
Hari telah berganti. Pagi-pagi sekali Arga bangun lalu segera mempersiapkan dirinya dengan rapi.
Arga kemudian menghampiri Bianca dan duduk di samping ranjang Bianca.
"Hari ini aku akan pergi ke kantor Bee, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan kembali kesini," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca.
Tak lama kemudian dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Bianca.
"Tolong jaga istri saya dengan baik sus, segera hubungi saya jika terjadi sesuatu padanya," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh suster.
Arga kemudian memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan Bianca.
Dengan menggunakan taksi, Arga pergi ke kantor untuk bekerja. Ia sudah bertekad untuk memulai aktivitasnya seperti biasa dan akan segera kembali ke rumah sakit sebagai tempatnya pulang.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di depan perusahaan sang papa.
Untuk beberapa saat Arga hanya terdiam, menatap perusahaan besar di hadapannya. Arga menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan lalu memantapkan langkahnya untuk memasuki perusahaan itu.
Tidak ada yang berubah dari perusahaan tempatnya bekerja, hanya saja suasana hatinya belum kembali baik-baik saja mengingat bagaimana keadaan Bianca saat itu.
Namun Arga berusaha untuk tetap bersikap profesional dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, tapi kini bukanlah pekerjaan yang menjadi prioritasnya, melainkan Bianca yang akan selalu menjadi pilihan pertamanya.
Arga kemudian masuk ke ruangannya dan mendapati sang papa yang sudah duduk disana.
"Arga, apa yang kau lakukan disini?" tanya David yang terkejut melihat keberadaan Arga.
"Tentu saja untuk bekerja, apa ini masih menjadi ruangan Arga?" balas Arga.
"Tentu saja ini masih menjadi ruanganmu dan akan selamanya menjadi ruanganmu," jawab David lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Arga.
"Terima kasih pa," ucap Arga.
"Apa kau yakin sudah bisa memulai aktivitasmu disini?" tanya David yang sudah melepaskan Arga dari pelukannya.
"Arga yakin pa, tapi Arga minta maaf jika pekerjaan Arga ini bukan lagi prioritas bagi Arga, karena hanya Bianca prioritas utama Arga," jelas Arga.
"Papa mengerti, papa percaya padamu, papa yakin kau pasti bisa menjalankan tanggung jawabmu dengan baik sebagai CEO ataupun sebagai suami Bianca," balas David.
"Duduklah, tidak banyak yang kau kerjakan hari ini karena papa sudah menyelesaikan semuanya, kau hanya perlu menghadiri meeting setelah jam makan siang nanti," lanjut David sambil meminta Arga agar duduk.
Arga hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi kerjanya yang sudah cukup lama tidak tersentuh olehnya.
"Mungkin ada beberapa hal yang tidak kau mengerti, Daffa akan menjelaskan semuanya padamu," ucap David.
"Apa Arga bisa meminta tolong pada mama dan papa?" tanya Arga.
"Tentu saja, katakan saja!" balas David.
"Arga akan menghabiskan waktu Arga di kantor dari pagi sampai sore, bisakah mama dan papa menjaga Bianca? tidak masalah jika hanya beberapa jam, Arga tidak ingin Bianca merasa diabaikan!"
"Baiklah, papa akan memberi tahu mama," balas David.
"Terima kasih pa," ucap Arga yang hanya dibalas senyum oleh David.
David kemudian meninggalkan ruangan Arga yang sudah satu bulan ia pakai bekerja. Dalam hatinya ia merasa lega melihat Arga yang mulai melakukan aktivitas lain selain menjaga Bianca.
Apa yang terjadi pada Bianca memang membuat semua orang terpukul, termasuk David. Namun melihat Arga yang tidak memiliki semangat hidup membuat David lebih merasa sedih.
Sebagai kepala keluarga, David harus bisa menyembunyikan kesedihannya dari istri dan anaknya karena dia harus bisa memberi kekuatan pada istri dan anaknya.
Tak lama setelah David meninggalkan kantor, Daffa datang dan masuk ke ruangan Arga. Ia begitu terkejut melihat Arga yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Arga, apa kau akan bekerja mulai hari ini?" tanya Daffa bersemangat.
Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan fokus mempelajari beberapa hal di komputer yang ada di hadapannya.
"Baguslah kalau begitu, apa om david sudah mengetahuinya?" tanya Daffa.
"Sudah, aku baru saja bertemu papa disini," jawab Arga.
"Om dan Tante pasti sangat senang melihatmu ada disini," ucap Daffa.
"Mulai sekarang pastikan semua jadwalku selesai pukul 4 sore, aku tidak akan melakukan pertemuan apapun di luar jam kerja!" ucap Arga pada Daffa.
"Siap bos, saya mengerti," balas Daffa dengan suara yang dibuat lebih tegas.
__ADS_1
Arga hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus dengan komputer di hadapannya.
"Setelah jam makan siang nanti kita akan ada pertemuan, aku sudah menyiapkan materinya dan kau bisa memeriksanya," ucap Daffa.
"Aku tau, papa sudah memberi tahuku," balas Arga.
"Oke baiklah, selamat bekerja Tuan Arga, saya permisi," ucap Daffa sambil sedikit membungkukkan badannya pada Arga lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Daffa masuk ke ruangan Arga sambil membawa dua makanan dan minuman.
"Aku tau kau pasti tidak akan ke kantin," ucap Daffa sambil memberikan makanan dan minuman pada Arga.
"Terima kasih," balas Arga.
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka segera meninggalkan kantor karena akan ada pertemuan di perusahaan lain.
Jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 2 siang, namun pertemuan itu belum juga dimulai.
"Sampai kapan kita akan menunggu Daffa?" tanya Arga pada Daffa.
"Mungkin sebentar lagi mereka akan datang," jawab Daffa.
Beberapa orang disana terlihat mulai kesal karena CEO dari perusahaan yang mengadakan pertemuan itu justru terlambat datang.
Pertemuan yang seharusnya dilakukan pukul 2 kini belum juga dimulai bahkan saat jarum jam sudah hampir sampai di angka 3.
"Aku tidak bisa menunggunya lagi Daffa," ucap Arga yang segera beranjak dari duduknya.
"Sabarlah sebentar lagi Arga, ini pertemuan penting yang....."
"Ini bukan soal sabar atau tidak Daffa, ini tentang profesionalitas dan disiplin waktu, apa lagi jika dia tau ini adalah pertemuan penting, seharusnya dia bisa mengatur waktunya dengan baik," ucap Arga memotong ucapan Daffa.
"Saya setuju, tapi sebaiknya kita menunggu dulu sebentar lagi," sahut yang lain.
"Maaf pak, saya sudah menunggu lebih dari satu jam dari jadwal yang ditentukan, jika saya tidak mentolerir keterlambatannya mungkin saya sudah pergi dari tadi, jadi cukup sampai disini toleransi waktu yang saya berikan, saya permisi," ucap Arga dengan tegas lalu berjalan pergi begitu saja.
Daffapun segera beranjak dan mengikuti Arga keluar dari ruangan pertemuan itu.
"Jika aku tidak pergi sekarang, aku tidak akan meninggalkan kantor tepat waktu Daffa, kau tau itu bukan!"
"Iya aku tau," balas Daffa yang hanya pasrah mengikuti Arga yang berjalan meninggalkan perusahaan itu.
Sesampainya di kantor, Arga segera mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
Tepat pukul 4 sore, Arga sudah merapikan meja kerjanya dan segera beranjak dari duduknya.
"Aku pulang, kau juga cepat pulang setelah pekerjaanmu selesai!" ucap Arga pada Daffa lalu berjalan pergi begitu saja.
Daffa hanya menghela nafasnya melihat sikap Arga yang semakin dingin.
Di sisi lain, Arga sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya pulang ke rumahnya.
Di rumahnya, Arga mengambil beberapa barang yang ia butuhkan lalu meninggalkan rumah dengan mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera membawa langkahnya ke ruangan Bianca dan mendapati Mama dan papanya yang berada di dalam ruangan Bianca.
Arga sedikit membuka pintu ruangan Bianca agar mama dan papanya keluar.
"Terima kasih sudah menjaga Bianca ma, pa," ucap Arga pada mama dan papanya yang baru saja keluar dari ruangan Bianca.
"Bianca sudah mama anggap seperti anak mama sendiri Arga, mama menyayanginya seperti mama menyayangimu," balas Nadine.
"Mama dan papa minta maaf atas apa yang terjadi kemarin," lanjut Nadine.
"Lupakan saja ma, mama dan papa hanya perlu tau jika Arga sangat mencintai Bianca, jadi Arga harap mama dan papa tidak melakukan sesuatu yang akan berakibat buruk pada Bianca karena jika sampai itu terjadi, mama dan papa tidak hanya kehilangan Bianca, tapi juga kehilangan Arga untuk selamanya," ucap Arga.
"Mama mengerti, kita akan sama-sama menjaga Bianca sampai dia sadar," balas Nadine.
"Terima kasih ma," ucap Arga.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Arga kemudian masuk ke ruangan Bianca. Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri, Arga segera menghampiri Bianca dengan penuh senyum.
Ia memberikan kecupan singkatnya di kening Bianca sebelum ia duduk di samping ranjang Bianca.
"Bagaimana harimu Bianca? apa cukup menyenangkan?" tanya Arga dengan menggenggam tangan Bianca.
__ADS_1
"Aku tau kau sedang berjuang sekarang, jadi jangan menyerah dan tunjukkan pada semua orang bahwa kau jauh lebih kuat dari yang mereka pikirkan," ucap Arga.
Waktu berlalu, malam semakin larut tapi Arga masih duduk di sofa dengan laptop yang ada di pangkuannya dan beberapa berkas yang ada di dekatnya.
Arga mengerjakan beberapa pekerjaan kantor di rumah sakit agar ia bisa segera meninggalkan kantor setiap hari.
Dalam hatinya, Arga selalu berharap kesadaran Bianca yang sudah dipastikan mustahil oleh dokter.
Meskipun ia sudah menjalani kegiatannya di kantor seperti biasa, tetapi rasa sedih masih menyelimuti Arga.
Namun Arga berusaha untuk memendam sendiri rasa sedihnya karena ia berpikir untuk tidak menunjukkannya pada Bianca meskipun Bianca selalu terpejam di atas ranjangnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Arga kembali duduk di samping ranjang Bianca dengan membaca buku yang biasa Bianca baca saat di rumah.
"Aku sudah membaca buku ini sampai halaman terakhir Bianca, aku juga sudah selesai membaca buku lain yang biasa kau baca, sekarang katakan padaku buku mana lagi yang kau suka, aku akan membacakannya untukmu!" ucap Arga sambil menaruh buku itu di atas meja.
Arga membelai pelan rambut Bianca, menggenggam tangan Bianca lalu membaringkan kepalanya di tepi ranjang Bianca.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Bianca, jadi kau juga tidak boleh meninggalkanku," ucap Arga dengan tersenyum meskipun hatinya terasa begitu sakit saat itu.
**
Hari telah berganti, sama seperti sebelumnya, Arga berangkat ke kantor setelah memberikan kecupan singkatnya pada Bianca yang masih terpejam.
Di kantor, Arga mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Ia juga menghadiri beberapa pertemuan dan segera pulang saat jam sudah menunjukkan tepat pukul 4 sore.
Arga mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit setelah ia membeli kue di kafe tempat Bianca dulu bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, setelah ia membersihkan diri dan berganti pakaian, ia segera menghampiri Bianca, memberikan kecupan singkatnya pada Bianca lalu duduk di samping ranjang Bianca.
"Hari ini aku membeli kue yang pernah kau belikan untukku," ucap Arga pada Bianca.
"Sebenarnya aku memang tidak menyukai makanan manis sejak kecil dan kue yang kau berikan padaku adalah kue pertama yang aku makan sampai habis tak bersisa," lanjut Arga.
Arga tersenyum tipis mengingat kejadian itu lalu menggenggam tangan Bianca.
"Maaf karena aku baru sadar jika aku mencintaimu Bianca dan terima kasih karena sudah menyembuhkan luka di hatiku," ucap Arga dengan menatap Bianca yang terpejam.
Tak lama kemudian Arga menyadari seseorang yang datang. Ia segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Bianca.
"Lola, kau sendirian?" tanya Arga yang melihat Lola sudah duduk di kursi yang ada di depan ruangan Bianca.
"Iya aku sendirian, apa aku boleh menemui Bianca?" balas Lola sekaligus bertanya.
Arga menganggukkan kepalanya, membiarkan Lola menemui Bianca. Setelah cukup lama berada di ruangan Bianca, Lola kemudian keluar.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, Lola," ucap Arga pada Lola.
"Tanyakan saja," balas Lola.
"Tentang Bara, apa kau tau bagaimana hubungan Bianca dengan Bara?" tanya Arga yang membuat Lola terdiam untuk beberapa saat.
"Apa yang kau tau tentang kak Bara, Arga?" balas Lola bertanya.
"Aku hanya tau jika dia kuliah di luar negeri dan aku tau jika Bianca sangat menyukainya karena Bianca sendiri yang mengatakannya padaku," Jawab Arga.
Lola menghela nafasnya lalu duduk di samping Arga.
"Sejauh yang aku tau Bianca memang sudah lama menyukai kak Bara, karena bagi Bianca dia adalah laki-laki yang berbeda dengan laki-laki lain yang pernah mendekati Bianca, hanya kak Bara yang tulus dan selalu memberikan perhatiannya pada Bianca," ucap Lola.
"Tapi sampai saat ini hubungan mereka belum menemukan kejelasan apapun, kak Bara selalu meminta Bianca menunggunya tanpa memberikan Bianca kepastian," lanjut Lola.
"Apa Bara juga menyukai Bianca?" tanya Arga.
"Aku tidak tahu, kak Bara hanya meminta Bianca untuk menunggunya dan karena hal itu Bianca berpikir jika kak Bara juga memiliki perasaan yang sama sepertinya," jawab Lola.
"Apa dia benar-benar laki-laki yang baik, Lola?" tanya Arga.
"Aku tidak tahu Arga, aku hanya mengenalnya dari cerita Bianca dan mungkin kau juga tau bagaimana Bianca bercerita tentang kak Bara, hanya ada kebaikan di mata Bianca tentang kak Bara," jawab Lola.
Arga menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Sebagai sahabat, aku hanya ingin Bianca bersama laki-laki yang tepat yang tidak akan pernah menyakitinya Arga, entah itu kak Bara ataupun kau," ucap Lola.
"Aku tidak akan menyerah hanya karena dia menyukai laki-laki lain, sebelum Bara kembali dan mengungkapkan perasaannya pada Bianca, aku akan berusaha membuat Bianca jatuh cinta padaku dan melupakan Bara," balas Arga.
__ADS_1
"Sepertinya itu tidak mudah, tapi jangan menyerah, aku mendukungmu!" ucap Lola.
"Terima kasih Lola," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Lola.