nadine dan David masih berada di restoran.
"Apa kita sebaiknya ke rumah sakit, Arga?" tanya Bianca pada Arga yang lebih banyak diam sejak mereka makan malam.
"Tidak perlu, aku hanya ingin istirahat saja di hotel," jawab Arga.
Tanpa Bianca tahu, Arga sedari tadi diam karena ia memikirkan alasan apa yang harus ia katakan pada Bianca agar ia bisa keluar dari hotel bersama Karina.
Tapi entah kenapa, ia merasa ragu untuk melakukan apa yang sudah ia janjikan pada Karina. Ada rasa bersalah dalam dirinya jika ia berbohong pada Bianca.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Karina. Sambil tetap mengendarai mobilnya, Arga memeriksa ponselnya.
"Apa kau lupa janjimu?"
Arga menghela nafasnya panjang lalu kembali menyimpan ponselnya di dalam saku.
"Ada apa Arga? apa ada masalah?" tanya Bianca yang mendengar Arga menghela nafasnya panjang, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Arga saat itu.
"Tidak ada," jawab Arga dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Sesampainya di hotel, Arga tidak mengendarai mobilnya ke arah basement, melainkan menghentikan mobilnya di depan hotel
"Bianca, sepertinya aku harus ke rumah sakit," ucap Arga pada Bianca.
"Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang," balas Bianca.
"Aku akan pergi sendiri, kau istirahat saja di kamar," ucap Arga.
"Aku sedang tidak ingin beristirahat, aku akan menemanimu ke rumah sakit," balas Bianca.
"Tidak Bianca, aku tidak ingin kau ikut bersamaku," ucap Arga dengan sedikit meninggikan suaranya.
Bianca menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun lalu keluar dari mobil Arga dan pergi begitu saja.
"Sepertinya dia marah," ucap Arga memperhatikan Bianca yang berjalan menjauh darinya.
Arga kemudian mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bianca.
"Tolong jangan memberi tahu mama dan papa, aku tidak ingin mereka khawatir."
Tidak ada balasan apapun dari Bianca. Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah sebuah kafe yang berada tepat di samping hotel.
Arga kemudian mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Karina.
"Aku menunggumu di tempat parkir kafe yang ada di dekat hotel, kemarilah!"
Tak butuh waktu lama, Karinapun membalas pesan Arga.
"Oke."
Setelah beberapa lama menunggu, gadis yang sudah Arga tunggu datang. Dengan penuh senyum gadis cantik itu menghampiri mobil Arga.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Karina saat ia sudah duduk di samping Arga.
"Ke tempat yang akan membuatmu bahagia," jawab Arga dengan tersenyum.
"Baiklah, ayo berangkat, aku sudah tidak sabar melihatnya," ucap Karina penuh semangat.
Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan tempat parkir kafe itu. Sepanjang perjalanan, Karina banyak menceritakan berbagai hal pada Arga.
Arga hanya menanggapinya sekilas dengan sesekali tersenyum. Entah kenapa ia merasa tidak tenang saat itu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempat yang ia tuju.
__ADS_1
"Apa yang istimewa dari pantai ini?" tanya Karina saat ia dan Arga sudah keluar dari mobil.
"Kita lihat saja," balas Arga lalu berjalan lebih dulu.
Karinapun berlari kecil mengikuti langkah Arga lalu meraih tangan Arga, berniat untuk menggenggamnya. Namun Arga menarik tangannya dan berpura-pura mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
Semakin mereka mendekat ke arah tepi pantai, semakin terlihat kerumunan disana. Terlihat sebuah layar besar yang terpampang di atas kilauan pasir putih yang ada disana.
"Apa kita akan menonton film disini?" tanya Karina.
"Iya, kau belum pernah melakukan ini bukan?" balas Arga.
"Belum pernah, sepertinya menyenangkan," jawab Karina lalu berlari kecil ke arah kerumunan.
Tiba-tiba Karina berteriak karena ia menabrak seseorang yang membawa minuman, membuat minuman itu jatuh dan membasahi pakaiannya.
"Astaga, kau membuat pakaianku kotor!" ucap Karina pada seseorang itu.
"Bukankah kau yang menabrakku lebih dulu?" balas seseorang itu.
"Tetap saja kau yang bersalah, jika kau buta jangan berjalan di keramaian seperti ini!" ucap Karina dengan kesal.
"Waahhh, kau yang menabrakku tapi kau yang marah padaku, rasakan ini!" ucap seseorang itu lalu mengangkat gelas yang berisi sisa minumannya lalu melemparnya ke arah Karina.
"Kau..... benar-benar membuatku marah," ucap Karina yang sudah dipenuhi dengan emosi saat itu.
Karinapun segera menjambak rambut seseorang itu dan menariknya dengan kuat dengan segala sumpah serapah yang ia ucapkan.
Arga yang melihat hal itupun segera berlari mendekat dan berusaha memisahkan Karina dengan seseorang itu.
"Dia benar-benar perempuan gila, dia menabrakku dan menjatuhkan minumanku, tapi dia yang marah padaku!" ucap seseorang itu dengan kesal.
"Kau yang gila, kau...."
"Karina sudah!" ucap Arga memotong ucapan Karina.
"Maafkan aku, aku akan mengganti minumannya, berapa aku harus menggantinya? apa ini cukup?" tanya Arga pada seseorang itu sambil mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.
"Cukup, terima kasih," balas seseorang itu sambil menerima uang dari Arga lalu berjalan pergi.
"Arga, kenapa kau memberinya uang? dia sudah membuat pakaianku kotor, Arga!"
"Kau yang menabraknya Karina, kau seharusnya meminta maaf padanya," balas Arga.
"Karina stop, kita pergi dari sini!" ucap Arga memotong ucapan Karina lalu menarik tangan Karina dan membawa Karina menjauh dari area pantai.
"Arga lepaskan, kau menyakiti tanganku!" ucap Karina yang berusaha melepaskan tangannya dari Arga.
Argapun melepaskan tangan Karina dan membawa pandangannya menatap Karina.
"Ada apa denganmu Karina? kenapa kau tidak bisa menjaga emosimu? kau seperti bukan Karina yang aku kenal, kau....."
"Memangnya seperti apa Karina yang kau kenal? aku yang berubah atau kau yang belum mengenalku dengan baik karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu!" ucap Karina memotong ucapan Arga dengan penuh emosi.
"Berhentilah membahas masalah pekerjaanku Karina, ini sama sekali tidak berhubungan dengan itu!" ucap Arga.
"Apa kau belum juga sadar Arga? semua yang sudah terjadi diantara kita itu karena kesalahanmu, kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikanku, jadi jangan salahkan aku jika aku mencari penggantimu, sekarang aku benar-benar sudah muak denganmu!" ucap Karina lalu berjalan pergi meninggalkan Arga.
Argapun segera mengejar Karina dan berusaha menahan tangan Karina.
"Berhenti Arga, jangan pernah menemuiku lagi setelah apa yang kau lakukan tadi, seharusnya kau membelaku, bukan membela orang yang membuat pakaianku kotor seperti ini!" ucap Karina lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan kesal.
Namun dengan cepat Arga menahan Karina, menarik bahu Karina dan memeluk Karina begitu saja.
"Lepaskan aku atau aku akan berteriak disini!" ucap Karina dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Arga.
Argapun melepaskan Karina dari pelukannya karena tidak ingin orang lain ikut campur dalam masalah mereka berdua.
Namun tiba-tiba....
PLAAAAAKKKK
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Arga.
"Anggap ini adalah tamparan yang akan membuatmu sadar jika kau benar-benar laki-laki yang buruk, laki-laki yang tidak pernah bisa memperlakukan perempuan dengan baik!" ucap Karina dengan penuh penegasan lalu berlari pergi meninggalkan Arga.
Arga masih berdiri di tempatnya, menatap Karina yang sudah masuk ke dalam taksi. Ia hanya diam, memikirkan ucapan Karina yang baru saja ia dengar.
"Seburuk itukah aku? apa aku harus tetap membelanya walaupun aku tau dia salah?" batin Arga bertanya dalam hati.
Arga menghela nafasnya panjang lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya kembali ke hotel.
Di hotel, ia bertemu Karina di lobby, namun Karina segera mengalihkan pandangannya saat Karina menyadari keberadaan Arga disana.
__ADS_1
Arga kemudian membawa langkahnya ke arah kamarnya lalu membuka dompetnya dan mengambil kartu akses untuk membuka pintu kamarnya.
Seketika Arga tersadar jika ia memegang kartu akses pintu kamarnya, sedangkan beberapa saat yang lalu ia memaksa Bianca untuk keluar dari mobilnya saat ia akan menemui Karina.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan!" ucap Arga yang segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Bianca.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, silakan coba beberapa saat lagi!"
Berkali-kali Arga berusaha menghubungi Bianca, namun tidak pernah tersambung. Arga kemudian mengirim pesan pada Bianca.
"Bianca, kau dimana?"
5 menit, 10 menit sampai lebih dari 15 menit tidak ada balasan apapun dari Bianca. Arga juga sudah berusaha menghubungi Bianca, namun tetap tidak tersambung.
"Dia pasti sangat marah padaku," ucap Arga dengan membawa langkahnya pergi.
Ia hanya berjalan tanpa tau kemana tujuannya, ia hanya mengikuti langkah kakinya yang membawanya meninggalkan hotel dan berlari di trotoar yang ada di depan hotel.
"Bianca, kau dimana?" batin Arga bertanya sambil membawa pandangannya menatap dengan jeli semua orang yang ada di sekitarnya.
Sembari berlari mencari keberadaan Bianca, Arga berusaha untuk terus menghubungi Bianca namun tidak pernah tersambung.
"Mencari Bianca seperti ini adalah hal bodoh yang aku lakukan untuk seseorang yang tidak aku cintai, tapi aku harus mencarinya sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai suaminya," ucap Arga sambil terus memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Untuk yang kedua kalinya Arga kembali mengirim pesan pada Bianca.
"Katakan padaku dimana kau sekarang atau aku akan menghubungi polisi untuk mencarimu!"
Tentu saja pesan yang Arga kirim hanya sebatas gertakan agar Bianca membalas pesannya. Namun sampai lebih dari 10 menit, tidak ada balasan apapun dari Bianca.
Saat Arga mulai lelah dan hampir menyerah, ia melihat Bianca yang duduk di kursi trotoar. Arga kemudian membawa langkahnya ke arah Bianca.
Tiba-tiba saja rasa kesalnya menghilang saat ia melihat senyum Bianca yang terasa begitu menenangkan baginya.
Bianca yang sedang mengobrol dengan seseorang melalui sambungan ponselnya, begitu terkejut saat ia menyadari keberadaan Arga yang berjalan mendekat padanya.
"Maaf kak, sepertinya Bianca harus mengerjakan artikel sekarang," ucap Bianca beralasan.
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi besok," balas Bara.
Setelah panggilan Bara berakhir, Bianca beranjak dari duduknya tepat saat Arga sudah ada di hadapannya.
"Kenapa kau disini?" tanya Bianca pada Arga.
"Aku...."
"Kau berkeringat sangat banyak, apa kau baik-baik saja?" tanya Bianca sebelum Arga menyelesaikan ucapannya.
Tanpa basa-basi Bianca membawa langkahnya mendekati Arga lalu mengusap keringat di kening Arga dengan lengan pakaiannya.
"Apa yang dokter katakan? apa dokter memperbolehkanmu meninggalkan rumah sakit?" tanya Bianca pada Arga.
Arga hanya terdiam, tiba-tiba saja dadanya berdebar dengan kencang. Ia tidak menyangka jika Bianca begitu mengkhawatirkannya, terlebih setelah apa yang tadi dia lakukan pada Bianca.
"Arga, jangan hanya diam, katakan padaku apa yang terjadi padamu!" ucap Bianca mengkhawatirkan Arga.
Arga menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Bianca, membuat Bianca seketika menahan Arga dengan kedua tangannya.
"Arga, jangan membuatku takut!" ucap Bianca.
"Aku lelah," balas Arga dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar oleh Bianca.
"Kita kembali ke hotel sekarang," ucap Bianca dengan memegang kedua lengan tangan Arga, berniat untuk membuat Arga berdiri dengan tegak.
Namun Arga justru membuka kedua tangannya dan memeluk Bianca dengan erat.
"Arga, apa yang kau lakukan? kau tau aku bisa membunuhmu disini!" ucap Bianca dengan kesal sambil berusaha mendorong Arga.
"Aku tau, kau bisa membunuhku sekarang jika kau mau," balas Arga, masih dengan suara yang sangat pelan.
"Tolong biarkan aku seperti ini, sebentar saja," lanjut Arga.
"Ada apa dengan Arga? apa dia sedang sakit? apa sakitnya sangat parah? apa jangan-jangan penyakit yang mematikan dan sudah stadium akhir?" batin Bianca bertanya dalam hati.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam, hingga akhirnya Bianca membawa kedua tangannya memeluk Arga, membuat Arga begitu terkejut namun terasa sangat nyaman.
"Kasihan sekali Arga, dia masih sangat muda jika dia harus menderita penyakit itu," ucap Bianca dalam hati sambil memeluk Arga dengan erat.
Bianca berpikir jika mungkin Arga memiliki penyakit mematikan yang baru saja diketahuinya. Itulah kenapa Arga tiba-tiba bersikap seperti itu pada Bianca.
Sedangkan Arga, membiarkan dirinya larut dalam kenyamanan yang Bianca berikan padanya. Seketika semua rasa menyesakkan yang ia rasakan saat bersama Karina, melebur begitu saja saat ia memeluk Bianca, terlebih saat Bianca membalas pelukannya.
"Mungkin saat ini kau sangat hancur, tapi percayalah, keajaiban itu pasti ada, jadi jangan menyerah," ucap Bianca sambil menepuk pelan punggung Arga.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bianca, membuat Arga seketika tersadar dari rasa nyamannya bersama Bianca, namun enggan untuk melepaskan pelukannya pada Bianca.