Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Tabrakan Beruntun


__ADS_3

Di balkon.


Bianca sedang melanjutkan mengerjakan artikelnya, ia sengaja menyibukkan isi kepalanya agar tidak terlalu bersedih atas kepergian Arga yang tiba-tiba.


Setelah beberapa lama berkutat dengan laptop dan buku-bukunya, Bianca akhirnya menyelesaikan satu artikelnya lalu menutup laptopnya.


"Akhirnya selesai," ucap Bianca lalu mengambil gelas yang ada di meja, namun tiba-tiba gelas itu jatuh dari tangan Bianca, pecahan gelas itupun berhamburan di lantai.


Seketika Bianca terdiam, dadanya tiba-tiba berdetak kencang karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Bianca kemudian membawa pandangannya ke arah ponselnya, entah kenapa ia tiba-tiba teringat Arga.


"Arga....."


"Ada apa non?" tanya bibi yang datang menghampiri Bianca karena mendengar suara gelas yang jatuh.


"Bianca tidak sengaja menjatuhkan gelas bi," jawab Bianca lalu berjongkok untuk membereskan pecahan gelas di lantai.


"Bibi saja yang membereskannya non, lebih baik non Bianca masuk saja ke kamar," ucap bibi.


"Bianca akan membantu," balas Bianca, namun tidak sengaja jari tangannya menyentuh pecahan gelas yang tajam, membuat darah menetes dari jari Bianca.


"Astaga, non bianca terluka, bibi akan mengambilkan kotak P3K non," ucap bibi yang segera dicegah oleh Bianca.


"Bianca akan mengobatinya sendiri bi, tolong bereskan pecahan gelasnya saja dan bibi juga harus berhati-hati agar tidak terluka," ucap Bianca.


"Baik non," balas bibi.


Bianca kemudian membawa laptop dan buku-bukunya ke dalam kamar. Di dalam kamar, Bianca mengguyur luka di tangannya dengan air mengalir dari wastafel.


Bianca kemudian mengeringkannya dan membalut lukanya dengan plester. Bianca kemudian kembali membawa pandangannya pada ponselnya yang ada di atas meja.


"Arga tidak mungkin menghubungiku sekarang, dia pasti masih dalam perjalanan," ucap Bianca dengan menghela nafasnya.


"Tenanglah Bianca, tidak perlu berlebihan memikirkannya, Arga hanya pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya dan akan segera kembali," ucap Bianca sambil mengusap dadanya yang terus berdebar.


Bianca kemudian merebahkan badannya di ranjang, namun ia tidak bisa berhenti memikirkan Arga. Ada sesuatu yang tidak ia mengerti yang membuatnya khawatir.


Bianca kemudian beranjak dan mengambil buku lalu membacanya di atas ranjangnya.


**


Di tempat lain, Arga yang tidak bisa fokus berkendara tanpa sengaja menabrak mobil di hadapannya yang berhenti mendadak, membuat mobil di belakang Arga menabrak bagian belakang mobil Arga.


Beruntung airbag yang ada di mobil Arga berfungsi dengan baik, menghindarkan Arga dari benturan akibat tabrakan itu.


Arga kemudian keluar dari mobilnya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata mobil di hadapan Arga tiba-tiba berhenti karena ada seekor kucing yang melintas, membuat tabrakan beruntun yang melibatkan beberapa mobil.


Meskipun Arga selamat dan tidak terluka sama sekali, tetapi ia merasa pusing karena hentakan yang tiba-tiba ia rasakan, selain itu bagian depan dan belakang mobilnya juga mengalami kerusakan yang cukup parah.


Arga dan beberapa orang yang terlibat kecelakaan itu kemudian diinterogasi oleh polisi sebelum akhirnya mereka diperbolehkan untuk pergi setelah mobil mereka dibawa keluar jalur oleh pihak yang berwajib.


Arga yang masih syok dengan apa yang terjadi, memilih untuk beristirahat di mini market yang ada di dekat lokasi kejadian.


Ia duduk dengan satu botol air di hadapannya sambil memijit keningnya yang masih terasa pusing.


"Aku tidak bisa melanjutkan ini, aku harus memberi tahu papa, karena hanya papa yang memiliki wewenang untuk memberikan perintah pada siapapun yang papa percaya untuk menggantikanku," ucap Arga dalam hati lalu menghubungi sang papa.


Arga memberi tahu sang papa jika dirinya baru saja mengalami kecelakaan tetapi Arga meminta sang papa untuk tidak menceritakan kecelakaan itu pada Bianca ataupun sang mama agar mereka tidak khawatir.


"Baiklah, papa akan meminta orang lain untuk menggantikanmu, sekarang kau harus segera ke rumah sakit untuk memastikan keadaanmu," ucap David pada Arga.


"Baik pa," balas Arga.


Setelah panggilan berakhir, Arga kemudian memesan taksi yang akan mengantarnya ke rumah sakit.


Arga mengikuti perintah sang papa untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit sebelum ia pulang.


"Semuanya baik-baik saja, pusing yang terjadi bisa saja karena syok dan benturan pada airbag yang mengembang, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dokter setelah memeriksa keadaan Arga.


Arga kemudian meninggalkan rumah sakit, pulang ke rumah dengan menggunakan taksi.


"Apa yang harus aku katakan pada Bianca jika dia melihatku tiba-tiba pulang tanpa membawa mobil?" batin Arga bertanya dalam hati.

__ADS_1


Arga kemudian menghubungi Daffa, meminta tolong Daffa untuk membantunya memperkuat alasannya agar Bianca tidak mengkhawatirkannya.


"Maaf mengganggumu Daffa, ada masalah darurat dan hanya kau yang bisa membantuku," ucap Arga setelah Daffa menerima panggilannya.


"Ada apa, Arga? apa terjadi masalah di kantor?"


"Tidak, ini masalah lain," jawab Arga lalu menceritakan pada Daffa tentang apa yang terjadi padanya.


"Jadi jika Bianca menanyakan tentang mobilku padamu, kau harus mengatakan jika kau yang membawanya, tolong katakan hal ini pada Lola juga, demi kebaikan Bianca agar Bianca tidak mengkhawatirkanku Daffa," ucap Arga di akhir penjelasannya.


"Baiklah, aku mengerti, tapi bagaimana denganmu? apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Arga.


"Baiklah, aku akan memberi tahu Lola tentang hal ini," ucap Daffa.


"Terima kasih Daffa."


Panggilan berakhir bersamaan dengan Arga yang baru saja sampai di rumah. Arga kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam rumah dengan memanggil Bianca.


Bianca yang mendengar suara Argapun segera keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga.


"Stop Bee, jangan berlari," ucap Arga yang segera berlari untuk menghentikan Bianca.


Bianca hanya tersenyum lalu segera menghambur dalam pelukan Arga.


"Kenapa kau sudah pulang Arga? apa kau batal pergi ke luar kota?" tanya Bianca dengan mendongakkan kepalanya menatap Arga.


"Ternyata aku tidak bisa berhenti memikirkanmu Bee, aku sudah memaksa papa untuk mencari orang lain yang bisa menggantikanku," jawab Arga sambil mendekap Bianca dengan erat.


Arga kemudian melepaskan Bianca dan meraih tangan Bianca, saat itulah Arga menyadari jika salah satu jari Bianca terbalut plester.


"Apa jarimu terluka Bee?" tanya Arga memperhatikan satu jari Bianca.


"Hanya luka kecil," jawab Bianca sambil menarik tangannya dari Arga.


"Kenapa bisa terluka Bee? apa ada luka yang lain?" tanya Arga khawatir.


"Tidak ada Arga, aku tidak sengaja menjatuhkan gelas dan jariku terluka saat aku mengambil pecahan gelas," jawab Bianca.


Bianca hanya tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam kamar bersama Arga.


**


Hari telah berganti, Arga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor pagi itu.


"Apa hari ini Daffa sudah mulai bekerja?" tanya Bianca sebelum Arga meninggalkan rumah.


"Iya, jadi aku akan pulang cepat hari ini," jawab Arga.


"Dimana mobilmu? kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Bianca yang tidak melihat mobil Arga, karena biasanya Arga selalu meminta pak Dodi untuk menyiapkan mobilnya di luar garasi jika Arga akan berangkat ke kantor.


"Aaahh soal itu, sepertinya aku lupa memberitahumu, kemarin aku pulang dengan menggunakan taksi karena Daffa yang membawa mobilku, kau ingat bukan jika aku mengatakan bahwa ada orang lain yang menggantikanku untuk pergi ke luar kota ternyata papa meminta tolong pada Daffa," jelas Arga beralasan.


"Benarkah? tapi kenapa Daffa harus membawa mobilmu?" tanya Bianca meragukan ucapan Arga.


"Karena..... mobil Daffa sedang ada di bengkel jadi dia memakai mobilku agar dia bisa segera berangkat," jawab Arga.


Bianca menatap tajam Arga yang berdiri di hadapannya lalu membawa langkahnya semakin mendekat pada Arga sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kau tidak sedang berbohong padaku bukan?";tanya Bianca.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku berbohong padamu," jawab Arga sambil membawa Bianca ke dalam dekapannya karena Arga takut kebohongannya akan terungkap jika Bianca terus menatap matanya.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku Arga, kau sudah pernah berjanji padaku," ucap Bianca.


"Iya, aku akan selalu mengingat hal itu, sekarang aku harus pergi karena taksi yang aku pesan sudah menunggu di depan," balas Arga sambil mendaratkan kecupan singkatnya di kening Bianca.


Sepeninggalan Arga, Bianca segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamar lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Lola, memastikan apa yang baru saja Arga katakan padanya.


"Halo Lola, apa kau sedang sibuk sekarang?" tanya Bianca setelah Lola menerima panggilannya.


"Tidak, aku sedang dalam perjalanan ke kantor bersama Daffa," jawab Lola.

__ADS_1


"Apa Daffa sudah pulang hari ini? bukankah dia pergi ke luar kota untuk menggantikan Arga kemarin?" tanya Bianca.


Hening, tidak ada jawaban apapun dari Lola untuk beberapa saat, sampai akhirnya Lola menjawab pertanyaan Bianca.


"Daffa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat di luar kota, jadi dia sudah kembali semalam dan mulai beraktivitas di kantor lagi hari ini," jawab Lola.


"Aahhh begitu, baiklah kalau begitu."


Bianca mengakhiri panggilannya dan memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu karena ia percaya jika Arga akan selalu berkata jujur padanya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang saat Bianca keluar dari rumah untuk menyambut kedatangan Luna.


"Halo bumil cantik," sapa Luna sambil memeluk Bianca.


"Apa kau sendirian, Luna?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Luna.


Bianca dan Luna mengobrol beberapa lama di ruang tamu sampai akhirnya ponsel Luna tiba-tiba berdering. Luna kemudian menerima panggilan itu dengan sedikit menjauh dari Bianca dan tak lama kemudian kembali duduk di samping Bianca.


"Sepertinya kau semakin dekat dengan laki-laki yang kau sukai," ucap Bianca yang melihat Luna menerima panggilan di ponselnya dengan sesekali tersenyum.


"Luna tidak sedang dekat dengan siapapun kak," balas Luna dengan tersenyum tipis.


"Bagaimana dengan......"


Bianca menghentikan ucapannya, ia merasa canggung jika membahas tentang hubungan Luna dengan Bara.


"Luna sudah tidak ada hubungan lagi dengan kak Bara," ucap Luna yang membuat Bianca begitu terkejut.


"Kenapa? bukankah kau sangat menyukainya? sepertinya dia juga sangat menyukaimu," tanya Bianca.


"Perasaan Luna masih suka berubah-ubah kak, entah kenapa rasa suka itu tiba-tiba hilang begitu saja, jadi Luna memutuskan untuk menjauh dari kak Bara, lagi pula kak Bara juga tidak begitu menyukai Luna," jawab Luna beralasan.


"Aku yakin suatu saat nanti kau akan bertemu dengan laki-laki yang benar-benar membuatmu jatuh cinta padanya," ucap Bianca sambil menggenggam tangan Luna.


"Kita tunggu saja kak laki-laki seperti apa yang akan menjadi jodoh Luna karena sampai sekarang Luna masih belum memikirkan hal itu," balas Luna.


"Aku juga tidak pernah berpikir jika aku akan berjodoh dengan Arga, tapi ternyata waktu membawaku mendekat pada Arga dan membuat kita terikat satu sama lain," ucap Bianca.


"Kak Arga sangat beruntung karena bisa mendapatkan kak Bianca, terima kasih karena sudah datang dalam kehidupan kak Arga," balas Luna dengan membalas genggaman tangan Bianca.


Setelah beberapa lama mengobrol, Luna kemudian meninggalkan rumah Bianca. Dengan segala macam tanda tanya dalam kepalanya, Bianca membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.


"Apa yang membuat Luna tiba-tiba menjauh dari kak Bara? tidak mungkin jika hanya karena perasaannya yang tiba-tiba berubah, karena aku tahu bagaimana Luna sangat terlihat menyukai kak Bara."


"Apa Arga sudah mengetahui hal itu?" batin Bianca bertanya dalam hati.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Arga dan Bianca sedang makan malam di rumah.


"Arga, apa kau sudah tahu bagaimana hubungan Luna dengan kak Bara sekarang?" tanya Bianca pada Arga setelah ia menyelesaikan makan malamnya.


"Sepertinya mereka sudah tidak berhubungan lagi," jawab Arga lalu menyeruput minumannya.


"Apa Luna sudah menceritakannya padamu?" tanya Bianca.


"Dia hanya mengatakan jika dia sudah tidak menyukai Bara dan aku sangat mendukung hal itu," jawab Arga.


"Apa kau tidak berpikir jika ada sesuatu yang Luna sembunyikan? bukankah kau tahu bagaimana Luna sangat menyukai kak Bara?" tanya Bianca.


"Luna masih belum cukup dewasa untuk memiliki hubungan yang serius Bianca, jadi bisa saja jika perasaannya pada Bara tiba-tiba berubah," balas Arga.


"Lagipula Bara juga bukan laki-laki yang baik untuk Luna," lanjut Arga.


"Tapi apa yang terjadi tidak ada hubungannya denganmu bukan? kau tidak memaksa Luna untuk mengakhiri hubungannya dengan kak Bara bukan?" tanya Bianca.


"Tentu saja tidak, meskipun aku tidak menyukai Bara, aku juga tidak akan memaksa Luna untuk mengakhiri hubungannya dengan Bara begitu saja," jawab Arga.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku Bianca? apa sejak tadi kau memikirkan hal itu?" lanjut Arga bertanya.


"Aku hanya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Luna yang membuatnya tiba-tiba menjauh dari kak Bara, aku hanya tidak ingin kau terlibat terlalu jauh dalam hubungan Luna dengan kak Bara," jelas Bianca.


"Aku sama sekali tidak ikut campur dalam hubungan mereka Bianca, tapi aku tidak akan membiarkan Bara hidup dengan tenang jika sampai dia menyakiti Luna, jadi sekarang aku bisa lega karena mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun," ucap Arga.

__ADS_1


Arga kemudian beranjak dari duduknya, berdiri di belakang Bianca lalu memeluk Bianca yang masih duduk di tempatnya.


"Jangan terlalu memikirkan hal itu Bianca, Luna sudah bahagia dengan apa yang dia pilih saat ini," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


__ADS_2