
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Daffa sampai di depan rumah Karina, iapun segera membawa langkahnya masuk dan mendapati Karina yang sudah menunggunya di teras rumah.
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Karina pada Daffa yang baru saja datang.
"Apa rencana busukmu sebenarnya Karina? kenapa kau menemui Bianca?" balas Daffa bertanya tanpa basa-basi.
"Aku tidak menemui Bianca," jawab Karina.
"Jangan berbohong padaku, aku sudah tahu kau menemuinya," ucap Daffa.
"Sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk menemui Bianca, justru Bianca sendiri yang datang padaku dan sekarang kita menjadi teman, apa ada yang salah dengan itu?" balas Karina.
"Tentu saja salah, karena aku tahu kau pasti memiliki niat buruk pada Bianca," ucap Daffa.
"Kau terlalu berpikiran buruk tentangku Daffa, padahal aku hanya berteman dengan Bianca, aku bahkan tidak memberitahunya jika aku dan Arga pernah berhubungan, bahkan setelah pernikahan mereka," ucap Karina.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal itu Karina, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan rumah tangga Arga dan Bianca," ucap Daffa.
"Kau tidak bisa mengendalikan apa yang akan aku lakukan Daffa dan aku akan melakukan apapun untuk membuat Arga kembali padaku," balas Karina.
"Arga mungkin belum melakukan apapun padamu, tapi jika dia tahu niat burukmu dia pasti tidak akan tinggal diam, kau pasti tahu bukan bagaimana Arga akan membuatmu diam!"
"Kita lihat saja nanti, apa yang bisa Arga lakukan untuk mencegahku mengatakan semuanya pada Bianca, aku yakin Bianca akan melepaskan Arga setelah Bianca tahu apa yang Arga lakukan di belakang Bianca bahkan setelah mereka menikah," ucap Karina.
Seketika Daffa membawa langkahnya mendekat pada Karina dan mencengkeram kedua pipi Karina dengan satu tangannya.
"Kau akan menyesal jika kau benar-benar melakukan hal itu!" ucap Daffa emosi.
"Le.... paskan.... aku Daffa....." ucap Karina yang berusaha mendorong Daffa menjauh darinya.
"Tidak hanya Arga, tapi aku juga akan membuatmu menyesal jika kau terus mengusik hubungan Arga dan Bianca, aku pastikan hidupmu akan benar-benar berakhir jika kau tidak berhenti mengejar Arga," ucap Daffa lalu melepaskan tangannya dengan kasar sambil mendorong Karina.
Karina hanya terdiam dengan memegangi kedua pipinya yang terasa sakit karena cengkeraman Daffa padanya.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang berlari kecil ke arah Daffa dan Karina. Dengan cepat Bian yang baru saja datang segera melayangkan tinjunya pada Daffa.
Daffa yang terkejut tidak sempat menghindar dan hanya diam menerima pukulan Bian yang membuat sudut bibirnya berdarah.
"Apa yang kau lakukan pada Karina?" tanya Bian penuh emosi sambil mencengkeram kerah kemeja Daffa.
"Tanyakan saja pada tunanganmu itu dan katakan padanya agar berhenti mengganggu rumah tangga orang lain," jawab Daffa sambil menarik tangan Bian dari kerah kemejanya lalu berjalan pergi begitu saja.
"Apa maksud ucapannya Karina? jelaskan padaku!" tanya Bian pada Karina.
"Dia hanya berbicara omong kosong, tidak perlu memikirkannya," ucap Karina tanpa menjawab pertanyaan Bian.
PLAAAAAKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Karina karena kekesalan Bian akibat Karina yang tidak menjawab pertanyaannya.
Daffa yang masih berada di halaman rumah Karina seketika membawa pandangannya pada Karina setelah ia mendengar suara tamparan yang cukup keras.
Melihat Bian yang tampak sangat marah pada Karina membuat Daffa hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil dan mengendarainya pergi dari rumah Karina.
Di dalam mobil, Daffa memeriksa lukanya pada cermin yang ada di mobilnya.
"Aahhhh sial, dia merusak wajah tampanku," ucap Daffa kesal sambil membersihkan darah di sudut bibirnya.
**
Di tempat lain, Arga baru saja sampai di rumahnya. Saat ia baru saja membawa langkahnya masuk ke dalam rumah ia mendapati Bianca yang sudah menunggu kedatangannya.
"Aku membeli kue untukmu," ucap Bianca pada Arga.
"Aku akan mandi dan berganti pakaian lalu turun," balas Arga.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Bianca lalu segera menyiapkan kue kesukaan Arga yang dibelinya dari kafe tempat ia bekerja dulu.
Bianca kemudian membawa kue itu ke balkon dan tak lama kemudian Arga datang lalu duduk di samping Bianca.
"Ada apa kau menemui mama? apa terjadi sesuatu?" tanya Bianca pada Arga.
"Tidak ada, mama hanya ingin bertemu denganku," jawab Arga sambil memakan kue yang Bianca siapkan untuknya.
"Aku tadi bertemu dengan Karina saat aku membeli kue ini," ucap Bianca yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Bianca.
"Kau ingat bukan jika aku punya teman yang bernama Karina, sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya dan tiba-tiba saja hari ini aku bertemu dengannya di kafe," lanjut Bianca.
"Lebih baik jangan terlalu dekat dengannya Bianca, bukankah kau belum terlalu mengenalnya dengan baik," ucap Arga.
"Justru karena aku belum terlalu mengenalnya jadi aku harus dekat dengannya agar aku bisa lebih mengenalnya," balas Bianca.
"Bukankah kau menjemput Lola di kantornya tadi? kenapa kau tiba-tiba bertemu dengan Karina di kafe?" tanya Arga.
"Aku memang menjemput Lola di kantornya, setelah itu aku mengajaknya untuk ke kafe dan tidak sengaja bertemu Karina lalu kami mengobrol, tetapi sepertinya Lola terlihat tidak menyukai Karina," jelas Bianca.
"Benarkah? kenapa?" tanya Arga.
"Entahlah, sepertinya Lola tidak setuju dengan pemikiran Karina tentang masa lalunya," jawab Bianca.
"Apa dia banyak bercerita padamu tentang masa lalunya?" tanya Arga.
"Iya, sepertinya aku hampir mengetahui semua cerita tentang masa lalunya dan yang paling menyedihkan sampai saat ini dia masih mengharapkan masa lalunya untuk kembali padanya," jawab Bianca.
"Sepertinya aku setuju dengan Lola, masa lalu adalah hal yang tidak seharusnya diharapkan untuk kembali," ucap Arga.
"Sepertinya hubungan mereka dulu sangat dekat, jadi pasti tidak mudah bagi Karina untuk melupakan semua yang sudah terjadi diantara mereka," ucap Bianca.
"Tapi hubungan yang sudah berakhir tidak bisa dipaksakan untuk kembali Bianca, sedekat apapun mereka saat berhubungan dulu, itu hanya menjadi bagian dari masa lalu yang seharusnya sudah dilupakan," balas Arga.
"Aku sama sekali tidak memikirkan masa lalu, yang ada dalam pikiranku sekarang hanya masa depanku, aku sedang berusaha memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku meskipun aku sedikit terlambat tapi aku akan terus memperjuangkannya," jawab Arga.
"Bagaimana jika apa yang kau perjuangkan itu ternyata tidak seharusnya menjadi milikmu?" tanya Bianca.
"Aku hanya mengikuti apa yang ada dalam hatiku Bianca dan hatiku memintaku untuk terus berjuang sampai akhir dan aku yakin perjuanganku akan berakhir dengan indah," jawab Arga dengan menatap kedua mata Bianca.
Arga dan Bianca untuk beberapa saat sebelum akhirnya Bianca mengalihkan pandangannya dari Arga yang ada di hadapannya.
**
Hari telah berganti, pagi itu Bianca sedang sibuk mengerjakan artikel di teras rumahnya. Tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman rumahnya dan seorang perempuan cantik turun dari mobil itu dengan pakaian seksinya yang cukup terbuka.
Perempuan cantik itu lalu segera membawa langkahnya pada Bianca dan duduk di hadapan Bianca.
"Jika kau kesini untuk mencari Arga, kau terlambat karena dia sudah berangkat ke kantor," ucap Bianca pada Clara.
"Aku tidak mencari Arga, aku kesini memang untuk menemuimu," balas Clara sambil menyilangkan kakinya di depan Bianca.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Bianca.
"Aku hanya ingin memberitahumu tentang apa yang sebenarnya Arga sembunyikan darimu, mungkin ini akan membuatmu sangat terkejut tapi ini adalah fakta yang harus kau tahu," jawab Clara.
"Aku sama sekali tidak ingin tahu tentang apapun yang Arga sembunyikan dariku, jadi lebih baik kau pergi jika kau datang kesini hanya untuk mengadu domba antara aku dan Arga," ucap Bianca sambil menutup laptopnya.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk mengadu domba kau dan Arga, aku kesini karena aku memang ingin memberitahumu tentang apa yang Arga lakukan di belakangmu dengan perempuan lain," ucap Clara yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada Clara.
"Perempuan lain?" tanya Bianca mengulang ucapan Clara.
"Aku tidak tahu apakah Arga sudah memberitahumu tentang mantan kekasihnya, tapi asal kau tahu Arga sangat mencintai mantan kekasihnya bahkan hidupnya hampir hancur hanya karena perempuan itu meninggalkannya," ucap Clara.
Bianca hanya terdiam mendengar apa yang Clara ucapkan, karena ia sama sekali tidak pernah tahu tentang masalah pribadi Arga apalagi tentang mantan kekasih yang baru saja Clara ceritakan padanya.
__ADS_1
"Bisa dibilang Arga hampir gila karena kehilangan perempuan itu, jadi bisa kau bayangkan bukan bagaimana Arga sangat mencintai perempuan itu?" lanjut Clara.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba memberitahu masalah itu padaku?" tanya Bianca.
"Karena aku yakin kau pasti tidak tahu jika diam-diam Arga masih berhubungan dengan perempuan itu, bahkan setelah kalian menikah," jawab Clara yang membuat Bianca semakin terkejut.
"Kau pasti berbohong, kau hanya ingin membuat aku dan Arga bertengkar bukan!" ucap Bianca tak percaya.
Clara hanya tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya dan memberikannya pada Bianca.
"Itu adalah foto dan video yang berhasil aku ambil saat aku melihat Arga bersama mantan kekasihnya, sebenarnya aku memiliki banyak bukti lainnya tetapi Arga sudah menghapusnya dari ponselku," ucap Clara.
Bianca yang melihat foto dan video yang ada di ponsel Clara hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.
Bianca begitu terkejut setelah ia melihat foto dan video yang memperlihatkan kebersamaan Arga bersama seorang perempuan yang Bianca kenal, seorang perempuan yang merupakan teman yang baru Bianca kenal.
Bianca terdiam tanpa mampu mengatakan apapun, tenggorokannya seolah tercekat dan hatinya terasa begitu sakit, seperti ada sebilah pedang yang menusuknya dengan sangat dalam saat itu.
"Sekarang kau tahu bukan jika Arga tidak benar-benar mencintaimu, bisa jadi dia menikah denganmu hanya untuk menutupi hubungannya dengan Karina karena orang tua Arga yang tidak menyukai Karina," ucap Clara sambil merebut ponselnya dari tangan Bianca.
Bianca masih terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan saat itu. Otaknya seolah berhenti untuk berpikir dan hanya rasa sakit yang bisa ia rasakan dalam hatinya saat itu.
"Aku tidak tahu bagaimana Arga bisa menikah denganmu, gadis biasa yang bahkan sangat jauh levelnya dengan keluarga Arga, bahkan kaupun sangat jauh dibanding dengan mantan kekasihnya," ucap Clara.
Bianca masih terdiam, detik waktu seolah berhenti, membiarkan rasa sakit semakin memeluk Bianca dengan erat.
"Aku memberitahumu hal ini karena aku peduli padamu Bianca, aku tidak ingin Arga memanfaatkanmu hanya agar dia bisa kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya yang tidak disukai oleh orang tuanya," ucap Clara lalu beranjak dari duduknya.
"Jika kau tidak mempercayai apa yang baru saja aku katakan padamu, kau bisa menanyakannya secara langsung pada Arga ataupun pada orang tuanya," ucap Clara lalu berjalan pergi begitu saja.
Sedangkan Bianca masih berada di tempat duduknya, menatap kosong Clara yang sudah berjalan meninggalkannya.
Tanpa Bianca sadar air mata menetes dari kedua sudut matanya bersama rasa sakit dalam hatinya.
Saat ia sadar air matanya menetes turun dari pipinya, Bianca segera menghapus air matanya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa denganku? kenapa rasanya sakit sekali?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca terduduk di lantai dengan bersandarkan dinding kamarnya, rasa sakit yang ia rasakan terus menghujam jantungnya, mengoyak hatinya yang sempat bertabur bunga bahagia karena dipenuhi oleh perhatian dan kasih sayang Arga.
Tanpa sadar Bianca semakin terisak, merasakan setiap detik rasa sakit yang memenuhi setiap sudut hatinya.
"Ini bukan pernikahan sungguhan, tidak ada cinta dalam pernikahan ini, tapi kenapa aku merasa seperti ini? Kenapa ini sakit sekali ya Tuhan? kenapa rasanya sakit sekali?"
Dengan air mata yang terus membasahi pipinya, Bianca mulai mengingat hal-hal ganjil yang Arga lakukan sejak awal pernikahan mereka.
Bianca ingat bagaimana Arga sangat jarang pulang ke rumah, bagaimana Arga yang tiba-tiba pergi meninggalkannya dan bagaimana Arga yang berbohong padanya tentang pekerjaannya di luar kota.
Kini semuanya terasa masuk akal bagi Bianca, kini ia mengerti alasan terbesar Arga menikah dengannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak mungkin marah padanya, aku juga tidak mungkin menanyakan hal ini padanya, pernikahan kita bukan pernikahan sungguhan dan apapun yang Arga lakukan di luar sana seharusnya tidak menjadi masalah bagiku, tapi......"
Bianca menghentikan ucapannya, dadanya semakin terasa sesak mengingat apa yang ia lihat di ponsel Clara beberapa saat yang lalu.
Mengetahui fakta bahwa ternyata selama ini Arga berhubungan dengan perempuan lain membuat Bianca semakin merasakan perih dalam hatinya.
"Karina, kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku? kenapa dia tidak memberitahuku jika laki-laki di masa lalunya itu adalah Arga? Arga hampir gila karena kehilangan Karina dan Karinapun juga seperti itu, mereka saling mencintai tetapi orang tua Arga tidak merestui mereka, lalu tiba-tiba ada aku di antara mereka berdua!"
Bianca menghapus air matanya dengan kasar, ia segera beranjak dari duduknya lalu membawa dirinya ke kamar mandi.
Berkali-kali Bianca membasuh wajahnya, berharap air matanya agar segera berhenti menetes namun apa lacur, kedua sudut matanya tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa aku bersedih seperti ini? kenapa hatiku terasa sangat sakit? kenapa........ "
Bianca menjatuhkan dirinya di lantai kamar mandi, memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya pada kedua lututnya, merasakan setiap detik rasa sakit dalam hatinya.
__ADS_1