
Untuk beberapa saat Arga terdiam menatap Karina yang tertidur pulas dengan selimutnya yang tersingkap. Sempat terbesit pikiran kotor di kepala Arga saat ia melihat hal itu, terlebih saat ia berpikir jika tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan lagi untuk mendapatkan Karina.
Namun Arga segera tersadar dari pikiran buruknya, Arga seketika menarik selimut dan menutup seluruh tubuh Karina dengan selimut.
Arga kemudian membawa langkahnya ke arah kamar mandi, membasuh wajahnya di wastafel beberapa kali agar pikiran kotor itu benar-benar pergi dari kepalanya.
"Sadarlah Arga, apa yang kau pikirkan bukanlah hal yang benar," ucap Arga sambil menatap tajam pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya.
Setelah merasa dirinya sudah lebih baik, Argapun keluar dari kamar mandi dan segera menjatuhkan dirinya di atas sofa.
Arga memejamkan matanya meskipun ia tidak bisa tidur malam itu. Sesekali Arga membawa pandangannya pada Karina. Entah kenapa hatinya selalu merindukan Karina.
Gadis yang merupakan cinta pertamanya itu benar-benar membuatnya gila. Entah sudah berapa kali ia mendengar hal buruk tentang Karina, namun sama sekali tak pernah terpikirkan dalam kepalanya untuk menjauhi Karina, justru cintanya masih tersimpan rapi dalam hatinya.
Hingga akhirnya malam yang panjang telah berlalu. Arga segera beranjak dari duduknya saat melihat Karina terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Karina.
Arga tersenyum lalu membawa langkahnya untuk duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana keadaanmu? apa ada yang sakit?" tanya Arga.
Karina hanya menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari tidurnya.
"Terima kasih sudah menemuiku Arga, terima kasih karena masih peduli padaku," ucap Karina.
"Seperti yang sudah pernah aku katakan dulu, kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkanku Karina," balas Arga.
"Mungkin apa yang aku lakukan ini salah, mengingat kau adalah laki-laki yang sudah beristri, tetapi aku tidak punya pilihan lain Arga, maafkan aku," ucap Karina dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu meminta maaf Karina, aku bisa memahamimu, tapi bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Arga sambil memegang dagu Karina, membawa pandangan Karina menatap ke arahnya.
"Setelah semua yang Bian lakukan padamu, apa kau akan tetap bertahan dengannya?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Karina.
"Aku mencintai Bian, Arga," ucap Karina dengan mengalihkan pandangannya dari Arga.
"Setelah semua yang dia lakukan padamu?" tanya Arga.
"Banyak hal yang tidak kau tau dari Bian, Arga," ucap Karina.
"Terlepas dari sikapnya yang terkadang kasar padaku, dia sangat mencintaiku dan akupun juga mencintainya," lanjut Karina.
"Bagaimana bisa kau menyebutnya mencintaimu setelah semua hal buruk ini Karina? kau....."
"Arga stop, aku memang memintamu untuk datang menolongku, tapi bukan berarti aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu, aku tetap mencintai Bian dan aku tidak akan pernah meninggalkannya, apa lagi demi laki-laki yang hanya mementingkan karirnya dan nama baiknya sendiri sepertimu," ucap Karina memotong ucapan Arga.
Karina kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Arga yang hanya bisa menghela nafasnya panjang mendengar ucapan Karina.
Tak lama kemudian Karina keluar dari kamar mandi dan meminta Arga untuk pergi.
"Bagaimana denganmu?" tanya Arga.
"Bian akan menjemputku, jangan sampai dia tahu jika aku bermalam disini bersamamu, jadi tolong pergilah," jawab Karina.
"Apa kau yakin akan baik-baik saja?" tanya Arga khawatir.
Karina hanya menganggukkan kepalanya tanpa ragu, membuat Arga terpaksa harus meninggalkan Karina di kamar hotel itu.
Arga yang sebelumnya ingin menunggu Bian datang, seketika mengurungkan niatnya saat ia menyadari jika ia harus segera berangkat ke kantor.
Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah kantor dengan penampilannya yang tidak begitu rapi.
Beruntung, di mobilnya masih ada jas yang semalam ia kenakan saat makan malam bersama Bianca.
Sesampainya di kantor, Arga segera membawa langkanya ke arah ruangannya. Seperti yang sudah ia terka sebelumnya, banyak mata yang menatapnya aneh sejak ia memasuki pintu utama.
Arga tidak peduli, yang terpenting adalah ia tetap bisa sampai di kantor dengan tepat waktu. Arga kemudian segera pergi ke toilet, membasuh wajahnya dan merapikan rambutnya sekenanya.
Setidaknya, wajah tampannya itu bisa memudarkan kekacauan penampilannya saat itu.
__ADS_1
Arga kemudian kembali ke ruangannya dan sudah ada Daffa yang duduk di dalam ruangannya.
"Ada apa denganmu? kenapa kau terlihat sangat berantakan sekali?" tanya Daffa yang terkejut melihat penampilan Arga.
Arga tidak menjawab pertanyaan Daffa, ia membawa dirinya duduk lalu menyalakan komputer yang ada di hadapannya.
"Apa jangan-jangan karena makan malam semalam? apa mungkin kau dan Bianca menginap di hotel untuk....."
"Jaga pikiran kotormu, ini masih pagi!" ucap Arga memotong ucapan Daffa.
"Hahaha bagaimana makan malam semalam? sangat romantis bukan?" tanya Daffa.
"Kau terlalu berlebihan Daffa, kau membuat makan malamku dengan Bianca menjadi canggung," jawab Arga.
"Kalian berdua tidak akan merasa canggung jika memang tidak ada sesuatu diantara kalian," ucap Daffa yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Daffa.
"Berhenti bersikap sok tahu, aku dan Bianca tidak ada hubungan apapun, lagi pula hubungan kita akan berakhir setelah 2 tahun pernikahan kita," ucap Arga.
"Apa makan malam semalam sama sekali tidak berkesan untukmu?" tanya Daffa.
"Itu memang makan malam pertama yang terasa aneh bagiku, semua yang kau persiapkan terasa sangat berlebihan dan aku tidak menyukainya," jawab Arga.
"Terserah kau menyukainya atau tidak tapi yang pasti kau harus mengganti uang yang sudah aku keluarkan untuk membeli kalung mewah yang kau berikan pada Bianca," ucap Daffa.
"Jangan khawatir aku akan mengganti semuanya hari ini juga," balas Arga.
"Baiklah aku akan mengirimkan datanya padamu, jangan terkejut dengan harga kalung berlian mewah itu," ucap Daffa kemudian beranjak dari duduknya.
"Aaahh ya satu lagi, meskipun makan malam sudah membuatmu dan Bianca merasa canggung tetapi aku yakin makan malam kemarin adalah makan malam yang berkesan untukmu dan Bianca, entah kalian berdua menyadarinya atau tidak," lanjut Daffa dengan tersenyum lalu berjalan keluar begitu saja dari ruangan Arga.
"Berkesan?" tanya Arga mengulangi kalimat Daffa.
Untuk beberapa saat memori Arga kembali mengulas makan malamnya bersama Bianca. Makan malam romantis dengan penuh persiapan itu memang adalah hal yang pertama bagi Arga.
Meskipun sebelumnya ia sudah cukup lama berhubungan dengan Karina tetapi ia tidak pernah memperlakukan Karina seperti itu dan baginya hal itu sangat berlebihan.
**
Waktupun berlalu, Arga masih sibuk di depan komputernya meskipun jam makan siang sudah lewat.
"Apa kau tidak akan makan siang?" tanya Daffa setelah ia membawa kepalanya masuk ke ruangan Arga.
"Kau duluan saja," balas Arga dengan masih fokus pada komputer di hadapannya.
"Oke," ucap Daffa lalu pergi meninggalkan Arga untuk makan siang di kantin.
Tak lama setelah Daffa pergi seseorang kembali membuka pintu ruangan Arga.
"Ada apa lagi?" tanya Arga yang masih menatap layar komputer di hadapannya.
"Ada aku yang akan selalu mengharapkanmu," jawab Clara sambil membawa langkahnya ke arah meja kerja Arga.
"Clara, kenapa kau ada disini?" tanya Arga yang terkejut dengan kedatangan Clara, karena ia pikir yang membuka pintu ruangannya adalah Daffa.
"Aku kesini bukan untuk membuat keributan, aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu," jawab Clara lalu duduk di hadapan Arga.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu, aku benar-benar sangat sibuk sekarang jadi pergilah sebelum aku...."
"Kau tidak akan bisa mengusirku selama aku memiliki foto ini," ucap Clara memotong ucapan Arga sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Arga.
Arga begitu terkejut saat ia melihat layar ponsel Clara, dimana ada foto dirinya dengan Karina yang berada di lobby hotel.
Dengan cepat Arga berusaha merebut ponsel Clara, namun Clara yang lebih cepat kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas miliknya.
"Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahanmu jika Bianca tahu apa yang kau lakukan di belakangnya, tidak cuma itu tante Nadine juga pasti akan sangat terkejut melihat foto ini atau bisa jadi Om David akan mengeluarkanmu dari perusahaan ini!" ucap Clara dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kau pikir kau bisa mengancamku dengan foto itu?" tanya Arga yang seolah tak gentar dengan ancaman Clara.
"Terserah bagaimana kau akan bersikap padaku sekarang Arga, tapi yang pasti kau tahu bukan apa yang akan terjadi padamu jika sampai foto ini tersebar, mungkin kau bisa mengendalikan media tapi kau tidak akan bisa mengendalikanku untuk tidak memberitahu istri dan keluargamu!"
__ADS_1
Arga menghela nafasnya panjang dengan memejamkan matanya lalu menggeser posisi duduknya dan fokus dengan Clara yang ada di hadapannya.
Tak dapat dipungkiri foto yang Clara memiliki sebenarnya membuatnya cukup gelisah dan khawatir.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? aku tidak mungkin menceraikan Bianca hanya untuk menikahimu," tanya Arga pada Clara.
"Aku memang sangat menginginkanmu Arga tapi untuk saat ini bukan itu yang aku mau, aku akan menyimpan keinginan itu untuk lain kali karena sekarang aku masih ingin bermain-main denganmu," jawab Clara.
"Katakan padaku Clara, apa yang kau inginkan?" tanya Arga dengan kesal.
"Mmmmm...... sebagai awal dari permainan ini aku hanya ingin makan malam denganmu, malam ini," jawab Clara dengan menekankan kata "malam ini".
"Aku sedang sibuk Clara, aku...."
"Kau tidak boleh menolakku Arga, selama aku memiliki bukti perselingkuhanmu dengan Karina kau harus menuruti semua permintaanku atau hidupmu akan benar-benar berakhir," ucap Clara memotong ucapan Arga.
Arga menghela nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya pelan. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Clara, setidaknya hanya untuk sementara sampai ia bisa menghilangkan foto dirinya dengan Karina di ponsel Clara.
"Baiklah aku anggap kita sudah bersepakat, aku akan mengirimkan lokasi makan malam kita setelah aku melakukan reservasi," ucap Clara kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Arga.
Arga menghembuskan nafasnya kasar, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, memejamkan matanya dan memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Aku harus menghilangkan foto itu, aku tidak akan membiarkan Clara mengendalikanku," ucap Arga.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 06.00 petang saat Arga baru saja keluar dari ruangannya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Clara, sebuah pesan yang menunjukkan dimana lokasi Clara akan mengajaknya makan malam.
Di bawah cat room dengan nama Clara ada nama Bianca yang membuat Arga tiba-tiba terpikirkan Bianca.
"Dia tidak menghubungiku sama sekali, dia juga tidak mengirimkan pesan apapun, sudah pasti dia sangat marah padaku," ucap Arga dengan menghela nafasnya panjang.
"Kenapa Tuan muda Arga terlihat sangat lesu sekali hari ini?" tanya Daffa yang tiba-tiba datang dengan mengalungkan tangannya di pundak Arga.
"Apa kau sedang sibuk malam ini?" balas Arga bertanya.
"Aku tidak pernah sibuk jika kau tidak memberiku pekerjaan, bukankah kau tahu yang selalu membuatku sibuk adalah kau!" balas Daffa.
"Kalau begitu bersiaplah untuk pergi nanti malam, jika perlu ajak Lola untuk ikut," ucap Arga.
"Pergi kemana?" tanya Daffa dengan mengernyitkan keningnya.
"Aku akan mengirimkan lokasinya padamu nanti, kau hanya perlu bersiap dan segera datang sebelum pukul 8," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Daffa kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Daffa yang masih memikirkan ucapan Arga.
Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumahnya. Sesampainya di rumah ia segera mencari Bianca yang saat itu sedang mengerjakan artikelnya di balkon.
"Bersiap-siaplah sebentar lagi kita akan keluar!" ucap Arga yang sudah berdiri di dekat Bianca.
"Aku sedang tidak ingin keluar," balas Bianca yang masih fokus dengan laptop di hadapannya.
"Bukankah kau harus melakukan peranmu dengan baik?" tanya Arga yang membuat Bianca menghela nafasnya lalu menutup laptopnya, beranjak dari duduknya lalu segera berjalan pergi melewati Arga begitu saja.
"Iya, dia terlihat sangat marah," ucap Arga sambil menatap Bianca yang berjalan menjauh darinya.
Arga kemudian berjalan ke arah kamarnya begitu juga Bianca yang berjalan masuk ke kamarnya.
Hari itu Bianca memang sengaja ingin menjauh dari Arga, ia tidak ingin tahu kemana Arga pergi dan kapan Arga akan pulang dari kantor.
Bianca ingin menjadi dirinya sendiri yang dulu tidak pernah peduli pada Arga, ia bahkan sudah memantapkan dirinya sendiri untuk tidak menghiraukan Arga apapun yang terjadi pada Arga.
Ia selalu mengingatkan dirinya sendiri jika dirinya saat itu hanyalah istri di atas kontrak. Ia dan Arga hanyalah dua orang asing yang saling mengikat kontrak atas pernikahan yang mereka lakukan.
Jadi sesuai dengan kesepakatan yang sudah ia buat dengan Arga, ia hanya perlu menjadi istri yang baik di hadapan orang lain, tidak saat di rumah ataupun di hadapan Arga.
Tapi meskipun ia sedang kesal pada Arga, ia tetap harus melakukan perannya dengan baik, karena jika ia sudah mulai bermain peran itu artinya ia akan tampil di hadapan orang lain yang membuatnya harus menjadi istri terbaik yang Arga miliki.
"Aku melakukan ini hanya karena aku terikat kontrak dengannya, aku melakukan ini karena uang 50 miliar yang sudah aku terima, tidak lebih dari itu," ucap Bianca pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin di hadapannya.
__ADS_1